Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Cinta Terlarang
Di sebuah desa yang memegang teguh adat, hiduplah seorang gadis bernama Ningsih ㅡIbu kandung Ria. Ningsih adalah bunga desa; polos, lugu, dan memiliki senyum sehangat mentari pagi. Suatu hari,seorang pemuda datang, pemuda itu bernama Suno. Seorang pria tampan yang berasal dari kota, dan sedang melakukan perjalanan bisnis atau sekedar liburan singkat, mencari ketenangan dari hiruk pikuk ibu kota.
Sifat Suno adalah kebalikan dari Ningsih. Pria kota itu pandai berbicara, berpenampilan menarik serta rapi, dan memiliki mata yang lihai merangkai janji manis. Ia tahu persis bagaimana menarik perhatian Ningsih, memujinya dengan kata-kata indah yang tak pernah di dengar sebelumnya oleh gadis desa itu.
“Anda tidak seharusnya memuji saya seperti itu, tuan Suno. Saya hanya gadis desa biasa.” Ucap Ningsih tersipu malu saat Suno merayunya dengan ucapan manis.
“Justru di situ letak kecantikanmu, Ningsih. Kesederhanaanmu adalah permata yang tidak bisa ditemukan di kota. Sorot matamu yang indah dan senyummu yang manis, tak pernah aku temukan gadis secantik dirimu di tempat aku tinggal.”
Ningsih semakin tersipu malu, kulitnya yang putih bersih nampak jelas terlihat pipinya yang memerah. Suno tersenyum puas dan mendekatkan bibirnya pada daun telinga gadis desa tersebut. Sambil berbisik lirih Suno berkata, “aku… jatuh cinta padamu, Ningsih.”
Asmara itu bersemi cepat, layaknya kembang api yang melesat cepat ke udara memancarkan percikan warna yang indah. Layaknya kobaran api yang tersulut di musim kemarau tersapu angin. Dibawah guyuran janji manis pernikahan dan masa depan yang cerah di Ibu kota, Ningsih menyerahkan segalanya, termasuk mahkota yang ia jaga. Ningsih memberikan tubuhnya pada pria tampan bermulut manis tersebut.
Pada akhirnya, Suno berpamitan pergi. Ia berjanji akan kembali lagi secepatnya, membawa keluarga besarnya untuk melamar gadis tersebut. Namun sayang, janji tinggallah janji. Berbulan-bulan tak ada kabar tentangnya, tak ada pertanda kedatangan Suno, yang ada hanyalah kabar kehamilan Ningsih yang menyebar secepat kilat ke penjuru desa. Aib yang harus ia tanggung seorang diri. Aib yang ia toreh akibat kebodohannya. Menyesal pun tak ada gunanya.
Semua janji manis itu menguap begitu saja. Surat-surat yang dikirim Ningsih tidak pernah dibalas. Bahkan, ketika Kakak Ningsih menyusul ke alamat yang diberikan, Suno sudah pindah, meninggalkan jejak samar seolah ia tak pernah ada.
Kini, Ningsih hanya bisa menangis dalam diam. Ia menangung malu di desanya, menjadi objek olok-olokan dan cibiran tetangga. Hingga akhirnya, Ria lahir. Lahirnya seorang peri kecil malang itu harus menanggung dosa dan aib kedua orangtuanya di masa lalu.
“Emak, Ningsih titip Ria.”
Dibawah guyuran hujan yang lebat, Ningsih berlari menuju rumah Ibunya. Selama pengasingan itu Ningsih tinggal seorang diri di gubuk dekat pinggir kali.
“Kau mau kemana lagi, Ningsih?” teriak sang Ibu saat Ningsih menyerahkan putri kecilnya pada pangkuan Ibunya.
“Ningsih pulang dulu, ada barang yang tertinggal di rumah.” Ningsih berjalan menerjang hujan yang deras.
Langkahnya terhenti, Ningsih berbalik arah dan berlari menghampiri Ria dan mengecup pipi putrinya untuk yang terakhir kalinya. “Ibu sayang Ria. Maafkan Ibu mewariskan aib padamu.”
Ningsih tersenyum pada Ibunya, “titip Ria, ya Mak. Anggap Ria sebagai cucu Emak, bukan anak haram.”
Ibunya terdiam tak mengerti apa yang Ningsih ucapkan, hatinya pun sakit seperti pertanda perpisahan. Sang Ibu hanya terdiam tak menjawab ucapan anaknya. Ningsih kembali menerjang hujan. Berlari menghilang di kegelapan.
Lama tak kunjung pulang, sang Ibu mulai panik. Ditambah Ria yang menangis tak henti-henti. Sudah ada 4 jam Ningsih pamit pulang, meninggalkan anaknya yang kelaparan memerlukan asi ibunya.
Ibu menyuruh anak sulungnya menjemput adiknya itu. Tono, sang kakak pergi ke gubuk dimana Ningsih tinggal. Berkali-kali mengetuk dan memanggil namun tak ada jawaban. Tono terpaksa mendobrak pintu kayu yang telah reot itu. Betapa terkejutnya ia mendapati adiknya terbujur kaku dengan mulut mengeluarkan busa.
Ningsih meregang nyawanya karena rasa malu yang tak bisa ia tanggung sendiri. Ningsih malu untuk bersama Ria, putrinya. Ningsih tak ingin menjadi alasan untuk anaknya tak bahagia nantinya. Namun siapa sangka tindakan Ningsih memicu derita baru untuk Ria.
