NovelToon NovelToon
Music Scandal (Despina & Keyvandi)

Music Scandal (Despina & Keyvandi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nevera

Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.

Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.

Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.

Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Kak Vandi kenapa?" Keyvara menghampiri kakaknya yang sedang duduk seorang diri di pinggiran kolam renang sambil membawa Siera anak perempuannya yang masih bayi. Wanita itu duduk di samping Keyvandi, tidak lupa Siera yang duduk di pangkuan sang ibu.

Keyvandi menoleh kearah adik perempuan satu-satunya itu, kemudian ia mengambil alih keponakan kecilnya untuk duduk di pangkuannya. "Kakak hanya sedang memikirkan seseorang."

Alis keyvara saking bertaut, "Siapa yang sedang kakak pikirkan?" Tanya wanita itu penasaran, ia juga heran tumben sekali kakaknya itu memikirkan seseorang.

"Apakah seorang gadis?" Goda keyvara dengan senyuman mengejek.

Keyvandi menganggukkan kepalanya, lagipula ia tidak mungkin bisa berbohong dengan adik perempuannya itu. Ia sangat menyayangi Keyvara, sehingga hal apapun pasti ia akan berbagi dengan wanita itu.

"Siapa?"

Keyvandi menggoda keponakannya yang ada di pangkuannya itu. "Siera, keponakan Uncle tersayang."

Bukannya menjawab Keyvandi malah mengajak keponakannya bermain, keyvara jadi kesal sendiri. Wanita itu akhirnya memanggil baby sitter sang anak, agar ia bisa leluasa berbicara dengan kakaknya itu.

"Bik, bawa Siera ke dalam, aku ingin berbicara dengan Kak Vandi."

"Baik Nona."

Ya, meskipun Keyvara sudah menjadi seorang ibu, tapi wanita itu di rumah orangtuanya masih dipanggil dnegan sebutan Nona, hal itu karena mereka sudah terbiasa dan memang Keyvara lebih suka dipanggil dengan sebutan Nona.

Setelah dirasa keadaan aman dan Siera telah dibawa ke dalam. Keyvara akhirnya menatap serius sang kakak.

"Kak, Vara serius, gadis mana yang berhasil bikin kakak memikirkannya sampai segininya?"

Keyvandi membalas tatapan sang adik, tapi kemudian ia mengarahkan pandangannya pada kolam renang yang ada di sana.

"Apa Vara mengingat gadis yang waktu itu? Gadis SMA yang pernah bertemu dengan kakak ketika kamu menjemput kakak?"

Keyvara tampak diam, ia mengingat-ingat siapa yang dimakasud kakaknya itu.

"Oh, Vara ingat, apa dia yang kakak pikirkan?"

"Iya, kakak baru saja menjadikannya kekasih kakak."

Mata keyvara membelalak mendengar pengakuan dari kakaknya itu, ia tidak menyangka jika kakaknya itu dengan beraninya menjadikan gadis yang bahkan ia tidak tau asal usulnya sebagai pacar.

"Kenapa kakak baru menceritakan pada Vara?"

Keyvandi sudah menduganya jika sang adik akan bertanya seperti itu, ia hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.

"Dek, kakak sengaja tidak ingin menceritakan dulu padamu, ataupun pada yang lain, kakak sebenarnya hanya ingin hubungan kami ini hanya kami saja yang tau dan kami yang menjalaninya, tapi akhirnya kakak tidak bisa menyembunyikan darimu, karena bagaimanapun kamu adalah salah satu orang terdekatnya kak Vandi."

Keyvara mengusap bahu kakaknya itu pelan, ia tidak biasanya melihat kakaknya itu murung seperti itu, seorang Keyvandi adalah lelaki humoris, bahkan di keluarganya pun Keyvandi yang paling humoris, meskipun ada Sean suaminya, ya, Keyvandi dan Sean adalah tipe lelaki yang sama, mereka seperti badut untuk orang lain, karena jika ada mereka maka suasana yang tadinya canggung akan mencair.

"Apa yang kakak khawatirkan darinya kak? Bukankah ia ada di rumahnya?"

Keyvandi menggelengkan kepalanya, "Kakak juga tidak tau, kakak bahkan tidak tau dimana letak rumah Despina, satu-satunya yang bisa kakak harapkan adalah sekolahnya, dan itu harus menunggu esok hari karena sekarang weekend."

