Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Begitu memasuki kantor petualang, Wakasa langsung merasa familiar dengan suasananya. Suara para petualang yang bercakap, langkah kaki yang lalu-lalang, serta papan misi yang penuh kertas masih sama seperti biasanya.
“Oh, akhirnya sampai juga,” ucap Starla pelan sambil memegang ujung jubahnya. Tatapannya sedikit gugup melihat ramainya tempat itu.
“Tenang saja,” kata Diana dengan nada tegas, meski raut wajahnya tetap terlihat imut. “Selama kita di kantor petualang, harusnya aman.”
Wakasa tersenyum kecil lalu melangkah ke meja pendaftaran.
Di balik meja itu berdiri seorang gadis berambut putih dengan potongan rapi, matanya lembut dan senyumnya hangat. Begitu melihat Wakasa, ekspresinya langsung ceria.
“Eh? Wakasa!” serunya sambil melambaikan tangan. “Kamu datang lagi!”
“Halo, Sakura,” sapa Wakasa santai. “Seperti biasa, kamu kelihatan sibuk.”
“Hehe, iya dong~” Sakura tertawa kecil. “Petualang akhir-akhir ini banyak yang bikin laporan aneh-aneh.”
Starla menunduk sedikit. “E-em… halo…”
Sakura langsung menoleh dan tersenyum lembut. “Hai~ teman Wakasa ya? Senang bertemu dengan kalian.”
“Aku Diana,” ucap Diana sambil berdiri tegap. “Senang bertemu denganmu.”
Wakasa kemudian meletakkan kantong batu sihir di atas meja.
duk
“Aku mau lapor hasil misi.”
Sakura membuka kantong itu dan mulai menghitung isinya. Senyumnya perlahan memudar, berganti ekspresi terkejut.
“E-eh… ini Red Bear?”
Ia berhenti sejenak.
“Lima puluh…?”
Starla mengangguk kecil. “I-iya… semuanya dikalahkan Wakasa…”
“Dan juga lima belas Wolfdenki,” tambah Diana dengan nada yakin.
Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Wakasa… kamu ini benar-benar di luar dugaan.”
“Kenapa?” tanya Wakasa polos.
“Karena aku menyuruhmu mengalahkan Wolfdenki bukan red bear , karena misi ini juga kau akan di naikkan ke peringkat B,” jawab Sakura lembut namun tegas.
Ia mengambil kristal verifikasi dan meletakkannya di atas meja. “Ayo, seperti biasa.”
Wakasa menyentuh kristal itu.
Cahaya biru muncul, lalu berubah menjadi kuning keemasan yang stabil.
“Berhasil…” gumam Sakura dengan mata berbinar.
“Wakasa, kekuatanmu secara resmi berada di peringkat B.”
Starla membulatkan mata. “B-benar…?”
“Selamat, Wakasa-kun,” ucap Diana sambil tersenyum kecil.
“Terima kasih,” jawab Wakasa santai. “Akhirnya naik juga.”
Sakura mengambil kartu petualang Wakasa dan menstempelnya.
cap!
“Mulai hari ini, Wakasa resmi naik dari peringkat C ke peringkat B,” ucap Sakura ceria.
“Tapi tolong jangan langsung bikin laporan aneh lagi ya~ aku bisa pusing.”
“Hahaha, aku usahakan.”
Sakura menoleh ke Diana dan Starla. “Kalian berdua peringkat B juga, kan?”
“Iya,” jawab Diana mantap.
“I-iya…” tambah Starla pelan.
Sakura tersenyum lembut. “Kalau begitu, bagaimana kalau kalian bertiga membentuk party sementara?”
Starla tersipu. “P-party…?”
Diana berpikir sejenak lalu mengangguk. “Menurutku itu ide yang bagus.”
Wakasa tersenyum kecil. “Party , tunggu dulu aku baru bertemu mereka , lagi pula mereka belum mengenal siapa aku.”
Starla menatap Wakasa sebentar, lalu mengangguk pelan. “A-aku… tidak keberatan.”
“Keputusan bagus,” kata Sakura ceria.
“Sepertinya kantor petualang bakal jadi lebih ramai mulai sekarang.”
“Kenapa?” tanya Wakasa.
Sakura tersenyum lembut, menatap kartu peringkat B di tangannya.
“Karena petualang berbakat sepertimu akhirnya mulai bergerak serius.”
Mereka bertiga tersenyum, tanpa menyadari bahwa hari itu menjadi awal dari party yang akan dikenal di seluruh kerajaan.
Setelah urusan di kantor petualang selesai, suasana kembali santai. Sakura merapikan berkas di mejanya sambil bersenandung kecil, sementara Wakasa, Diana, dan Starla berdiri di depan meja.
“Kalau begitu kami pamit dulu ya, Sakura,” ujar Wakasa.
Sakura menoleh dan tersenyum lembut. “Hm? Mau ke mana?”
