Gibran Erlangga terpaksa menikahi Arumi Nadia Karima karena perjodohan orang tuanya yang memiliki hutang budi.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan Arumi.
Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan.
Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
Arumi memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka. Saat Arumi telah pergi barulah Gibran menyadari jika ia sangat mencintai istrinya itu.
Apakah Gibran dapat meyakinkan Arumi untuk dapat kembali pada dirinya?.
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Ayah Masuk Rumah Sakit
Gibran tak berani menatap wajah kedua orang tuanya. Semua salah dirinya. Seharusnya dulu ia mendengar ucapan ibu yang memintanya meninggalkan Joana.
Dulu Gibran terlalu menuruti ego. Dalam pikirannya, tak ada salahnya ia tetap berhubungan dengan Joana. Bukankah ia tetap menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik.
Tiba-tiba ayah memegang dadanya. Tampak napasnya memburu. Ibu yang melihat itu menjadi cemas.
"Ayah, sadar. Tarik napas ...." ucap Ibu. Ibu lalu berlari menuju kamar, mengambil obat Ayah.
"Ayah, Ayah sadar," ucap Gibran melihat Ayahnya mulai menutup mata.
Ibu datang dengan segenggam obat. Ibu kaget ketika sampai dihadapan ibu, Ayah sudah tak sadarkan diri.
Gibran menggendong tubuh Ayah masuk ke dalam mobil. Ia meminta ibu juga segera masuk.
Gibran melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, Gibran langsung menggendong ayah masuk ke ruang gawat darurat.
Ayah segera ditangani dokter. Ibu tampak sangat cemas. Ia menghubungi Alana mengabarkan jika Ayah masuk rumah sakit.
Setengah jam kemudian dokter keluar. Gibran bertanya tentang keadaan ayahnya. Dokter mengatakan ayah Gibran terkena serangan jantung.
Dokter meminta perawat memindahkan Ayah ke ruang ICU.
Gibran dan ibunya menunggu di luar ruangan. Kakak Gibran yang janda itu datang bersama dua anaknya.
"Bagaimana keadaan Ayah, Bu?"
"Masih kritis," jawab ibu singkat.
Amanda, kakak wanitanya itu memandangi Gibran dengan mata menyala. Tangannya dikepal menahan amarah.
"Jika terjadi sesuatu dengan ayah, kamu nggak akan pernah aku maafkan!" ucap Manda dengan penuh penekanan.
"Udah, Manda. Ini rumah sakit. Jaga emosimu."
"Seluruh keluarga udah mengingatkan kamu, bahkan telah mengancam Joana gila itu. Tapi kamu selalu saja membelanya, dan karena ke egoisanmu semua ini terjadi. Dasar pria nggak tau untung."
"Manda ...." ucap Ibu mengingatkan. Gibran hanya diam, tak ada membalas ucapan kakaknya sepatah katapun.
"Kamu itu seharusnya bersyukur karena bisa mendapatkan istri seperti Arumi. Apa kurangnya wanita itu? Cantik, baik, dan kaya. dibandingkan Joana, tidak ada apa-apanya."
"Sudahlah, Kak. Aku mengaku salah," ucap Gibran.
"Sekarang baru mau menyesal, setelah semuanya hancur. Makan tuh Joana. Suatu saat kamu akan menyesal. Kakak udah sering mengingatkan jika Joana itu bukan wanita baik-baik. Kita buktikan saja."
"Kenapa aku saja yang disalahkan," ucap Joana. Entah sejak kapan wanita itu ada di antara keluarga Gibran.
"Memang kamu salah. Sudah tau Gibran telah menikah, masih aja gatal. Kau dan Gibran sama. Aku menunggu penyesalanmu Gibran!" ucap Kak Manda.
"Aku yang duluan mencintai Gibran. Kalian yang memisahkan kami. Seharusnya ini semua salah kalian. Kenapa nggak berterus terang pada keluarga Arumi jika Gibran telah ada calon istri. Kalian takut kehilangan tambang emas?"
Amanda yang mendengar ucapan Joana spontan mengangkat tangannya dan menampar pipi wanita itu.
"Pergi kau. Semua ini gara-gara kau. Jika terjadi sesuatu dengan Ayahku, kau dan Gibran yang bertanggung jawab."
"Aku tak mau pergi, anakku ingin di dekat ayahnya." Joana mengusap perutnya yang masih rata.
Ibu dan Manda yang mendengar ucapan Joana menjadi kaget. Mereka serempak memandangi wajah wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kak Manda.
"Ibu, sebentar lagi aku dan Mas Gibran akan memberikan ibu cucu. Doakan saja anak dalam kandungan aku ini sehat."
"Anak? Kamu hamil? Apa lagi ini Gibran." Ibu memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Joana.
Tidak pernah ia mengira anaknya akan melangkah sejauh ini. Gibran, anak pria satu-satunya yang menjadi kebanggaannya, saat ini telah menghancurkan hatinya.
Ibu terdiam sambil terus menarik nafas. Wajahnya tampak memucat. Amanda yang melihat itu, langsung mendekati ibunya.
"Ibu, ibu kenapa?" ucap Amanda kuatir.
Gibran juga ikutan berdiri dan mendekati ibunya. Peluh mengucur deras dari dahinya. Tangan ibu terasa dingin dan wajahnya pucat. Mungkin ibu syok mendengar pengakuan dari Joana.
Bersambung
𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙟𝙖𝙝𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢|| 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙧𝙚 𝙩𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙨𝙤𝙠 𝙥𝙖𝙜𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙝𝙖𝙢𝙙𝙪𝙡𝙞𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙛𝙞𝙩 𝙗𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙨𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙠 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙥 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙛𝙪𝙡𝙡 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙨 𝙣𝙮𝙪𝙘𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙘𝙪𝙘𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙗𝙪 𝙗𝙞𝙙𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙨 𝙠𝙤𝙣𝙩𝙧𝙤𝙡.🤭🤭
𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪2 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘱.🤭