Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Situasi di ruang kuliah pagi itu mendadak jadi jauh lebih mencekam daripada ujian akhir bagi Viona. Noah sedang berjalan berkeliling di antara deretan kursi mahasiswa, menjelaskan materi manajemen dengan suaranya yang berat dan menghipnotis.
Noah melangkah dengan ritme yang tenang, namun setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai kelas seolah memacu adrenalin Viona. Seperti biasa, Viona mencoba menjadi "bayangan". Ia menunduk dalam, pura-pura sangat fokus pada buku teksnya agar tidak perlu beradu pandang dengan pria yang tadi pagi berebut roti panggang dengannya di rumah.
Saat Noah berjalan melewati barisan kursi Viona dan Laura, hembusan angin kecil membawa aroma maskulin yang khas, campuran sandalwood, cedarwood, dan sedikit aroma mint yang mahal.
Laura, yang sedang sibuk mencatat, tiba-tiba menghentikan pulpennya. Ia mengendus udara sebentar, lalu menoleh ke arah Viona dengan mata menyipit penuh selidiki.
"Vio... kayaknya parfum lo sama deh kayak parfum Pak Noah," bisik Laura sangat pelan, namun terdengar seperti ledakan di telinga Viona.
Viona tertegun sejenak. Jantungnya serasa merosot ke perut. Bagaimana tidak sama? Tadi pagi, saat terburu-buru, Viona tidak sengaja menyemprotkan parfume milik Noah yang ada di meja rias kamar mereka karena botol parfumnya sendiri terselip. Belum lagi, aroma tubuh Noah memang sudah menempel di pakaiannya karena mereka berbagi atap, berbagi mobil, dan berbagi napas yang sama setiap hari.
"Oh iya? Gue nggak sadar," kata Viona gelagapan, tangannya gemetar saat mencoba membalik halaman buku.
"Serius, Vio. Ini scent-nya unik banget, nggak pasaran. Dan sekarang pas Pak Noah lewat, baunya persis banget sama lo," lanjut Laura makin curiga.
Tepat saat itu, langkah Noah berhenti tepat di samping meja mereka. Viona bisa melihat ujung sepatu pantofel Noah yang mengkilap dari sudut matanya.
"Ada masalah, Laura? Viona?" tanya Noah datar. Matanya menatap mereka berdua, namun ada kilatan jenaka yang hanya bisa ditangkap oleh Viona.
"Nggak ada, Pak. Ini... Viona cuma lagi kurang fokus," jawab Laura gugup.
Noah sedikit membungkuk, tangannya bertumpu di atas meja Viona, membuat aroma "kembaran" itu semakin menguar kuat di antara mereka. "Kurang fokus? Mungkin karena semalam kurang tidur?" goda Noah dengan nada profesional yang dibuat-buat.
Viona mendongak, menatap Noah dengan pandangan 'tutup-mulut-lo' yang sangat tajam. "Saya fokus kok, Pak. Cuma agak pusing sama materi Bapak yang terlalu... mendominasi."
Viona berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar, padahal di dalam hatinya ia ingin sekali berteriak frustrasi. Noah, dengan gaya jalannya yang angkuh namun karismatik, baru saja melengos pergi menuju papan tulis, meninggalkan aroma sandalwood yang kini terasa seperti bom waktu bagi Viona.
Laura masih belum menyerah. Ia menopang dagunya dengan tangan, matanya terus mengikuti pergerakan Noah di depan kelas sebelum kembali menatap Viona dengan intens.
"Gue rasa, Pak Noah ada tertarik-tertariknya sama lo deh, Vio," bisik Laura penuh keyakinan.
Viona hampir saja menjatuhkan pulpennya. Ia menoleh ke arah Laura dengan tatapan tidak percaya. "Lo udah gila ya, Lau? Dia kan udah beristri. Lo sendiri yang bilang waktu itu dia dapet perjodohan eksklusif, kan?"
"Ya emang sih," jawab Laura, suaranya mengecil tapi nada bicaranya makin antusias.
"Tapi kan nggak menutup kemungkinan kalau dia naksir lo diam-diam. Tatapan dia ke lo itu beda banget, Vio. Tajam, tapi kayak ada proteksi gitu. Beda kalau dia natap mahasiswi lain yang cuma dianggap pajangan."
Viona memutar bola matanya, mencoba melakukan pertahanan terakhir. "Ah... udahlah Lau, jangan bikin gosip. Suami gue kalau tau bisa dibogem gue," jawab Viona dengan nada ketus yang dibuat-buat.
Ia merasa sangat ironis saat mengucapkan kata "suami" barusan. Kenyataannya, pria yang dimaksud akan membogemnya itu adalah orang yang sama yang saat ini sedang berdiri di depan kelas, menjelaskan teori ekonomi mikro dengan gaya diktatornya. Dan jujur saja, Noah tidak akan membogemnya; paling-paling pria itu akan "menghukumnya" dengan cara yang jauh lebih menjengkelkan di rumah nanti.
Noah tiba-tiba menghentikan penjelasannya. Ia menoleh ke arah barisan Viona, seolah indra pendengarannya punya radar khusus untuk setiap kali namanya disebut.
