Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 JEMBATAN DI ATAS KETIADAAN
Setelah melampaui belas kasihan yang melumpuhkan, langkah Abimanyu membawanya ke sebuah tepi yang tak terlukiskan oleh peta mana pun. Di hadapannya, bumi seolah-olah telah menyerah pada kehampaan. Bukan lagi sekadar jurang yang dalam, melainkan sebuah retakan kosmik yang memisahkan Tebing Kehendak dengan Puncak yang Tak Terkatakan. Di bawahnya, tidak ada dasar, hanya ada kabut yang berputar-putar dalam kegelapan abadi, tempat di mana waktu seolah-olah berhenti berdenyut.
Tidak ada jalan setapak yang tersisa. Tidak ada pegangan pada dinding cadas. Hanya ada sebuah ketiadaan yang luas, membentang sejauh mata memandang, seolah-olah alam semesta sedang menantang sang Pendaki: "Sampai di sini logikamu bekerja, sekarang apa yang akan kau lakukan?"
Abimanyu berdiri diam. Angin di sini tidak lagi menderu, ia hanya berbisik dalam frekuensi rendah yang menggetarkan tulang belakang. Ia merasakan sisa-sisa "Manusia Kertas" di dalam dirinya mencoba meraba saku jaketnya, mencari penggaris, mencari kompas, mencari kalkulator untuk menghitung probabilitas keberhasilan sebuah lompatan.
"Secara matematis, ini adalah akhir," bisik Akal Kecilnya yang masih gemetar. "Jarak ini terlalu lebar untuk kaki manusia. Tidak ada struktur yang bisa menopangmu. Kembali adalah satu-satunya pilihan yang logis."
Abimanyu menatap tangannya yang kini telah mengeras, kulitnya pecah-pecah dan berdarah, namun memiliki kekuatan yang tidak pernah ia rasakan saat menggenggam pulpen emas. Ia menyadari bahwa selama ini, hidupnya di Lembah Nama adalah upaya untuk menghindari jurang ini. Segala gelar, birokrasi, dan teori adalah "jembatan buatan" yang dibangun agar manusia tidak perlu melihat ketiadaan yang mendasari eksistensi mereka.
"Kalian membangun menara gading agar kalian tidak perlu melihat bahwa bumi ini rapuh," ucap Abimanyu pada kesunyian. "Kalian menciptakan 'kepastian' melalui statistik agar kalian tidak perlu gemetar di hadapan misteri. Tetapi di sini, di atas ketiadaan ini, statistikmu adalah lelucon yang hambar."
Ia mengambil botol kaca berisi abu naskahnya yang tersisa. Ia tidak menaburkannya kali ini. Ia justru melempar botol itu ke dalam jurang. Ia mendengarkan, menunggu suara botol itu pecah di dasar. Sepuluh detik. Tiga puluh detik. Satu menit.
Tidak ada suara.
Jurang ini menelan segalanya tanpa sisa. Ia tidak memberikan umpan balik. Ia tidak memberikan pengakuan. Ia adalah "Ketiadaan" yang jujur.
"Inilah saatnya," pikir Abimanyu. "Momen di mana aku harus berhenti menjadi penonton dari jalanku sendiri. Aku tidak bisa lagi memikirkan jembatan, aku harus menjadi jembatan itu sendiri."
Abimanyu teringat pada bayangan "Sang Penari Tali" yang pernah ia baca dalam kitab-kitab lama. Manusia adalah seutas tali yang terbentang di antara binatang dan Übermensch—sebuah tali di atas jurang. Bahaya untuk menyeberang, bahaya untuk berada di tengah jalan, bahaya untuk menoleh ke belakang, bahaya untuk gemetar dan berhenti.
Ia menutup matanya. Ia berhenti menggunakan matanya yang selalu mencari "bukti fisik". Ia mulai menggunakan kehendaknya untuk memadatkan ruang di depannya.
Ia mengambil satu langkah.
Bukan sebuah lompatan yang panik, melainkan sebuah langkah yang tenang, seperti seorang penari yang percaya pada panggung yang belum dibangun. Saat kakinya menyentuh udara, ia merasakan getaran hebat di seluruh tubuhnya. Ruang kosong itu tidak memberikan pijakan, namun kehendaknya memberikan "kepadatan".
