Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 **Kepala sekolah baru**
"Kalian ke aula aja, gue gak bisa bawa adek gue dengan keadaan dia tertidur," ucap Alzian menyuruh teman-teman ke aula sekolah untuk menyambut kepala sekolah baru itu. Ila tertidur di pangkuan Alzian dengan wajah yang dibenamkan di leher Alzian.
"Gak ikut nyambut gak apa-apa kan? Gue malas," cibir Dian.
"Gue lebih malas." timpal Liam.
"Kalian emang pemalas," hardik Elzion.
Liam dan Dian menatap ke arah Elzion yang ditatapnya hanya sibuk dengan ponselnya.
"HP mulu, gak ke aula nih?" Liam menyindir Elzion.
"Gue jagain adek gue yang sedang tidur," sahut Elzion.
"Ada Alzian yang jagain, egee." sinis Juna.
Lanka yang sedari diam sekarang berdiri karena mulai jengah dengan perdebatan teman-temannya itu.
"Aula," titah Lanka datar dan membuat teman-teman nya mencebik kesal, tapi mereka tidak berani membantah Lanka karena Lanka merupakan ketua dari geng mereka itu.
"Gue gak," ucap Alzian.
"Ck, enak banget lo," cibir Elzion pada kembarannya itu.
"Enghhh abang berisik," lenguh Ila di sela tidurnya karena mendengar keributan.
"Nahh si bocil udah bangun? Jadi semua ke aula biar semua tau siapa kepala sekolah yang baru," ucap Juna dan diangguki yang lain kecuali Alzian dan Lanka, mereka hanya menampilkan wajah datarnya.
"Dek!" panggil Elzion dan dibalas deheman oleh Ila.
"Ke aula Cil, itu noh udah disuruh ngumpul buat nyambut kepala sekolah," beritahu Liam.
Perlahan Ila mengangkat kepalanya dan terlihatlah wajah menggemaskan Ila, apalagi baru bangun tidur wajahnya tambah menggemaskan. Beruntung teman-teman sekelas Alzian sudah pada ke aula, kalau belum mereka akan heboh melihat wajah Ila itu.
Alzian terkekeh karena melihat adiknya baru bangun tidur itu dengan mata sedikit terbuka.
Cup..
Cup..
Cup..
Cup
Alzian menghujani wajah Ila dengan kecupan-kecupan singkat sehingga mata Ila terbuka lebar dan dia tertawa.
"Abang udah, geli haha," tawa Ila renyah hingga membuat teman-teman abangnya itu gemas.
Elzion memandang saudara kembarnya itu malas, kenapa selalu Alzian yang begitu, dia kan juga mau momen manis bersama sang adik tapi sialnya Alzian terus yang duluan.
Sedangkan teman-teman Alzian yang lain cengo melihat si muka datar mereka bisa semanis itu dengan perempuan.
"Sudah tidak mengantuk hm?" tanya Alzian lembut.
Ila mengangguk lucu lalu mengecup singkat pipi Alzian. Elzion yang melihat itu tentu iri.
"Dek abang mau kiss juga," pinta Elzion menepuk-nepuk pipinya. Ila menoleh lalu turun dari pangkuan Alzian dan mendekati Elzion.
Cup
Ila mencium pipi kanan Elzion, "udah abang," ucapnya dan Elzion tersenyum lalu mencium pipi kanan dan kiri Ila, uhhh sungguh momen manis antara tiga bersaudara itu ga guys.
"Gue juga Cil," ucap Dian, Liam, dan Juna berbarengan.
"Kiss juga?" tanya Ila polos dan ketiganya mengangguk bersamaan. Alzian dan Elzion berdecak karena teman-temannya itu juga meminta kiss kepada adik mereka dan yang lebih parahnya lagi Ila berjalan ke arah mereka dan mencium mereka satu-satu.
Ila sekarang sudah berada di depan Lanka setelah mencium singkat pipi Dian, Liam, dan Juna.
Cup
Ila mencium pipi Lanka juga dan membuat jantung Lanka seketika berdegup kencang. Lanka menahan Ila yang hendak menjauh itu dan membisikkan sesuatu, "jangan cium orang sembarangan lagi, gue gak suka," bisik Lanka dengan suara berat sexy dan membuat Ila ikut berdebar.
"Bang, Ila sick," ucap Ila memegangi dadanya.
Alzian dan Elzion otomatis mendekat ke arah Ila dan Lanka.
"Sakit apa del?" tanya Elzion khawatir.
"Huhu jantung Ila berdetak cepat," ucap Ila lucu dan Lanka yang mendengar perkataan Ila tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya.
