Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.30
Arena Kandang Besi mendidih oleh sorakan gila.
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!"
Di tengah lumpur berdarah, gadis kecil bernama Xiao Mei itu menangis histeris. Ia memegang belati dengan kedua tangan yang gemetar hebat, diarahkan ke Shen Yu.
"Maafkan aku, Kakak..." isaknya, air mata membanjiri wajahnya yang kotor. "Ayah bilang... kalau aku tidak membunuhmu, Ibu akan dijual ke rumah bordil... dan kepalaku akan diledakkan..."
Shen Yu berdiri diam. Lengan kirinya yang hancur menggantung di sisi tubuhnya, darah menetes deras ke air keruh.
Ia menatap kalung besi di leher gadis itu. Ada cahaya merah kecil berkedip di sana. Itu adalah artefak peledak jarak jauh. Pemicunya ada di tangan Tabib Gui di balkon atas.
Shen Yu menoleh ke atas. Tabib Gui sedang menyesap arak sambil tersenyum lebar, jarinya menari-nari di atas tombol pemicu.
Jika aku menyerang balkon itu, dia akan meledakkan anak ini sebelum aku sampai. Jika aku menolak bertarung, dia akan meledakkan anak ini, lalu membunuh Su Ling di tempatnya.
Tidak ada jalan ketiga. Tidak ada keajaiban.
Dunia ini bukan dongeng di mana pahlawan selalu bisa menyelamatkan semua orang. Dunia ini adalah mesin penggiling daging.
"AAAAHH!"
Xiao Mei memejamkan matanya rapat-rapat dan berlari menerjang ke arah Shen Yu. Langkahnya kacau. Ia hanya anak kecil yang ketakutan.
Shen Yu melihatnya mendekat. Dalam pandangan lambatnya, ia melihat ketidakberdayaan. Ia melihat keputusasaan.
Giok Retak di dadanya berdenyut dingin.
"Bunuh dia. Atau Su Ling mati. Pilihlah, Shen Yu."
Wajah Su Ling yang pucat dan sekarat di kamar melintas di benaknya.
Hati Shen Yu membeku. Sesuatu di dalam dirinya bagian terakhir dari anak petani Desa Qinghe yang lugu retak dan hancur berkeping-keping.
"Maafkan aku, Nak," bisik Shen Yu. "Dunia ini yang salah. Bukan kau."
Saat Xiao Mei sampai di depannya dan menusukkan belati itu sembarangan...
Shen Yu tidak menghindar. Ia melangkah maju.
Tangan kanannya bergerak. Bukan pukulan penghancur batu. Bukan cengkeraman iblis.
Melainkan sebuah gerakan lembut, secepat kilat, untuk memeluk kepala anak itu.
KRAK.
Suara patahan leher terdengar sangat lirih, tertutup oleh sorakan penonton.
Tubuh Xiao Mei lemas seketika di pelukan Shen Yu. Dia mati dalam sekejap mata. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ledakan. Tidak ada penderitaan panjang.
Hanya kegelapan abadi yang tenang.
Shen Yu menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh ke air kotor. Ia mendekapnya erat. Belati gadis itu jatuh berdenting ke lantai batu.
Cahaya di kalung peledak itu berubah hijau—tanda target jantung telah berhenti berdetak.
Sorakan penonton meledak menjadi gemuruh yang memekakkan telinga. Mereka melempar koin dan bunga ke arena, merayakan kematian seorang anak demi hiburan.
Shen Yu berdiri di sana, memeluk mayat anak yang baru saja ia bunuh. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi. Matanya kering. Tapi di dalam jiwanya, badai salju sedang mengamuk.
Ia mendongak menatap Tabib Gui.
Tabib gila itu bertepuk tangan kegirangan. "Hebat! Hebat! Efisiensi yang brutal! Kau lulus, Hantu Tanpa Napas!"
Shen Yu meletakkan mayat Xiao Mei dengan hati-hati di tempat yang kering. Ia menutup mata anak itu yang masih terbuka.
