NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Status: tamat
Genre:Patahhati / Poligami / Cintapertama / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:12.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: trias wardani

Ayu terkejut ketika menerima sebuah kiriman foto dari temannya yang memperlihatkan gambar dua orang yang sedang duduk berdampingan.

Air matanya mengalir seketika. Tidak percaya, lantas memperbesar gambar guna melihat lebih jelas. Luruh dan hancur hatinya saat ia yakin jika itu adalah wajah suaminya.

Ia yakin dan melihat dengan jelas siapa pria yang mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan pria berjas hitam di depannya. Suaminya duduk dengan seorang wanita, di bawah kerudung yang sama.

Ayu tidak percaya suami yang sangat dicintainya, yang sudah bersama menjalani tujuh tahun mengarungi bahteta rumah tangga kini telah membohonginya dengan dalih urusan pekerjaan di luar kota.

Bagaimana Ayu akan bersikap selanjutnya? Apakah Ayu akan meminta cerai? Atau menerima dirinya di duakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Permintaan Hana, Malam ini Saja.

Setelah protesku malam itu, sikap Mas Hilman menjadi berubah kepadaku. Dia kembali perhatian seperti dulu. Meskipun aku harus menghadapi dan melihat wajah Hana yang masam setiap hari, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin suamiku ini bersikap dengan adil meskipun itu dirasa sulit dan mungkin terasa tidak mungkin. Aku hanya ingin Mas Hilman memberikan perhatian kepadaku seperti dulu sebelum ada Hana di tengah-tengah kami.

Mas Hilman baru saja berangkat ke kantor. Seperti biasa aku mengantarnya sampai pagar. Minggu ini memang jatahku untuk bersama dengan dia.

Malam itu kami membuat perjanjian, tentunya ada Hana juga di antara kami. Kami memang harus menjadikan semuanya jelas agar tidak ada lagi yang merasa dirugikan atau merasa tidak dihargai. Meskipun aku melihat ada raut tidak suka pada wajah Hana, tapi dia harus bisa menerimanya.

"Mbak!" Suara Hana mengagetkanku saat aku baru saja menutup pintu gerbang.

"Maaf sebelumnya Mbak. Mungkin aku lancang bicara seperti ini kepada Mbak Ayu," ucapnya dengan menundukkan kepala.

"Ada apa?" tanyaku.

"Anu ... Aku ... kangen sama Mas Hilman. Bisa tidak malam nanti Mas Hilman tidur di kamarku? Beberapa malam aku nggak bisa tidur, anakku ingin di elus sama ayahnya," ucapnya yang membuat aku menatap tajam kepadanya. Tangannya mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit.

"Kamu tau 'kan kalau minggu ini jatah Mas Hilman sama aku?" tanyaku menegaskan.

"Tau Mbak, tapi ... aku nggak bisa tidur kalau tidak ada Mas Hilman. Ini juga bukan mau ku, Mbak." Hana mulai menangis, dia tersedu sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

"Aku mohon, Mbak. Malam ini saja. Kepalaku pusing sudah tiga hari ini aku tidak nyenyak tidur," ucapnya.

Aku memang merasa kesal kepadanya, tapi aku juga punya hati. Melihat lingkaran hitam yang ada di bawah kelopak matanya aku jadi kasihan juga. Dia sedang hamil dan kurang tidur akan membuat kondisinya tidak baik.

"Mbak, maaf. Aku tahu harusnya aku nggak boleh meminta ini kepada Mbak. Sekarang ini haknya Mbak bersama dengan Mas Hilman, kalau tidak boleh tidak apa-apa. Aku minta tolong saja sama Mbak antarkan aku ke apotek," ucapnya.

"Mbak Hana mau beli apa ke apotek?" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari rumah sebelah. Dia melongokkan kepalanya di atas pagar besi yang hanya sebatas dada orang dewasa. Terlihat sebuah sapu yang kini bersandar di pagar di depannya.

"Aku nggak bisa tidur Bu Tari, mau ke apotek mau cari obat tidur yang cocok untuk ibu hamil," jawab Hana yang membuat aku terkejut.

"Loh, gak boleh itu!" seru Bu Tari dengan cepat. "Orang hamil nggak boleh sembarangan minum obat!" tambahnya.

Hana tersenyum mendengar larangan dari tetangga kami itu. "Ya habisnya bagaimana, Bu? Aku nggak bisa tidur kalau nggak sama Mas Hilman. Baru bisa tidur kalau Mas Hilman elus anak aku," terangnya sambil tersenyum dan mengelus perutnya agak cepat.

"Minggu ini jatah Mas Hilman sama Mbak Ayu?" Wanita itu bertanya.

Hana menjawab dengan cepat, "Iya, Bu. Jatah aku masih lama, seminggu lagi."

"Hana! Tidak baik kamu membahas hal seperti itu kepada orang lain." Aku memberi peringatan kepada Hana. Ini masalah keluarga kami, jangan sampai orang lain tahu dengan apa yang terjadi. Mereka bisa saja berpikiran lain padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.

"Maaf, Mbak." Hana mengubah raut wajahnya dengan rasa bersalah. Dia menunduk dalam sambil memainkan ujung bajunya seperti anak kecil yang menyadari kesalahannya.

"Jangan dimarahi, Mbak. Kasihan," ucap Bu Tari dengan raut wajah iba.

"Saya bukan memarahi Hana. Saya hanya memberi peringatan untuk tidak menceritakan hal yang seperti itu," jawabku.

