Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Arlan berdiri di balkon lantai teratas gedung Arlan Corp, menatap barisan pesawat kargo yang membelah langit fajar dengan logo federasi yang berkilauan. Angin kencang menerpa kemejanya, namun ia tidak lagi merasa seperti semut yang menggigil; ia adalah sang arsitek yang baru saja meruntuhkan menara kesombongan Aquila Logistics. Di telapak tangannya, ponsel itu masih terasa hangat setelah ia menghapus pesan ancaman dari dewan global Megantara.
"Semua unit navigasi sudah sepenuhnya beralih ke protokol kita, Arlan." Siska melangkah mendekat, memberikan sebuah dokumen fisik yang berisi sertifikat kepemilikan aset udara yang baru saja disahkan.
"Berapa nilai valuasi Arlan Corp setelah penggabungan aset satelit ini, Mbak Siska?" tanya Arlan tanpa mengalihkan pandangan dari cakrawala.
"Secara konservatif, kita sudah menembus angka 1,8 miliar rupiah untuk aset likuid, dan potensi valuasi pasar mencapai puluhan miliar jika kita melakukan penawaran publik tahun depan," jawab Siska dengan nada yang penuh kekaguman.
[Status Kekayaan: 1,8 Miliar Rupiah (Tunai & Aset Lancar)]
[Peringatan: Megantara Global telah membekukan aset kantor perwakilan mereka di Jakarta sebagai langkah balasan.]
"Mereka mencoba menarik napas terakhir sebelum tenggelam," gumam Arlan sambil memutar tubuhnya.
"Lalu, apa rencana kita di Singapura besok pagi? Kapten Bramanto memperingatkan bahwa otoritas di sana jauh lebih ketat terhadap pemain baru seperti kita," tanya Siska dengan raut wajah cemas.
"Kita tidak datang sebagai pemohon, Mbak Siska. Kita datang sebagai pemegang kunci rahasia transaksi 'Dark Pool' yang Maya temukan semalam. Jika mereka tidak ingin skandal ini meledak di bursa Singapura, mereka harus memberikan akses distribusi pelabuhan udara mereka kepada Federasi kita," jelas Arlan dengan nada suara yang sangat dingin.
Maya tiba-tiba muncul di ambang pintu balkon dengan wajah yang pucat pasi, matanya terpaku pada layar tablet yang terus berkedip merah.
"Arlan, jangan berangkat sekarang! Baru saja masuk laporan bahwa kapal kargo pertama kita yang membawa bahan pangan ke wilayah timur dicegat oleh armada tanpa identitas di perairan internasional!" teriak Maya.
Arlan terdiam seketika, rahangnya mengeras mendengar sabotase fisik yang kini mulai menyentuh jalur laut.
"Apa mereka berani melakukan pembajakan secara terang-terangan?" tanya Siska dengan suara yang bergetar.
"Ini bukan pembajakan biasa, Mbak Siska. Mereka menggunakan kapal militer swasta yang disewa melalui perusahaan cangkang Megantara," sahut Arlan sambil melangkah masuk ke ruang kendali utama.
[Misi Baru: Operasi Samudra Terbuka]
[Deskripsi: Bebaskan armada kargo Arlan Corp tanpa memicu insiden diplomatik.]
[Saran Sistem: Gunakan hak akses darurat maritim yang tersimpan di dalam kartu emas Ayah Siska.]
Arlan menatap layar radar yang menunjukkan posisi kapal kargonya yang kini dikelilingi oleh tiga titik merah besar di tengah laut lepas. Ia menyadari bahwa pertempuran langit sudah selesai, namun perang untuk menguasai jalur urat nadi ekonomi bangsa baru saja memasuki babak yang paling berdarah.
"Tegar, batalkan jet pribadi. Siapkan helikopter taktis menuju pangkalan maritim sekarang juga!" perintah Arlan dengan wibawa yang meluap.
"Mas Arlan, itu terlalu berbahaya! Anda bisa tertangkap di perairan internasional!" cegah Tegar yang baru saja masuk.
