NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIRAKAT TIGA HARI

Aku langsung ingat jelas nama itu. Gilang. Sosok lelembut anak kecil itu.

"Iya Dayang Putri, aku ingat."

"Dia yang membuat muridmu itu tak bisa pulang Nisa." jelas Dayang Putri.

"Kenapa bisa? Bukankah dia baik?"

"Kamu percaya kalau dia baik?" Dayang Putri malah bertanya balik padaku.

Aku terdiam sesaat...

"Sebenarnya..." aku terhenti sejenak.

"Dia menyukaimu Nisa. Tapi karena kamu tak mengizinkan dia untuk ikut bersamamu, maka dia mencoba mencari perhatianmu." jelas Dayang Putri.

"Lalu, apa hubungannya dengan Farhan muridku itu?"

"Itulah cara dia mencari perhatianmu Nisa."

Aku kembali terdiam sejenak. Mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Dayang Putri.

"Baiklah, kalau begitu, bagaimana caranya agar aku bisa membawa Farhan pulang?"

Dayang Putri melepas rangkulannya di tubuhku, dan beranjak berdiri, menatapku kembali.

"Tirakatlah selama tiga hari Nisa. Aku akan membantumu membawanya kembali."

"Tiga hari? Tapi... Apakah Farhan bisa bertahan selama tiga hari itu?"

"Tentu. Karena kamu sudah tau perbedaan antara dimensimu dengan dimensi ghoib ini."

Aku mengangguk perlahan. Memang betul, dimensi ghoib meski baru berjalan sebentar, namun terasa sudah lama di dimensi nyataku. Dan aku pernah mengalami itu saat setahun lalu, ketika menyelamatkan jiwa bapakku.

Aku menatap Dayang Putri, "Baiklah Dayang Putri, aku akan tirakat selama tiga hari."

"Tapi..." aku terhenti sejenak.

"Apa Nisa?"

"Bagaimana aku akan jelaskan pada semua orang? Dan juga pada kedua orang tuanya?"

"Masihkah kamu takut akan hal itu Nisa?"

"Bukan aku takut, hanya saja..."

"Khawatir?" tanya Dayang Putri.

"Iya..." jawabku singkat.

"Kuatkan hatimu Nisa. Ingatlah seperti yang sudah aku jelaskan. Karena hanya kamu yang bisa membawa muridmu itu pulang."

Lalu... Dayang Putri perlahan memudar, dan menghilang dari hadapanku... Dan aku terbangun dari tidurku, tepat pada pukul empat pagi.

Aku segera beranjak duduk, masih di atas kursi panjang ruang tamuku. Dan langsung muncul tekad, keyakinan, dan juga rasa menyayangi Farhan sebagai muridku lebih besar dari sebelumnya.

Saat aku menatap jam dinding, aku langsung berkata dalam hati,

"Baiklah, aku akan mulai tirakat hari ini juga. Aku gak mau membuat Farhan terlalu lama terjebak bersama Gilang!"

Singkat cerita, setelah mimpi bertemu Dayang Putri itu, setelah mendapatkan banyak penjelasan darinya, aku pun melaksanakan tirakatku. Mulai hari ini juga.

Tirakat puasa mutih selama tiga hari.

.

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

.

Aku akan persingkat ceritaku...

Selama tiga hari aku berpuasa itu, aku tetap laksanakan semua aktifitas seperti biasa di rumah.

Aku juga tetap bersosialisasi dengan tetangga dekat rumah, dan juga dua temanku Dinda, Ningrum, aku tetap main ke rumah mereka.

Tapi satu hal yang amat sangat terasa bagiku selama puasa tiga hari itu. Semua warga desa sudah mengetahui kabar hilangnya Farhan. Bahkan menjadi sebuah berita yang sangat menggemparkan.

Dan sudah tentu, namaku adalah yang paling banyak dibicarakan. Karena memang tiga hari lalu aku yang terakhir kali menemani Farhan untuk pulang.

Seolah memang sudah menjadi kebiasaan warga desa, jika sudah ada sebuah kabar yang menggemparkan, mereka semua akan sangat cepat membicarakannya satu sama lain.

Ada sebagian yang langsung menuduhku sengaja membuat Farhan hilang, dengan alasan untuk menumbalkan anak itu sebagai ganti kesembuhan bapakku.

Ada juga yang tetap menggunakan hati nuraninya. Mereka tak percaya jika aku melakukan hal itu. Justru membelaku dan menganggap kejadian hilangnya Farhan murni karena gangguan bangsa lelembut yang jahil.

Ada juga yang hanya menjadi pendengar saja. Tak ingin banyak ambil pusing dengan semua berita itu.