"Kak Vandi aneh banget, padahal kan kakak punya banyak channel, bisa ajakan kakak nyuruh bodyguard kakak, atau orang suruhan kakak buat nyari tau dimana rumah Despina."

Keyvandi lagi dan lagi menggelengkan kepalanya, "Kakak nggak mau mengecewakannya, Despina tidak ingin kakak terlalu mencari tau tentangnya, lagipula kakak percaya padanya."

Keyvara bingung dengan jalan pikiran saudaranya itu, ternyata jika sudah terlanjuy sayang kakaknya itu akan menjadi budak cinta.

"Baiklah, terserah kak Vandi saja, awas aja kalau nanti ngerengek-ngerengek gara-gara si Despina belum ada kabar."

Keyvara kesal dengan kakaknya itu, ia kemudian lebih memilih untuk masuk ke dalam rumah karena sebentar lagi suaminya akan pulang. Di rumah milik orang tua mereka itu jika weekend tiba akan ramai dengan kedatangan anak-anak mereka, Keyvando, Keyvandi, dan keyvara pasti akan menginap di rumah itu, jika kalian bertanya tentang Kael, lelaki itu memang akan selalu tinggal di rumah itu karena Kael baru duduk di bangku kelas X SMA.

"Sayang, kamu dimana?" Gumam Keyvandi dengan nada frustasinya.

Saat Keyvandi sedang melamun, tiba-tiba saja ia mendapatkan telepon dari Justine.

"Halo Just? Ada apa?"

"Oh, Rion halo, apa kau sibuk?"

"Tidak, kenapa?"

"Baguslah, aku akan mengajakmu bertemu dengan Leo Pradana, musisi yang akan berkolaborasi denganmu, seperti saat obrolan kita saat itu."

"Baiklah, aku segera ke sana, tapi aku meminta tolong padamu kau harus izin dulu pada Lia."

Terdengar helaan napas di ujung sana, "Baiklah, demi proyek kita, aku akan melakukannya."

"Okay, kalau begitu teleponnya aku tutup dulu, aku akan bersiap."

Tut

Keyvandi langsung beranjak dari duduknya, sebenarnya hatinya saat ini masih sangat tidak enak, siapa yang akan tenang jika orang yang kita sayang tidak ada kabar sama sekali, bahkan ponselnya tidak dapat dihubungi.

"Pak Jo!" Panggil Keyvandi saat melihat seorang bodyguard yang merupakan bodyguard pribadinya tidak jauh dari tempatnya sekarang berdiri.

"Ada yang bisa saya bantu den Vandi?"

"Tolong cari gadis yang ada di foto ini sampai dapat ya, tapi ingat, jangan menakutinya, cukup katakan jika Vandi mengkhawatirkannya."

"Den, lebih baik fotonya dikirim ke hp bapak saya saja."

Akhirnya Keyvandi mengiyakan Ucapan bodyguard itu. "Sudah, tolong ya pak. Oh ya saya mau pergi, ada meeting mendadak, nanti biar pak Tomo saja yang ikut dengan saja, pak Jo cari gadis itu."

Bodyguard yang Keyvandi miliki ada dua, Pak Tomo dan Pak Jono atau yang lebih suka dipanggil pak Jo.

"Baik den, saya laksanakan sekarang."

Kemudian Keyvandi langsung naik ke lantai atas rumah orangtuanya, lelaki mengganti pakaiannya dengan kaos berwarna putih dan juga celana jeans berwarna hitam, oh, jangan lupakan masker, kacamata dan juga topi yang tidak pernah lepas darinya.

Saat menuruni tangga, Keyvandi berpas-pasan dengan Kael, asik bungsunya yang baru saja pulang dari luar rumah. "Kak Vandi, mau kemana?"

Keyvandi mengacak rambut Kael sejenak, "Kakak ada urusan mendadak, kamu jangan kemana-mana lagi, kasian kak Vara nggak ada temennya."

Kael cemberut ketika kakak lelakinya itu mengacak rambutnya, huh, untung saja ini di rumah, jika sampai teman-temannya di sekolah tau jika ia di rumah sangat dimanja bisa habis citra yang ia bangun saat ini akan hancur.

Keyvandi mengendarai mobilnya yang dikemudikan oleh pak Tomo salah satu bodyguardnya, sedang supirnya sendiri ia suruh untuk beristirahat. Sebenarnya ia ingin menyuruh pak Tomo untuk beristirahat begitupun dengan pak Jo, tapi keadaan tidak memungkinkan.

