NovelToon NovelToon
Kos-kosan Sus Banget!

Kos-kosan Sus Banget!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Spiritual
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: DancingCorn

Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.

BENAR! DIA TAKUT.

Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.

Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.

Di sinilah kehidupannya mulai berubah.

Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Fandi Tertangkap?

Fandi merasakan tubuhnya melayang tanpa bobot dalam kegelapan. Seperti tenggelam di kehampaan. Tidak ada atas atau bawah, tidak ada gravitasi yang menahannya. Hanya kekosongan yang menyelimuti.

Angin berdesir di telinganya, tetapi tanpa arah—seolah datang dari segala penjuru sekaligus tidak berasal dari mana pun. Cahaya gelap dan bayangan berputar-putar di sekelilingnya, membentuk lorong yang tampaknya tak berujung.

Meski begitu, tidak ada kepanikan di wajahnya.

Fandi tetap tenang. Waspada.

Sampai akhirnya—

BRUGH!

Tubuhnya menghantam sesuatu. Lantai batu yang dingin.

Punggungnya terasa nyeri akibat benturan keras, tetapi dia menahan diri untuk tidak mengeluh. Sebaliknya, dia langsung bangkit dan menganalisis sekelilingnya.

Begitu matanya menyesuaikan diri dengan cahaya redup di ruangan itu, napasnya sedikit tertahan.

Apa yang terbentang di hadapannya membuatnya terdiam.

Sebuah istana megah, menjulang anggun di tengah cahaya temaram. Pilar-pilar batu tinggi berukiran relief khas Jawa kuno membentang sepanjang aula, menggambarkan kisah wayang dan makhluk-makhluk mitologi dengan detail yang nyaris hidup.

Lentera-lentera emas berpendar lembut di sepanjang dinding, menerangi ruangan dengan cahaya hangat yang memantul di atas lantai hitam mengilap. Langit-langit kayu jati yang diukir rumit membentuk pola simetris, menghadirkan nuansa yang terasa sakral sekaligus misterius.

Udara di tempat ini... aneh.

Ada sesuatu yang menekan, seperti kehadiran tak kasat mata yang menguji keberadaannya. Dadanya terasa sedikit berat, tetapi anehnya, di saat yang sama, dia merasa baik-baik saja.

Tempat ini—terasa akrab.

Seolah dia pernah mengunjunginya sebelumnya.

Namun sebelum dia bisa berpikir lebih jauh—

"Mas Fandi?"

Sebuah suara familiar terdengar dari belakangnya.

"EH?!"

Fandi menoleh cepat. Matanya membelalak.

Alya berdiri di sana, masih dengan pakaian yang kotor akibat perjalanan panjang mereka di Hutan Bayangan. Wajahnya tegang, matanya membelalak, jelas sama terkejutnya dengan Fandi.

"Aduh, Lo ngapain di sini?!" Fandi nyaris berbisik, suaranya dipenuhi kepanikan.

Alya menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tak percaya. "Ya gue juga nggak tahu! Gue cuma berusaha narik Mas waktu Mas Fandi dikelilingi bayangan hitam, eh malah ketarik juga!"

Fandi menutup wajahnya dengan satu tangan, mendesah dalam-dalam. "Aduh, kenapa malah makin ribet gini…"

Dia buru-buru memeriksa keadaan sekitar, memastikan tidak ada makhluk aneh yang mengintai mereka. Tapi justru yang membuatnya semakin panik adalah kehadiran sosok di ujung aula.

Di atas singgasana emas yang megah, seorang pria duduk dengan sikap tenang dan berwibawa.

Dia tampak kekar, berbahu lebar seperti seorang prajurit yang terbiasa bertempur. Wajahnya tampan, berkulit sawo matang seperti patung perunggu yang hidup. Namun yang paling mencolok adalah matanya—merah seperti bara api yang menyala dalam gelap.

Pakaian yang dikenakannya adalah jubah merah berbordir emas, dihiasi perhiasan batu giok yang berkilauan di bawah cahaya lentera. Mahkota emas bertatahkan motif ular naga bertengger di kepalanya, menambah kesan agung dan berbahaya.

Sosok itu menatap mereka.

Tatapan seorang raja yang seolah bisa menembus jiwa mereka.

"Selamat datang… Fandi."

