NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. PENGGREBEKAN

Pagi yang seharusnya cerah dan indah di pusat kota berubah menjadi badai bagi keluarga besar pemilik Hotel SNOW WHITE. Kabar burung yang disebarkan melalui pesan anonim tepat subuh tadi telah membawa kerumunan wartawan lengkap dengan kamera dan mikrofon, berdiri siaga di depan lobi Hotel Din’s.

***

Di dalam kamar yang semalam menjadi saksi bisu rencana keji Zavier, suasana mendadak dingin. Gavin dan timnya menggeledah setiap sudut ruangan. Dina terduduk lemas di tepi ranjang, wajahnya yang biasanya angkuh kini pucat pasi, hanya berbalut selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.

Di sudut lain, Rian berdiri gemetar dengan celana kolor dan pakaian lusuhnya.

“Siapa pria kumuh ini?” batin Dina histeris. Ingatannya yang samar karena pengaruh obat mulai memutar bayangan pria yang bersamanya semalam. “Apa aku tidur dengan pria miskin dan bau ini?!”

Dina bangkit dengan emosi meluap, menghampiri Rian dan mendaratkan tamparan keras. PLAK!

“Ba*jingan! Siapa yang membayarmu untuk melakukan hal menjijikkan ini padaku?!” teriak Dina kalap.

Rian memegangi pipinya, matanya berkilat antara bingung dan puas. “Justru aku yang harus tanya! Aku diserang dan dibawa ke sini! Kau kan yang menyuruh mereka? Kau ingin merusak martabatku dengan menjebakku di sini, iya kan!” balas Rian tak mau kalah.

“DIAM KALIAN BERDUA!” bentak Gavin, suaranya menggelegar di ruangan sempit itu. “Jangan saling tuduh setelah tertangkap basah oleh kami!”

Rian terdiam, namun sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya yang pecah. Ia teringat betapa agresifnya Dina semalam. Baginya, meski kini ditangkap, ia merasa telah memenangkan "lotre" karena bisa menikmati tubuh wanita kelas atas yang biasanya hanya bisa ia mimpikan saat bermain game.

*****

Di ruangan lain, Azuza, Heina, Fransiska, dan Mayorita sudah diborgol dengan barang bukti nark*otika berserakan di depan mereka.

“Kalian masih di bawah umur tapi sudah berani bermain dengan barang haram seperti ini!” bentak seorang polwan cantik saat Azuza mencoba merengek mencari Dina.

***

Kini, Gavin memimpin rombongan keluar melalui lobi utama. Begitu pintu kaca terbuka, kilatan lampu flash kamera wartawan langsung menyambar seperti petir.

“Dina! Bukannya Anda anak tunggal pemilik Hotel Snow White?” tanya seorang wartawan sambil menyodorkan mikrofon.

Dina hanya bisa menatap tajam, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik selimut yang ia dekap erat.

Di sisi lain, seorang reporter melakukan siaran langsung tepat di depan wajah mereka. “Berita pagi ini, Anak tunggal pemilik Hotel Snow White ditemukan melakukan pesta narko*tika di Hotel Din’s. Bukan itu saja, ia juga ditemukan di kamar lain sedang melakukan perbuatan asusila bersama seorang pria.”

**

Kamera menyorot wajah Dina yang hancur dan wajah Rian yang tertunduk, menyiarkan aib mereka ke seluruh pelosok kota, termasuk ke layar-layar ponsel sekolah.

Pihak berwajib, dan tim lainnya membawa Dina, Rian, dan lainnya masuk ke dalam mobil Toyota Hiace. Perlahan mobil itu menderu menjauh dari kerumunan wartawan yang masih haus akan berita. Di dalam mobilnya, Gavin menatap lurus ke jalanan dengan rahang mengeras.

Suasana di dalam mobil hening, hanya terdengar suara radio polisi yang sesekali berkerisik. Pikiran Gavin berkecamuk hebat. Sebagai seorang penegak hukum, ia merasa gagal, namun sebagai manusia yang mengenal busuknya dunia, ia tak bisa menampik efisiensi Zavier.

“Zavier benar-benar gila,” gumam Gavin dalam hati. “Pemikirannya selalu bertentangan dengan kode etik kami, tapi dalam satu gerakan, dia bisa melumpuhkan tiga musuh sekaligus. Rian, Dina, gengnya, dan Ibu Aminah.”

Gavin teringat pemandangan mengerikan di kantor pusat subuh tadi. Seorang petugas kebersihan menemukan jasad wanita paruh baya di depan gerbang. Wanita itu, Ibu Aminah terbaring kaku dengan bekas operasi kasar di bagian perut yang masih merembeskan cairan merah. Tragis, namun Gavin tahu itu adalah pesan dari Zavier.

Ia sangat yakin itu perbuatan Zavier, sang “malaikat pencabut nyawa” dari dunia hitam. Namun, Zavier terlalu rapi. Tidak ada sidik jari, tidak ada rekaman CCTV yang tersisa, dan tidak ada saksi mata. Tanpa bukti otentik, Gavin tidak bisa menyentuhnya.

“Ada apa, Komandan?” tanya salah satu detektif junior yang duduk di sampingnya, menyadari kegelisahan sang atasan.

