NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.22

...RUMAH KOSONG...

Malam di desa itu tidak pernah terasa benar-benar gelap. Ia hanya seperti kekurangan alasan untuk terang. Langit di atas posko tampak seperti kain hitam kusam yang ditarik terlalu rendah. Tidak ada bintang yang benar-benar berani menampakkan diri. Bulan pun bersembunyi setengah hati, seperti tidak mau ikut campur urusan manusia malam itu. Lampu-lampu rumah warga menyala jarang-jarang, berjauhan seperti bintang malas yang tidak niat menemani. Beberapa rumah memilih gelap total, seolah penghuninya sepakat bahwa malam bukan waktu untuk bersosialisasi atau mungkin bukan waktunya untuk terlihat. Jalan setapak di depan posko terlihat samar. Tanahnya masih lembap oleh embun, memantulkan bayangan dari cahaya lampu seadanya dengan cara yang salah. Cukup jelas untuk dilewati, tapi terlalu buram untuk merasa aman.

Jam di dinding posko berdetak pelan. Jarum pendek menunjukkan angka 9 dan jarum panjang menunjuk ke angka 3 yang berarti sudah lewat jam sembilan malam. Para mahasiswa KKN itu semua sadar akan itu, bukan karena jamnya terlambat. Tapi karena setelah jam sembilan, desa ini selalu terasa berbeda. Dengan udara yang terasa lebih berat dan pikiran yang menjadi lebih liar. Udin berdiri di tengah ruang tamu posko, tanganmya di pinggang, kaki terbuka selebar bahu. Posisi klasik pemimpin darurat yang berusaha terlihat seperti tahu apa yang sedang ia lakukan. Padahal dari cara matanya sesekali melirik ke arah jendela, terutama jendela yang menghadap ke seberang jalan, jelas ia sedang menghitung kemungkinan terburuk satu per satu.

“Oke,” katanya, suaranya dibuat mantap. “Sesuai kesepakatan, nggak ada yang keluar posko. Kita semua kumpul, agar aman dan tenang.”

“Tenang katanya,” gumam Surya sambil duduk paling dekat dengan dinding, punggungnya menempel rapat seperti dinding itu satu-satunya sekutu yang ia punya.

Di sudut ruangan, Palui duduk bersila sambil menghitung uang receh di dompetnya. Koin-koin itu berbunyi pelan setiap kali disentuh, suara kecil yang justru terasa terlalu keras di tengah sunyi.

“Kalau kita mati di sini,” katanya tiba-tiba, tanpa mengangkat kepala, “uang ini jatuh ke siapa?”

Beberapa kepala langsung menoleh.

“Ke yang nemuin,” jawab Bodat tanpa menoleh, suaranya datar. “Makanya simpen aja di dalam kaus kaki.”

Palui berhenti menghitung koinnya.

“KAUS KAKI??”

“Biar aman.”

“ITU BAU.”

“Lebih bau kehilangan.”

Palui menatap dompetnya lama, lalu pelan-pelan memasukkannya ke saku. Ia tidak bertanya lebih lanjut.

Keheningan setelah itu tidak langsung pecah. Ia mengendap, menyelinap di sela-sela napas, di antara bunyi jam dinding dan dengusan kecil orang-orang yang berusaha meyakinkan diri bahwa mereka baik-baik saja. Tidak ada yang duduk dekat jendela sekarang. Bahkan Juned yang biasanya paling senang dapat sudut ambil gambar dramatis lebih memilih duduk membelakangi kaca. Kameranya tergeletak mati di sampingnya, seperti benda yang sedang dihukum.

Ani menyandarkan punggung ke tiang kayu, menatap langit-langit dengan ekspresi setengah bosan, setengah waspada. Dari tadi ia memperhatikan satu hal kecil, suara malam di luar tidak konsisten. Kadang ada jangkrik, kadang tidak. Kadang angin lewat, kadang berhenti total. Seperti ada yang sengaja mematikan dan menyalakan suasana.

“Posko ini,” kata Ani pelan. “Kalau dipikir-pikir… terlalu sepi ya.”

“Ini desa,” jawab Susi cepat. “Emang sepi.”

“Bukan sepi penduduk,” Ani menggeleng. “Sepi aktivitas. Kayak… semuanya nunggu.”

Wati yang sedang menuang air panas ke gelas langsung berhenti. Air mendidihnya meluap sedikit, hampir mengenai tangannya.

“Nunggu apa?” tanya Wati, datar.

“Nggak tahu. Kita, mungkin.” Ani mengangkat bahu.

Udin menghela napas panjang.