“Kami mau makan malam dulu,” jawab Diana dengan nada tegas seperti biasa, tapi ekornya bergoyang kecil menandakan suasana hatinya sedang baik.
“M-makan bersama…” gumam Starla pelan, sedikit tersipu.
“Oh~ begitu,” Sakura tersenyum ceria. “Hati-hati ya. Jangan lupa istirahat, Wakasa. Kamu hari ini sudah kerja terlalu keras.”
“Iya, iya. Terima kasih perhatiannya,” balas Wakasa sambil terkekeh.
“Kalau besok datang lagi, ceritain ya gimana party barunya,” tambah Sakura sambil melambaikan tangan.
“Tentu,” jawab Wakasa.
Mereka bertiga pun keluar dari kantor petualang dan berjalan menyusuri jalan utama ibu kota yang mulai diterangi lampu-lampu malam. Suasana kota terasa hangat, aroma makanan dari berbagai kedai memenuhi udara.
“Tempat itu kelihatannya enak,” ujar Starla sambil menunjuk sebuah kedai kecil dengan papan kayu sederhana.
“Setuju,” kata Diana. “Tidak terlalu ramai.”
Mereka pun masuk dan duduk di satu meja.
Tak lama kemudian, makanan datang—sup hangat, daging panggang, dan roti lembut.
“Waaah…” Starla menatap makanannya dengan mata berbinar. “Kelihatannya enak sekali…”
“Kamu boleh makan duluan,” kata Wakasa santai.
Starla tersenyum kecil. “I-iya…”
Diana langsung mulai makan dengan rapi. “Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi… menyenangkan.”
“Terutama bagian naik peringkat,” kata Wakasa sambil tersenyum.
“Itu pantas,” jawab Diana tegas. “Kalau kamu masih peringkat C, itu justru tidak adil.”
Starla mengangguk pelan. “I-iya… aku juga kaget waktu lihat kristalnya berubah…”
“Hehehe,” Wakasa terkekeh. “Aku juga.”
Makan malam berlangsung dengan obrolan ringan—tentang misi, kota, dan rencana ke depan. Starla sesekali tertawa kecil, sementara Diana beberapa kali menegur Wakasa saat ia makan terlalu santai.
Setelah selesai, Wakasa berdiri.
“Kalau begitu, aku pamit dulu,” ucapnya. “Aku mau kembali ke penginapan.”
“Sudah malam juga,” kata Diana. “Hati-hati di jalan.”
“I-iya… terima kasih untuk hari ini, Wakasa-kun,” ujar Starla sambil tersenyum malu.
“Sama-sama,” jawab Wakasa. “Besok kita bisa bertemu lagi untuk menjalankan misi.”
Diana mengangguk. “Baik.”
Starla melambaikan tangan kecil. “Sampai besok…”
Wakasa pun berbalik dan berjalan menuju penginapannya, sementara dua gadis ras kucing itu menatap punggungnya yang menjauh.
Tanpa mereka sadari, malam itu menandai awal hubungan yang perlahan akan semakin dalam—baik sebagai party, maupun sebagai teman seperjalanan.
Wakasa tiba di sebuah penginapan sederhana namun bersih. Lampu-lampu kecil menggantung di teras depan, memancarkan cahaya hangat yang menenangkan.
Begitu Wakasa membuka pintu, aroma teh hangat langsung menyambutnya.
“Oh? Wakasa!”
Seorang wanita berusia sekitar akhir dua puluhan menoleh dari balik meja resepsionis. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya cerah dengan senyum ramah.
“Kamu baru pulang ya?” tanyanya lembut. “Kelihatannya capek.”
“Iya, Russi-san,” jawab Wakasa sambil tersenyum kecil. “Hari ini agak panjang.”
Russi terkekeh ringan. “Anak muda memang begitu. Tapi jangan lupa makan dan istirahat yang cukup.
“Iya. Terima kasih, Russi-san.”
“Selamat malam, Wakasa. Jangan lupa istirahat ya~”
Wakasa mengangguk, lalu naik ke lantai atas. Lorong penginapan terasa tenang, hanya terdengar langkah kakinya sendiri.
Ia membuka pintu kamar dan masuk. Ruangan itu sederhana namun rapi—sebuah ranjang, meja kecil, dan jendela yang menghadap kota yang mulai terlelap. Wakasa meletakkan pedangnya di sudut ruangan, lalu duduk di tepi ranjang.
“Hari ini benar-benar… melelahkan,” gumamnya pelan.
Tatapannya jatuh pada simbol kontrak di telapak tangannya.
“Fenrir…”
Wakasa menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Kesadarannya perlahan tenggelam, memasuki alam bawah sadarnya.
Ketika membuka mata, Wakasa berdiri di hamparan luas berwarna gelap. Tanah hitam pekat terbentang sejauh mata memandang, langitnya sunyi tanpa bintang.