"Kemana den kita akan pergi?"

Keyvandi yang sedang melamun itu kembali tersadar, "Kita ke studio milik Justine Lard ya pak."

Meskipun hanya dengan mengatakan satu kalimat, bodyguardnya itu sudah mengerti, kebetulan Keyvandi memang sering bolak balik ke studio musik milik salah satu teman dekatnya itu.

Beberapa menit berlalu, mobil Keyvandi sampai di depan sebuah gedung berbentuk unik yang memang di desain khusus untuk studio musik. Kebetulan studio musik milik Justine ini adalah sebuah studio musik yang cukup terkenal di ibukota, banyak sekali musisi-musisi yang terlahir dari studio ini, termasuk Keyvandi.

"Hei Bro, akhrinya kau datang juga, aku menunggumu," Sapa Justine kepada Keyvandi, sekarang mereka berada di sebuah ruangan meeting yang ada di studio itu.

"Oh ya, perkenalkan ini Orion Key, dan Rion ini adalah Leo Pradana."

Keyvandi tersenyum, lelaki itu tentu saja tersenyum sebagai sebuah bentuk formalitas. Meski suasana hatinya sejarang dalam keadaan kacau.

"Salam kenal Orion Key, aku banyak mendengar namamu akhir-akhir ini, ternyata kau tidak seperti kelihatannya."

Keyvandi mengerutkan keningnya, pikiran lelaki itu seperti menolak apa yang diucapkan oleh Leo, hanya saja tiba-tiba suara Justine menginterupsi keduanya.

"Kalian adalah pasangan kolaborasi yang akan memiliki karakter yang kuat. Aku tidak sabar untuk itu."

Keyvandi hanya berdehem, sedangkan Leo, lelaki itu tertawa, "Kau benar sekali Justine, aku memang visual yang baik dalam proyek ini, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, benar bukan Orion Key?"

Keyvandi menatap lelaki yang bernama Leo itu, "Mungkin."

"Hei, kenapa kau seperti tidak yakin seperti itu Orion? Bukankah orang-orang mengatakan jika kau adalah musisi yang bisa bersikap profesional?"

Keyvandi tidak menjawab pertanyaan dari Leo, lelaki itu terlalu malas. Pikirannya sedang kalut, tapi lelaki yang baru saja ia temui itu sudah mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.

"Sudahlah Leo, sepertinya Rion sedang tidak baik-baik saja, akhir-akhir ini aku melihat Rion memiliki jadwal sangat padat, bahkan ia harus bangun pagi buta ketika matahari belum terbit, dan pulang di waktu subuh, tentu saja itu sangat melelahkan, tapi sekarang aku malah mengajaknya untuk meeting, pasti Rion sangat kurang istirahat."

Leo mendengus kesal mendengar pembelaan dari Justine untuk Keyvandi, oadahal lelaki itu tadi hanya ingin memperkeruh suasana, tapi ternyata rencananya gagal.

"Maafkan aku Justine, sepertinya aku sedang tidak enak badan."

Justin menepuk pundak Keyvandi pelan, "Tenanglah Bro, tidak masalah, mungkin lebih baik kau pulang dan beristirahat sekarang, aku rasa kita akan melanjutkan meeting ini Minggu depan, aku harap kalian berdua dalam keadaan baik-baik saja." Keyvandi tanpa pamit langsung pergi meninggalkan ruangan di studio musik milik Justine itu.

"Aku baru tau jika Orion Key bersifat seperti itu," Ujar Leo, lelaki itu memang bermaksud membuat Justine terpengaru olehnya.

"Kau belum mengenalnya dengan baik Leo, nanti jika proyek ini sudah jalan, pasti kau akan tau bagaimana baiknya seorang Orion Key."

Gagal, ya, rencana Leo untuk menghasut Justine ternyata tidak semudah itu, Justine benar-benar sangat mempercayai Keyvandi, sehingga tidak butuh hanya sebuah omongan saja untuk menjatuhkan seorang Keyvandi di depan Justine.

"Justine sepertinya aku harus pamit, ada urusan yang harus aku selesaikan."

"Baiklah, sampai berjumpa lagi."

Setelahnya Leo meninggalkan ruangan Justine, lelaki itu mengepalkan tangannya, rahang lelaki itu mengeras mendengar Justine yang selalu membela Keyvandi.

