Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Kegaduhan di laboratorium
Pak Edward dengan langkah tergesa masuk ke kamar ganti untuk mengambil jas labora. Wajahnya tampak kusut. Kelopak matanya nampak hitam, karena beberapa hari ini begadang menjaga istrinya.
Sejak menghentikan pengobatan istrinya. Karena obat hasil penelitiannya telah disita pemerintah untuk bahan penyelidikan. Apakah benar dia telah mencampur DNA istrinya dengan DNA monyet.
Pak Edward tidak berdaya, memberikan pembelaan atas dirinya karena semua suara menolak nya. Dia tidak diberi kesempatan untuk menyempurnakan obat penemuannya itu.
Hal itu membuatnya frustasi. Dan kasihan juga melihat istrinya yang merintih kesakitan karena menghentikan obat itu.
Untunglah DNA dirinya belum dilaporkannya. Sehinga masih aman. Tapi tanpa peralatan dan dana dengan apa dia melanjutkan penelitian itu.
Pak Edward mengeluarkan sampel dari kaus kakinya. Tadi dia sempat menyembunyikan sampel DNA istrinya itu sebelum, ruang penelitiannya di pusat kota kena grebek.
Pak Edward memasukkannya ke lemari pendingin. Mencampurnya dengan darah yang dibekukan dalam kantong. Tiba-tiba Pak Edward mendapat ide. Untuk menyuntikan darah itu ke tubuhnya. Dan akan mengambil darahnya untuk disuntikkan kembali ke tubuh istrinya nanti.
Obat itu akan bereaksi dalam tempo 48 jam. Itulah menurut perkiraan Pak Edward. Jadi dia akan aman. Murid-muridnya tidak akan curiga.
Bukan hanya pada dirinya, Pak Edward juga hendak menyuntikkan ke siswanya untuk melihat reaksi obat itu. Masalahnya apakah murid-muridnya mau, dengan sukarela disuntik.
Otak Pak Edward berputar keras. Dia tidak punya waktu banyak. Karena sekolah tempat dia mengajar juga akan diperiksa. Keringat dingin sudah mengaliri punggungnya.
Tadi dia melarikan diri dari kantor pusat dengan alasan mau menjenguk istrinya. Dia tidak menyangka murid-muridnya sudah menunggu. Walau tanpa pemberitahuan darinya. Karena memang sudah kebiasaannya. Kalau dia tidak masuk di pagi hari akan digantikan sore harinya.
"Pak Edu kenapa sih. Kok belum keluar dari ruang gantinya?" seru Zach heran.
"Mungkin ketiduran, karena lelah menjaga istrinya di rumah sakit?" jawab Carol.
"Bukannya istri beliau sudah mau pulih? Kapan masuk rumah sakit?"
"Tau. Tapi tadi Vivian sempat cerita. Katanya istri beliau dirawat di rumah sakit."
"Kalau begitu aku periksa saja ke ruang ganti." Zach berinisiatif. Karena sudah bosan menunggu dari tadi.
"Halo Pak! Apa Bapak baik-baik saja?" Sapa Edward dari luar setelah mengetuk pintu.
Pak Edward terkejut dan segera menyembunyikan suntik yang barusan dipakai.
"Iya, sebentar lagi Bapak datang. Kamu Zach ya?"
"Iya, Pak."
"Silahkan masuk dulu. Bantu bapak membagikan kertas-kertas ini."
Tanpa curiga, Zach masuk ke ruangan Pak Edward. Dilihatnya Pak Edward tengah menahan rasa sakit. Dan wajahnya pucat."
"Bapak sakit, ya. Kalau memang sakit tidak usah dipaksakan Pak."
"Tidak apa-apa. Cuma pusing saja. Sebentar lagi pasti hilang. Makanya bagikan dulu lembaran kertas itu."
Zach melewati tubuh Pak Edward, tanpa curiga sama sekali kalau sesuatu akan terjadi padanya. Disaat Zach berpaling, saat itu pula Pak Edward menyuntikkan ke punggung Zach.
"Aduh! Apa itu?" Zach merasakan dirinya seperti digigit serangga.
"Ada apa?" seru Pak Edward pura-pura lalu mencabut alat suntik itu, setelah isinya berpindah ke tubuh Zach.
"Gak tau Pak. Sepertinya aku barusan digigit serangga."
"Ah, tidak ada apa-apa. Mungkin perasaanmu saja." Pak Edward berusaha bersikap sewajar mungkin. Lalu menyuruh Zach keluar.