Tak jauh darinya, sosok besar terbaring.
Fenrir.
Tubuhnya masih dipenuhi luka, aura gelap beriak pelan di sekelilingnya. Ketiga kepalanya bergerak perlahan saat menyadari kehadiran Wakasa.
“Kau datang,” ucap suara berat itu.
“Kondisimu belum pulih,” kata Wakasa sambil melangkah mendekat.
Kepala kanan Fenrir mendengus pelan.
“Kalau bukan karena kontrak ini, kami mungkin sudah mati.”
Kepala tengah menatap Wakasa lurus.
“Kami kalah. Tanpa alasan. Tanpa pembelaan.”
Kepala kiri menutup mata sesaat.
“Kekalahan mutlak.”
Wakasa terdiam sejenak. “Aku tidak berniat merendahkan mu.”
Fenrir tertawa rendah.
“Kami tidak pernah kalah sejak zaman para dewa.”
Ketiga kepala itu kemudian menunduk bersamaan.
“Wakasa,” ujar Fenrir perlahan.
“Dengan ini kami mengakuinya.”
“Kami mengakui dirimu sebagai tuan kami.”
Wakasa menggeleng kecil. “Aku tidak ingin dipanggil tuan.”
Fenrir menyeringai samar.
“Tenang saja… kami mengikuti mu bukan karena paksaan.”
Suasana hening sesaat.
“Pulihkan dirimu,” ucap Wakasa. “Aku belum berniat memanggilmu.”
Fenrir memejamkan mata perlahan.
“…Tuan yang aneh.”
Nada suaranya kali ini tidak mengandung permusuhan—melainkan rasa hormat.
Kesadaran Wakasa kembali ke dunia nyata.
Ia membuka mata di kamarnya, menatap jendela yang memperlihatkan kota yang tenang.
“Sepertinya… hidupku bakal semakin ribut,” gumamnya pelan.
Di dalam dirinya, Fenrir tersenyum.
- Cerita berpindah ke Diana dan Starla -
Malam telah larut ketika Diana dan Starla akhirnya tiba di rumah mereka di ibu kota. Rumah itu tidak terlalu besar, namun hangat dan rapi. Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang.
Starla meletakkan tasnya pelan, lalu menghela napas panjang.
“Haah… hari ini capek sekali…”
“Kamu juga memikirkan hal yang sama denganku, kan?” tanya Diana . Nada suaranya tegas seperti biasa, tapi telinganya bergerak pelan.
Starla tersentak kecil. “E-eh? A-apa maksudmu…?”
“Wakasa,” jawab Diana singkat.
Starla langsung terdiam. Pipinya memerah.
“…I-iya,” katanya pelan.
Diana menuangkan teh hangat ke dua cangkir. “Menurutmu bagaimana dia?”
Starla memegang cangkirnya dengan kedua tangan. “D-dia… aneh…”
“Hm?” Diana menoleh.
“Maksudku… aneh tapi baik,” lanjut Starla cepat. “Dia sangat kuat, tapi tidak sombong sama sekali. Padahal… siapa pun yang punya kekuatan seperti itu pasti akan bersikap dingin.”
Diana mengangguk pelan. “Aku juga berpikir begitu. Cara dia bertarung sangat tenang. Tidak ceroboh.”
Starla menunduk. “Dan… dia selalu memperhatikan sekitar. Waktu di hutan, dia memastikan kita aman dulu sebelum pergi.”
“Benar,” jawab Diana. “Itu bukan sesuatu yang dilakukan petualang sembarangan.”
Starla tersenyum kecil. “Aku… merasa tenang waktu dia ada.”
Diana menatap Starla sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kamu menyukainya?”
“E-eh?!” Starla hampir menjatuhkan cangkirnya. “T-tidak! Maksudku… a-aku hanya—”
Diana terkikik pelan. “Tenang saja. Aku hanya bertanya.”
Starla menunduk lebih dalam. “T-tapi… Diana juga memikirkannya, kan?”
Diana terdiam sejenak. “Ya.”
Ia menatap ke arah jendela. “Dia berbahaya… bukan karena kekuatannya, tapi karena dia tidak sadar betapa istimewanya dirinya.”
Starla mengangguk kecil. “Dan… dia bilang kita bisa bertemu lagi besok…”
“Party,” kata Diana. “Itu berarti kita akan sering bersama.”
Starla memegang ekornya sendiri, wajahnya semakin merah.
“…I-iya.”
Diana tersenyum lembut. “Kalau begitu, kita harus lebih kuat. Setidaknya… supaya tidak menjadi beban.”
Starla mengangguk penuh semangat meski masih malu.
“I-iya. Aku akan berusaha.”
Malam itu, dua gadis ras kucing itu tertidur dengan pikiran yang sama—
tentang seorang petualang bernama Wakasa, yang tanpa sadar telah masuk ke dalam hidup mereka.