Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 | BERSIKAPLAH LAYAKNYA ANJING
Kebebasan. Sepenggal kata sederhana yang bagi sebagian orang terasa seharga nyawa. Summer memejamkan matanya seiring taksi yang ditumpanginya melaju cukup lancar di jalan raya besar. Deru kendaraan yang beradu, suara klakson yang sesekali terdengar, dan senandung pelan supir taksi selagi tangannya sibuk memutar kemudi.
Dengan mata yang masih terpejam, Summer mengambil napas dalam-dalam, menghirup aroma kebebasan yang telah ia dapatkan. Genap tiga tahun menjalani hukuman penjara, hari ini ia resmi melepaskan status sebagai narapidana, dipersilakan menjalani kehidupan baru di masyarakat.
Bersamaan dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum tipis, kelopak mata Summer perlahan terbuka. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri, dan kilasan deretan bangunan pencakar langit menciptakan gambaran kota metropolitan secara utuh. Sibuk dan penuh dengan keegoisan.
“Menurut Bapak, berapa harga yang pantas dibayar untuk sebuah kebebasan?” Summer bertanya pada supir taksi tanpa mengalihkan pandangan pada objek-objek yang berkelebat menghilang di sepanjang lintasan yang taksi lalui.
Tampak dari spion tengah, si supir taksi menatap Summer dengan mata berpendar. Akhirnya ia bisa kembali berbicara setelah sebelumnya Summer meminta suasana tenang untuknya bisa beristirahat.
“Kebebasan, ya?” Supir taksi menekuk bibirnya, terlihat berpikir. “Di dunia ini, apa ada orang yang benar-benar hidup dengan bebas? Pekerja terkekang oleh aturan atasan, anak-anak sekolah harus mengikuti peraturan, bahkan para petualang yang bisa mengarungi dunia juga harus mengikuti norma yang ada pada setiap tempat yang mereka kunjungi. Bukankah sebenarnya istilah itu terdengar muluk-muluk jika diresapi dengan benar?”
Summer sedikit tertegun dengan jawaban sopir. Menilik penampilannya: tubuh gempal, kumis tebal, raut jenaka, dan seragam kerja yang sudah kusut di sana sini, Summer tidak menduga pria itu berpikiran dalam.
“Jika Nona tanya pendapat saya pribadi, saya rasa istilah itu kurang cocok dengan tempat ini. Mungkin, saat akhirnya manusia hidup dalam dunia baru di mana tanah bukan lagi sebagai tempat berpijak dan langit bukan sebagai atap, seseorang akan baru bisa merasakannya dengan utuh.” Supir menoleh ke belakang sekilas, tersenyum. “Tapi … definisi kebebasan bagi setiap orang berbeda. Putri saya misalnya, dia selalu berteriak ‘bebas’ sambil melompat-lompat ketika ujian berakhir. Dia menyamakan kebebasan dengan rasa puas ketika berhasil menuntaskan sesuatu.”
Menuntaskan sesuatu. Summer tersenyum mendengarnya. Deraan yang tidak kunjung lenyap di dadanya memang harus segera dituntaskan, penantiannya selama tiga tahun harus segera diwujudkan. Dan kali ini, ialah yang akan menjadi penulis, narator, dan sutradara untuk cerita tragedi yang akan digelar di panggung megah yang telah ia bangun.
“Eh, ini terlalu banyak, Nona.” Mata Supir Taksi membola menatap uang yang baru saja Summer berikan padanya.
Sebagai balasan, Summer mengedikkan bahu sekali. “Anggap sebagai bayaran atas kelas ‘kebebasan’ yang Bapak berikan.”
Bersamaan dengan taksi yang kembali melaju pergi setelah si supir tertawa semringah sembari mengucapkan terima kasih, Summer memutar tubuhnya menghadap sebuah bangunan menjulang di depan sana.
Masih megah, kokoh, dan angkuh seperti terakhir kali Summer melihatnya. Gerbang hitam yang menjulang juga masih mengintimidasi. Summer melipat tangan di dada, pandangannya masih terpusat pada bangunan besar di depan sana.
“Nona—Nona Summer?!”
Seruan yang sarat akan keterkejutan itu membuat Summer mengalihkan pandangan. Ia mendapati seorang pria berpakaian selayaknya petugas keamanan, baru saja keluar dari pos.
“Pak Remy! Lama tidak bertemu.” Summer tersenyum cerah.
Remy buru-buru membuka gerbang, memberikan ruang lebar-lebar agar Summer bisa masuk. Tangan pria itu meremas keliman celana seragamnya, matanya memerah. “Saya senang sekali … sampai gemetar—” Suaranya tercekat, jelas sekali ia sedang menahan tangis. “Apa Nona baik-baik saja?”
Summer melangkah melewati gerbang sembari tertawa. Ia berhenti di depan Remy, tatapannya melembut. Rasanya cukup melegakan mengetahui ada yang menunggu kepulangannya. “Tidak pernah merasa sebaik ini,” ucap Summer. “Dan akan semakin baik setelah ini.”
Remy mengusap kasar matanya menggunakan tangannya yang kapalan. “Rasanya seperti mimpi melihat Nona Summer lagi, saya seperti sedang berbicara dengan princess. Nona terlihat semakin cantik.”
