Sequel Mantan Tercinta, biar gak bingung, boleh baca Mantan Tercinta.
Season satu (Sudah tamat di bab 50)
Suci khaidar mengejar cinta laki-laki dewasa yaitu Fery Irawan yang pernah menjadi calon suami sepupunya Anggun.
Awalnya Fery irawan menerima cinta Suci hanya untuk menghilangkan rasa traumanya, namun karena kebersamaan yang mereka jalani, benar-benar membuat Fery mencintai Suci.
Namun sayang disaat keduanya sudah sama-sama saling mencintai, takdir memisahkan dan mempermainkan CINTA SUCI FERY.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masih bisakah CINTA SUCI FERY bersatu?
Peringatan!! Banyak bersabar ya!
Season dua
Pertemuan di malam pertama dengan orang asing di malam itu, membuat Dinda kehilangan kesuciannya, laki-laki yang sudah punya istri itu merenggut kehormatannya dengan paksa.
Kenyataan pahit itu mengubah hidupnya, ternyata benih itu tumbuh di dalam rahimnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Mungkinkah Dinda rela menjadi istri kedua Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSF 22
Suci sudah berada di dalam perjalanan, ia menangis terisak, dan tersedu mengingat semua ucapan Tasya yang mengatakan kalau ia mengandung anak Fery, pantas saja malam itu Fery tidak datang menemuinya, kenapa Fery melakukan ini? Kenapa Fery tega menyakitinya? Inikah balasan dari semua pengorbanannya selama ini?
Suci tidak habis pikir, hatinya remuk redam, ia mengabaikan supir taksi yang meliriknya dari kaca spion, beberapa saat lalu Tasya bersikukuh ingin menggugurkan janin yang ada di kandungannya, ia putus asa karena Fery menolak untuk bertanggung jawab, dan itu sangat menyakiti hati Suci.
Fery memilih melanjutkan hubungan mereka dengan tetap diam dan melanjutkan pernikahan, tapi disisi lain ada nyawa yang tidak berdosa sedang dipertaruhkan.
Sore itu awan tampak gelap, taksi sudah berhenti di depan rumah Fery, seorang satpam membuka pintu untuknya, Suci masuk ke dalam rumah Fery, seorang asisten rumah tangga mengatakan kalau Nyonya Farida sedang tidak ada di rumah.
Sebelumnya Suci sudah pernah datang ke rumah ini, karena dulu ia sempat merawat Nyonya Farida di rumah saat wanita yang diharapkan menjadi mertuanya itu terkena serangan jantung, Suci sudah hapal setiap sudut ruangan ini.
Tanpa ragu, Suci melangkah menuju lantai dua, membawa semua kekecewaannya menuju kamar Fery, ia mengetuk kamar itu dengan sangat keras.
Sementara Fery laki-laki yang pikirannya sedang kacau ini, baru saja keluar dari kamar mandi, dengan memakai kaos putih dan celana jens yang hanya selutut, ia meletakkan benda kecil yang menjadi penyebab masalahnya ini di atas meja dan membuka pintu kamarnya.
Fery terkejut saat melihat calon istrinya ada di depan pintu, Suci menatapnya dengan wajah yang sembab, dengan air mata yang masih mengalir, dengan napas yang terhembus kasar, dari raut wajahnya Suci membawa kekecewaan.
Suci masih diam, ia lemah melihat calon suami yang sangat dicintainya ini, tapi mengingat tadi ia sempat meraba perut Tasya yang sudah ada mahkluk Tuhan di sana, membuatnya lepas kendali.
"Jahat! Jahat! Jahat! huhuhuhu!"
Suci menangis ia memukul dada bidang Fery dengan semua tenaganya, suaranya sudah mendominasi kamar Fery yang bernuansa hitam putih ini, Fery masih diam, ia membiarkan Suci memukulnya, sampai Fery mundur beberapa langkah hingga Suci masuk ke dalam kamarnya.
"Apa maksudnya huh? Kenapa Kakak tega huh? Kenapa....?"
Suci terus berteriak, ia menagis dan Fery berusaha menenagkannya, Fery tahu sudah terjadi sesuatu sampai Suci histeris, ia meraih kedua tangan Suci yang masih memukulnya.
"Tenanglah..." lirih Fery.
"Jangan sentuh aku!" Teriak Suci, ia menghindar dari Fery, namun saat ia membuang muka, matanya menangkap tespek yang ada di atas meja, lama Suci memandangnya sampai tubuhnya gemetara, kenyataan ini sangat menyakiti hatinya.
Fery mendongak dan memejamkan mata, saat melihat Suci mengambil tespek itu.
"Jadi ini benar? semua ini benar? JAWAB!!!!"
Suci berteriak ia melemparkan tespek itu sampai jatuh di antara keduanya, ia menatap Fery dengan rasa kecewa yang menyelimutinya.