"Tapi kasihan Hana, Mbak. Mbak Ayu harusnya bisa mengerti dengan keadaan Hana yang sedang hamil. Orang yang hamil itu hormonnya berubah-ubah dan gak bisa kalau dilarang. Kasihan anaknya juga." Bu Tari memberi penjelasan. Aku pun tahu tanpa diberi tahu olehnya. Yang aku inginkan adalah untuk Hana tidak perlu menceritakan kapan waktu untuk kami berbagi suami.

"Sudah Bu Tari, ini memang salah saya. Mbak Ayu benar, orang luar tidak perlu tahu dengan yang terjadi di dalam rumah kami. Saya permisi dulu," pamit nya kepada Bu Tari.

"Mbak, kalau begitu Hana mau minta izin untuk pergi ke apotek. Hana pakai ojek saja," pamitnya kepadaku lalu dia berjalan dengan cepat ke dalam rumah tanpa sempat aku menghentikan dia.

"Mbak Ayu jangan begitulah. Kasihan Hana. Masa sedang hamil harus minum obat tidur. Mbok yo Mbak Ayu mengalah lah sama Hana. Dia kan sedang hamil anaknya Mas Hilman," ucapnya.

"Saya juga mengerti Ibu Tari, saya juga mau menyusul Hana ke dalam rumah. Tolong Bu Tari jangan salah paham dengan keadaan kami," ucapku meminta kepada Bu Tari. Aku tidak ingin ada gosip buruk tentang rumah tangga kami.

"Saya masuk dulu," pamitku kepadanya. Tanpa mendengar jawabannya aku meninggalkan Bu Tari yang masih berdiri di sana.

Hana baru saja keluar dari kamarnya. Dia sudah bersiap dengan sweater dan tas di tangannya.

"Kamu nggak perlu ke apotek, kamu mau aku yang disalahkan karena kamu minum obat tidur?" Tanyaku.

"Eh, enggak Mbak. Bukan itu maksud aku. Aku hanya nggak mau mengganggu waktu Mbak sama Mas Hilman. Itu saja!" jawabnya dengan cepat.

"Bisa nggak sih kalau kamu nggak perlu bicara soal kita sama tetangga?" Aku memberi peringatan.

"Maaf soal yang itu Mbak. Aku hanya menjawab. Anu Mbak, kalau begitu Hana pamit pergi dulu."

Dia hendak melangkah lagi, tapi segera aku larang dia.

"Sudah aku bilang kamu nggak perlu pergi ke apotek, aku akan bilang sama Mas Hilman untuk tidur di kamar kamu nanti malam," jawabku dengan cepat.

"Boleh, Mbak?" tanyanya tidak percaya.

"Kalau Mas Hilman mau!" seru ku lalu aku pergi ke dalam kamar ku, terdengar dia mengucapkan kata terima kasih.

Aku duduk di samping tempat tidur, hanya terdiam dengan apa yang baru saja terjadi. Resiko berbagi suami, apalagi maduku sedang hamil muda anak dari Mas Hilman. Aku harus memulai membiasakan diri dengan kehamilannya dan juga keinginannya.

Kuelus perutku yang selalu rata, kapan di dalam sini akan ada nyawa yang bersemayam di dalam rahim ku? Aku juga ingin merasakan kehamilan. Mas Hilman masih belum punya waktu untuk pergi ke dokter bersamaku.

Beberapa hari yang lalu aku sudah bercerita kepada Mas Hilman tentang yang dokter ucapkan. Mas Hilman akhirnya mau mendengarkan dan juga setuju, tapi yang kini menjadi kendala adalah biaya. Biaya untuk melakukan program bayi tabung tidaklah sedikit, belum lagi aku harus mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibu. Besok aku akan mulai mencari pekerjaan lagi. Meskipun rasanya sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan, tapi bukan berarti jika tidak ada sama sekali.

1
Akta Fernanda S
Luar biasa
guntur 1609
memang ibumu tu gak akan pernah berubah. pantas dia diselingkuhi sm suaminya
guntur 1609
vhahahahhahajajh
guntur 1609
lah brti anak mereka adiknya Dirga dan hilmna lah
guntur 1609
nyadr kan kau selama ni perlakuan mu buruk sm ayu
guntur 1609
hahahaha ni namanya bukan kejutan
kwkwkwkw kalah duluan sm gara
guntur 1609
hahahah kena mental si arga
guntur 1609
hahah kepergok mertua si Arga. org nafsunya luar. gak bisa fitahan
guntur 1609
hahah gantian si Arga yg kena sekarang. rasain loe arga
guntur 1609
puitis si Arga. gombal receh
guntur 1609
dalahknjdasar org gila. kau salahkan saja mamamu
guntur 1609
mntp wira
guntur 1609
mantap wira
guntur 1609
hahah ayu dan Arga clbk
guntur 1609
jngn blng yg punya rc si arga
guntur 1609
mantap gara.... Arga... beruntung kau bisa dapati ayu melalui gara. ni namanya gara dibalik ke arga
guntur 1609
ya pasti si ayu ilfil. poligami lg yg dihadapinya
guntur 1609
sprtnya ku sdh pernah baca cerita ni. kayaknya Wanda ni kakak iparnya wira x ya
guntur 1609
gak perlu lagi. tiap hari hanya janji2 palsu
guntur 1609
pantas. sifat Hilman. gak jauh beda sama mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!