Bacaan Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Tanggung Jawab
Netra Sarah perlahan terbuka. Sayup-sayup ia dengar kicauan burung dan hembusan angin yang menerpa. Kepalanya terasa sangat pening, sekujur tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Dalam kesadaran yang masih menerawang, cahaya yang tadinya menyorot lurus ke arah dirinya, kini tiba-tiba tertutupi oleh bayangan gelap seseorang.
Tubuh besar itu menjulang, sinar mentari beralih menerpa kulit kecoklatan yang tampak terbalut keringat yang melumuri—menambah kesan sexy.
Dalam ketidakberdayaan dan keterpesonaan yang menghantam, Sarah segera berusaha menyadarkan diri.
Misinya bukan berarti gagal malam tadi, mungkin lebih kepada kurang sesuai saja bukan?
Ya, setidaknya jika tidak berhasil membodohi Bagas dengan obat bius yang sebelumnya telah ia siapkan. Maka, biar Sarah mengambil alih dengan melanjutkan drama dengan meminta pertanggungjawaban kepada pria yang masih saja menatap datar ke arahnya.
Dengan tertatih, tubuhnya bangun dari tempat tidur sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya saat ini. "Tuan memperkosa saya! Tuan harus tanggung jawab!
Matanya nyalang, seakan benar-benar menunjukkan marah dan kecewa. Walau pada kenyataannya Sarah lebih merasa menyesal dan malu atas kelakuannya tadi malam.
Sedangkan, pria yang baru saja ditodong permintaan tanggung jawab dari Sarah itu, dengan raut tak terbaca hanya mengangkat satu alisnya. Tangannya bersedekap santai disana.
"Apa saya tidak salah dengar? Kamu yang menjebak saya, mengapa malah menuduh saya memperkosa kamu?" Bagas Aryanaka mendengus kasar. "Bahkan, kamu juga sangat menikmati apa yang kita lakukan tadi malam. Saya tidak berkenan untuk bertanggung jawab ketika kamu-lah yang dengan sukarela menyerahkan diri sendiri." elak Bagas keras.
Sarah meneguk ludah kasar. Ia lagi-lagi harus memutar otak agar rencananya tetap berjalan. Sudah sejauh ini, masa ia akan berhenti?
Maka dari itu, ketika Bagas yang terlampau muak dengan sikap pura-pura dari sang pembantu baru berbalik untuk pergi menuju kamar mandi—Sarah dengan spontan berujar, membangkitkan amarah yang menakutkan dari lelaki itu.
"Bagaimana jika saya hamil Tuan? Tuan harus tanggung jawab menikahi saya! Kalau tidak maka saya akan membeberkan ini semua, termasuk pelecehan - pelecehan yang tuan lakukan sebelumnya."
Jika dahulu, Sarah adalah gadis lugu yang tidak berani mengatakan sepatah katapun bahkan cenderung menghindar setelah diambil perawannya oleh Bagas. Maka kini ketika keduanya kembali dipertemukan dalam kejadian yang sama, Sarah tidak berpikir panjang—ia merasa perlu bertindak aktif.
Bagaimanapun untuk membuat Bagas kembali ingat akan setiap momen yang tercipta diantara kedua dulu, maka Sarah harus lebih berani, lebih menantang, dan lebih kuat mental.
Karena sekarang, Bagas semakin terlihat murka. Wajahnya memerah dan matanya melotot tajam.
Seketika bisa Sarah rasakan saluran pernapasannya tercekat. Bagas dengan cepat mendekat dan mencekik lehernya cukup erat. Reflek, Sarah memukul tangan Bagas secara brutal yang ternyata hanya sia-sia. Tentu tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan kekuatan sang mantan suami yang sedang teramat marah.
"Wanita murahan! Siapa kamu berani mengancam saya HAH?!"
Cengkraman-nya menguat, Bagas tidak kuasa menahan kesal atas perkataan dari perempuan rendah yang dengan kurang ajarnya melemparkan ancaman kepada ia yang tentu saja lebih berkuasa.
Dengan napas terputus-putus, Sarah menggapai udara sebisa mungkin. Setiap kata ia ucapkan lirih—memohon untuk dilepaskan. "Tu-an, le-le-lepaskan saya."
Bagas sama sekali tidak berniat untuk menggubris permintaan Sarah. Matanya masih memancarkan aura pembunuh dan tampak berkilat merah.
Sarah semakin terbatuk, merasa telah hampir merasa diambang batas.
"Bagas gila, apa dia mau membunuhku?" pikir Sarah panik.
Untungnya tidak lama setelah wanita itu berpikir bahwa hidupnya akan berakhir, Bagas dengan cepat melepas cekalan tangan pada lehernya. Setelahnya, Sarah semakin terbatuk keras, segera ia ambil napas sebanyak-banyaknya.
"Ck, saya berubah pikiran Thalia. Saya akan bertanggungjawab. Tapi tentu tidak dengan menikah dengan perempuan tidak jelas sepertimu," ucap Bagas remeh dengan seringai sinis-nya.
