Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Demam
Lampu kristal di langit-langit kamar utama telah diredupkan hingga menyisakan pendar jingga yang melankolis, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding setiap kali Arash bergerak. Suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu di telinga Arash, mempertegas kesunyian apartemen yang biasanya terasa tenang, namun kini terasa mencekam.
Arash duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari sosok Raisa yang tampak tenggelam di balik selimut tebal miliknya. Wanita itu masih menggigil, sesekali tubuhnya tersentak kecil, sebuah reaksi dari sistem imunnya yang sedang berperang melawan infeksi. Arash meraih ponselnya dengan gerakan kasar, jarinya menari cepat di atas layar untuk mencari kontak dokter pribadinya, Dokter Wijaya.
"Halo, Dok. Saya butuh Anda di unit saya sekarang. Istri saya demam tinggi, suhunya hampir menyentuh 40 derajat," ujar Arash tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah, namun ada nada urgensi yang tertahan di sana.
Mendengar kata "dokter", Raisa yang tadinya memejamkan mata tiba-tiba tersentak. Tangannya yang panas dan gemetar keluar dari balik selimut, mencengkeram pergelangan tangan Arash dengan kekuatan sisa yang ia miliki.
"Jangan ..." bisik Raisa, suaranya parau dan pecah. "Arash ... jangan panggil dokter ...."
Arash mengerutkan kening, menatap tangan Raisa yang membara di kulitnya. "Kau sakit parah, Raisa. Jangan konyol."
"Tidak boleh ada ... yang tahu ..." Raisa menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata mengalir dari sudut matanya yang masih terpejam. "Nanti ... pamanmu tahu aku lemah... nanti kontraknya ... batal ... Ayah akan dibawa ...."
Arash tertegun. Kalimat yang terputus-putus itu menghantam dadanya tepat di ulu hati. Dalam kondisi setengah sadar dan terbakar demam, hal pertama yang dipikirkan Raisa bukanlah rasa sakitnya, melainkan rasa takut akan kegagalan kontrak mereka dan keselamatan ayahnya. Arash perlahan menurunkan ponselnya, memutuskan sambungan dengan Dokter Wijaya bahkan sebelum dokter itu sempat menjawab lebih jauh.
"Dasar bodoh," gumam Arash, suaranya serak karena emosi yang tidak bisa ia definisikan. "Dalam keadaan begini pun kau masih memikirkan kertas-kertas sialan itu."
Arash meletakkan ponselnya di nakas dan beralih ke baskom air hangat yang mulai mendingin. Ia mengganti airnya, memeras handuk kecil dengan gerakan yang kini jauh lebih hati-hati. Ia menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi Raisa karena keringat dingin. Saat jemarinya bersentuhan dengan kulit Raisa, ia baru menyadari betapa tirus wajah wanita itu. Tulang pipinya menonjol, dan ada bayangan gelap di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh riasan kantor mana pun.
Selama ini, ia hanya melihat Raisa sebagai pion. Sebagai staf yang bisa ia suruh lembur hingga fajar, sebagai istri yang bisa ia pamerkan di depan Kakek, atau sebagai sasaran kemarahannya saat egonya terusik oleh Vino. Ia tidak pernah benar-benar melihat Raisa sebagai manusia yang memiliki batas lelah.
"Kenapa kau tidak pernah mengeluh?" bisik Arash pada kesunyian. "Kenapa kau selalu menatapku dengan mata menantang itu seolah kau baik-baik saja?"
Tiba-tiba, ponsel Raisa yang berada di dalam tasnya di atas meja rias bergetar panjang.
Zzt ... zzt ... zzt ...
Arash menoleh dengan tatapan tajam. Ia melangkah menuju meja rias, menyambar ponsel itu dengan rasa tidak suka yang membuncah. Layar ponsel menyala, menampilkan notifikasi pesan singkat dari nama yang paling tidak ingin ia lihat malam ini, Vino.
