Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita kurang ajar
Selir Yu melangkah cepat menyusuri jalur menuju halaman kediamannya. Di saat langkah kakinya baru saja menginjak halaman taman lili. Dia sudah melihat wajah pria yang selalu membuatnya kesal. "Untuk apa dia juga datang meramaikan suasana. Menambah kesialan ku saja." Melangkah cepat.
Kaisar Xiao Chen telah berdiri di sana selama hampir satu jam. Dia memperhatikan bunga-bunga yang baru saja bermekaran di taman kecil depan kamar utama.
"Yang Mulia." Selir Yu memberikan hormat dengan malas. Wajahnya juga tidak menunjukkan perasaan senang. Setelah memberikan hormat kepada Kaisar Xiao Chen. Langkah wanita itu justru jauh lebih cepat lagi. Melewati suaminya tanpa menolah kembali.
"Dia!" Kaisar Xiao Chen melihat kearah Selir Yu.
Drakkkk...
Pintu kamar di tutup dengan kuat.
"Benar-benar wanita kurang ajar." Kaisar Xiao Chen hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Yang Mulia." Pelayan Guyi dan Pelayan Nuan Nuan memberikan hormat mereka.
Meskipun mendapatkan penyambutan yang kurang mengenakkan. Kaisar Xiao Chen tetap menghampiri Selir Yu yang ada di dalam kamarnya.
Satu dorongan tidak terlalu kuat di lakukan pria dengan jubah naga itu.
Drakakk...
Pintu di kunci dari dalam.
"Selir Yu, semua wanita di istana ini bahkan ingin aku kunjungi. Tapi kau malah mengunci pintu kamar. Kau sungguh lancang. Jika tidak segera membukanya kepala mu akan menjadi taruhannya." Kaisar Xiao Chen masih berdiri di depan pintu yang tertutup rapat.
"Penggal saja kepala ku. Selama aku masih ada di sini. Cepat atau pun lambat. Nyawa ku juga tidak bisa di pertahankan," ujar Selir Yu. Wanita itu berguling-guling di tempat tidur. "Sangat nyaman," gumamnya pelan.
"Zhu Wan." Kaisar Xiao Chen memanggil pengawalnya.
"Yang Mulia, anda ingin saya mendobrak pintu ini? Atau menjebolnya menjadi beberapa kepingan?" Kata Pengawal Zhu Wan yang telah bersiap.
Alis Kaisar Xiao Chen menyatu. "Apa yang kau pikirkan! Bawakan aku kursi."
"...?"
"Cepat."
"Baik." Pengawal Zhu Wan berlari pergi mengambil satu kursi seperti keinginan Kaisar Xiao Chen. Tidak selang lama dia datang kembali membawa kursi yang di minta. "Yang Mulia, kursi yang anda minta."
"Ikuti aku." Kaisar Xiao Chen berjalan menuju samping kanan kamar utama. Tepat di bawah jendela dia menunjuk memberikan arahkan. "Letakkan di sana."
"Baik."
Kursi di letakkan pada posisi yang di inginkan.
Pengawal Zhu Wan mundur tiga langkah. Dan diam memperhatikan.
Kaisar Xiao Chen mengangkat jubah bagian bawah. Dia naik keatas kursi. Lalu melompat masuk seperti di saat dia di usir Selir Yu beberapa waktu lalu.
Setelah masuk, pria dengan jubah naganya itu melangkah mendekati ranjang. "Selir Yu." Panggilan itu tidak di gubris wanita di atas tempat tidur. Justru Selir Yu menaikkan selimut lebih tinggi lagi menutupi sebagian tubuhnya.
"Yu Qianlu. Apa kau tidak berniat menanggapi ku?"
Wanita itu tetap diam.
Kaisar Xiao Chen langsung menarik salah satu kaki Selir Yu yang terlihat keluar dari selimut.
"Aaaaaa..."
Drakkk...
"Iissss..."
Selir Yu di tarik jatuh dari ranjang ke lantai yang keras.
"Apa kau gila." Selir Yu menahan rasa sakit kepala dan punggungnya.
"Lancang. Aku pemimpin negeri ini, juga suami mu. Tapi kau justru mengabaikan ku. Sepertinya kau benar-benar tidak menghargai leher mu sendiri," ujar Kaisar Xiao Chen sembari mengaitkan kedua tangannya di punggungnya.
"Kenapa kau cerewet sekali. Lebih cerewet dari Ibu ku." Selir Yu bangkit dengan mengomel.
"Kau benar-benar tidak bisa menghormati aku sebagai Kaisar juga suami mu." Pria itu menatap dingin.
Wanita itu berjalan malas menuju ke kursi yang ada di ruangan tengah. "Dengan wajah dingin mu dan tingkah menyebalkan yang terus kau lakukan kepada ku. Bagaimana aku bisa bersikap hormat. Kenapa kau terus datang mengganggu ku. Bukankah Yang Mulia lebih berharap aku menghilang. Dari pada berhadapan dengan mu." Menuangkan air minum di cangkir bersih. Dia meminumnya dalam sekali tegukan.
Kaisar Xiao Chen duduk di depan Selir Yu.
Tukkk...
Ttuukk...
