Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19
...TEKNOLOGI MELAWAN HAL GAIB...
Pagi setelah ronda malam tidak pernah benar-benar disebut pagi, yang ada hanyalah sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya pergi. Cahaya matahari memang mulai masuk melewati celah-celah jendela posko, namun ia seakan datang dengan ragu, lebih seperti cahaya yang sedang memastikan dulu apakah tempat ini aman untuk disinari. Udara lembap masih menempel di dinding kayu posko, merayap pelan seperti sesuatu yang tidak mau pergi. Lantai terasa dingin meski sandal sudah dipakai sejak bangun tidur. Bahkan suara burung pagi terdengar enggan, seolah hanya formalitas agar dunia tetap berjalan normal.
Lingkaran hitam di bawah mata anak-anak KKN menjadi bukti nyata bahwa kata tidur tadi malam hanyalah konsep, bukan kejadian. Wati masih tergeletak di sudut ruang tengah, menggulung jaket sebagai bantal. Posisi tidurnya tidak berubah sejak subuh, seolah dunia boleh runtuh asalkan ia tetap bisa memejamkan mata.
“Dia tidur dari jam berapa?” tanya Susi sambil merapikan rambutnya setelah semalaman panik.
“Dari sebelum panik,” jawab Bodat.
“Pas panik?”
“Masih tidur.”
Susi mengangguk pelan, seperti menerima kenyataan bahwa setiap kelompok butuh satu orang yang kebal rasa takut atau mungkin sudah menyerah pada hidup.
Di dapur, Anang mengaduk mie instan dengan wajah kosong. Gerakannya mekanis seperti robot yang diprogram hanya untuk bertahan hidup. Panci kecil itu berisi campuran warna mencurigakan, kuah keruh dengan potongan mie yang sudah terlalu lembek.
“Rasa apa?” tanya Paijo sambil mengintip.
“Semua,” jawab Anang datar. “Aku campur.”
Palui menghela napas panjang sambil menghitung sisa mie dalam kardus.
“Ini pemborosan,” katanya. “Kita baru hari ketujuh.”
“Palui,” Udin menepuk bahunya dengan ekspresi sok bijak yang dipaksakan. “Kalau nanti kita kerasukan, uang itu nggak bisa dipakai.”
“Bisa buat bayar dukun,” jawab Palui cepat.
Udin membuka mulut namun kemudian menutupnya lagi dengan rapat karena tidak punya bantahan. Sementara sebagian besar anggota posko sibuk memulihkan mental dengan cara masing-masing, ada yang ngemil, ada yang rebahan, ada yang pura-pura sibuk.
Moren justru duduk di lantai ruang tengah dengan wajah serius untuk ukuran orang yang belum mandi dan masih mengenakan kaus semalam. Di depannya tergeletak berbagai benda, disusun rapi seperti persiapan ritual. Bedanya, ini ritual versi anak teknik yang terlalu sering nonton YouTube tengah malam. Benda-benda itu antara lain adalah senter rusak, tutup botol air mineral, kabel USB setengah terkelupas, power bank yang penyok di satu sisi, dan satu ponsel dengan layar retak seperti hidupnya. Juned mendekat perlahan, refleks jari sudah menekan tombol rekam.
“Ini apa lagi?” tanyanya.
“Solusi,” jawab Moren mantap, tanpa mengangkat kepala.
“Solusi apa?”
“Solusi ilmiah.”
Juned menyipitkan mata.
“Ilmiah dari mana?”
Moren mengangkat kepala perlahan, menatap Juned dengan sorot mata penuh keyakinan.
“Dari YouTube.”
Kalimat itu langsung mengundang perhatian. Surya yang tadinya duduk jauh, memeluk lutut dan menatap kosong ke dinding, langsung bangkit dan mendekat.
“Ini alat buat deteksi, ya?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar tapi penuh harapan. Moren mengangguk.
“Kalau memang ada sesuatu di posko ini,” katanya dengan nada sok dosen semester tua, “maka pasti ada perubahan energi, Gelombang, dan Frekuensi.”
Ani ikut merapat, matanya berbinar.
“Dan alat ini bisa nangkap itu?”
“Harusnya.”
“Harusnya?” Ani mengulang.
“Secara teori.” Jawab Moren
Bodat menyilangkan tangan, berdiri tepat di belakang mereka.
“Secara praktik?” tanyanya datar.
Moren terdiam sebentar, tangannya juga berhenti mengutak-atik kabel.
“…kita coba.”
...🍃🍃🍃...
Tidak ada yang tertawa karena tidak ada satu pun dari mereka yang cukup waras untuk menganggap ini lelucon. Pagi itu, batas antara logika dan keputusasaan sudah menipis. Ketika rasa takut terlalu lama dibiarkan tanpa penjelasan, otak manusia akan menerima apa pun, termasuk alat pendeteksi makhluk tak kasatmata berbahan dasar barang rongsokan posko. Moren menghela napas, lalu mulai menyambung kabel USB ke power bank dengan gerakan penuh keyakinan palsu. Tangannya agak gemetar, tapi ia menutupinya dengan ekspresi sok tenang.
“Jadi gini,” katanya, kali ini suaranya lebih keras, seperti presenter dadakan. “Power bank ini jadi sumber daya. Kabel ini penghantar. Senter ini...” Ia mengetuk senter rusak itu. “...sebagai indikator visual.”
“Lampunya kan mati,” celetuk Paijo.
“Justru itu,” jawab Moren cepat. “Kalau tiba-tiba nyala… berarti ada anomali.”