"Dengarkan dulu, aku mohon dengarkan penjelasanku," Fery terus maju mendekati Suci, namun Suci menghindar dan mundur beberapa langkah, Fery meraih tangan Suci tapi Suci menepisnya dengan kasar.
"Kamu menyentuhnya! Kamu menyentuhnya! Kamu menghamilinya, dia mengandung anakmu kenapa?? Kenapa semua ini bisa terjadi? KENAPA???" Suci terus berteriak frustasi. Saat ini tubuhnya sudah menyandar di tembok, sementara Fery semakin mendekatinya.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku," Fery memohohon dan lagi-lagi Suci menepis tangannya.
"Aku bilang jangan sentuh aku." Suci menatapnya dengan tajam, "sampai kapan kamu mau menutupi ini dariku? Sampai kapan kamu menutupi pengkhianatanmu ini? SAMPAI KAPAN?"
"Aku menyentuhnya bukan karena kemauanku! Aku dijebak, aku berada dibawah pengaruh obat, aku tidak bisa mengendalikan diri, aku tahu aku salah, tapi aku tidak punya niat sedikit pun untuk menghianatimu...."
"Apa pun alasannya, ini sudah terjadi, ada nyawa yang tidak berdosa di rahimnya, dan itu anakmu! Kamu tega melepaskan anak itu? Kamu mau ibunya menjadi seorang pembunuh? Kamu TEGA??"
"ITU BUKAN ANAKKU!" Teriak Fery.
Keduanya saling menatap, bersikukuh dengan pendirian dan pendapat masing-masing, sesaat kemudian, Suci tersenyum sinis.
"Seandainya ini terjadi kepadaku, apa kamu juga tidak akan mengakui anak itu sebagai anakmu?" Tanya Suci.
Rahang Fery mengeras, sudah pasti ia tidak akan ragu kalau Suci yang mengandung anaknya, dirinya bukan laki-laki brengs*k, tapi gadis kecil ini pikirannya sudah sangat melenceng jauh, apa mau dikata saat ini di mata Suci ia berada diposisi yang salah.
"Tasya tidak mengandung anakku, aku tidak sebodoh itu, walaupun itu bukan anakku, tapi aku tidak meminta dia untuk menggugurkan anaknya, aku bertanggung jawab dengan memberinya uang," ucap Fery.
"Seyakin itu, kalau dia tidak mengandung anakmu? Ck...kamu mau lari dari tanggung jawab? Kamu yang sudah menyentuhnya!" Suci menolak dada Fery, dan berjalan melewatinya, tapi Fery menarik tangan Suci sampai gadis ini kembali menyandar di tembok.
Fery mengurung Suci dengan kedua tangannya, dan menatap manik gadis ini, "aku tidak akan mengubah pendirianku, dia mau aku bertanggung jawab dengan menikahinya, tapi itu tidak akan pernah terjadi, aku hanya menginginkanmu menjadi istriku!"
"Dan aku tidak akan mau menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" Hati Suci hancur saat kalimat itu keluar dari mulutnya, dari mata Fery ia tahu kalau laki-laki ini sangat tersinggung dengan ucapannya.
Tangan yang menyandar di dinding ini mengepal kuat, Fery sejenak memalingkan muka dan membuang napas dengan kasar, kemudian ia kembali menatap Suci.
"Lalu apa maumu?" tanya Fery.
"Menikahlah dengannya, anak itu membutuhkan seorang ayah," jawab Suci dengan perasaan yang hancur.
"Jangan harap, kalau aku akan mengabulkan permintaanmu ini, aku akan membuktikan kalau itu bukan anakku!"
"Dengan cara apa? Apapun hasilnya, Kamu sudah menyentuhnya, dan itu tidak bisa dipungkiri."
Fery mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu ia memukul kuat dinding di atas kepala Suci sampai Suci takut dan memejamkan mata, bagaimana caranya memutar waktu?
"Harus dengan cara apa aku bisa memutar waktu? Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memaafkanku? Aku tahu kau kecewa, tapi aku tidak akan pernah menikahinya dan jangan harap aku mau melepaskanmu!"
Suci hanya diam, ia sengaja menghindari tatapan mata Fery yang menakutkan.
"Saat kandungannya menginjak empat bulan, aku akan melakukan tes DNA, dan akan aku buktikan kalau janin itu bukan darah dagingku."
"Aku tidak perduli, bagiku semua sudah percuma, dan soal DNA Itu, akupun tidak perduli," jawab Suci.
"Ck, kau mau aku menikahinya? Lalu bagai mana dengan perasaanmu? Kau mau lari dariku? Lari dan pergilah sejauh mungkin, tapi aku pastikan kau akan menjadi milikku lagi, jangan harap aku akan melepaskanmu!" Seru Fery dengan menatap mata Suci.
******
Jari-jari dan jempol tampol tampol akoh yang besar ini😄 Gak mau diem gaessss. Piye? Dia mau ngetik model yang begini gaes😅
Jangan pening💃
Suci sama fery ntar bikin anak sendiri aja 😝
Ngeselin ah