“Tidak ada apa-apa. Pastikan semua barang bukti narkotika dari hotel tadi didata dengan teliti. Jangan sampai ada celah bagi pengacara orang tua Dina untuk bermain,” sahut Gavin tegas.

***

Setelah memastikan Maya sudah berangkat ke sekolah, Arkan duduk di ruang TV, dan menyalakannya. Berita utama langsung menyambar penglihatannya, penangkapan Dina dan Rian di Hotel Din’s. disusul berita penemuan mayat Ibu Aminah yang menggegerkan kota.

Arkan mematikan TV dengan kasar. Ada rasa puas melihat Rian hancur, namun kematian Ibu Aminah membuatnya merinding. Tangannya segera menekan nomor Zavier.

📱“Ada apa? Apa kau sudah melihat beritanya? Sesuai dengan perbuatan mereka kepada Maya, kan?” tanya Zavier santai dari seberang telepon. Suasana di sekitar Zavier terdengar berisik karena ia sudah berada di sekolah.

📱“Tapi tidak sampai membuat wanita itu meninggal dunia! Kau…kau benar-benar gila, Zavier!” bentak Arkan pelan namun tajam.

📱“Ya, aku memang gila. Sangat gila,” sahut Zavier tanpa penyesalan. “Lagian siapa suruh wanita tua itu fisiknya lemah? Bukan salahku kalau tubuhnya menyerah. Dan, pelankan suaramu. Ingat, mereka juga pernah membunuh satu nyawa tak berdosa, bayi Maya.”

Tepat saat Arkan hendak membalas, ia mendengar suara yang sangat ia kenal di latar belakang telepon Zavier. Suara lembut Maya.

📱“Hem, Fadli. Aku…aku membuat bakso dengan resepku sendiri. A-apa kau ingin mencicipinya nanti saat jam makan siang?”

Arkan tertegun. Jantungnya serasa berhenti sejenak mendengar tawaran itu.

📱“Iya, aku pasti akan mencicipinya. Kita duduk di tempat biasa, kan?” jawab Zavier dengan nada yang sangat manis, terlalu mengerikan di telinga Arkan.

📱“Iya, kalau gitu aku masuk ke kelas dulu,” pamit Maya.

Arkan langsung mematikan sambungan telepon dengan wajah merah padam. Ia menggerutu, melempar ponselnya ke sofa. “Hanya untuk sebuah bakso, Maya rela bangun jam 3 pagi? Dia mengurangi jam tidurnya demi memberikan makan untuk pria lain?!” gerutu Arkan, dadanya sesak oleh rasa cemburu yang tidak bisa ia jelaskan.

***

Sementara itu, di taman sekolah, Zavier menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan senyum puas. Ia tahu betul Arkan sedang meledak di sana.

“Aku rasa besok aku akan mati ditusuk oleh pria yang cemburu karena gadisnya memberiku bakso,” gumam Zavier sambil terkekeh.

Ia memutar-mutar ponselnya, hendak kembali ke kelas. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu kelas saat melihat Maya yang sedang duduk tenang. Sinar matahari pagi jatuh di wajah lembut gadis itu, membuatnya terlihat seperti malaikat di tengah dunia yang kotor.

“Oh, kalau terus seperti ini, rasanya aku ingin menikahinya,” bisik Zavier pada dirinya sendiri. “Punya anak seribu, lalu mati bersama dengannya. Gadis ini langka, tidak seperti mendiang ibuku yang galaknya seperti naga.”

Zavier bergidik ngeri membayangkan mendiang ibunya, lalu dengan senyum tipis yang masih tersisa, ia melangkah masuk ke kelas.

...❌ Bersambung ❌...

1
Manyo
hnmm. bagus
Manyo
Jaga Maya ya, bi
Manyo
Selamat untuk Pak Teddy dan Bu Marni
~~N..M~~~
Benar, cuci aja pakai pemutih😂😂🤣🤣
~~N..M~~~
enggak, sudah bener itu🤣
~~N..M~~~
Pingin ku tampar itu mulut si Shiti
~~N..M~~~
Bagus. walaupun berat, kau harus menentukan masa depanmu sendiri, Ar
~~N..M~~~
Bener-bener merinding plus campur haru. Akhirnya alm. Lily membuka jalan baru untuk arkan
~~N..M~~~
Iih, merinding aku bacanya.
Manyo
memang bia*dab ibu tirinya. dan yang lebih bi*adab para pria, tapi bukan aku.
Manyo
sih paling fiktor 🤣
Manyo
Miris kali kurasa masa lalunya
Lisa
Arkan udh lega nih karena alm.Lily udh memberi restu supaya dia membuka hati utk wanita lain
Chici👑👑
Vote melayang untuk mu kak
sari. trg: terima kasih kak/Smile/
total 1 replies
~~N..M~~~
Bibinya kayak makcomblang
~~N..M~~~
Jadi gak sabar gebrakan apa yang akan dibut arkan
Lisa
Bersyukur ibu & baby nya selamat..dokter Arkan benar2 dokter yg handal 👍
~~N..M~~~: Bener, kak. Serumit apa pun masalahnya, dia tetap profesinya.
total 1 replies
Sunaryati
Kejam amat Arkan
~~N..M~~~
Zavier lembutnya hanya pada Maya, dan korban lainnya.
~~N..M~~~
Waktu tidak sadar kau bilang tangguh. Enggak teciummu lagi laki laki yang gak mandi berhari-hari itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!