“Atau baterainya nyambung,” gumam Bodat.
Moren pura-pura tidak dengar, sementara Juned terus merekam. Sudut kameranya agak miring, tapi ia tidak peduli. Dalam kepalanya, ini sudah jadi konten ‘KKN Desa Angker: Episode Teknologi vs Jin’.
“Terus HP ini buat apa?” tanya Ani.
“Sensor tambahan,” jawab Moren. “Aplikasi pendeteksi frekuensi.”
“Namanya apa?”
Moren menatap layar ponsel sebentar.
“Ghost Radar Pro Plus.”
Semua diam, Susi memijat pelan pelipisnya.
“Itu aplikasi beneran?”
“Di-review lima bintang,” jawab Moren defensif. “Sama tiga ribu orang.”
“Komentarnya apa?” tanya Palui.
Moren membaca dengan cepat.
“Akurat… menyeramkan… bikin susah tidur… iklannya banyak…”
“Yang terakhir itu jujur,” gumam Udin.
Mereka membentuk setengah lingkaran di ruang tengah. Posisi Moren di tengah, seperti dukun modern yang salah jurusan. Bodat berdiri paling belakang, bersandar ke tiang, wajahnya datar tapi matanya tetap waspada. Dan Wati masih tidur, tidak ada yang berani membangunkannya.
“Langkah pertama,” kata Moren, “kita nyalakan sistem.”
Ia menekan tombol power bank. Lampu indikator seketika menyala, namun tidak terjadi apa-apa. Beberapa detik berlalu, dan masih tidak terjadi apa-apa. Paijo menghembuskan napas lega terlalu cepat. Tiba-tiba, KRSSSS… Suara statis keluar dari ponsel. Ani menjerit kecil dan langsung berpegangan pada Susi.
“Itu apa?!”
“Tenang,” kata Moren cepat, meski suaranya naik satu oktaf. “Itu… proses kalibrasi.”
Layar ponsel menampilkan garis-garis hijau yang bergerak naik turun. Juned menelan ludah.
“Itu… normal?”
“Relatif,” jawab Moren.
Senter rusak itu berkedip sekali, hanya sekali saja tapi mampu membuat semua orang itu membeku seketika. Paijo perlahan menoleh ke arah Moren.
“Katanya rusak.”
“Iya,” jawab Moren pelan. “Harusnya.”
Detik berikutnya terasa lebih panjang dari malam sebelumnya. Tidak ada suara angin atau burung. Hanya bunyi statis dari ponsel dan napas dua belas manusia yang berusaha tetap stabil. Lalu, aplikasi itu berbunyi.
PING!
Satu kata muncul di layar.
“HADIR.”
Ani langsung duduk, Susi menutup mulut dan Palui mundur satu langkah.
“Had, hadir apa?” tanya Udin dengan suara hampir tidak keluar.
Moren menatap layar. Keringat mulai turun dari pelipisnya.
“Menurut aplikasinya,” katanya pelan, “itu berarti ada… entitas.”
“Entitas itu siapa?” tanya Paijo.
“…nggak ditulis.”
PING!,
bunyi itu terdengar lagi, kata kedua muncul.
“MENGAMATI.”
Juned menurunkan ponselnya sedikit.
“Ini nggak lucu.”
Bodat maju satu langkah.
“Matikan.”
“Bentar,” kata Moren. “Data belum lengkap.”
“Matikan,” ulang Bodat, lebih tegas.
Senter kembali berkedip lagi. Kali ini dengan dua kali kedipan. Wati berguling dalam tidurnya, ia bergumam, lalu,
“Siapa sih ribut amat… orang lagi mimpi indah…”
Semua menoleh padanya seperti melihat malaikat turun dari langit.
“Wati,” bisik Ani panik, “bangun.”
Wati membuka satu mata.
“Ada apa…?”
Aplikasi berbunyi lagi.
PING!
“TERGANGGU.”
Wati langsung duduk tegak.
“…kenapa dingin banget?”
Tidak ada yang menjawab, karena pada saat yang sama,
DUARR.
Pintu belakang posko terbanting, Semua menjerit. Moren refleks menjatuhkan alatnya. Power bank menggelinding,kabel tercabut, senter mati total. Ponsel Juned jatuh, tapi masih merekam. Angin masuk dari pintu belakang yang terbuka. Wati berdiri perlahan.
“Oke,” katanya tenang. “Ini bukan mimpi.”
Bodat berjalan ke pintu, menutupnya pelan.
“Kesimpulan,” katanya datar sambil kembali ke tempatnya. “Teknologi tidak membantu.”
“Atau… terlalu membantu.” Moren mendudukan diri ke lantai dengan lemas.
Paijo tertawa kecil dengan sedikit histeris.
“Jadi… kita diapain sekarang?”
Susi menarik napas panjang.
“Kita mandi. Kita sarapan. Kita pura-pura ini semua normal.”
Udin mengangguk cepat.
“Setuju. Kalau kita mengakui ini aneh, kita kalah.”
Palui menatap kardus mie.
“Dan kita harus lebih hemat.”
Semua menoleh padanya.
“Apa?” katanya defensif. “Takut boleh, miskin jangan.”
Pagi itu, matahari akhirnya masuk lebih jauh ke dalam posko, namun tidak mengusir dingin atau menghilangkan rasa waswas.Tapi cukup untuk mengingatkan mereka satu hal penting. Mereka masih di sini, dan sesuatu, apa pun itu, masih bersama mereka.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....