Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu yang Penuh kebahagiaan
Tiga bulan pertama pernikahan berjalan seperti mimpi indah, yang gak mau berakhir. Nayara bangun pagi dengan senyum di bibir. Di sampingnya Bima masih tidur pulas. Wajahnya damai, napas teratur, tangan melingkar di pinggang Nayara.
Berbeda banget sama dulu waktu sama Gilang. Gilang gak pernah peluk Nayara waktu tidur. Bahkan sering membelakangi. Tapi Bima selalu meluk erat. Kayak takut Nayara hilang kalau gak dipeluk.
Nayara mengelus pipi Bima pelan. Bima gerak sedikit, senyum tanpa buka mata.
"Udah bangun?" Bima bisik dengan suara serak habis bangun tidur.
"Udah. Kamu tidur lagi aja. Masih pagi," Nayara jawab pelan.
"Enggak mau. Mau liat kamu dulu," Bima buka mata. Natap Nayara dengan tatapan lembut. "Pagi-pagi udah cantik aja."
Nayara ketawa. "Gombal. Muka habis bangun mana ada cantiknya."
"Buat aku cantik," Bima cium kening Nayara. "Ayo kita mandi bareng."
"Enggak ah. Nanti Aldi bangun."
"Sebentar aja. Ayolah," Bima rayuan manja sambil tarik tangan Nayara.
Nayara ketawa. Akhirnya nurut juga. Mereka mandi bareng. Main air. Ketawa-ketawa. Romantis kayak di film-film.
Selesai mandi, Aldi udah bangun. Nangis minta digendong.
"Pagi sayang," Nayara angkat Aldi dari box. Cium pipinya yang chubby.
"Pagi Aldi," Bima ikutan cium pipi Aldi. "Udah gede ya kamu sekarang."
Aldi udah 15 bulan sekarang. Udah bisa jalan sendiri walau masih sering jatuh. Udah bisa ngomong beberapa kata. Mama, papa, makan, minum.
Aldi manggil Bima papa sekarang. Bima yang ajarin. Dan Nayara gak keberatan. Justru seneng. Aldi butuh sosok ayah. Dan Bima dengan senang hati jadi ayah buat Aldi.
Sarapan pagi itu hangat. Bima masak nasi goreng, Nayara bikinin teh manis. Aldi makan bubur tim sambil main-main sendok.
"Nayara, malem ini aku pulang jam 7 ya. Kita makan malam bareng," Bima bilang sambil suap nasi goreng.
"Iya. Aku masakin apa?"
"Terserah kamu. Aku suka semua masakan kamu kok," Bima senyum.
Beda banget sama Gilang yang sering ngeluh makanan kurang enak, kurang ini kurang itu. Bima selalu bilang enak. Selalu habis. Bahkan kadang nambah dua tiga kali.
"Besok weekend kita jalan-jalan yuk. Ke pantai. Aldi pasti seneng main pasir," Bima ngajak.
"Boleh. Asik!" Nayara excited. "Tapi jauh gak?"
"Enggak kok. Ke Ancol aja. Deket," Bima jawab sambil elus kepala Aldi yang lagi makan.
Sepuluh hari kemudian mereka beneran ke pantai. Bima nyetir sendiri. Nayara duduk di samping sambil gendong Aldi. Sepanjang jalan nyanyi-nyanyi. Bima yang mulai, Nayara ikut ketawa-ketawa.
Sampai di pantai, Aldi excited banget. Liat pasir langsung mau turun. Jalan limbung-limbung ke arah ombak.
"Hati-hati Aldi!" Nayara teriak sambil kejar Aldi.
Bima ikut kejar. Angkat Aldi dari belakang. "Aduh dedek nekat nih. Mau nyebur ya?"
Aldi ketawa kenceng. "Aiirrr!"
Mereka main air bareng. Bima gendong Aldi masuk ke laut dikit. Aldi seneng banget. Tepuk-tepuk air sambil ketawa.
Nayara foto-foto mereka dari pinggir. Hatinya hangat. Penuh syukur. Ini yang dia mau. Keluarga yang hangat. Suami yang perhatian. Anak yang bahagia.