Dian, Liam, dan Juna yang tadinya khawatir menjadi tersenyum mendengar perkataan Ila.
Elzion menatap malas adiknya itu, "itu bukan sakit dek," sewot Elzion.
"No no no, ini sakit abang, Ila belum pernah kek gini sebelumnya," ucap Ila yang masih memegangi dadanya.
Alzian membawa Ila agak jauhan dari Lanka, "udah gak berdebar lagi kan?" tanya Alzian saat sudah berada beberapa meter dari Lanka.
Ila mengangguk, "wahhh abang hebat bisa sembuhin orang sakit tanpa obat," seru Ila polos sambil bertepuk tangan kecil.
"Dasar bocil, mana tau dia istilah jatuh cinta," cibir Elzion.
Alzian menatap ke arah Lanka yang sedari tadi diam saja. "Lo bisikin apa ke Ila sampai dia berdebar deket lo?" tanya Alzian.
Lanka mengedikkan bahunya lalu tersenyum tipis.
Alzian memutar bola matanya malas. "Lanka bisikin apa ke adek?" tanya Alzian pada Ila.
Ila diam, nampak mengingat-ingat. "Kata bang Lanka jangan cium orang sembarangan, bang Lanka gak suka," sahut Ila polos.
Dan membuat Dian, Liam, dan Juna menatap tidak suka pada bos mereka itu.
Elzion tersenyum, "bener dek, kamu hanya boleh cium keluarga kamu aja."
"Gak boleh cium temen abang?" tanya Ila polos.
"Iya gak boleh," sahut Alzian.
"Bang Lanka gak boleh juga?" tanya Ila spontan.
"Iya adekkk," sahut Elzion gemas.
"Gue boleh," suara berat Lanka mengalihkan semua pasang mata kepadanya.
"Siapa lo? Sampai boleh dicium adek gue," ujar Elzion tersenyum sinis.
"She's mine," setelah mengatakan itu Lanka keluar dari kelasnya.
"Itu bos kita?" tanya Dian tidak percaya.
"Wahh pesona bocil luar biasa, bisa lelehin gunung es donggg," seru Liam dan di angguki Juna.
"Ck, bajingan itu," desis Elzion.
"Kenapa? Lo gak setuju adek lo sama Lanka?" tanya Juna.
"Adek gue masih kecil," ketus Alzian.
"Ila besar abangg," protes Ila.
Mereka terkekeh.
"lo masih kecil Cil," ledek Dian.
Ila mencebik, "Ila besar huhu..."
Alzian mencium gemas adiknya itu.“Bibirnya jangan gini kalau di depan orang-orang dek,” peringat Alzian, dia tidak ingin orang-orang ingin mencium bibir adiknya.
“Why?” tanya Ila polos.
“Gak apa-apa, intinya jangan aja. Yaudah sekarang kita ke aula yahh, pasti kepala sekolahnya sudah di sana,” ucap Alzian lembut lalu menggenggam tangan mungil Ila.
Mereka keluar kelas dan berjalan menuju tangga untuk ke aula.
Sesampainya mereka di aula, semua orang sudah berkumpul dan mendengarkan pidato singkat dari kepala sekolah yang baru.
Ila melihat ke arah panggung untuk melihat siapa kepala sekolah baru mereka yang menggantikan Pak Edo. Ila melompat-lompat kecil karena dia tidak bisa melihat ke arah panggung dan membuat Ila kesal sendiri karena memiliki tubuh pendek.
Alzian, Elzion, serta teman-teman mereka terkekeh melihat Ila yang melompat-lompat untuk melihat ke panggung.
Alzian mengangkat Ila dan membuat Ila terpekik.
“Aaaa Ila terbangg…” serunya sambil cekikikan dan membuat semua orang di aula menoleh ke arahnya. Mereka gemas dengan wajah Ila yang chubby dan cantik itu.
Kepala sekolah baru itu ikut menoleh ke arah Ila, seketika dia mengingat adiknya yang meninggal sebulan yang lalu.
‘Dek, abang rindu.’Batin kepala sekolah Galenio Diaskara, kakak dari Irawan Bethany.
Yaaa, sesuai yang dikatakan Zidan pada Bryan bahwa anaknya Galenio akan menjadi kepala sekolah di DHS, sekolah milik keluarga Diaskara.
Alzian serta teman-temannya terkekeh mendengar kalimat Ila itu.
Ila yang masih cekikikan dan senang karena diangkat oleh abang menoleh ke arah panggung untuk melihat kepala sekolah baru itu.