"Jika aku membiarkan mereka menyentuh satu saja pelautku, maka Arlan Corp tidak ada bedanya dengan kartel-kartel yang kita hancurkan kemarin," ucap Arlan sambil menyambar tas taktisnya.
Siska menahan lengan Arlan, matanya menatap dalam penuh kekhawatiran namun terselip tekad yang sama. "Aku ikut. Kartu emas itu membutuhkan verifikasi biometrik keluarga sah untuk mengaktifkan protokol perlindungan laut."
Arlan mengangguk pelan. Mereka berlari menuju landasan helikopter di atap gedung saat suara raungan baling-baling mulai membelah kesunyian pagi. Di tengah deru mesin, Arlan melihat sistem di matanya memberikan satu peringatan terakhir yang sangat misterius.
[Peringatan: Terdeteksi Sinyal Pengkhianatan di Pangkalan Maritim Tujuan Anda.]
[Status: Seseorang yang Anda percayai baru saja menerima suap dari Aquila Global.]
Arlan tertegun saat melangkah masuk ke dalam helikopter, ia melirik ke arah Tegar, Maya, dan Siska secara bergantian. Di tengah kekayaan miliaran rupiah yang baru saja ia raih, Arlan menyadari bahwa musuh yang paling mematikan bukanlah mereka yang menodongkan senjata di laut, melainkan dia yang tersenyum di sampingnya saat ini.
"Jalan, Tegar!" teriak Arlan, menyembunyikan kecurigaannya di balik raungan mesin helikopter yang mulai membubung tinggi meninggalkan kemewahan Jakarta menuju maut yang menunggu di tengah samudra.
Helikopter meluncur membelah gumpalan awan hitam di atas perairan Teluk Jakarta. Arlan duduk terdiam di kursi kabin, membiarkan kebisingan baling-baling menenggelamkan pikirannya. Matanya terus melirik ke arah Siska yang sibuk memeriksa tablet, lalu beralih ke Tegar yang duduk di kursi pilot dengan konsentrasi penuh.
{Satu dari mereka baru saja menjualku.}
[Analisis Sistem: Sinyal suap terlacak dari koordinat pangkalan maritim yang akan kita tuju. Transaksi dilakukan dalam bentuk kripto senilai 500.000 USD.]
Arlan mengepalkan tangan di atas lututnya. Angka itu cukup untuk membeli loyalitas siapa pun di dunia yang keras ini. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya agar tidak terbaca oleh radar emosi mana pun.
"Mas Arlan, kita akan mendarat dalam tiga menit. Pangkalan Maritim Delta sudah memberikan izin masuk," teriak Tegar melalui *intercom* helm.
"Bagus. Tegar, setelah mendarat, pastikan helikopter ini tetap dalam posisi mesin menyala. Kita tidak akan lama di sana," sahut Arlan dengan nada datar yang menyembunyikan badai di dalam dadanya.
Begitu helikopter menyentuh landasan pacu di tengah laut tersebut, Arlan melompat keluar diikuti Siska. Seorang perwira penghubung berpangkat Mayor menyambut mereka dengan hormat yang terasa terlalu kaku.
"Selamat datang, Pak Arlan. Kami sudah menyiapkan ruang komunikasi satelit untuk menghubungi armada Anda yang tertahan," ucap Mayor tersebut sambil memandu mereka masuk ke dalam lorong beton yang dingin.
Siska berjalan di samping Arlan, menggenggam kotak logam yang berisi kartu emas. "Arlan, ada yang aneh. Kenapa pangkalan ini begitu sepi? Bukankah seharusnya ada aktivitas patroli besar-besaran jika ada kapal kargo yang dicegat?"
Arlan tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah, namun sistem di matanya sudah mulai melakukan pemindaian termal pada setiap sudut ruangan yang mereka lewati.
[Peringatan: Terdeteksi 12 personel bersenjata di balik dinding ruang komunikasi. Mereka tidak mengenakan seragam resmi TNI-AL.]