Zach membagikan kertas lembaran kerja, untuk praktikum.
"Pak Edu mana?" Carol menyorot pintu ruangan Guru Fisika mereka. Karena belum muncul juga.
"Sepertinya beliau kurang sehat. Ayo, kita mulai saja dulu. Toh sudah ada petunjuk dalam kertas ini." saran Zach.
"Gak boleh loh, sebelum Pak Edu kasih instruksi. Ini cairan kimia." Carol memprotes ide Zach.
"Iya, mana takarannya belum jelas ini. Harus ada petunjuk dari Pak Edu." timpal Mario.
"Hem, iyalah. Kita tunggu saja beliau keluar." Zach menggaruk punggungnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Kamu kenapa Zach?" Carol curiga melihat Zach yang tidak henti menggaruk punggungnya.
"Tadi diruangan Pak Edu, sepertinya ada serangga yang menggigitku. Persis kayak kena suntik. Punggungku jadi gatal."
"Coba aku periksa, siapa tau masih menempel serangganya." Carol bergerak, menurunkan leher kemeja Zach.
"Kata Pak Edu gak ada apa-apa."
Kedua netra Carol membulat sempurna, kala melihat punggung Zach memerah sebesar koin. Dan sepertinya ada bulu halus warna kuning keemasan. Tepatnya seperti rambut pirang.
"Kamu liat apa, ada yang aneh ya?" Zach melotot ke arah Carol.
"Ah, i-iya. Kulitmu kemerahan sebesar koin. Sepertinya kamu memang barusan digigit serangga." ungkap Carol bergidik ngeri. Namun, Carol diam menyimpan perkara itu. Carol tidak ingin Zach panik.
Mimpi itu melintas lagi di benak Carol. Mimpi yang masih menyisakan kengerian dalam hatinya.
"Aku oles saja pakai minyak telon. Siapa tau bisa mengurangi gatalnya." Carol merogoh kantongnya. Lalu memoleskan minyak telon ke punggung Zach.
"Pelan-pelan Carol. Sakit tau!" Zach mengaduh sakit. Saat Carol mengoleskan minyak telon itu.
"Sebaiknya kamu berobat saja Zach. Siapa tau serangganya berbisa."
"Napa dia, Carol?" Mario penasaran melihat tingkah Zach.
"Katanya digigit serangga di ruangan Pak Edu."
"Kok bisa?" Mario berdiri hendak memeriksa bekas gigitan di punggung Zach. Tapi tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruangan Pak Edward!
Semua yang ada dalam laboratorium terkejut mendengar suara itu. Mereka saling pandang! Seolah dikomando, mereka berlari menuju pintu ruangan.
"Bapak kenapa?" teriak Mario dan Carol mengetuk pintu. Suara gaduh itu tiba-tiba lenyap. Berubah sepi yang mencekam. Mario kembali mengetuk pintu. Kali ini lebih keras.
"Ada apa?" Pak Edward membuka pintu. Dia melongokkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka sedikit.
"Tadi ada suara gaduh kami dengar dari ruangan Bapak. Apakah Bapak baik-baik saja?" sapa Megan.
Semua heran melihat wajah Pak Guru mereka yang berantakan. Wajahnya nampak lelah.
Oh, itu tadi. Bapak mengejar tikus." lalu menutup kembali pintu ruangannya.
Tidak berapa lama Pak Edward keluar. Sosoknya kini tampak segar. Beda dengan tadi. Murid-muridnya saling berbisik keheranan.
Terutama Carol! Dia curiga melihat penampilan Pak Edward yang berubah tiba-tiba? Tapi semua bungkam.
Zach merasakan perubahan pada dirinya semakin parah. Dia mulai merasa dirinya berubah, tapi tidak tahu apa yang terjadi. Carol yang melihat Zach bersikap aneh, semakin curiga plus khawatir.
"Pak, saya... saya tidak enak badan," kata Zach dengan nada yang lemah.
Pak Edward yang sudah tahu apa yang terjadi, langsung mendekati Zach.
"Tidak apa-apa, Zach. Kamu hanya perlu beristirahat sejenak."
Tiba-tiba, Zach mengeluarkan suara yang aneh, seperti suara hewan. Semua murid terkejut dan mundur.
"Apa yang terjadi dengan Zach?" seru Megan dengan nada takut.
Carol yang masih memegang tangan Zach, merasakan perubahan pada tubuhnya. "Zach, apa yang terjadi denganmu?" tanya Carol dengan nada khawatir. ***