Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Suami Istri.
Setelah menjadi pasangan suami istri. Aluna langsung dibawa ke rumah suaminya. Acara pernikahan itu memang sederhana hanya pernikahan secara sakral saja dan resepsi apa adanya sekedar makan-makan bersama dengan keluarga dan tamu-tamu undangan.
Aluna hanya mengikuti saja alur cerita dalam kehidupannya dan menganggap jika dirinya saat ini telah menikah dengan laki-laki yang telah dia tinggalkan waktu itu untuk menebus kesalahannya menerima konsekuensi apapun yang terjadi.
Aluna sudah berada di kediaman orang tua Ravindra. Kepala Aluna berkeliling melihat kediaman suaminya itu tampak luas dan besar.
"Aluna kamu jangan sungkan-sungkan berada di rumah ini, anggap saja ini adalah rumah kamu sendiri dan kita sama-sama saling menyesuaikan diri agar tercipta kenyamanan dan tidak saling risih satu sama lain," ucap Risma.
"Iya Tante," jawabnya.
"Kamu jangan memanggil saya Tante. Saya ini adalah ibu Ravindra dan sama dengan kamu yang juga seharusnya memanggil Mama," ucap Risma.
"I-iya Ma," jawab Aluna sedikit gugup. Risma mendapat panggilan yang sangat indah itu membuatnya tersenyum, sementara Ravindra sejak tadi hanya berekspresi datar.
"Ravindra, sebaiknya sekarang kamu ajak istri kamu untuk istirahat. Kalian berdua pasti lelah," sahut Haryono.
"Ayo!" ajak Ravindra dengan ketus membuat Aluna menganggukan kepala.
Aluna benar-benar harus bersabar dengan sikap Ravindra, sejak di mobil mereka berdua sejak tadi diam saja dan Aluna juga tidak berani memulai pembicaraan sama dengan hal ini di mana Aluna mengikuti Ravindra yang menaiki anak tangga terlebih dahulu.
Sampai akhirnya Ravindra membuka pintu kamar. Aluna semakin canggung dan penuh kegugupan saat memasuki kamar luas itu. Kamar pria pada umumnya dengan tema berwarna navy.
Memiliki sofa, televisi dan juga meja kerja, ranjang ukuran besar, juga terdapat teras yang terlihat jelas dari pintu yang terdapat di dalam kamar itu.
"Hanya satu lemari untuk pakaianmu dan jangan menyentuh apapun yang ada di dalam kamar ini!" tegas Ravindra sudah membuat peraturan.
"Pakaian wanita sangat banyak dan apa cukup hanya dengan satu lemari saja?" ucap Aluna dengan sangat pelan tetapi Ravindra dapat mendengarkan protes istrinya itu.
"Kalau begitu bawa saja lemarimu dari rumahmu," jawab Ravindra.
"Apa iya bisa," gumam Aluna merasa tidak masuk akal dengan ide Ravindra.
"Jangan pernah protes apapun. Ini kamarku dan semua yang menguasai kamar ini adalah aku. Kamu di dalam kamar ini hanya sebagai tamu untuk membayar semua perbuatanmu 3 tahun lalu!" tegas Ravindra terus saja mengungkit hal itu membuat Aluna menghela nafas.
"Kenapa?"
"Satu lagi, kau juga jangan tidur di ranjang," ucap Ravindra.
"Lalu di mana?" tanya Aluna.
"Pikirkan sendiri. Aku tidak ingin mengurus dirimu," jawab Ravindra.
"Pengecut!" ucap Aluna dengan pelan dan mampu didengar Ravindra membuat Ravindra menatap serius ke arah Aluna.
"Kau mengatakan apa barusan?" tanya Ravindra sekarang melangkah mendekatinya.
Aluna seperti biasa dipenuhi dengan kegugupan atas sikap Ravindra terlalu berlebihan.
"Di rumahku, aku bahkan tidur di ranjang yang empuk, lalu bagaimana mungkin seorang wanita bisa diperlakukan seperti ini. Katanya pria gentlemen yang tidak akan melakukan pembalasan dengan cara yang sama. Lalu apa ini bukan perbuatan seorang pengecut dengan membiarkan seorang wanita tidur di manapun dan sementara dirinya berada di ranjang yang empuk," ucap Aluna memberanikan diri mengungkap hal yang tidak masuk akal diperintahkan suaminya itu kepadanya.
"Hah!"
Ravidnra sampai mendengus kasar mendengar pernyataan Aluna.