Ila memperhatikan pria yang ada di depan itu.“Bang Agas…” lirih Ila, seketika dia sedih karena kangen dengan abangnya itu.
“Abang, Ila mau turun,” ucap Ila pada Alzian, dan Alzian segera menurunkan adiknya itu.
“Sudah lihat kepala sekolahnya hm?” tanya Alzian lembut dan diangguki oleh Ila.
Ila ingin memeluk Bagas karena dia benar-benar kangen dengan abangnya yang satu itu, tapi Ila masih punya malu untuk tidak heboh di lautan manusia seperti ini.
“Ck, lama banget sih penyambutannya,” gerutu Liam.
“Baru juga beberapa menit ke sini udah ngeluh aja lo,” ucap Juna.
“Pegel gue berdiri,” sahut Liam.
“Dasar lemah,” cibir Dian.
“Gue gak lemah ya anjir, cuma males aja berdiri diam di sini,” kesal Liam pada Dian yang sedang menatap remeh ke arah Liam.
“Anjir,” ucap Ila.
“Heh!” tegur Alzian dan teman-temannya serempak.
Alzian menatap tajam ke arah Liam dan membuat Liam meneguk ludahnya kasar.
‘Mampus, gue lupa kalau lagi ada bocil di sini…’Liam merutuki dirinya sendiri karena berbicara kasar di depan bocil kesayangan si kembar BIHS itu.
“Why?” tanya Ila saat mendengar nada protes dari abang-abangnya karena dia menyebut kata kasar.
“Gak boleh ngomong gitu dek,” peringat Elzion.
“Hu’um tapi-tapi abang Liam ngomong gitu kok,” sahut Ila polos.
“Jangan dengerin lagi kalau Liam ngomong, itu sesat—” ucap Elzion lagi.
“Bang Liam setan hihi,” Ila cekikikan.
Liam menatap malas pada Ila.‘Sial, gue terus yang dinistain nih bocil…’Batin Liam kesal karena setiap apa-apa pasti dia yang kena.
Sedangkan Elzion, Dian, dan Juna tertawa karena mendengar ucapan polos Ila. Kalau Alzian, dia hanya terkekeh gemas dengan ucapan sang adik.
“Suka banget nistain gue lo pada,” sungut Liam yang menatap malas ke arah teman-temannya yang sedang menertawakannya itu.
“Lo sih bodohhh hahaha…” tawa Dian.
“Abang Liam bodohhh…” seru Ila lagi saat dia mendengar ucapan Dian.
“Heh!” tegur mereka lagi, tapi tak urung mereka kembali terbahak mendengar perkataan Ila tadi.
Uhh, bocil polos itu suka menirukan bicara mereka yang aneh-aneh. Mulai sekarang mereka harus berhati-hati jika berbicara di depan bocil ini.
Sedangkan Liam?Dia kembali bersungut dan menatap malas teman-temannya yang tertawa itu.
**************
Di rooftop sekolah seorang laki-laki remaja tampan sedang duduk di sofa rooftop itu. Dia tersenyum mengingat gadis kecilnya yang polos tapi gemesin itu. Arlanka Adhiyaksa atau yang kerap disapa dengan Lanka itu sedang berada di rooftop sekolah setelah kejadian dia mengklaim Ila. Dia malas untuk berdiam mendengarkan pidato para guru-guru untuk menyambut kepala sekolah baru itu dia lebih memilih bersantai di rooftop sendirian.
"You're mine little girl, "senyum tipis menghiasi wajah tampan Lanka saat mengingat gadis kecil imutnya itu.
Arlanka Adhiyaksa anak dari seorang konglomerat dan mafia yang terkenal didunia bawah. Arlanka kelak akan mewarisi semua harta orang tuanya yang tidak akan habis sampai 10 turunan itu. Walau pun Arlanka anak mafia tapi dia didik oleh orang tuanya untuk menghargai perempuan, tapi beda lagi dengan perempuan gatal atau pengganggu harus dituntaskan.
Arlanka memang tidak pernah dekat dengan perempuan karena menghargai perempuan, lagian dia juga tidak tertarik sama sekali, beda hal nya dengan Ila Adek dari sahabat nya itu mampu membuat nya berdebar saat pertama kali Arlanka melihat Ila waktu dia pernah berkunjung kerumah si kembar itu. Waktu itu Ila pendiam dan cupu saja mampu membuat Panglima berdebar apalagi sekarang Ila sudah tidak pendiam dan cupu lagi, malah semakin membuat nya gemes maka dari itu dia mengklaim sekarang jika tidak gadisnya itu akan diklaim orang lain.