Suaranya dalam dan bergema, beresonansi di seluruh ruangan seperti datang dari segala arah.

Fandi menelan ludah. "Duh, mampus." Gumamnya lirih.

Tanpa pikir panjang, dia langsung menunduk dalam-dalam, kedua tangannya mengepal di depan dadanya.

"Salam, Gusti Baswara."

Senyuman kecil terukir di bibir pria itu. "Oh? Kau masih mengingatku." Nada suaranya terdengar tertarik.

Alya yang masih bingung dengan situasi ini, hanya bisa bersembunyi di belakang Fandi, mencengkram ujung bajunya. Matanya melirik sosok raja megah di singgasana dengan takut-takut, tetapi dia memilih diam karena tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.

Fandi tersenyum kaku, menegakkan punggungnya sedikit, lalu segera merapikan pakaiannya yang berantakan. Meskipun dalam hati dia sedang menjerit panik, wajahnya harus tetap terlihat sopan dan hormat.

"Tentu saja saya mengingat Gusti Baswara!" ujarnya dengan suara penuh semangat. "Bagaimana mungkin hamba melupakan sosok sehebat Paduka? Aura kebangsawanan Gusti sungguh luar biasa, membuat hamba merasa seperti butiran debu di hadapan kebesaran Paduka!"

Alya yang berdiri di sampingnya melirik dengan ekspresi tak percaya. Dia tidak yakin apakah orang fasih di depannya ini benar-benar Fandi yang dia kenal.

Fandi tetap melanjutkan dengan wajah tulus dan mata berbinar-binar seakan benar-benar mengagumi raja di hadapannya. "Jubah Gusti sungguh memancarkan keagungan! Merah dan emas adalah warna yang sangat cocok untuk seorang pemimpin sejati. Dan mahkota itu… ah, luar biasa! Kilauannya pasti bisa membuat matahari pun malu!"

Baswara menyipitkan mata, ekspresinya sulit ditebak. Namun bibirnya melengkung sedikit ke atas, senang tetapi juga waspada.

"Hmmm… lidahmu lebih halus daripada dulu rupanya." Dia bertopang dagu, menatap pemuda itu dengan tatapan menilai.

Fandi tertawa kecil, berusaha tetap tenang. "Ah, Gusti, hamba hanya mengutarakan kebenaran! Bukankah hanya orang dungu yang tidak bisa melihat keagungan seorang raja sejati?"

Alya hampir tergelincir karena menahan tawa. 'Ya ampun... sejak kapan Mas Fandi jago ngomong gini.' pikirannya.

Baswara mengetuk sandaran singgasananya dengan ujung jarinya, masih menatap Fandi seolah menimbang-nimbang sesuatu. "Jadi, kau kira kata-kata manismu itu cukup untuk menebus kesalahanmu dulu?"

Seketika, senyum Fandi mengeras. Dia berusaha tetap tersenyum, tapi ekspresinya lebih mirip orang yang sedang meringis kesakitan. Matanya melirik kanan-kiri, mencari celah untuk menyusun strategi. "Eh… tentang itu... kalau boleh jujur, hamba juga merasa sangat bersalah, Gusti! Sungguh! Sampai hari ini pun hamba masih dihantui rasa bersalah itu!"

Baswara menaikkan satu alis. "Oh?"

Melihat ada celah untuk berdrama, Fandi segera menepuk dadanya dengan dramatis. "Tiap malam, hamba bermimpi tentang perbuatan hamba yang ceroboh! Ular hijau itu… ya ampun, hamba benar-benar tak tahu kalau ular itu seharusnya diberikan pada permaisuri Paduka! Sampai hari ini, hamba terus berdoa agar Gusti memaafkan kebodohan hamba!"

Di sampingnya, Alya benar-benar ingin menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga, dia makin menjadi-jadi..." gumamnya pelan.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Fandi dulu?! Bagaimana dia bisa begitu berani mencuri hadiah dari Raja Alam Gaib untuk istrinya?!

Fandi semakin merunduk, suaranya lebih bergetar—setengah akting, setengah benar-benar takut. "Saya benar-benar nggak ada niat jahat! Sumpah, saya nggak tahu kalau perbuatan itu akan menyebabkan masalah bagi Paduka! Saya minta maaf! SAYA SANGAT MINTA MAAF! Jika saya tahu itu adalah kepemilikan Gusti, saya pasti tidak akan berani mengambilnya, bahkan jika saya memiliki seribu keberanian!"