"Jadi sekarang kau mengajariku dan berani protes kepadaku? Kau juga beraninya mengungkap masalah gentlemen. Apa jangan-jangan kau memang ingin tidur bersamaku," tanya Ravindra menatap penuh dengan tatapan tajam kepada istrinya itu membuat Aluna menggelengkan kepala dengan cepat.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak pernah ingin tidur bersamamu. Aku hanya tidak bisa membiarkan diriku harus tidur sembarang tempat dan sementara kamu berada di atas ranjang," ucap Aluna tidak mau kalah dari Ravindra.
Ravindra sepertinya kewalahan menghadapi istrinya di hari pertama pernikahan, membuatnya cukup gemas dan melangkah mende Aluna, seperti biasa Luna pasti panik dengan tingkah suaminya itu.
"Mau apa?" tanyanya semakin gugup melihat tatapan panjang sama suami yang menakutkan.
"Bukankah aku harus menguji apakah aku laki-laki gentlemen," ucap Ravindra dengan sengaja menggoda istrinya.
"Menguji kejantanan seseorang bukan berdasarkan harus melakukan hal itu," ucap Aluna dengan gugup membuat Ravindra tiba-tiba saja tertawa kecil dan menoyor kepala Aluna membuat Aluna kaget dengan menepis tangan suaminya itu.
"Otakmu ternyata berpikir mesum, aku benar-benar tidak menyangka bagaimana dirimu yang sebenarnya," ucap Ravindra mengejek istrinya membuat Aluna terdiam tanpa berkata apapun.
Aluna cukup kesal di hari pernikahannya dengan suaminya terus menggodanya dan lagi-lagi pasti dia terjebak dengan semua perkataannya.
****
Jiya berdiri di depan cermin dengan wajahnya sangat kesal.
"Bagaimana mungkin pernikahan ini bisa terjadi dan aku pikir Aluna tidak akan menikah dengan Ravindra," batin Jiya dengan wajah penuh kekesalan.
Tiba-tiba saja Jiya kaget saat kedua bahunya dipegang dan bahkan dicium sangat lembut membuatnya langsung menembus tangan tersebut dan memberikan tubuh.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya pada Firman melihat reaksi istrinya itu.
"Jiya sudah lebih 2 tahun dan sampai saat ini kamu tidak mengijinkanku untuk menyentuhmu," ucap Firman.
"Bukankah aku mengatakan, aku tidak bisa melakukannya, maka dari itu aku menyuruh kamu untuk menikah dengan Aluna agar memenuhi semua kebutuhan batinmu dan juga bisa memberimu anak," ucap Jiya.
"Jiya kenapa kamu masih membicarakan pernikahan dengan Aluna. Aluna sekarang sudah menikah dengan orang lain," ucap Firman.
"Itu karena kamu tidak berusaha untuk kembali meluluhkan hatinya agar menikah dengan kamu!" tegas Jiya.
"Kenapa kamu begitu ingin sekali kami menikah?" tanya Firman.
"Kamu bahkan sudah tahu jawabannya karena aku tidak bisa memberikan keturunan!" tegas Jiya.
"Bagaimana mungkin kamu bisa memberikan keturunan sementara kamu tidak pernah diizinkan untuk disentuh!" tegas Firman memulai pertengkaran dengan istrinya.
"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku Firman, aku memiliki trauma besar, kamu pikir aku juga tidak ingin menjalankan tugasku sebagai seorang istri, aku ingin melakukannya dan bahkan aku rela membiarkan suamiku menikah dengan adikku agar memenuhi semua hasrat batinnya dan juga keinginan dunianya untuk memiliki anak!" tegas Jiya.
"Itu terus yang menjadi alasan kamu dan alasan itu tidak masuk akal!" tegas Firman.
"Jadi kamu berpikiran bahwa aku berbohong?" tanya Jiya.
"Kamu yang membuatku untuk menikah dengan kamu dan kamu juga yang tidak bisa menjalankan tugas kamu sebagai seorang istri. Aku mencintai Aluna dan aku harus menikah dengan kamu yang dianggap sebagai penghkianat oleh Aluna dan sekarang kamu menginginkan aku menikah dengannya,"
"Jiya jangan kamu anggap semua orang bodoh dan bisa mengikuti permainan kamu. Aku curiga kamu menyuruhku menikah dengan Aluna karena bukan menginginkan aku bahagia atau sebaliknya aku kembali bersatu dengan Aluna. Jangan-jangan sebenarnya tujuan kamu adalah Ravindra!" tebak Firma membuat Jiya terdiam.
"Kamu jangan sembarangan memberikan tuduhan seperti itu kepadaku!" tegas Jiya.
"Atau kamu tidak menginginkan adik kamu bahagia dan siapapun orang yang dekat dengan adik kamu harus menjadi milikmu?" tebak Firman.
Jiya mengepal tangan, semakin marah mendengar perkataan Firman, menurutnya semua itu adalah tuduhan yang tidak pantas ditegaskan kepadanya.
Bersambung.....