Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Sendiri
Esoknya, rumah paman kembali riuh. Pintu kamar Junia dibuka dengan kasar. Disusul teriakan Risma yang nadanya tajam dan penuh amarah.
“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!” bentak Risma sambil melemparkan pakaian miliknya ke wajah Junia. “Dress saya itu harganya mahal dan kamu membuatnya gosong?”
“Oh. Potong aja pakai uang utang Om Jo buat ganti dressnya,” jawab Junia lalu kembali fokus pada ponselnya.
“Keluar dari rumah ini sekarang juga!” teriaknya sambil menunjuk ke pintu, seolah-olah Junia adalah barang rusak yang harus segera disingkirkan. “Kamu juga nggak punya bukti kalau suami saya berutang!”
Sepupu kembarnya berdiri tak jauh di belakang, menyilangkan tangan di dada dan menatap sinis. Ada rasa puas di mata mereka, seolah-olah mereka telah menunggu hari ini tiba.
“Apalagi ini?” tanya Johan. “Bisa nggak kalian hidup akur dan damai aja?” kesalnya.
“Usir dia sekarang juga! Kalau nggak… kita pisah!” ujar Risma. “Dia nggak punya bukti kalau kamu punya utang. Jangan mempermasalahkan hal sepele!”
Johan menghela napas kasar. “Maaf Junia… kamu harus pergi dari rumah Om…” ujar Johan.
Junia terdiam mendengar ucapan pamannya itu. Akhirnya dia diusir. Sudahlah, dia tidak ingin banyak berdebat. Dia harus pergi dari rumah ini agar hidupnya lebih tenang.
“Oke! Saya juga sudah muak tinggal di rumah ini!” ujar Junia. Ia bergegas merapikan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
Setelah selesai, Junia bergegas keluar dari rumah itu dengan perasaan lega. Meski ia tidak punya tempat tujuan.
Namun tepat ketika Junia hendak melangkah pagar, seorang pria datang menghampiri Junia.
“Kamu Junia, kan? Putrinya Pram?” tanyanya pelan, memastikan.
Junia mengangguk. “Om siapa?” tanya Junia heran.
“Saya Handi, teman Ayah kamu.” Pria yang bernama Handi itu memperkenalkan diri.
“Ada perlu apa, Om?” tanya Junia.
Handi menatap koper yang Junia bawa lalu menatap gadis itu lagi. “Kamu kenapa bawa koper banyak banget. Mau ke mana?”
“Aku diusir sama keluarga Om aku. Mereka juga mengambil alih semua warisan Ayahku,” jelas Junia.
Handi membulatkan matanya saat mendengar penjelasan Junia. “Diusir? Mereka sekejam itu sama anak sekecil ini?” Handi menghela napas kasar.
Handi menatap Junia lagi. Sorot matanya tampak iba. “Sekarang kamu mau pergi ke mana? Kamu punya tujuan?” tanya Handi lagi.
Junia menggeleng pelan. “Aku nggak punya tujuan Om. Aku nggak tau harus pergi ke mana. Aku bahkan nggak punya uang,” jawabnya.
“Kamu nggak punya keluarga lain selain Om kamu?” tanya Handi lagi.
Junia menggeleng lagi.
“Keluarga ibu kamu nggak ada?” Handi memastikan sekali lagi.
“Bunda udah memutuskan hubungan sama keluarganya sejak lama, Om. Jadi aku nggak kenal satupun keluarga dari pihak Bunda,” jawab Junia.
Handi menghela napas berat. “Kamu mau ikut saya ke Jakarta?” tanyanya.
“Jakarta?” beo Junia.
“Nanti om akan jelaskan semuanya di mobil.” Handi menepuk bahu Junia lalu meraih koper gadis itu dan memasukkan ke garasi mobilnya.
“Om bukan orang jahat, Jun. Om harap kamu nggak menolak ajakan, Om.” Handi tersenyum. “Om akan carikan tempat yang aman buat kamu.”
Junia mengangguk pelan. Meski ia sedikit ragu. Tapi dia tidak punya tempat lain. Junia juga bisa melihat kalau pria di hadapannya ini bukanlah orang jahat.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan santai. “Om sama Ayah kamu teman dekat sejak kuliah. Kami pernah membangun bisnis bersama di Jakarta. Sampai akhirnya Ayahmu menikah dengan bundamu dan pindah ke Solo.” Handi mulai menceritakan hubungannya dengan Pram.