"Tidur yang nyenyak," bisiknya. "Kau tidak perlu takut lagi."
Lalu, Shen Yu berbalik dan berjalan keluar arena.
Setiap langkah terasa berat, seolah ia menyeret gunung di punggungnya. Ia tidak merasakan sakit fisik di lengan dan bahunya yang hancur. Tapi ia merasakan lubang menganga di dadanya yang tidak akan pernah bisa dijahit kembali.
Shen Yu melempar kantong berisi 500 Batu Roh (hasil kemenangan dan taruhan Ma Liu yang ia rampas) ke meja Tabib Gui.
"Obatnya," kata Shen Yu. Suaranya serak dan mati.
Tabib Gui menghitung batu itu dengan mata berbinar. "Hehe, senang berbisnis denganmu. Kau aset yang berharga, Nak. Aku punya banyak pertandingan lain minggu de—"
BAM!
Tangan kanan Shen Yu mencengkeram leher Tabib Gui dan membantingnya ke dinding.
Tabib Gui terbatuk, kakinya menggantung. Penjaga sana hendak bergerak, tapi aura pembunuh yang memancar dari Shen Yu membuat mereka membeku. Itu aura iblis murni. Pekat, amis, dan gila.
"Dengar, tua bangka," desis Shen Yu, wajahnya mendekat ke wajah Tabib Gui. "Berikan obatnya. Sembuhkan dia. Sekarang."
"Ba-Baik... santai..." gagap Tabib Gui, ketakutan melihat mata Shen Yu yang nyaris tanpa emosi manusia.
Tabib Gui segera meracik Pil Pembersih Paru dan melakukan akupunktur pada Su Ling dengan tangan gemetar.
Satu jam berlalu. Napas Su Ling menjadi teratur. Warna merah di wajahnya memudar. Racunnya telah netral.
"Dia... dia akan sadar besok pagi," lapor Tabib Gui.
Shen Yu melepaskan cengkeramannya. Ia menggendong Su Ling di punggungnya.
"Kita lunas," kata Shen Yu.
Ia berjalan keluar dari tempat itu, menembus malam Kota Air Hitam yang berkabut.
Shen Yu tidak berhenti sampai ia menemukan sebuah rumah kosong di pinggiran kota yang jauh dari keramaian. Ia membaringkan Su Ling di dipan berdebu.
Malam itu, Shen Yu duduk di ambang pintu, menatap bulan merah yang menggantung di langit.
Ia melihat kedua tangannya. Tangan kanan yang memegang seruling untuk Su Ling. Tangan kiri yang hancur karena buaya. Dan kedua tangan itu... kini berlumuran darah Xiao Mei.
Aku membunuhnya. Aku membunuh anak kecil demi uang untuk satu pil.
Shen Yu ingin menangis. Ia ingin berteriak. Tapi air matanya tidak keluar. Rasa sakitnya telah diambil oleh Iblis Giok. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin.
"Mulai hari ini," gumam Shen Yu pada angin malam.
"Shen Yu si anak petani sudah mati di arena itu."
Ia mengepalkan tangannya.
"Yang tersisa hanyalah Shen Yu si Kultivator. Aku akan mendaki ke puncak tertinggi. Aku akan menjadi begitu kuat, begitu berkuasa, sampai tidak ada seorang pun di langit atau di dunia ini yang bisa memaksaku membuat pilihan seperti ini lagi."
Sebuah tekad yang terbuat dari darah dan penyesalan terbentuk di hatinya fondasi bagi jalan seorang Raja Iblis masa depan.
Di dalam ruangan, Su Ling bergerak pelan dalam tidurnya.
Shen Yu menoleh. Tatapannya melembut sesaat, lalu kembali keras.
Ia akan melindunginya. Meski harus membakar seluruh dunia menjadi abu.
Shen Yu belajar pelajaran terakhir dan tersulit di dunia kultivasi: Terkadang, tidak ada jalan keluar yang bersih. Terkadang, kau harus mengotori tanganmu dengan darah orang tak berdosa hanya untuk melindungi satu orang yang kau cintai.