Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Perjalanan menuju rumah Ummi Salamah memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Di dalam mobil, suasana hening namun tidak lagi mencekam seperti sebelumnya. Amara menyandarkan kepalanya di kaca jendela, memerhatikan lampu-lampu kota yang berlarian di luar, sementara pikirannya terus terngiang ucapan Hannan tentang ketenangan.
Mereka tiba di sebuah rumah bergaya klasik dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga yang rapi. Seorang wanita paruh baya dengan kerudung instan dan wajah yang sangat teduh keluar menyambut mereka. Ia adalah Ummi Salamah, tokoh masyarakat Indonesia yang sudah puluhan tahun menetap di sana.
"Ya Allah, Hannan, Malik... siapa gadis cantik ini?" tanya Ummi Salamah dengan nada khawatir melihat wajah Amara yang sembap.
Setelah Hannan menjelaskan secara singkat (tanpa membuka aib Amara terlalu dalam), Ummi Salamah langsung memeluk Amara. Pelukan itu begitu tulus, membuat Amara kembali meneteskan air mata.
"Sudah, Nak. Di sini kamu aman. Anggap Ummi sebagai ibumu sendiri," bisik Ummi Salamah.
Hannan dan Gus Malik berpamitan untuk kembali ke apartemen mereka karena hari sudah sangat malam. Sebelum pergi, Hannan sempat berpesan kepada Ummi Salamah.
"Ummi, tolong jaga dia. Dia sedang dalam kesulitan besar. Jika ada apa-apa, segera hubungi Hannan."
Beberapa hari berlalu. Amara mulai merasa nyaman di rumah Ummi Salamah. Ia sering memperhatikan Ummi yang terbangun di sepertiga malam untuk salat, atau saat Ummi membaca kitab suci dengan suara merdu di pagi hari.
Suatu sore, Hannan datang berkunjung untuk mengantarkan beberapa keperluan bahan makanan yang dititipkan ibunya dari Indonesia untuk Ummi Salamah. Saat itulah, ia melihat Amara sedang duduk di teras sambil memegang sebuah buku kecil tentang dasar-dasar mengenal Tuhan yang ia temukan di perpustakaan Ummi.
"Bagaimana kabarmu, Amara?" tanya Hannan sambil berdiri di anak tangga bawah teras.
Amara menoleh dan tersenyum—kali ini senyumnya sampai ke mata. "Jauh lebih baik, Hannan. Terima kasih. Ummi Salamah sangat baik padaku. Dia mengajariku banyak hal, termasuk cara memasak masakan Indonesia."
Hannan mengangguk senang. "Alhamdulillah kalau begitu."
"Hannan..." Amara menutup bukunya. "Boleh aku bertanya sesuatu? Tentang apa yang kamu katakan di masjid waktu itu. Tentang mencari ketenangan lewat Tuhanmu."
Hannan terdiam sejenak, lalu duduk di kursi kayu yang agak jauh dari Amara. "Tentu, silakan."
"Selama ini aku hidup di dunia yang penuh dengan tuntutan. Papa tiriku ingin uang, Ryan ingin memilikiku sepenuhnya... tidak ada yang benar-benar peduli pada jiwaku. Tapi saat aku melihatmu dan Ummi salat, kalian seolah-olah punya dunia sendiri yang sangat damai. Apa itu yang namanya iman?"
Hannan menatap langit-langit teras dengan bijak.
"Iman itu seperti sauh pada kapal, Amara. Saat badai datang menghantam, kapal itu tidak akan hanyut karena ia terikat kuat pada sesuatu yang tak tergoyahkan. Mencari Allah bukan berarti masalahmu hilang, tapi hatimu dibuat lebih besar dari masalahmu."
Amara tertegun. Kalimat itu masuk begitu dalam ke hatinya. "Apakah... apakah orang seperti aku, yang belum mengenal-Nya, boleh mencoba untuk mendekat?"
Baru saja Hannan hendak menjawab, sebuah mobil hitam legam berhenti mendadak di depan pagar rumah Ummi Salamah. Kaca jendela terbuka, dan terlihat Ryan di sana bersama seorang pria bertubuh gempal yang merupakan anak buah Bastian.
"Hannan, awas!" teriak Amara spontan.
Ryan tidak turun, ia hanya berteriak dari dalam mobil dengan seringai licik. "Hannan! Nikmati waktumu bersamanya sekarang. Karena besok, aku akan membawa surat laporan polisi bahwa kamu telah menculik Amara! Kita lihat, ustadz mana yang akan dipercaya saat dia membawa lari wanita non-muslim dari keluarganya!"
Mobil itu menderu pergi, meninggalkan debu dan ancaman baru yang lebih mengerikan: fitnah.