“Saat itu Ayahmu bilang kalau dia nggak akan kembali ke Jakarta dan menyerahkan bisnisnya untuk Om urus. Ayahmu bilang bisnis itu untuk saya.”
“Tapi waktu itu, saya merasa nggak enak karena biaya untuk bisnis itu 80% dari Ayahmu. Tapi Ayahmu cuma bilang kalau saya bisa mengembalikan uangnya kalau bisnis yang kami bangun itu sukses,” jelas Handi.
“Bisnis itu sukses tapi saat saya mau mengembalikan uangnya, Pram bilang dia akan meminta uang itu saya dia butuh.” Handi menghela napas kasar. “Sampai akhirnya saya mendengar kabar kalau Pram dan istrinya meninggal dunia, meninggalkan putrinya sendirian.”
“Setelah itu saya mencari tau tentang kamu sampai akhirnya saya menyadari, mungkin sekarang waktu yang tepat untuk membayar utang saya pada Pram karena kamu membutuhkannya,” jelas Handi.
“Jadi… Om mau bayar utang Ayah ke saya?” tanya Junia.
Handi mengangguk. “Tapi tidak banyak, Nak. Uangnya hanya cukup untuk memberikan kamu tempat tinggal sederhana supaya kamu tidak perlu mengontrak. Bukan rumah yang mewah dan besar, mungkin hanya rumah kecil di perkampungan kota Jakarta,” jelas Handi.
“Nggak apa-apa, Om. Rumah di manapun yang penting Junia punya tempat tinggal,” jawab Junia.
“Saya juga akan buatkan kamu tabungan, simpan sisa uangnya dengan baik, ya. Saya juga akan carikan kamu pekerjaan di Jakarta,” jelasnya. “Kalau di Solo saja, saya tidak punya kenalan, Jun. Tidak apa-apa kan kamu ke Jakarta?” tanya Handi memastikan.
“Nggak apa-apa, Om. Junia juga mau tinggal di tempat dan suasana baru!” jawab Junia penuh semangat.
“Oke sekarang kamu ikut ke rumah saya dulu, ya. Sampai saya menemukan rumah dan membeli perabotan untuk kamu baru kamu boleh pindah,” ucap Handi.
“Baik, Om!” sahut Junia. Dia tidak menyangka kebaikan Ayahnya lah yang menyelamatkannya.
Handi membawa Junia ke rumahnya. Rumah itu terasa hangat, diisi aroma masakan yang mengingatkan Junia pada ibunya.
Istrinya menyambut Junia dengan kebingungan. Namun kebingungan itu berubah menjadi iba saat mendengar cerita dari Junia. Mereka memberinya kamar, baju bersih, dan makanan hangat di meja makan.
Junia tinggal di rumah itu selama beberapa minggu. Ia membantu istri Om Handi memasak dan menemani putri kecilnya bermain. Junia merasakan kembali ke rumah saat tinggal di sana.
Namun Junia harus pergi dari sana. Karena dia tidak ingin menumpang dengan orang lain lagi. Sebentar lagi usianya akan masuk delapan belas tahun dan ia harus bisa bertahan hidup tanpa mengandalkan bantuan orang lain.
Om Haris mencarikan Junia kontrakan kecil di pinggiran kampung kumuh di Jakarta. Hanya rumah di sana yang harganya cukup murah. Meskipun bersebelahan dengan perkampungan kumuh, tempat tinggal Junia bukan di tempat yang kotor.
Desa itu cukup bersih meskipun bau dari perkampungan kumuh di sebelahnya cukup mengganggu. Handi juga mencarikan Junia pekerjaan di sebuah toko pakaian dari kenalan Om Handi. Pekerjaan itu kecil yang setidaknya cukup untuk seorang gadis remaja bertahan hidup.
Junia mulai membiasakan diri hidup sendirian. Setidaknya ia bisa hidup dan tidak menyerah. Ia hanya berharap akan memiliki kehidupan yang layak dan tenang, itu saja.
Ia tidak lagi memiliki siapapun di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Dan ia tidak ingin menyerah demi dirinya sendiri. Tidak akan pernah.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.