Siang-nya makan di warung pinggir pantai. Ikan bakar, nasi putih, sambal. Enak banget.
"Enak kan?" Bima nanya sambil suapin Nayara.
"Enak banget," Nayara jawab sambil kunyah.
Aldi duduk di pangkuan Nayara. Makan nasi putih sama ikan dikit-dikit. Berantakan kemana-mana tapi lucu.
"Aldi kayaknya suka laut ya," Bima bilang sambil ngelap mulut Aldi yang penuh nasi.
"Iya. Seneng banget dia," Nayara senyum.
"Nanti kita sering-sering kesini ya. Biar Aldi terbiasa sama alam," Bima ngasih ide.
"Iya. Bagus buat perkembangan dia juga," Nayara setuju.
Pulang-nya Aldi ketiduran di mobil. Capek main seharian.
"Nayara," Bima manggil sambil nyetir.
"Iya?"
"Aku seneng banget hari ini. Seneng bisa jalan-jalan bareng kamu sama Aldi," Bima ngaku dengan tulus.
"Aku juga seneng," Nayara jawab sambil senyum.
"Terima kasih ya udah mau nikah sama aku. Udah kasih aku kesempatan jadi suami kamu. Jadi papa buat Aldi," Bima bilang dengan mata agak berkaca-kaca.
"Sama-sama. Aku yang harusnya terima kasih. Terima kasih udah nerima aku apa adanya," Nayara balas sambil pegang tangan Bima yang lagi pegang stir.
Malem-nya setelah Aldi tidur, Bima dan Nayara di kamar. Bima duduk di tepi kasur. Natap Nayara yang lagi sisiran di depan cermin.
"Nayara, kemarilah," Bima manggil dengan nada lembut tapi ada sesuatu di matanya. Tatapan yang Nayara udah hapal. Tatapan yang artinya Bima mau.
Nayara senyum kecil. Jalan mendekat. Bima tarik tangan Nayara. Dudukkan di pangkuannya.
"Aku kangen," Bima bisik sambil cium leher Nayara.
"Kan tadi siang baru," Nayara ketawa kecil.
"Aku gak pernah bosen sama kamu," Bima jawab sambil terus cium leher Nayara.
Nayara ngerti maksudnya. Bima memang, gimana ya bilangnya, passionate banget. Hampir tiap malem minta. Kadang sampe tiga kali dalam satu malem.
Awalnya Nayara agak kaget. Gilang dulu juga sering minta tapi kasar. Sementara Bima sering tapi lembut. Perhatian.
Dan Nayara nurut aja. Dia mau jadi istri yang baik. Istri yang melayani suami dengan ikhlas.
"Ayo tidur dulu. Kamu capek kan seharian?" Nayara coba nunda.
"Enggak capek. Malah semangat," Bima senyum nakal. "Ayolah sayang. Sebentar aja."
Nayara ketawa. "Sebentar katanya. Tapi pasti lama."
"Ya enggaklah. Ini beneran sebentar," Bima bohong. Mereka berdua tau itu bohong.
Akhirnya mereka bercinta lagi. Lembut seperti biasa. Bima selalu tanya, sakit gak? Enak gak? Perhatian banget.
Selesai yang pertama, Nayara pikir udah. Tapi Bima belum puas. Minta lagi.
"Bima, aku capek," Nayara bilang sambil napas terengah.
"Sekali lagi ya sayang. Kumohon," Bima merayu sambil cium kening Nayara.
Nayara nurut lagi. Demi jadi istri terbaik. Demi bikin suami puas. Setelah yang kedua, Bima masih mau lagi.
"Bima, cukup. Aku beneran capek," Nayara mulai protes halus.
"Ya udah. Yang terakhir. Abis ini aku janji tidur," Bima janji.
Dan mereka lakuin yang ketiga. Kali ini lebih cepet karena Nayara udah beneran capek.
Selesai, Bima langsung peluk Nayara erat. "Terima kasih sayang. Kamu istri terbaik."