Langkah Arlan terhenti tepat di depan pintu baja ruang komunikasi. Ia menoleh ke arah Mayor yang berdiri di sampingnya.
"Mayor, sebelum kita masuk, boleh saya tahu siapa yang memberikan perintah untuk mematikan radar pengawas di sektor utara pagi ini?" tanya Arlan dengan nada dingin yang menusuk.
Mayor itu tertegun, wajahnya mendadak pucat. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Pak Arlan. Radar kami berfungsi normal."
"Jangan berbohong. Sinyal suap itu masuk ke rekening pribadi Anda melalui perantara Aquila Global tepat sepuluh menit sebelum helikopter saya lepas landas," ucap Arlan sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan log transaksi perbankan gelap.
Mayor itu mundur satu langkah, tangannya bergerak cepat menuju sarung pistol di pinggangnya. Namun, sebelum ia sempat menarik senjatanya, Arlan sudah lebih dulu melancarkan serangan balik.
[Protokol Intervensi Fisik: Aktifkan Denyut Listrik pada Perangkat Komunikasi Lawan]
Suara percikan listrik terdengar nyaring dari radio yang menempel di pundak Mayor tersebut. Ia berteriak kesakitan saat kejutan listrik menghantam saraf lehernya. Arlan segera merebut pistol milik Mayor itu dan menarik Siska ke balik pilar beton.
"Tegar! Angkat helikopter sekarang! Ini jebakan!" teriak Arlan melalui saluran radio nirkabel.
Namun, tidak ada jawaban dari Tegar. Di landasan pacu, Arlan melihat helikopternya justru mematikan mesin. Tegar keluar dari kokpit dengan tangan terangkat, dikelilingi oleh sekelompok pria berpakaian hitam yang muncul dari balik kontainer.
"Tegar... tidak mungkin," bisik Siska dengan suara yang bergetar.
"Dia bukan pengkhianatnya, Siska. Dia dipaksa," kata Arlan sambil melihat seorang pria dengan jas rapi melangkah keluar dari bayang-bayang lorong.
Itu adalah Pak Handoko. Pria yang seharusnya sudah berada di balik jeruji besi, kini berdiri dengan senyum licik, memegang sebuah alat kendali jarak jauh.
"Kamu pikir Kapten Bramanto bisa menahanku lebih dari dua jam, Arlan? Di negeri ini, emas jauh lebih kuat daripada borgol," ucap Handoko sambil tertawa parau.
"Anda membajak kapal kargo saya hanya untuk memancing saya ke sini?" tanya Arlan sambil mengarahkan pistolnya ke arah Handoko.
"Bukan hanya membajak, Arlan. Kapal itu membawa bahan peledak yang disamarkan sebagai gandum. Satu perintah dariku, dan Arlan Corp akan dikenal sebagai perusahaan logistik teroris di seluruh dunia," ancam Handoko.
Arlan merasakan dunianya berputar. Ini bukan lagi soal uang, tapi soal penghancuran karakter secara total. Ia melirik ke arah Siska yang kini memegang kotak logam dengan erat.
"Siska, aktifkan protokol 'Deep Sea' dari kartu emas itu sekarang juga," bisik Arlan.
"Tapi Arlan, itu akan menghancurkan seluruh sistem komunikasi pangkalan ini, kita juga akan terjebak!" sahut Siska panik.
"Lakukan saja! Lebih baik kita terjebak di sini daripada membiarkan kapal itu meledak di perairan internasional!" perintah Arlan.
Tepat saat Siska menempelkan jarinya ke sensor biometrik, sebuah ledakan kecil terjadi di ujung lorong. Arlan menyadari bahwa Handoko tidak menunggu mereka menyerah.
"Selamat tinggal, Arlan. Langit dan laut sudah bukan milikmu lagi," ucap Handoko sambil menekan tombol di kendalinya.
Di layar monitor pangkalan yang terlihat dari celah pintu, Arlan melihat koordinat kapalnya mulai berkedip merah terang. Waktu hitung mundur ledakan dimulai: 60 detik.