SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. LORENZO?
Suasana kamar rawat terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lalu. Tetes air infus jatuh dengan ritme stabil, tirai bergoyang halus tertiup pendingin ruangan, dan cahaya lampu nan hangat menyentuh wajah Celina yang masih terlelap.
Theo duduk di sofa kecil dekat jendela bersama Elena, Lucy, dan Leo. Mereka memindahkan Celina ke ruangan VVIP atas perintah sang ayah, Hans.
Untuk pertama kalinya sejak kekacauan hari itu, ada jeda ruang untuk bernapas, meski pikiran mereka masih dipenuhi pertanyaan. Terutama Theo akan identitas Celina yang sepertinya kedua orang tuanya tahu.
"Mama," ujar Lucy sambil menyandarkan punggungnya, "kalau Mama lihat sendiri apa yang bisa Celina lakukan, Mama juga pasti tidak akan percaya."
Elena tersenyum kecil, matanya lembut menatap putrinya yang seolah semangat menceritakan sosok gadis yang masih lelap di ranjang.
"Ceritakan, apa yang membuatmu sampai semangat ini, Sweetheart," pinta Elena yang juga ikut penasaran.
Leo langsung condong ke depan, wajahnya berbinar seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. "Ma, dia bisa mengingat apa pun dalam sekali lihat dan sangat detail sekali. Itu sangat luar biasa," ujar Leo tak mau ketinggalan.
Elena mengangkat alis. "Apa pun?"
"Benar-benar apa pun," jawab Leo cepat. "Dokumen, angka, grafik, bahkan tata letak ruangan. Sekali lihat saja. Bahkan dia bisa mengingat buku tebal dalam sekali baca."
Lucy menambahkan, "Tidak hanya itu, Ma. Celina bahkan ingat urutan berkas di rak di ruang arsip. Dia bisa menemukan setiap berkas tanpa mencari. Dia hanya menyebutkan letaknya dan boom! Dia benar."
Elena tertawa kecil melihat kedua anaknya ini begitu semangat bercerita. "Itu sungguh luar biasa. Mama jadi ingin lihat juga."
Theo hanya tersenyum tipis. Ia membiarkan kedua adiknya bercerita, mendengarkan dengan tenang, seolah menikmati fakta bahwa orang lain akhirnya melihat Celina seperti yang ia lihat selama ini. Bukan karena tampang, tapi karena kemampuan tak biasa gadis itu.
"Dan bukan cuma itu," lanjut Leo bersemangat. "Dia juga jago sekali soal data dan analisis. Kadang aku berpikir, dia lebih cocok duduk di kursi direktur daripada bersihin pantry. Mungkin Theo saja bisa dikalahkan oleh Celina."
"Hei, aku tersinggung," canda Theo.
Lucy menyikut lengan Leo. "Hei, kau membuat kakak kita kehilangan percaya diri nanti."
"Tapi itu fakta!" sanggah Leo cepat.
Lucy mendengus lalu menoleh ke Elena. "Mama tahu tidak? Posturnya itu ... sempurna."
Theo melirik Lucy. Itu hal pertama yang Theo sadari kalau office girl satu itu bukan gadis biasa.
"Bukan hanya cantik," lanjut Lucy tanpa peduli tatapan Theo. "Tapi elegan. Cara jalan, duduk, berdiri, semuanya rapi. Seperti ... orang yang sejak kecil diajari etika kelas atas yang Mama suruh aku ikuti itu."
Elena tersenyum mendengar itu. "Kau iri?"
Lucy mengangguk tanpa malu. "Sangat! Aku tidak pernah melihat postur tubuh seindah itu."
Theo terkekeh pelan.
Elena melirik putranya. "Kau kelihatan senang mendengarnya."
Theo mengangkat bahu. "Mereka memang tidak berlebihan soal Celina, Ma."
Lucy dan Leo langsung menoleh bersamaan.
"Oh?" ujar Lucy, menyipitkan mata. "Jadi kau mengakui?"
Theo menghela napas kecil, tapi sebelum sempat menjawab, Lucy tiba-tiba menyeringai jahil.
"By the way, Ma," katanya ringan namun penuh makna, "sebelum alarm perusahaan berbunyi dan kekacauan terjadi ... aku, Leo, dan Aiden melihat sesuatu."
Theo membeku.
"Apa?" tanya Elena, penasaran.
Lucy menoleh ke Theo. "Theo sedang memegang wajah Celina."
Dalam satu detik, Theo bangkit dan membekap mulut Lucy.
"Diam!" desisnya panik.
Lucy berusaha melepaskan tangan Theo sambil tertawa.
Leo menatap pemandangan itu dengan mata berbinar, lalu menambahkan dengan polos namun kejam, "Theo kelihatan seperti mau mencium Celina saat itu, Ma!"
"LEO!" tegur Theo.
Kedua anak kembar itu terkekeh melihat kakaknya panik. Karena dalam keluarga Morelli, termasuk orang tua mereka sangat melarang untuk anak laki-laki mereka mempermainkan perempuan. Menurut mereka jika suka dekati lalu nikahi. Kolot tapi mereka menghargai nilai perempuan setinggi itu.
Theo melepas Lucy dan menoleh cepat ke Elena. "Ma, itu salah paham!"
Elena mengangkat alis, menatap Theo dengan tatapan ibu yang terlalu berpengalaman untuk tertipu.
Lucy akhirnya berhasil bicara, masih tertawa. "Sungguh, Ma. Theo menyudutkan Celina ke dinding seperti ini."