Nayara cuma senyum walau tubuhnya remuk semua. Capek tapi dia seneng bisa bikin suami puas.
Besok paginya Nayara bangun dengan badan pegel semua. Tapi dia tetep bangun pagi. Masak sarapan buat Bima dan Aldi.
"Pagi sayang," Bima cium pipi Nayara dari belakang. "Maaf ya semalam. Aku terlalu nafsu."
"Gak papa," Nayara jawab sambil senyum. "Kamu suamiku. Hak kamu."
"Tapi tetep aja. Aku harus lebih bisa nahan diri," Bima bilang sambil bantuin Nayara goreng telur.
"Udahlah. Gak usah dipikirin," Nayara ngelus lengan Bima.
Bisnis Bima juga lancar banget tiga bulan ini. Proyek properti-nya laris. Dapat investor besar. Uang masuk banyak.
"Nayara, aku transfer uang belanja bulan ini ya. Sekalian buat nabung," Bima bilang sambil buka aplikasi bank di hp.
"Berapa?" Nayara nanya.
"Lima belas juta. Cukup gak?"
"Cukup banget! Kemarin kan sepuluh juta aja udah lebih," Nayara kaget.
"Enggak. Sekarang kan ada Aldi juga. Butuh lebih banyak. Lagian aku lagi rezeki. Bagi-bagi dong," Bima senyum.
Bima juga rajin kasih uang ke orang tua Nayara. Tiap bulan pasti transfer buat Pak Hasan dan Bu Siti.
"Buat Bapak sama Ibu. Biar mereka gak susah," Bima bilang.
Bu Siti sampai nangis waktu pertama kali terima transferan dari Bima. "Alhamdulillah dapat menantu yang baik."
Nayara juga ikut nangis. Bahagia banget.
Suatu malem Nayara sholat tahajud. Bangun tengah malem pas Bima sama Aldi tidur pulas. Dia sholat dua rakaat. Terus duduk lama di sajadah. Tangan terlipat. Mata merem. Hati fokus.
"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih udah kasih aku suami yang baik kali ini. Suami yang sayang sama aku. Yang peduli sama Aldi. Yang bertanggung jawab," Nayara berdoa dengan bisikan lirih.
Air mata jatuh pelan.
"Alhamdulillah. Sepertinya kali ini Allah kirim yang terbaik," Nayara berbisik sambil senyum walau nangis.
"Tolong jaga pernikahan ini ya Allah. Jangan sampai rusak kayak pernikahan yang dulu. Jadiin Bima suami yang istiqomah. Jadiin aku istri yang sholehah. Aamiin."
Nayara sujud syukur. Lama. Sampai air matanya kering. Dia bersyukur. Bersyukur banget. Akhirnya dia nemu kebahagiaan yang beneran. Yang tulus. Yang gak palsu.
Bima beda dari Gilang. Jauh banget bedanya. Bima perhatian. Gilang cuek. Bima pulang tepat waktu. Gilang pulang larut terus.
Bima sayang sama Aldi. Gilang gak pernah peduli. Bima bertanggung jawab. Gilang egois.
Nayara yakin. Yakin banget. Pernikahan kali ini akan bertahan sampai akhir hayat. Gak akan hancur kayak yang pertama.
Karena Bima beda.
Bima yang terbaik.
Setidaknya begitulah yang Nayara pikir saat itu. Setidaknya begitulah yang Nayara percaya dengan sepenuh hatinya.
Tapi apa bener Bima se-perfect itu?
Apa bener dia beda dari Gilang?
Atau semuanya cuma topeng yang belum terbuka?
Nayara gak tau, dan dia gak mau tau. Yang dia mau cuma satu. Bahagia, dan sekarang dia bahagia. Sangat bahagia.
Walau nanti kebahagiaan itu akan hancur lagi. Walau nanti dia akan sakit lagi. Tapi itu cerita nanti. Sekarang dia mau nikmatin dulu kebahagiaan yang ada.
Selama masih bisa, dan topeng belum terbuka. Semuanya masih manis, sebelum semuanya berubah jadi pahit lagi.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