Ia merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas seutas benang tipis yang terbuat dari keberanian murni. Setiap kali keraguan muncul di kepalanya—tentang asuransi kesehatan, tentang masa pensiun, tentang apa yang akan dikatakan Profesor Danu—benang itu mulai kendur dan ia merasakan tarikan gravitasi yang mengerikan.
"Jangan berpikir!" raung Abimanyu dalam batinnya. "Jangan membagi dirimu antara yang melangkah dan yang melihat! Jadilah langkah itu sendiri!"
Di tengah-tengah ketiadaan, ia merasa dirinya benar-benar sendirian. Tidak ada Tuhan yang memegangi tangannya, tidak ada negara yang melindunginya, tidak ada universitas yang mengakreditasi keberaniannya. Ia adalah sebuah atom yang berdaulat di tengah kosmos yang acuh tak acuh.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kebahagiaan yang liar meledak dari dadanya. Sebuah kegilaan yang jernih. Ia mulai bergerak lebih cepat. Ia tidak lagi berjalan, ia mulai menari di atas jurang. Ia menertawakan ketiadaan di bawahnya.
"Lihatlah aku, wahai ketiadaan!" teriaknya, suaranya kini melampaui suara angin. "Kau tidak bisa menelanku karena aku tidak memiliki beban lagi untuk ditarik! Aku telah membuang rasa kasihan, aku telah membuang rasa malu, aku telah membuang kebutuhan untuk dipahami!"
Ia menyadari bahwa jembatan ini hanya ada karena ia terus bergerak. Kehidupan bukanlah sebuah objek yang diam yang bisa dipelajari, kehidupan adalah sebuah gerakan yang menciptakan jalannya sendiri saat ia melaju. Jika ia berhenti, ia akan jatuh. Jika ia meragu, ia akan lenyap.
Saat kaki kanannya menyentuh permukaan cadas di seberang jurang, sebuah guncangan hebat menjalar ke tulang punggungnya. Ia jatuh tersungkur di atas tanah yang hitam, dingin, dan penuh dengan kristal es yang tajam. Ia terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar, menghirup oksigen yang kini terasa seperti cairan perak yang membakar pembuluh darahnya.
Ia menoleh ke belakang. Jurang itu masih di sana, luas dan tak tertembus. Namun jembatan yang ia lalui tadi telah hilang. Ia tidak bisa kembali. Tidak ada jalan pulang ke Lembah Nama. Pintu gerbang masa lalunya telah dikunci oleh tindakannya sendiri di atas ketiadaan.
Abimanyu berdiri dengan gemetar. Di depannya, lereng terakhir Gunung Kehendak menjulang, namun suasananya telah berubah. Batunya bukan lagi granit kelabu, melainkan sesuatu yang berkilau, seolah-olah terbuat dari madu yang membeku dan penderitaan yang dikristalkan.
"Aku telah menyeberang," bisiknya, dan untuk pertama kalinya, suaranya tidak mengandung jejak keraguan seorang akademisi. "Aku telah meninggalkan kemanusiaan yang membutuhkan jaminan. Sekarang, aku memasuki wilayah di mana hanya ada satu hukum: hukum yang kutulis dengan setiap tetes keringatku."
Ia melihat ke langit. Bintang-bintang di sini tampak lebih besar, lebih dekat, seolah-olah ia bisa menjangkaunya jika ia hanya mau mendaki sedikit lagi. Kesendirian intelektualnya kini mencapai puncaknya. Di sini, tidak ada lagi kata-kata. Tidak ada lagi kutipan. Yang ada hanyalah keberadaan yang murni dan tajam.
Abimanyu mulai mendaki lereng kristal itu, setiap gerakannya kini menjadi sebuah upacara penciptaan. Ia telah menjadi jembatan bagi dirinya sendiri, dan kini, ia siap untuk mencicipi madu yang pahit dari sebuah pencapaian yang tak akan pernah dipahami oleh dunia di bawah sana.