Lucy mencontohkannya dengan memegang dan mendekatkan wajahnya ke Leo.
"Benar, Ma. Seperti ini. Aiden bahkan sampai memarahi Theo, karena diam-diam berpikir Theo punya hubungan dengan Celina tanpa bilang-bilang," tambah Leo yang membuat suasana semakin memanas.
Theo mengacak rambutnya frustrasi. "Aku sedang menginterogasi dia!"
Lucy menepuk lututnya. "Oh? Interogasi sekarang harus sambil pegang wajah dan menyudutkan ya?"
Theo menatap Lucy tajam. "Aku akan mengurangi uang jajanmu,"
Lucy langsung mengangkat sebelah tangan. "Aku akan minta ke Papa!"
Theo mendengus. "Dasar licik."
Elena hanya menggelengkan kepala, senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun kemudian, ia menjulurkan tangan dan mencubit sisi perut Theo.
"Aduh, Ma!" ringis Theo.
Elena menatapnya serius. "Jangan main-main dengan perempuan kalau kau tidak serius. Apa yang Papamu katakan soal itu, huh."
Theo terdiam.
"Ingat," lanjut Elena pelan tapi tegas, "perempuan bukan objek pemuas nafsu atau pelampiasan saat bosan. Mereka sosok berharga. Papamu sendiri yang mengatakan itu."
Theo menghela napas. "Aku tidak main-main dengan Celina, Ma."
Lucy dan Leo langsung saling pandang dan tersenyum jahil.
"Tidak main-main katanya, Leo. Berarti Thei serius dengan Celina," goda Lucy.
"Apakah kita akan segera mendapatkan kakak ipar?" tambah Leo.
"Kalian berdua, awas saja ya. Aku lupa kalau kalian ini setan-setan kecil," ujar Theo.
"Kami anak baik kok. Benar, 'kan, Ma?" kata Lucy memeluk lengan sang ibu.
Theo menyerah.
Elena menepuk bahu putranya. "Mama tahu kau tidak akan aneh-aneh dengen perempuan. Jangan dengarkan adikmu."
"Cih, Mama membela Theo," ujar Leo pura-pura kesal, padahal seringai jahil masih terpasang di wajahnya.
Hening sejenak menyelimuti mereka, sebelum Theo akhirnya bertanya dengan nada lebih serius, "Ma, Mama tahu tentang Celina?"
Elena menoleh, tatapannya berubah lebih dalam. "Untuk hal itu ... sebaiknya kau bertanya pada Papamu."
Theo mengernyit. "Kenapa?"
"Karena ini ada hubungannya dengan bisnis keluarga Morelli," jawab Elena tenang. "Dan itu sesuatu yang harus kau ketahui sebagai penerus Morelli."
"Apakah perjodohan seperti di cerita-cerita novel, Ma?!" ujar Lucy begitu antusias.
Theo menyentil dahi Lucy. "Diam kau, Brat. Jangan sebarkan gosip tidak-tidak apalagi sampai terdengar oleh Aiden."
"Aiden masih overprotective, ya dengan kalian. Benar-benar seperti kakak tertua saja," ujar Elena tertawa kecil saat mengingat teman baik Theo satu itu.
"Kalau begitu aku akan menemui Papa dan bertanya," ujar Theo lalu menatap Lucy dan menunjuknya. "Dan kau, tidak ada Pizza untuk satu minggu."
"Ehh~pelit!" protes Lucy, walau ia tahu itu hanya gertakan semata, karena kakaknya itu akan menelan ucapannya sendiri jika adik-adiknya merengek.
Theo berdiri, melirik Celina sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar.
Di lorong, ia melihat Papanya berdiri agak menjauh, ponsel di telinga, wajahnya tegang.
Theo hendak memanggil, tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar suara ayahnya.
"Bagaimana bisa putrimu ada di Los Angeles, Lucas? Aku sampai terkejut melihatnya hari ini," ujar Hans dengan orang di seberang telepon.
Theo terpaku, mendengarkan.
"Dia bahkan menjadi office girl di perusahaanku," lanjut Hans dengan suara rendah namun penuh tekanan. ".... kau sudah mendengar tentang Morelli Corporation hari ini?"
Theo mendekat perlahan, tanpa berniat menguping, namun kata-kata itu menariknya masuk.
"Putrimu terluka dalam insiden yang terjadi di perusahaanku. Aku tidak tahu kalau dia sampai ikut andil bahkan dalam kekacauan yang terjadi di perusahaan. Saat ini putrimu di rumah sakit. Dan keadaannya tidak cukup baik," kata Hans dengan nada khawatir.
Jantung Theo berdegup kencang.
Lalu suara Hans terdengar lebih dingin, lebih tajam ...
"Aku juga ingin bertanya, ada apa Lorenzo sampai mengirim putrinya sendiri ke Morelli?" tanya Hans.
Theo membeku.
Lorenzo.
Nama itu menghantamnya seperti palu.
Siapa yang tidak mengenal Lorenzo?
Keluarga termasyhur pemilik teknologi terbesar di Amerika Utara. Imperium yang merajai ekonomi, inovasi, dan pengaruh global.
Dan Celina ...
Adalah putri dari keluarga itu?
Theo menatap kosong ke depan, pikirannya berputar liar.
Celina Dawson.
Office girl.
Putri Lorenzo.
Dunia yang ia kenal tentang gadis itu runtuh ... digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih rumit.
Theo benar-benar terkejut luar biasa.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi