NovelToon NovelToon
BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Fantasi Timur / Action / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.

Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJALANAN PULANG DAN LUKA LAMA

Langkah kaki kuda-kuda yang mereka sewa dari desa nelayan di kaki Tebing Ratapan terdengar berirama, memecah kesunyian hutan jati yang mulai meranggas. Debu tipis beterbangan setiap kali kuku kuda menghantam tanah kering. Perjalanan menuju Barat—kembali ke arah Padepokan Lingga—terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat. Mungkin karena kini beban di pundak Tirta bukan lagi sekadar amarah, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga nyawa-nyawa di sekitarnya.

Tirta memacu kudanya di paling depan. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Mayangsari yang berada di atas kuda putih di samping Dimas tetap dalam keadaan stabil. Mayang nampak jauh lebih baik, meskipun sorot matanya seringkali kosong, menatap pucuk-pucuk pohon seolah sedang mencari sesuatu yang hilang dari ingatannya.

"Tirta, kita harus berhenti sebentar," teriak Dimas dari belakang. "Kuda-kuda ini butuh minum, dan kurasa lambungku sudah mulai berdemo."

Tirta menarik tali kekang kudanya, memberi isyarat pada rombongan kecil itu untuk menepi ke sebuah sungai kecil yang airnya mengalir jernih di antara bebatuan kali.

Saat Dimas dan Sekar Wangi sibuk mengurus kuda dan mencari kayu bakar, Tirta mendekati Mayangsari yang sedang duduk di tepi sungai, membasuh wajahnya dengan air dingin. Tirta bisa melihat pantulan wajah wanita itu di permukaan air—wajah yang cantik namun menyimpan guratan kelelahan batin yang dalam.

"Apa kau masih merasa pusing, Mayang?" tanya Tirta lembut, ia duduk di sebuah batu besar di sampingnya.

Mayangsari menoleh, tersenyum tipis yang sanggup meluluhkan sisa-sisa ketegangan di hati Tirta. "Hanya sedikit lemas, Tirta. Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Sejak Aki Sapu Jagad mencoba merasuki sukmaku dengan energi hitam itu, aku terus-menerus memimpikan seorang wanita. Dia mengenakan pakaian kebesaran kuno, berdiri di tengah lautan api, dan memanggil namaku."

Tirta mengernyitkan dahi. Ia teringat kata-kata Mpu Sengkala tentang pedang ibunda Mayangsari yang memiliki ingatan. "Mungkin itu adalah ingatan darahmu, Mayang. Mpu Sengkala pernah berkata bahwa ibumu bukan sekadar wanita biasa. Ada rahasia di balik silsilah keluargamu yang bahkan Aki Sapu Jagad pun sangat menginginkannya."

Mayangsari menunduk, memainkan air sungai dengan jemarinya. "Aku takut, Tirta. Aku takut jika ternyata aku adalah alasan mengapa semua penderitaan ini terjadi. Mengapa ayahmu harus gugur, mengapa padepokanmu hancur..."

Tirta segera menggenggam tangan Mayangsari, menghentikan gerakannya. "Jangan pernah berpikir begitu. Kejahatan mereka adalah pilihan mereka sendiri. Kita hanya memilih untuk berdiri dan melawan. Apa pun rahasia yang ada di dalam darahmu, itu tidak akan mengubah siapa dirimu di mataku."

Momen emosional itu sedikit terganggu oleh suara Sekar Wangi yang baru saja kembali dengan beberapa buah hutan di tangannya. Gadis hutan itu menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa iri, namun lebih banyak rasa hormat.

"Kalian harus melihat ini," ujar Sekar Wangi sambil meletakkan buah-buahan itu. Ia mengeluarkan sebuah peta tua yang kusam dari balik pakaiannya. "Peta ini kudapatkan dari salah satu penjaga pelataran kemarin. Ada rute rahasia yang memutar melalui Lembah Para Leluhur sebelum sampai ke Padepokan Lingga."

"Mengapa kita harus memutar? Bukankah jalur utama lebih cepat?" tanya Dimas yang baru saja berhasil menyalakan api unggun kecil."Jalur utama sekarang sudah dijaga ketat oleh sisa-sisa Tujuh Bayangan dan mungkin antek-antek Fraksi Mata Meratap," jelas Sekar sambil menunjuk sebuah titik di peta. "Tapi lebih dari itu, di Lembah Para Leluhur terdapat sebuah prasasti kuno yang menceritakan tentang asal-usul Sinar Rembulan Merah—kekuatan yang mulai bangkit di dalam diri Mayangsari."

Tirta menatap Mayang sejenak, lalu kembali ke peta. "Jika itu bisa membantu Mayang mengendalikan kekuatannya agar tidak membahayakan dirinya sendiri, maka kita akan lewat sana."