Ria kecil tumbuh menjadi gadis yang ceria, namun keceriaannya sering kali dipadamkan oleh lingkungannya. Ia tidak pernah mengenal ayahnya, dan hanya mengetahui wajah ibunya dari foto buram di kamar neneknya. Di desa, gosip tentang kelahiran Ria dan kematian Ningsih tak pernah padam.
“Anak haram!”
“Anak pembawa sial, penyebab kematian Ibunya.”
Hinaan itu adalah lagu pengantar tidur Ria. Di sekolah, teman-temannya menjauh. Di lingkungannya, orang-orang menutup hidung dan membuang muka seolah Ria membawa penyakit. Perundungan menjadi makanan sehari-hari.
Anak-anak lain berteriak saat Ria mencoba ikut bergabung dalam permainan mereka, “sana pergi! Jangan dekat-dekat pada kami. Dasar anak haram, tidak punya ayah!”
Ria kecil hanya bisa menunduk. Ia belajar bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan cara tidak menonjol. Dan Ria mengetahui cara agar orang-orang menerima keberadaannya dengan cara menuruti setiap ucapan mereka tanpa mengeluh dan membantah, maka Ria akan di terima di kelompok mereka. Diterima sebagai kacung.
Saat Ria berusia 10 tahun, Nenek yang merawatnya meninggal dunia. Kematian sang nenek membuat Ria benar-benar sendirian. Ria berjalan dan berteduh dari kerabat satu ke kerabat lainnya hanya untuk menumpang tinggal dan makan.
Meski sejatinya Ria selalu tak mendapatkan makanan dan sering menahan laparnya. Asalkan ia menurut dan tidak banyak protes, Ria masih mendapatkan tempat tinggal untuk berteduh. Sampai pada suatu hari Ria di usir karena kerabatnya tak sanggup mencukupi kebutuhan Ria yang tak seberapa itu.
“Paman, Bibi, biarkan Ria tinggal di sini. Ria janji tidak akan menangis dan tidak akan merengek apapun. Ria hanya ingin tidur di rumah agar tak kehujanan. Paman, bibi, kasihanilah Ria.” Teriak gadis kecil itu yang terus menerus mengetuk pintu rumah.
Ria berjalan menuju kerabat lainnya. Nasibnya pun sama. Di usir kembali setelah beberapa bulan tinggal. Padahal Ria tak banyak menghabiskan nasi. Ia selalu mengerjakan pekerjaan rumah tanpa di suruh. Namun keberadaannya menjadi bahan gunjingan orang-orang dan sanak keluarganya tak ingin menjadi olok-olokan warga.
Setelah Ria lulus sekolah dasar, seorang paman jauh ㅡanak dari adiknya nenekㅡ merasa iba. Paman itu, yang akrab di panggil paman Yudho, memutuskan untuk membawa Ria ke kota. Ia tahu, satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab adalah Suno.
Setelah mencari dengan susah payah, paman Yudho berhasil menemukan keberadaan Suno, yang kini hidup bergelimang harta dengan keluarga barunya.
Rumah itu besar dengan halaman yang luas. Paman Yudho dapat masuk ke dalam rumah besar itu karena berdalih urusan bisnis. Setibanya di ruang besar dengan ornament Eropa klasik, Paman Yudho langsung bicara pada intinya. Ia menunjuk Ria yang berdiri kaku di belakangnya.
“Ini Ria, anakmu, Pak Suno. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Tegasnya dengan sorot mata yang menyimpan amarah.
Suno terperangah. Wajahnya pucat pasi, amarah bercampur ketakutan akan dosa dan aibnya terbongkar. Ia menatap Ria seolah melihat duri yang menghalangi pemandangan. “Apa? Dia? Tidak! Aku tidak mau mengakuinya. Jangan pernah anda mengancam ku dengan anak aneh itu.”
“Bagaimana pun anda mengelak, Ria adalah anakmu, dan dia darah dagingmu! Anda tak perlu memberinya nama, dia telah memiliknya. Anda cukup memberinya tempat tinggal yang layak agar anak ini tidak merasakan kedinginan saat hujan, dan kegerahan saat panas.” Yudho berkata dengan nada lantang membuat Suno panik, ia takut anak dan istrinya mengetahuinya.
“Ria, anakmu dengan gadis desa yang bernama Ningsih. Ku harap anda tidak melupakan kejadian indah itu. Jangan hanya ingin enaknya saja. Anda harus bertanggung jawab atas apa yang anda perbuat.” Yudho menjeda ucapannya sebelum ia melanjutkannya. “Ningsih telah lama meninggal saat Ria lahir. Ku harap anda bisa merawatnya. Atau tidak, aku akan menceritakannya pada anak dan istrimu.”
Yudho menepuk pundak Suno dan berlalu pergi meninggalkan Ria yang masih ketakutan. Suno hanya diam, ia menatap Ria tajam. Mau tidak mau, Suno akhirnya menampung Ria di rumahnya. Suno yang lebih mementingkan status sosialnya dari pada mengakui darah dagingnya, akhirnya menyerah.
“Kau boleh tinggal disini, dengan satu syarat.” Suno mendekat dan berbisik layaknya sebuah ancaman dan peringatan, “jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan Ayah. Aku tegaskan, bahwa aku bukan ayahmu. Kau paham?”
Ria hanya menganggung lemah tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tinggal yang layak dan makanan yang sedikit cukup. Ria lelah berlari kesana kemari hanya untuk mendapatkan tempat tinggal. Ria hanya perlu patuh dan menurut tidak boleh membantah dan melawan. Seperti dulu saat ia ingin di akui dalam kelompok bermainnya.