Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*3
Begitulah yang terjadi beberapa jam yang lalu. Rain dipaksa untuk meninggalkan Ain karena sang papa tidak ingin memiliki menantu yang latar belakangnya tidak cukup jelas. Singkatnya, papa Rain tidak ingin bermenantukan wanita yang tidak memiliki latar belakang yang dianggap baik olehnya.
Keluarga Rain adalah keluarga paling terpandang di kota ini. Mereka punya kuasa. Mereka punya pondasi yang sangat kuat. Lalu, keluarga ini juga adalah keluarga yang latar belakangnya sangat bersih. Maksudnya, keluarga yang di tata dengan sangat baik sedemikian rupa supaya menjadi kelurga yang sangat disegani di kalangan pembisnis.
Keluarga Rain tidak punya riwayat perselingkuhan. Menikah juga dengan sesama keluarga kelas atas. Alias, setiap pernikahan mungkin berasal dari perjodohan. Tidak atas karena cinta. Mungkin, karena inilah keturunan keluarga Dharma tidak punya banyak keturunan.
Entahlah. Keluarga Dharma terlalu sulit untuk di tembus oleh orang lain. Jadinya, keburukan yang mereka lakukan tidak terlihat oleh dunia luar. Alhasil, yang bisa dilihat hanya yang baik-baik saja. Jadinya, kekacauan yang ada di dalam keluarga, hanya anggota keluarga saja yang tahu.
Seperti, alasan kematian mama Rain. Tentu saja tidak banyak yang tahu apa penyebab aslinya. Yang dunia luar tahu hanya, kematian itu adalah kematian biasa karena sakit. Namun, misteri di balik kematian itu, masih tetap tersembunyi.
Rain masih tertunduk, menangis sambil bersimpuh di tempat dia jatuh sebelumnya. Hujan yang turun, masih saja awet. Tetap deras menguyur Rain. Air mata Rain larut bersama hujan yang membasahi tubuh.
Hatinya hancur. Tapi tidak bisa dia ungkapkan. Demi cintanya pada sang kekasih hati, dia terpaksa melepaskan wanita tersebut. Dia ingin mempertahankan hubungan mereka. Tapi sayangnya, nyawa si wanita yang menjadi ancaman. Dia tidak mungkin bisa melindungi wanita dari ancaman papanya sekarang. Karena kekuasaan yang paling besar, tentu saja ada di tangan papanya.
Rain cukup tahu bagaimana seriusnya ancaman Reno. Ancaman yang bukan hanya sekedar gertakan kosong belaka. Reno adalah orang yang akan sanggup melenyapkan nyawa orang lain. Namun, akan terbebas dari masalah karena terlalu besar kuasa yang ada dalam genggaman tangannya.
Rain terus menangis. Perlahan, bibirnya berucap. "Aku terpaksa melepaskan kamu sekarang. Setelahnya, aku pasti akan mendapatkan dirimu lagi setelah kuasa besar itu berhasil aku genggam. Aku akan mendapatkan dirimu, Raina. Pasti akan ku dapatkan lagi."
Rain memaksakan tubuhnya untuk bangun.
Tatapan matanya tetap lurus ke depan.
"Tunggu aku, Ain. Aku pasti akan menjemput dirimu lagi. Pasti."
*
Aina menangis sesenggukan, saat tiba di rumah sederhana yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya sejak kecil hingga dewasa. Kediaman yang sempat terasa kosong setelah kepergian sang nenek, tapi akhirnya kembali berwarna setelah kedatangan pria yang ia cintai.
Namun sekarang, rumah itu kembali terasa kosong ketika hatinya dihancurkan oleh si pria yang ia anggap adalah cinta sejati dalam hidup. Aina masih menggenggam kertas laporan kehamilan yang sudah basah dengan erat.
"Aku hamil. Aku punya calon bayi buah cinta darimu, tapi kamu malah meninggalkan aku."
Ingatan Ain kembali pada saat kebersamaannya dengan Rain. Waktu yang sangat membahagiakan. Tepatnya, setelah dia menikah siri dengan si pria. Mereka menata barang yang ada di kamar kecil itu bersama-sama dengan bahagia.
Lalu, ingat pula ketika Rain melamarnya dengan lamaran yang sederhana. Janji diucapkan dengan sangat lantang. "Aina, kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidupku. Percayalah! Sekalipun dunia menolak hubungan kita, aku tetap tidak akan pernah menyerah."
Kata-kata yang dulunya menjadi penyemangat, membuat hati Aina bahagia. Tapi sekarang, kata-kata itu sudah menjadi sembilu, membuat Ain merasa sangat jijik dan sakit. Kini, Aina sangat sadar bahwa, kata-kata yang pria ucapkan tidak akan pernah bisa di percaya.
....
Beberapa saat telah berlalu, Aina yang menangis sampai ketiduran karena kelelahan, akhirnya bangun. Untuk yang kesekian kalinya, wanita itu menatap seisi kamar yang hampir di setiap sudut dari tempat tersebut terdapat jejak yang Rain tinggalkan.
Semakin dilihat, Aina merasa semakin terluka. Dia bangun dari duduknya, berjalan perlahan, lalu membongkar apapun yang berkaitan dengan Rain. Mulai dari wallpaper yang melekat di dinding kamar, bingkai foto yang menempel di dinding tersebut tak luput dari pandangan Aina.
Pokoknya, semua. Apapun itu, sekecil apapun barangnya, selagi ada hubungannya dengan Rain, Aina ingin menghancurkan barang tersebut. Dia tidak akan pernah sanggup untuk mempertahankan, sesuatu yang ada hubungan dengan pria yang telah membuatnya merasa sakit hati yang luar biasa seperti saat ini.
Aina terduduk setelah usaha mengikis kenangan dia lakukan. Namun, nyatanya, usaha itu tidak pernah membuat dirinya merasa puas. Sakit hatinya sama sekali tidak berkurang. Ain menyentuh perutnya yang masih datar.
"Kamu hadir, harusnya aku bahagia. Tapi sayangnya, kamu hadir, kamu hanya bisa punya aku sebagai anggota keluarga. Maafkan aku, anakku."
Aina berpikir dalam tangisan. Mungkin, cara terbaik untuk hidup selanjutnya adalah dengan meninggalkan tempat yang telah memberikan luka untuk hatinya. Aina pun memutuskan untuk pergi. Dia memilih meninggalkan tempat tersebut. Akan dia tinggalkan semua kenangan bersama luka perih yang telah menyakitkan hatinya.