“Oke, stop,” katanya sambil mengusap wajah. “Kita udah sepakat. Jangan mikir aneh-aneh. Jangan mancing. Ingat Kemarin.”

Semua otomatis terdiam, kemarin malam dengan alat Moren yang bunyi sekali lalu mati, dengan kesimpulan pahit bahwa bukan teknologinya yang bermasalah, tapi rasa ingin tahu mereka sendiri. Kesepakatan tidak tertulis untuk pura-pura normal masih segar di ingatan. Masalahnya, malam ini tidak pura-pura, namun terasa terlalu sadar diri untuk mereka terlihat pura-pura. Dari jendela depan posko, samar-samar terlihat siluet bangunan di seberang jalan. Rumah tua itu sudah mereka lihat sejak hari pertama. Berdiri agak miring, catnya pudar, pagar depannya setengah roboh. Tidak ada lampu. Tidak ada tanda kehidupan. Dan entah kenapa, malam ini rumah itu terlihat lebih dekat. Bukan secara jarak tetapi secara perhatian.

“Rumah itu,” gumam Juned tanpa sadar, matanya tertuju ke arah yang sama dengan Udin. “Dari tadi keliatan kayak… nonton kita disini.”

“Jangan personifikasi bangunan,” potong Susi cepat. “Itu kebiasaan buruk.”

“Dia yang mulai,” balas Juned pelan. “Aku cuma ngerasa.”

Udin menegakkan badan.

“Fokus,” katanya. “Kita di sini buat KKN. Bukan buat nyari konten horor, bukan buat nguji nyali. Rumah kosong itu bukan urusan kita.”

Kalimat itu terdengar meyakinkan sampai terdengar suara pelan dari luar.

Kreeeeek.

Bukan dari dalam rumah kosong itu tepi dari halaman posko. Semua tubuh menegang bersamaan, hanya mata yang bergerak ke arah yang sama.

“Kucing?” bisik Palui, harap.

“Di sini nggak ada kucing,” jawab Surya cepat. “Dari kemarin.”

“Anjing?” tambah Palui.

“Juga nggak.”

“Terus itu apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Kreeeeek.

Sekali lagi, suara itu terdengar lagi dan lebih dekat. Udin memberi isyarat tangan agar semua diam. Ia melangkah pelan ke arah jendela, tapi berhenti setengah meter sebelum tirai. Tangannya gemetar sedikit, cukup untuk terlihat oleh yang memperhatikan. Ia menarik napas dan menyibakkan tirai. Tidak ada siapa-siapa diluar, hanya halaman kosong, pohon pisang bergoyang yang pelan. Udin menutup kembali tirai tersebut.

“Angin,” katanya, terlalu cepat. “Cuma angin.”

Tidak ada yang membantah. Tapi tidak ada yang benar-benar percaya. Dan di saat itulah, perhatian mereka kembali tertarik ke rumah kosong di seberang jalan. Bukan karena ada suara tapi karena ada cahaya samar disana, seperti lampu yang dinyalakan lalu diredupkan cepat. Moren menegakkan kepala perlahan.

“Kalian lihat itu?” tanyanya.

Tidak perlu jawaban karena semua melihat dengan mata kepala sendiri. Lampu itu muncul lagi di jendela lantai bawah rumah kosong. Meski cahaya nya tidak terang, tapi cukup nyata untuk membuat jantung semua orang berdetak tidak karuan.

“Katanya rumah itu kosong,” bisik Juleha.

“Katanya,” jawab Bodat pelan.

Udin menelan ludah.

“Dengar,” katanya, mencoba menguasai situasi yang jelas sudah di luar jangkauan. “Kita nggak ke sana. Kita nggak akan dekati rumah itu . Kita nggak cari tahu.”

Ani mengangguk pelan.

“Karena rasa ingin tahu itu masalah,” katanya santai.

Lampu di rumah kosong itu terlihat mati dan sunyi kembali hadir disana. Beberapa detik berlalu terdengar sesuatu yang membuat semua teori runtuh pelan-pelan.

TOK.

Sebuah ketukan dari arah pintu posko yang dengan tidak terburu-buru, seperti orang yang tahu pasti akan dibukakan. Udin memejamkan mata, Bodat menghela napas. Dan entah kenapa, di tengah situasi itu, Palui berbisik lirih,

“Dompetku masih di saku, kan?”

Tidak ada yang ingin tertawa mendengar leluconnya. Ketukan itu terdengar lagi.

TOK.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka sadar satu hal dengan sangat jelas, Rumah kosong itu tidak mengundang mereka keluar. Ia mengundang sesuatu untuk masuk ke sana

...🍃🍃🍃...

Bersambung…

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!