"Viona Skylar," panggil Noah. Suaranya menggema di ruangan yang sunyi, membuat jantung Viona mencelos.
"Iya, Pak?" jawab Viona, mencoba terdengar seprofesional mungkin.
"Kalau kamu punya waktu luang untuk berdiskusi dengan teman sebangkumu, berarti kamu sudah sangat paham materi ini. Bisa tolong jelaskan apa yang baru saja saya sampaikan?" tanya Noah. Ada seringai tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya, seringai kemenangan karena berhasil memojokkan istrinya sendiri.
Viona melirik Laura yang langsung pura-pura sibuk mencatat, lalu kembali menatap Noah dengan berani. "Tentu, Pak. Bapak tadi menjelaskan tentang bagaimana sebuah 'otoritas' bisa disalahgunakan untuk menekan pihak yang lebih lemah... mirip seperti situasi saya sekarang."
Seluruh kelas langsung menahan napas. Jawaban Viona terlalu berani. Namun, alih-alih marah, Noah justru terkekeh rendah.
"Menarik. Analogi yang sangat personal," ucap Noah sambil berjalan mendekat ke arah meja Viona. Ia membungkuk sedikit, menatap mata Viona dalam-dalam. "Tapi ingat Viona, dalam otoritas yang benar, pihak yang 'menekan' biasanya hanya ingin memastikan kalau pihak yang 'lemah' tetap berada di jalurnya."
Viona terdiam seribu bahasa. Noah benar-benar gila. Dia sedang bermain roleplay di depan puluhan mahasiswa, dan Viona hanya bisa berdoa agar Laura tidak menghubungkan titik-titik kecurigaan itu menjadi sebuah garis kenyataan.
———
Mobil SUV mewah milik Noah melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu neon. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana "dosen dan mahasiswa" telah luruh, berganti menjadi dinamika suami istri yang penuh dengan negosiasi kecil.
Viona menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, jarinya lincah menggeser layar ponsel sebelum menyodorkannya ke arah Noah yang sedang fokus menyetir.
"Noah, ada undangan nih dari keluarga William. Susan chat gue, tapi acaranya di beach club gitu," kata Viona, menunjukkan undangan digital yang terlihat sangat mewah dan eksklusif.
Noah melirik sekilas ke arah layar ponsel itu. Nama keluarga William, penguasa bisnis di Pulau Jeju, memang bukan nama sembarangan. Namun, begitu kata 'beach club' disebut, rahang Noah sedikit mengeras.
"Club? Lo nggak boleh datang sendiri. Apalagi di sana pasti ada geng menyebalkan yang sering hina-hina lo itu, kan?" ucap Noah dengan nada protektif yang tak bisa disembunyikan.
Viona mendengus, ia sudah menduga reaksi ini. "Ya udah, lo datang sama gue. Susan selalu datang di setiap undangan gue soalnya, nggak mungkin gue nggak datang kan? Nggak enak sama relasi keluarga Skylar juga."
Noah terkekeh sinis, ia memutar setir dengan satu tangan dengan gaya yang sangat maskulin. "Alasan. Itu mah emang akal-akalan lo aja supaya bisa pergi ke tempat begitu. Alkohol yang lo cinta dan musik yang buat lo bahagia, kan? Bilang aja lo kangen party."
Viona menjentikkan jarinya, lalu tersenyum lebar tanpa beban. "Nah, itu lo tahu!"
Suasana kembali hening sejenak, hanya ada suara musik instrumen pelan dari radio mobil.
Viona teringat kejadian di kelas tadi pagi yang membuatnya hampir jantungan.
"Btw... di kelas dikitin berinteraksi sama gue dong. Laura udah curiga banget soal parfum tadi," tambah Viona dengan nada serius.
"Nggak apa-apa sih. Lagian gue nggak keberatan kalau seluruh dunia tahu lo istri gue. Biar nggak ada lagi cowok-cowok kayak Yohan yang berani mendekat," jawab Noah santai, seolah mengakui status mereka ke publik adalah hal yang paling ia inginkan sekarang.
Viona memutar bola matanya. "Tapi itu bakal menyulitkan posisi gue sebagai mahasiswa, Noah. Mereka bakal sungkan sama gue, atau malah mikir nilai-nilai gue itu hasil 'jalur dalam' karena suami gue dosennya. Gue mau lulus dengan usaha gue sendiri, bukan karena embel-embel Nyonya Willey."
Noah menghentikan mobilnya di lampu merah. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Viona, menatap istrinya itu dengan tatapan yang dalam dan intens.
"Gue hargai idealisme lo, Vio. Tapi ingat, kalau sampai ada yang berani nyakitin atau ngerendahin lo di kampus dan gue nggak bisa intervensi karena status rahasia ini, gue nggak akan tinggal diam. Gue punya cara sendiri buat 'menghabisi' mereka tanpa harus bilang kalau gue suami lo."
Viona tertegun. Di balik sifatnya yang menyebalkan, Noah adalah tameng paling kokoh yang pernah ia miliki. "Iya, I know. Tapi buat sekarang, please, tetap profesional ya, Pak Dosen?"