Baswara menghela napas panjang. Matanya yang seperti bara api menatap Fandi dengan tajam, membuat pemuda itu ingin lari tapi tak bisa.

"Masih ingat kesalahanmu itu?"

Fandi semakin menunduk, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Bagaimana hamba bisa melupakan kesalahan sebesar itu terhadap Paduka? Hamba sangat mengingatnya! Karena itu… saya benar-benar minta maaf! Waktu itu beneran nggak sengaja, saya cuma… yah… waktu itu saya… ehehe..."

Ingatan lama berputar kembali di benaknya—kejadian yang sudah lama dia lupakan, tapi jelas masih menghantuinya.

...—— FLASHBACK ——...

Beberapa tahun yang lalu...

Saat masih SMP, Fandi masih sering keluar-masuk dunia gaib dengan mudah. Lagipula, sejak kecil dia memang bisa melihat dan menyentuh hal-hal yang seharusnya tak terlihat oleh manusia biasa.

Hari itu, dia sedang berjalan santai di sebuah jalan setapak dalam dunia gaib, menikmati petualangan kecilnya seperti biasa, ketika tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Seorang punggawa kerajaan—tinggi, berjubah hitam dengan topeng emas—tampak membawa sebuah sangkar kecil.

Di dalamnya, ada seekor ular hijau mungil, seukuran ibu jari. Namun, yang membuat Fandi tertarik bukan hanya ukurannya, melainkan aura aneh yang mengelilinginya—campuran warna kuning dan putih yang berkedip-kedip seperti cahaya lilin.

Fandi langsung merasa penasaran.

"Hmm… ada apa dengan ular ini?" pikirnya.

Naluri usilnya bangkit. Jika ada sesuatu yang berkilau dan terlihat spesial, maka pasti menarik untuk diteliti!

Dan seperti bocah iseng pada umumnya… dia mencurinya.

"Cuma sebentar, kok! Mau aku lihat aja!" begitu pikirnya waktu itu.

Tapi yang dia tidak tahu, ular itu adalah hadiah pribadi Raja Baswara untuk permaisurinya.

Awalnya, ular itu tampak biasa saja. Sisiknya hijau berkilauan, dan anehnya, dia tidak menggigit Fandi. Saat diberi makan, dia malah lebih suka buah-buahan ketimbang daging.

Namun, hal yang paling mengejutkan adalah…

Ular itu bisa berbicara. "Manusia?" Lalu menghela nafas manusiawi, "mengapa sangat sulit untuk hidup sendiri dan malah dibawa ke sana sini."

Fandi hampir jatuh terjengkang mendengar suara kecil tapi tajam itu keluar dari seekor ular.

Setelah kekagetan pertamanya berlalu, Fandi malah semakin tertarik. Jika ular ini bisa berbicara, berarti kemungkinan besar dia adalah siluman yang sedang berkembang!

Jadi, dengan penuh semangat, dia membawanya ke kampungnya dan bertanya kepada beberapa orang tua yang mengerti soal makhluk gaib.

Hasilnya?

"Itu bukan siluman biasa, Nak… Ini memiliki kebajikan yang membuatnya beracun pada makhluk jahat. Itu akan sangat membantumu dalam menghadapi atau menangkap hantu dengan kebencian yang besar."

Fandi takjub dengan pengetahuan barunya itu. Dia mulai bermain dengan ular itu untuk mengusir hantu. Dia memberi nama ular itu Midori.

Dan begitulah, Midori tinggal di halaman belakang rumahnya, berbicara dengan manusia, bahkan mengusir hama dari kebun.

Tapi kemudian…

Dunia gaib menjadi kacau.

Baswara murka.

Dia mengirim para pengawalnya untuk mencari siapa pun yang berani mencuri hadiah untuk permaisurinya. Dan tanpa Fandi sadari, namanya mulai masuk dalam daftar orang yang dicari oleh para penghuni dunia gaib. Dan ini masih salah satunya.

Setiap kali dia berkunjung ke dunia gaib, dia mulai merasa diawasi. Kadang-kadang, ada angin dingin yang berbisik di telinganya, suara-suara yang berdesis pelan di bayang-bayang.

Lalu, suatu hari…

Dia tertangkap.