Tawa renyah Summer berderai semakin panjang. “Terima kasih. Pak Remy selalu membuat perasaan saya lebih baik.” Ia melirik bangunan bergaya istana Eropa klasik di depan sana. “Saya masuk dulu. Nanti saya ke sini lagi dengan kue kering kesukaan Pak Remy, lalu kita bisa mengobrol sampai puas.”
Summer menepuk bahu Remy dua kali bersamaan dengan pria itu yang tertawa kecil, melangkah melewatinya. Ia meniti jalan melingkar dengan pohon palem yang menjulang dan berbagai jenis tanaman terawat di sisi-sisinya, lantas berhenti di depan pintu kayu berkualitas wahid yang berdiri angkuh di hadapannya. Summer pandangi sejenak pintu itu, sebelum mendorongnya pelan. Celah yang perlahan tercipta dari pintu turut serta membawa berkas cahaya masuk ke dalam ruangan. Pintu ini akan menjadi langkah awal Summer menjajaki dunia baru, di mana ia tidak memiliki pilihan selain menjadi pemenang.
Ruang tamu luas segera menyambut Summer. Tidak perlu dipastikan lagi, seluruh perabotan di sana dikategorikan sebagai barang mewah, menunjukkan selera berkelas sang pemilik rumah. Summer memandang berkeliling, nostalgia dengan cepat menyeruak memenuhi pikirannya.
Ia memejamkan matanya, aroma mawar dari vas besar di meja tinggi memanjakan indra penciumannya. Bersamaan dengan kelopak mata Summer yang kembali terbuka, suara ketukan hak tinggi yang berirama teratur terdengar dari tangga yang melengkung. Tak lama, muncul seorang wanita yang mengenakan dress merah selutut yang memberi kesan pertama glamour pada orang-orang yang ditemuinya. Langkah wanita itu sempurna terhenti kala matanya menangkap sosok familiar di ruang tamu.
“Hai, Tante Lauren. Sudah lama sekali, ya, kita tidak bertemu.” Summer tersenyum simpul, sedikit mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Lauren dalam satu garis lurus.
Bisa Summer lihat jika Lauren terkesiap melihat kedatangannya. Matanya terbelalak, rahangnya mengeras. Geletar kekhawatiran membayang di wajahnya yang cantik.
“Buat apa kau kemari? Papamu tidak lagi mengharapkanmu di rumah ini. Tidak akan ada yang menerimamu di sini.” Suara Lauren terdengar tajam dan dingin, melepaskan kebencian tanpa merasa perlu menutupinya barang sedikit.
Alih-alih tersulut oleh kata-kata Lauren, Summer malah tersenyum tipis. “Kudengar Kian sudah bertunangan dengan putri anggota dewan. Haruskan aku memberi hadiah untuknya?”
Kedua tangan Lauren mengepal di samping tubuh, lesatan antipati semakin keruh dan sengit. “Putraku tidak membutuhkan sampah darimu.”
Summer mengibaskan tangannya, sebelum santai duduk di sofa panjang, menyilangkan tangan di dada. “Jangan begitu, aku yakin Kian akan senang sekali menerima hadiah dariku.” Ekspresi main-main Summer semakin menjadi-jadi. “Karena bertunangan dengan putri anggota dewan, apa dia juga kenal dengan Pak Airlangga? Anda sudah mengenalkan mereka berdua, bukan?”
Sepatah nama yang diucapkan Summer membuat seluruh tubuh Lauren menegang. Ia membeku dengan ketakutan yang dengan cepat membelenggunya hingga memunculkan sesak. Bibirnya terkatup rapat-rapat, tangannya mengepal semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Eh, belum, ya? Aduh, jadi dia tidak tahu jika ibunya adalah teman dekat Pak Airlangga?” Summer memasang raut terkejut yang dibuat-buat. “Aku penasaran apa yang akan terjadi jika keluarga tunangan Kian tahu jika Anda pernah menjadi simpanan—eh, maksudku teman dekat pejabat. Ah, tambahkan juga jika Papa tahu jika istri tercintanya ini ternyata tidak sesuci kelihatannya. Aku khawatir Tante Lauren mungkin akan merangkak dan mencium kaki pria kaya lagi agar bisa bertahan hidup.”
Lauren mulai merasa kesulitan bernapas. Wajahnya pucat pasi dan tangannya gemetaran. Demi melihat pemandangan yang sangat menyenangkan ini, Summer tersenyum manis, lalu kata-kata yang keluar dari bibirnya tak ubahnya lesatan anak panah yang menghunjam tepat di jantung Lauren.
“Jika masih ingin menjadi bagian dari keluarga Almaja yang terhormat ini, mengenakan pakaian dan perhiasan mewah, maka Tante Lauren hanya punya satu pilihan.” Dalam sekali gerakan cepat, Summer mengubah senyumnya menjadi seringaian yang dibarengi dengan tatapan seolah ia sedang menggenggam takdir Lauren. “Merangkaklah di kakiku, bersikaplah layaknya anjing manis yang akan berguling dan menjulurkan lidah saat kusuruh.”
...****...