"Sial! Aku harus segera menyingkirkannya, jika tidak karirku akan terancam." Tekad lelaki itu dengan wajah penuh amarahnya dan melangkahkan kaki keluar studio musik milik Justine itu.

***

Disisi lain, seorang gadis sedang meringkuk di atas tempat tidurnya, gadis itu berpenampilan sangat berantakan, rambut acak-acakan, baju yang entah di mana, ia hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut.

Ceklek

Suara pintu terbuka membuat gadis itu merasa was-was, ia menatap orang yang baru saja datang dan masuk ke kamarnya.

"Non Despina." Tangis wanita paruh baya itu pecah melihat kondisi anak majikannya itu, Despina sudah seperti putrinya sendiri. Ia sangat sedih melihat hidup Despina yang hancur karena ulah kakak tirinya itu. Ia ingin menolong Despina, tapi ia sama sekali tidak berdaya.

"Bibi, aku ingin mati saja," Ujar gadis itu dengan nada lemah dan airmata yang menetes.

Baik Ina menggelengkan kepalanya, "Jangan Non, ada bibi, bibi nggak mau kalau sampai non meninggalkan bibi, bibi sangat menyayangi dmnon Despina."

Despina mengusap airmatanya kasar, gadis itu tertawa sumbang, "Hidup Despina udah nggak ada gunanya bi, Despina membenci hidup ini, Despina udah nggak berguna, Despina nggak bergun, Sespina kotor Bi, Sespina benci dengan diri Sespina yang terlalu lemah ini."

"Jangan bucara seperti itu Non, bibi yakin masiha ada orang yang tulus menyayangi Non Despina, sabar ya Non."

Despina diam, pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada satu nama yang akhir-akhir ini mampir dihidupnya."

"Kak Vandi," Gumamnya sangat pelan. Despina langsung mengusap kembali sisa-sisa air matanya.

"Baik, tolong ambilkan baju Despina, sama apakah Despina boleh meminjam ponsel bibi?"

Bik Ina langsung menuruti permintaan Despina wanita paruh baya itu langsung mengambil baju ganti untuk Despina, "Non, ini baju gantinya, ponselnya biar bibi ambilkan."

Despina tersenyum meski wajahnya terlihat tidak karuan. "Baik Baik, Despina akan mandi terlebih dahulu."

Despina langsung masuk ke kamar mandi, 15 menit kemudian hadist itu sudah sip dengan setelan baju dan celana panjang longgar yang bagus ditubuhnya. Despina mencari hoddie yang ada di lemarinya, ia memandang wajah dan tubuhnya jijik, "Aku benar-benar kotor." Gumamnya lagi.

Gadis itu kemudian mengambil hoddie berwarna putih dan mengenakannya. "Aku harus kabur dari rumah ini, tapi sebelum itu aku harus menelepon kak Vandi, aku akan meminta bantuannya."

"Non Despina, ini ponselnya," Ucap Bik Ina sambil menyerahkan ponselnya pada Despina.

Despina langsung menghubungi nomer Keyvandi, tapi ternyata lelaki itu tidak mengangkat, akhirnya Despina memilih untuk mengirim pesan singkat pada lelaki itu.

"Bik, ini ponselnya, terimakasih bik." Despina langsung memeluk Baik Ina.

Bi Ina mengusap pelan rambut Despina, wanita itu benar-benar menyayangi Despina. "Kalau gitu non Despina istirahat saja, bibi akan menyiapkan makanan nuntuk non."

Despina menganggukkan kepalanya, gadis itu akhirnya berbaring di atas ranjangnya, tapi setelah di pastikan jika bik Ina keluar rumah, akhirnya Despina berusaha melarikan diri melalui balkon kamarnya dengan cara menggunakan tali, untung saja di kamarnya itu tersedia tali.

Setelah di rasa aman, Despina langsung lari keluar gerbang rumahnya tanpa ketauan para penjaga.

***

Keyvandi benar-benar gelisah di dalam mobil yang ia tumpangi, lelaki itu sama sekali tidak bisa fokus, ia benar-benar mengkhawatirkan Despina.

Ting

0898xxx

Kak temui aku di supermarket tempat kakak menurunkanku saat itu

_Despina_

Keyvandi membelalakkan matanya, "Pak putar balik!"

Citttt

.

.

.

TBC

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!