NovelToon NovelToon
Langkah Kecil Rara

Langkah Kecil Rara

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Ibu Tiri / Keluarga / Antagonis / Ibu Pengganti
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.

"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lumpur dan Luka

“Wah, sudah pulang, Bang?” ucap wanita itu.

Rara yang masih bergelut dengan peralatan dapur hanya menangkapnya sekilas.

“Kebetulan sekali, Rara baru selesai memasak. Tadi ia menawarkan diri membantuku,” lanjutnya, menyelipkan racun manis dalam setiap kata.

“Oh, bagus kalau begitu,” ujar pria itu sambil tersenyum pada istrinya.

Rara merutuk dalam hati. Sampai kapan ayahnya percaya?

Bagaimana mungkin ia mengadu, jika semua ketidakadilan hanya terjadi saat ayah tak ada di rumah?

Wajah lelaki itu tampak kelelahan. Alea yang sedari tadi asyik main kartu langsung menyalaminya.

"Alisya mana?" ucap lelaki paruh baya itu. Ketika tatapannya tidak menemukan Alisya di sisi Rara.

"Oh, itu Alisya tadi aku suruh cuci piring. Gantian sama Alea," ia senyum sangat dipaksakan.

"Kemarin, seharian Alea yang aku tugaskan," lelaki itu mengangguk. Lalu menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan wanita paruh baya itu.

Rara tertunduk lama. Jemarinya saling meremas, menahan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan di depan ayahnya. Agar ia tahu bagaimana ia diperlakukan oleh wanita munafik itu.

Rara menarik napas berat. Andai ia besar, mungkin sudah lama meninggalkan rumah yang tidak ramah kepadanya ini. Tapi ia hanyalah anak perempuan delapan tahun yang belum benar-benar mengerti apa pun.

“Ra,” panggil wanita itu lembut, terlalu lembut. “Boleh Ibu minta tolong antar sapi ke sawah belakang?”

"Iya Bu," balas Rara singkat. Ia lelah. Sejak pagi belum sempat beristirahat. Bangun tidur disuruh mencuci pakaian, lalu memasak. Kini, lagi-lagi ia diperintahkan, sementara Alisya masih di sumur mencuci piring.

Ia berjalan gontai ke kandang sapi. Bau kotoran sapi menyengat hidungnya. Tanah becek bercampur lumpur dan air kencing terasa licin di bawah kakinya. Semua itu sudah biasa bagi Rara. Rara meraih tali ikatan sapi, lalu menariknya keluar dari kandang. Membawanya ke sawah penuh rerumputan, di sebelah sumur tempat Alisya mencuci piring.

"Kak Rara," sapa Alisya dengan riang.

"Iya, Dek." balas Rara sejenak.

"Mandi yuk, aku sudah selesai cuci piring!" panggilnya lagi.

Rara mengangguk, lalu mendekati adiknya. Tapi matanya teralihkan oleh batang jambu biji yang sedang berbuah ranum. Ia tak segera menyusul Alisya tapi mengalihkan tujuannya ke batang jambu tersebut.

Ia mulai memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi itu. Pohonnya tumbuh di pinggir sawah dengan batang yang lebih condong ketengah sawah.

Rara memijak cabang-cabang pohon untuk meraih buah yang ranum. Ketika ia dapat satu buah, ia langsung memakan di atasnya. Baunya tercium wangi, warna dagingnya merah dan rasanya sangat manis.

"Kamu mau, Alisya?" teriaknya dari atas pohon. Alisya menoleh.

"Aku mau, Kak." Alisya tampak tersenyum dari kejauhan.

Rara kembali memanjat dahan yang lain, untuk memetik buah yang memang sangat lebat. Karena salah pijakan kakinya terpeleset. Ia terjatuh namun beberapa saat rok yang dikenakannya tersangkut di sebuah dahan bekas potongan.

Tubuhnya bergoyang tak seimbang. Jeritannya pecah, bercampur tangis dan rasa takut yang mencekik dada.

"Ibu!! Kak Rara!!" pekik Alisya keras.

Wanita itu keluar, disusul ayahnya. Langkahnya cepat, tapi matanya lebih dulu mencari Alisya.

"Ada apa?" ucapnya setengah terkejut. Ayahnya berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya pucat menahan kaget.

Alisya ketakutan. Tapi pandangan mereka teralihkan oleh suara Rara yang meronta-ronta minta tolong. Namun, belum sempat mereka mendekat.

Brukk!!

Rara jatuh ke dalam kubangan sawah.

Darahnya berdebar sangat kencang. Wajahnya dipenuhi lumpur sawah. Lelaki di depannya berkacak pinggang. Mukanya tampak berang. Rara masih menangis. Berusaha keluar dari kubangan lumpur itu.

"Disuruh pindahin sapi malah manjat pohon jambu!" Bentak ayahnya cukup kasar.

"Kenapa kamu manjat-manjat Ra. Batang jambu ini licin," sambung ibu tirinya dengan nada peduli. Tapi sudut bibirnya tampak judes.

“Seperti orang kelaparan saja kamu.”

Plak!!

Rara merasa tertampar. Ucapan itu menusuk, ayahnya seperti mengatakan bahwa ia tak pantas merasa lapar.

Air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung. Orang yang ia harapkan memberikan perlindungan, hanya bisa menghakimi. Tanpa memberi celah untuknya membela diri.

"Sudah langsung mandi!" bentaknya sekali lagi tanpa kasihan.

Bau lumpur yang masuk ke hidung Rara sudah tidak lagi mengeluarkan aroma. Hatinya sakit. Lebih sakit dari lumpur yang menempel di tubuhnya. Lumpur terasa dingin di kulitnya. Lututnya perih, tapi ia tak berani mengadu. Menangis saja sudah dianggap salah.

Tak lama Alea juga muncul di belakang ayahnya. Ia menutup mulut, menahan tawa yang nyaris meledak. Jarum ejek di matanya menancap ke arah Rara yang berkubang lumpur, sebelum ia berlari ke rumah, mungkin untuk meluapkan tawa yang tertahan.

Ayahnya berbalik meninggalkan Rara dan Alisya, wajahnya masih menyimpan amarah. Alisya berjalan mendekati kakaknya. Ia menggandeng tangan Rara menuju sumur. Angin sepoi bertiup pelan memberi sedikit kesejukan hatinya yang luka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!