Masih belum sepenuhnya sadar, Sarah yang tengah terbaring lunglai itu hanya bergumam lirih, "Apa maksud tuan?"
Diam sejenak, ekspresi misterius kini mulai menghiasi wajah pria bertelanjang dada itu. "Sebelum saya menjelaskan, bersihkan dulu tubuh kotormu itu!"
Teramat pedas Bagas mengatakannya, pandangan senantiasa tertuju lekat kepada pemandangan molek dibawahnya. Pemandangan berupa tubuh tanpa busana dari si pembantu baru kediaman Aryanaka.
Tanpa sadar karena aksinya brutalnya—selimut yang menutupi tubuh Sarah tersingkap. Disana terhidang kesegaran yang memanjakan mata. Mulai dari bagian atas yang berkeringat, hingga bagian-bagian dari Sarah yang tadi malam telah Bagas kecup setiap saat.
"Tapi saya tidak kuat berjalan tuan," balas Sarah dengan suara parau.
"Saya bisa gendong. Tapi ya, kamu tahu sendiri tidak ada yang gratis di dunia ini Thalia."
Melihat Bagas yang menawarkan bantuan dengan nada mencurigakan—membuat Sarah membatin gusar.
Sepertinya, bayarannya akan sangat mahal?
...****************...
Dikala Sarah yang tengah berkelut menghadapi tingkah lelaki bajingan di kediaman Aryanaka. Rania—sahabat sekaligus partner in crime-nya kini tengah sibuk mondar-mandir menunggu kabar dari Sarah yang seharusnya sudah menelpon sesuai kesepakatan mereka.
"Tanta Rania! Kenapa sih dari tadi ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, muter-muter terus? Bikin pusing aja," tanya Thalia setelah memerhatikan gelagat tantenya yang tidak bisa diam.
"Hehehe, ndak papa Thalia cantik. Uwes kamu pokus sarapan aja ya," jawab Rania meragukan.
Thalia pun hanya bergidik acuh dan kembali melanjutkan makan pagi-nya. Lagi pula tidak ia sudah tidak lagi heran melihat si Tante yang memang kerap kali bertingkah aneh. Thalia jadi terbiasa dibuatnya.
Setelah memastikan Thalia kembali menyantap sarapannya dengan hikmat. Rania kembali diliputi resah, senantiasa ia mengecek handphone di genggaman-nya sambil mengigit jarinya tanpa sadar karena terlalu cemas menunggu kabar dari Sarah.
"Duh, ini mbak Sarah kok ndak ada kabar-kabar yo? Jangan-jangan gagal, haduhh gawat dong iki," gumam Rania lirih.
Wajar Rania merasa kalut, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, dimana seharusnya sejak pukul enam, wanita itu sudah mengabarinya sesuai kesepakatan dan rencana mereka sebelumnya.
Satu jam keterlambatan, Rania menjadi khawatir tidak karuan.
"Tante! Aku udah selesai sarapan. Mau berangkat sekolah sekarang," sela Thalia menyadarkan Rania.
Keduanya pun bergegas menuju ke halaman depan rumah menghampiri ojek langganan Thalia yang ternyata sudah sampai dan menunggu untuk mengantar Thalia.
Deru motor terdengar mulai menjauh seiring kepergiannya. Rania yang masih diliputi cemas, segera masuk—berniat mengecek kembali teleponnya guna memastikan apakah sudah ada informasi dari Sarah.
Namun dalam langkahnya, tiba-tiba Rania tersandung kursi di ruang tamu hingga terjatuh cukup keras.
"Aduhh!" ringis Rania terkejut sekaligus merasa sakit pada pergelangan kaki.
Ia pijat perlahan kakinya sendiri, dan beberapa detik setelahnya ia tersadar. "Loh, tumben banget aku yo kesandung? pertanda opo iki?"
Dengan cepat tanpa memerdulikan kakinya yang sedang sakit, Rania mengambil handphone diatas meja. Bukannya membuka aplikasi kirim pesan untuk melihat apakah Sara sudah mengirim kabar. Namun, ia lebih memilih membuka aplikasi AI untuk mencari tahu sesuatu yang kini membuat hatinya terasa gundah.
Kalau menurut kepercayaan atau mitos yang berkembang di masyarakat, tersandung tiba-tiba sering dianggap pertanda tertentu loh. Beberapa makna yang sering dipercaya:
- Tanda akan ada halangan
- Kamu sedang atau akan menjalani sesuatu, tapi perlu lebih hati-hati karena ada hambatan kecil di depan.
Setelah membacanya, sontak Rania terduduk lemas diatas sofa kemudian membatin resah, "Duh, semoga beneran mitos."
Tanpa tahu bahwa hal yang ia harapkan hanya mitos semata, ternyata benar menjadi pertanda dari kegagalan misi mereka.