Baswara sendiri yang muncul di hadapannya, matanya menyala merah, suaranya menggelegar.

"BOCAH MANUSIA! BERANINYA KAU?!"

Saat itu, Fandi menggunakan beberapa trik dan langsung kabur tanpa menoleh ke belakang.

Dan sejak hari itu, dia tidak lagi berurusan dengan dunia gaib.

...—— End Flashback ——...

Kembali ke masa kini...

Fandi menelan ludah, mengangkat wajah dan tertawa gugup. "Ehehe… intinya… saya beneran nggak ada niat jahat, Gusti!"

Baswara menghela napas panjang, tatapannya tetap tajam.

"Jadi, setelah sekian lama, kau akhirnya kembali ke sini… tanpa rasa takut?"

"Haha, takut? Saya? Tentu saja saya takut, Gusti! Tapi… tapi… saya kan harus menghadapi ketakutan saya! Lagipula, saya pikir Gusti sudah melupakan kejadian itu! Hahaha…"

Baswara menyipitkan mata. "Lupakan? Bocah, kau pikir aku akan melupakan sesuatu yang membuatku kehilangan kasih sayang istriku?"

"Gusti, saya janji, saya akan menebus kesalahan saya! Saya akan melakukan apa saja! Apa saja asal Gusti tidak menghukum saya!"

Baswara mengamati Fandi sebentar… lalu tersenyum samar.

"Baik. Aku memang sedang butuh seseorang untuk menyelesaikan sebuah tugas."

Fandi mengerutkan kening. "Tugas…?"

Baswara menyeringai. "Tugas yang… hanya bisa dilakukan oleh seseorang sepertimu."

Jantung Fandi berdegup kencang.

Fandi : Oh, sial… (⁠ノ⁠`⁠Д⁠´⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻

1
Husein
wkt kasus Mina, kukira Bu Asti itu bukan manusia.... tp denger cerita mbak Lily, Bu Asti kek ibu rumahtangga biasanya....

jd sebenarnya Bu Asti itu manusia apa bukan? kl wkt ketemu Ryan di bawah pohon itu, keknya demit deh... tp kang Roy dan Alya...?
aduuuu bingung
Husein
loh dah mo habis dong kak...
jd kisah ttg Asti ini nanti jd yg terakhir ya?
DancingCorn: Begitulah, hehee...
total 1 replies
Husein
kak, kl kita baca itu dg mata merem, bisa beneran liat yg tak kasat mata ga?
Husein: hehe oke kak
DancingCorn: nggak bisa. jangan dilakuin (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
Untuk memiliki kelebihan tidak semudah itu :3
total 2 replies
Husein
maaf lahir dan batin jg ya kak oThor 🙏
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Krisna Adhi
novel ini berbeda , seperti larut dalam ceritanya , emosi ,haru campur jadi satu , good job thor /CoolGuy//Casual//Casual/
Krisna Adhi
aih aih /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Krisna Adhi
/Facepalm/
Husein
mohon maaf lahir dan batin jg kak oThor.....
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏

cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
Husein
sepertinya sdh tdk ada kak...
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
DancingCorn: udah kok. Si Parti kan Parto 😂
cuma bentuk perubahannya aja...
total 1 replies
Husein
🤭 udah kek setendap komedi... segala kucing kena roasting
Husein
😀😀 hantu aja punya jodoh....
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
Husein: sapa tau kak oThor ada yg pengin kek Jayden dan Mina, minta dicarikan jodohnya 😀😀....

tp sebaiknya ga usah lah, takutnya nanti ngerusak cerita 🤗

ngikut alurnya kak oThor aja deh😀👍👍
DancingCorn: 🤣🤣🤣
Yah, lagipula ini bukan genre romance 🤭🤭
total 2 replies
Husein
gpp kak oThor... biar sedikit bisa ngobatin kangen ke Fandy dkk,😍
netizen nyinyir
duhhh thorrrr kirain mau tamat, btw cepat sembuh thorrr
Husein
lekas sembuh kak🤗
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
Husein
ceritanya amazing 😍
Husein
apakah dugaanku benar? ato tidak?
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
Husein
oh no, tyt lbh rumit dr yg dibayangkan...
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
Husein
wahh ...up nya banyakkk 😍😍😍

maaci kak oThor
Husein
lagi kak oThor... lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!