"Raisa, aku sangat cemas. Tadi di lobi aku melihat Pak Arash membawamu pergi dengan terburu-buru. Apa kau baik-baik saja? Tolong balas pesanku. Aku tidak bisa tenang kalau tidak tahu keadaanmu."
Rahang Arash mengeras. Giginya bergelatuk menahan amarah yang mendadak meluap. Di saat ia sedang bertarung dengan rasa bersalah dan merawat Raisa sendirian di tengah malam, pria itu masih sempat-sempatnya menyusup ke dalam pikiran Raisa. Arash meremas ponsel itu dengan kuat, jarinya gatal ingin membanting benda itu ke lantai atau membalas pesan tersebut dengan makian yang paling kasar.
Ia melirik ke arah ranjang. Raisa kembali mengigau pelan, menyebut-nyebut nama ayahnya dengan nada memohon.
"Cemas?" Arash mendesis pelan, matanya menatap tajam ke layar ponsel Vino. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, Vino. Kau tidak tahu seberapa keras dia berjuang hanya untuk bertahan hidup dari tekanan yang kubuat."
Arash melempar ponsel itu kembali ke meja rias dengan kasar, tidak berniat membalasnya namun juga tidak sanggup menghapusnya. Ia kembali ke sisi ranjang, duduk di kursi berlengan yang ia tarik mendekat. Ia meraih tangan Raisa yang panas dan—untuk pertama kalinya tanpa ada penonton, tanpa ada kontrak, dan tanpa ada paksaan—ia menggenggam tangan itu dengan erat.
Ia menghabiskan sisa malam itu dalam posisi yang menyiksa bagi seorang CEO yang biasanya tidur di atas kemewahan. Ia mengganti kompres setiap tiga puluh menit. Ia menyeka keringat di leher dan tengkuk Raisa dengan handuk basah. Ia mendengarkan setiap igauan Raisa yang membongkar trauma-trauma masa kecilnya, tentang bagaimana ia harus menjadi dewasa sebelum waktunya sejak ibunya tiada dan ayahnya terjerat masalah.
Semakin dalam malam berlalu, semakin besar rasa benci Arash pada dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa dialah penyebab utama wanita ini ambruk. Dialah yang menciptakan "hukuman" dokumen itu. Dialah yang menciptakan atmosfer kantor yang mencekam bagi Raisa.
"Bangunlah, Raisa," bisik Arash saat fajar mulai memberikan semburat biru di cakrawala. "Bangun dan maki aku seperti biasanya. Jangan diam seperti ini."
Raisa bergerak sedikit, jemarinya membalas genggaman tangan Arash tanpa sadar. Kehangatan yang saling berpindah di antara telapak tangan mereka menciptakan momen yang sangat intim sekaligus menyakitkan.
Tepat saat matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit, suhu tubuh Raisa mulai sedikit turun, namun igauannya berubah menjadi sesuatu yang membuat jantung Arash seolah berhenti berdetak.
"Arash ..." panggil Raisa, suaranya sangat lirih, nyaris seperti embusan angin.
Arash mendekatkan telinganya ke bibir Raisa. "Iya, aku di sini."
"Jangan ... jangan benci aku ..."
Kalimat itu diikuti oleh helaan napas panjang yang berat sebelum Raisa kembali jatuh ke dalam tidur yang lebih dalam. Arash mematung. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan mana pun. Ia menatap wajah Raisa yang kini tampak sedikit lebih tenang, namun ia tahu, ada sesuatu yang telah berubah di dalam dirinya malam ini. Sesuatu yang permanen.
Ia melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan, berdiri untuk merapikan selimut Raisa untuk terakhir kalinya sebelum ia harus bersiap ke kantor. Namun, saat ia berbalik hendak menuju kamar mandi, matanya menangkap sesuatu di bawah bantal Raisa. Sebuah foto kecil yang ujungnya sudah agak lusuh—foto Raisa bersama ayah dan ibunya.
Arash terdiam lama di sana, menyadari bahwa ia baru saja meruntuhkan dinding pertahanannya sendiri.