Aku benar-benar dihadapkan dengan ujian batin selama tiga hari puasa itu...

Ditambah lagi dengan usaha beberapa warga yang mencoba menemukan di mana keberadaan Farhan. Namun belum membuahkan hasil.

Dan selama tiga hari aku berpuasa, kucoba untuk memanggil Gilang, sosok lelembut anak kecil yang dikatakan oleh Dayang Putri, menjadi penyebab hilangnya Farhan. Aku juga tidak berhasil memanggilnya.

Tapi... Ada sebuah keanehan yang terjadi pada diriku di saat hari ketiga aku tirakat itu...

 

Keanehan yang aku alami adalah sebuah pertanda suara. Suara anak kecil yang tertawa-tawa. Seolah mereka sedang bermain bersama. Itu terjadi saat aku sudah berbuka puasa mutih di hari ketiga.

Saat itu, aku yang sudah selesai berbuka puasa, sudah selesai sholat maghrib, sedang duduk di dalam kamarku sendiri.

Terdengar suara bapakku yang sedang membaca Al-Qur'an di dalam kamarnya.

Ditengah aku sedang menikmati bacaan Al-Qur'an bapakku, tiba-tiba saja, secara samar, pelan, namun jelas di telingaku...

"Hihihi... Hahaha..."

Suara dua orang anak kecil seolah sedang bermain-main. Awalnya aku mengira itu adalah suara anak tetangga yang masih bermain di rumahnya. Tapi semua itu terbantahkan, ketika suara tertawa itu terdengar lagi...

"Hahaha... Hahahaha... Jangan pulang ya! Aku mau kita selalu bersama selamanya!"

Sangat jelas ingatanku, itu adalah suara Gilang!

Aku segera beranjak dari posisi duduk, menuju ke arah depan rumah. Aku melewati kamar bapak, dan kulihat dia masih khusyuk membaca Al-Qur'an.

Aku berdiri tepat di teras rumah, menghadap ke arah halaman dan jalan di depan sana.

Aku langsung tahu, pada malam ini, setelah tirakat puasa mutih tiga hari, sudah bisa kubantu Farhan untuk pulang. Dan menghentikan kejahilan Gilang yang telah membuatnya tersesat.

Aku berdiri, memejamkan kedua mataku, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Secara perlahan...

Pandanganku dengan mata tertutup ini, akhirnya bisa mendapatkan sebuah penampakan.

Aku melihat ada dua orang anak kecil. Sedang bermain-main, berlari-lari, di sebuah tempat yang seperti... Sebuah rumah tua tak berpenghuni...

Dan tampak sedikit jelas, bahwa benar dua anak kecil itu adalah Farhan dan makhluk halus kecil, Gilang.

Masih dengan mata terpejam, aku mencoba memanggil Farhan melalui dimensi ghoib itu.

"Farhan... Farhan..."

Dia masih tak mampu mendengar suaraku. Dan aku ulangi memanggilnya.

"Farhan..."

Kali ini dia tampak menoleh ke segala arah. Seolah mulai bisa mendengar suaraku. Tapi dengan segera sosok Gilang mengalihkan perhatiannya. Kembali mengajaknya bermain.

"Farhan... Ini Ibu Nak... Ini Bu Nisa..."

Aku kembali memperjelas panggilanku dengan menyebut namaku sendiri. Berharap agar Farhan segera sadar bahwa akulah yang memanggilnya di alam ghoib sana.

Dan tampak, Farhan berhenti bermain dengan sosok Gilang itu. Dia berdiri. Dan seolah seperti tau dari mana arah suaraku berasal.

Farhan menatap ke arahku, namun... Seperti tak bisa melihat wujudku. Dia berdiri, menatap dengan wajah heran, sambil berkata,

"Bu Nisa? Itu suara Bu Nisa ya?"

"Iya Farhan... Ini suara Ibu..."

"Bu Nisa! Bu Nisa dimana? Aku gak lihat Ibu."

"Tunggu Ibu ya Han, Ibu akan bawa kamu pulang... Tempatmu bukan di sana Nak..."

Seketika itu juga...

Gilang menatapku dengan wajah pucat pasinya, dengan tatapan kedua mata yang kosong, lalu... Dia mengangkat tangan kirinya ke arahku...

Aku yang masih terpejam di teras, masih dengan posisi yang sama, memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh sosok Gilang itu melalui dimensi ghoib itu.

Dan... Saat terarah lurus tangan kirinya kepadaku... Tiba-tiba...

BRAK!!!

"Aaakkhh!!!"

Tubuhku terpental sampai duduk jatuh, punggungku membentur kusen pintu rumahku!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!