Malam pun jatuh di tepi sungai tersebut. Saat Dimas dan Sekar Wangi sudah terlelap, Tirta masih terjaga. Ia duduk bersila, meletakkan Sasmita Dwipa di pangkuannya. Ia mencoba melakukan meditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang terkuras hebat saat melawan Aki Sapu Jagad.

Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakan getaran aneh dari pedangnya. Seolah-olah pedang itu sedang gelisah.

"Kau merasakannya juga, kan?"

Suara itu mengejutkan Tirta. Ia membuka mata dan melihat Mayangsari berdiri di depannya. Wanita itu tidak bisa tidur. Ia mendekat dan duduk di depan Tirta, matanya menatap tajam ke arah bilah pedang Sasmita Dwipa.

"Pedang itu... dia sedang memperingatkan kita," bisik Mayangsari.

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di seberang sungai, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat. Bukan langkah manusia, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar. Burung-burung malam beterbangan dengan gaduh, seolah-olah sesuatu yang mengerikan sedang mendekat.

Tirta segera berdiri, tangannya mencengkeram hulu pedang. Dimas dan Sekar Wangi terbangun seketika, senjata mereka sudah siap di tangan.

"Ada apa?" tanya Dimas dengan suara rendah, matanya menyisir kegelapan.

"Sesuatu sedang mengikuti kita sejak dari Tebing Ratapan," jawab Sekar Wangi. Ia memasang anak panah ke busurnya. "Dan kurasa itu bukan manusia."

Dari balik pepohonan raksasa, muncul sesosok makhluk yang mengerikan. Tingginya hampir dua kali lipat manusia, dengan tubuh yang nampak seperti tumpukan mayat yang dijahit menjadi satu. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya sebuah lubang besar di tengah yang terus mengeluarkan uap dingin berwarna biru.

"Itu... Golek Sukma!" desis Sekar Wangi. "Makhluk ciptaan dari bagian gelap Fraksi Mata Meratap. Mereka tidak bisa mati kecuali inti jantungnya dihancurkan dengan energi murni."

Makhluk itu meraung, suara raungannya terdengar seperti jeritan ribuan orang yang tersiksa. Ia menerjang ke arah mereka dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukurannya yang besar.

Tirta melompat maju, Sasmita Dwipa bersinar terang. "Dimas, lindungi Mayang! Sekar, cari celah untuk menembak jantungnya!"

Pertarungan mendadak pecah di tepi sungai yang tenang itu. Tirta menghantamkan pedangnya ke lengan makhluk itu, namun senjatanya hanya terpental seolah-olah ia baru saja memukul karet yang sangat keras. Makhluk itu membalas dengan hantaman tangan raksasanya, membuat Tirta terlempar hingga menghantam air sungai.

"Tirta!" teriak Mayangsari.

Melihat Tirta dalam bahaya, sesuatu di dalam diri Mayangsari seolah meledak. Matanya mendadak berubah menjadi merah saga, dan aura berwarna ungu kemerahan mulai terpancar dari tubuhnya. Ia tidak lagi nampak lemah. Ia mengangkat tangannya, dan air sungai di sekeliling Tirta tiba-tiba membeku, membentuk perisai yang menahan serangan susulan sang Golek Sukma.

Tirta tertegun melihat perubahan Mayang. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Sinar Rembulan Merah bangkit secara sadar.

"Jangan sentuh dia!" suara Mayangsari terdengar lebih berat dan berwibawa.

Ia menghentakkan kakinya, dan dari tanah muncul pilar-pilar energi merah yang mengikat kaki makhluk raksasa itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sekar Wangi. Ia melepaskan anak panah dengan energi hijau yang menghujam tepat ke lubang di wajah makhluk tersebut.

BOOM!

Makhluk itu meledak, menjadi serpihan daging dan uap biru yang segera lenyap ditiup angin. Mayangsari jatuh berlutut, napasnya memburu, dan warna matanya kembali normal. Ia nampak sangat kelelahan setelah mengeluarkan energi sebesar itu.

Tirta berlari keluar dari sungai dan menangkap tubuh Mayang sebelum ia jatuh ke tanah. "Kau melakukannya, Mayang... kau menyelamatkanku."

Mayangsari menatap Tirta dengan lemah. "Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Tirta. Tidak akan pernah."

Di tengah keheningan setelah pertarungan singkat itu, mereka menyadari bahwa perjalanan pulang ini tidak akan semudah yang mereka bayangkan. Fraksi Mata Meratap tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Namun, dengan bangkitnya kekuatan Mayangsari, harapan baru telah lahir.

"Kita harus segera bergerak," ujar Tirta sambil menggendong Mayangsari. "Lembah Para Leluhur adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa menemukan jawaban atas semua ini."

Mereka kembali memacu kuda-kuda mereka menembus kegelapan malam, menuju sebuah lembah tersembunyi yang menyimpan rahasia tentang masa lalu yang bisa mengubah masa depan mereka selamanya.

1
anggita
like👍iklan👆bunga🌹, dukungan buat novel silat fantasi timur lokal. moga lancar👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!