Jari telunjuk kanannya mengetuk pelan di meja. Memberikan isyarat jika wanita di depannya harus menuangkan juga air untuk dirinya.
Tapi seperti dugaan, Selir Yu tidak peduli. Dia mengalihkan pandangan matanya bahkan menyampingkan tubuhnya.
"Hemm..." Hela napas dalam menekan tenggorokan Kaisar Xiao Chen. Dia mengambil sendiri air minum untuk dirinya.
"Sebenarnya apa mau mu?" Selir Yu meletakkan cangkir kosong di meja. Menatap pasti kearah pria di seberang meja.
Kaisar Xiao Chen meminum perlahan air yang ada di dalam cangkir. Setelah selesai dia berkata, "Tidak ada."
"Ahhh..." Selir Yu melemaskan tubuhnya di meja. "Yang Mulia, aku mohon untuk hari ini saja. Biarkan aku beristirahat dengan tenang."
Pria itu menarik belati dari balik lengan jubahnya.
Drakkk...
Belati di letakkan di meja tepat di hadapan Selir Yu.
"Selamat beristirahat dengan tenang. Kau bisa menggunakannya aku tidak keberatan," ujar Kaisar Xiao Chen penuh ejekan.
Wanita itu menyeringai penuh dendam.
Kaisar Xiao Chen meminum kembali air dalam cangkir. Baru setelahnya di letakkan di meja. "Kau telah membuat istana dan Ibu Kota menjadi kacau. Selir Yu, apa kau tidak merasa bersalah untuk itu?"
"Tidak."
"Baru beberapa jam saja setelah kau membuat keributan. Di atas meja kerja ku kini di penuhi petisi untuk mencabut status dan gelar mu." Kaisar Xiao Chen menatap kearah Selir Yu. "Sekalipun kau putri pejabat tingkat tiga. Aku juga tidak bisa berbuat banyak."
"Kebetulan sekali. Aku juga sudah bosan berperan menjadi Istri mu. Kau bisa mencabut status dan gelar ku." Selir Yu bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju pintu. "Yang Mulia, silakan." Pintu di buka setelah penahan di lepas.
Kaisar Xiao Chen bangkit dan berjalan menuju kearah Selir Yu. Dia sedikit merendahkan tubuhnya setara wanita di depannya. Di saat bibirnya berada di dekat telinga Selir Yu. Dia berbisik pelan, "Apa yang kau inginkan tidak akan pernah terkabulkan." Seringaian halus melintas di wajahnya.
Pria itu melangkah pergi meninggalkan kamar Selir Yu. Namun tepat sebelum kakinya melewati ambang pintu menuju keluar dari halaman itu. Dia berkata, "Malam ini aku ingin bermalam dengan Selir Yu. Buat persiapan. Dan beritahukan kabar gembira ini kepadanya."
"Baik." Kasim kepala Gu mengangguk mengerti. Dia berlari penuh semangat dan senyuman cerah. "Selir Yu, ada kabar baik untuk mu. Kau pasti akan menyukainya. Selir Yu, ada kabar gembira untuk mu."
Sedangkan Kaisar Xiao Chen di kawal pengawal pribadinya. Telah melangkah pergi dari halaman tempat tinggal Selir Yu.
"Selir Yu..." Kasim kepala Gu mengatur napasnya.
Pintu kamar di buka.
Selir Yu berdiri di hadapan Kasim itu dengan tatapan dingin. "Kasim Gu, apa Yang Mulia ingin memindahkan semua hartanya atas nama ku?"
Untuk sepersekian detik, Kasim kepala Gu menatap linglung. Hingga dia mengingat kembali ucapan Kaisar Xiao Chen. "Selir Yu, ada kabar bahagia untuk mu. Yang Mulia ingin menghabiskan malam dengan mu." Kalimat terakhir di ucapkan dengan teriakkan kuat. Agar semua orang bisa mendengarnya.
Selir Yu menatap diam. Dan...
Bruukkk...
Dia jatuh pingsan.
"Selir Yu."
"Selir Yu."
Semua orang langsung panik.
Pelayan Guyi mencoba membantu Selir Yu menempatkan kepalanya di atas pangkuannya. "Selir Yu."
"Guyi." Suara Selir Yu sangat lemah. Dia masih berbaring di lantai dan berada di pangkuan pelayan setianya.
"Ya. Anda membuat saya takut."
"Sudah berakhir. Tamat sudah riwayat ku." Selir Yu menatap langit-langit pintu.
"Selir Yu, saya akan membantu anda berdiri. Nuan Nuan bantu aku," ujar Pelayan Guyi.
"Baik." Pelayan Nuan Nuan segera mendekat. Sudah bersiap-siap membantu.
"Tidak perlu. Biarkan saja aku seperti ini." Selir Yu memejamkan kedua matanya tidak memiliki niat berpindah tempat.
"Saya lihat Selir Yu sudah baik-baik saja. Jika begitu saya undur diri." Kasim kepala Gu melangkah pergi meninggalkan halaman itu.
Dan wanita yang masih berbaring di ambang pintu. Mencoba bangkit perlahan di bantu dua pelayannya. Untuk berpindah ke atas ranjang yang lebih lembut dan hangat.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana