“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Arga telah larut dalam lingkaran para pebisnis papan atas. Tawa rendah, jabat tangan, dan gelas-gelas anggur saling beradu. Hans Elvano berdiri di sisinya, berbincang santai seolah mereka dua sekutu lama. Sesekali Hans melirik ke arah Yura, tatapan yang tak pernah luput dari pengamatan Arga, meski Arga sendiri enggan mengakuinya.
Sementara itu, Yura duduk di salah satu meja tamu, sendirian. Ia menyuapkan potongan kecil makanan ke mulutnya, menikmati rasa tanpa tergesa. Wajahnya tenang, bahkan terlihat santai, kontras dengan isi kepalanya yang penuh perhitungan.
Dari sudut ruangan, Mario memperhatikannya. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap, berdiri bersama beberapa tamu lain. Tatapannya hanya sesekali menyapu ke arah Yura, tak lebih dari sekilas orang asing. Itu kesepakatan mereka di tempat ini, Mario tidak mengenal Nona Yura. Yang ada hanya Lartika Senopati, bayangan yang tak boleh muncul ke permukaan.
Yura melirik ke kiri dan ke kanan. Matanya sempat menangkap sosok Arga yang tertawa kecil bersama Hans dan beberapa investor asing.
'Bertahan sedikit lagi,' batinnya dingin.
Seratus miliar tidak datang dengan mudah. Empat tahun harga dirinya diinjak. Tubuhnya disakiti. Namanya tak pernah diakui. Semua itu ia telan demi satu tujuan. Begitu uang itu ada di tangannya, ia akan pergi.
Yura tersenyum tipis sambil menyesap minumannya. Senyum yang justru membuat darah seseorang mendidih.
Di sisi lain ruangan, Putri Wijaya berdiri bersama beberapa temannya. Gaun mahal dan tawa nyaring tak mampu menyembunyikan sorot mata penuh dengki yang terus tertuju pada Yura.
“Lihat dia,” desis Putri, merendahkan suara. “Masih saja sok tenang.”
Seorang temannya menoleh. “Itu wanita yang dulu kamu ceritakan?”
Putri mengangguk. “Yang pura-pura polos. Yang bikin aku dipermalukan waktu SMA.”
Bibirnya melengkung sinis. “Kali ini, aku yang akan mempermalukannya.”
Putri meraih tas kecilnya, membuka resleting dengan gerakan anggun. Di dalamnya, berkilau sebuah kalung berlian, mewah, mencolok, dan cukup untuk membuat siapa pun tergoda.
Ia menoleh pada salah satu temannya, seorang wanita dengan wajah lugu namun mata licik.
“Masukkan ini ke tasnya,” perintah Putri pelan. “Pastikan tidak ada yang melihat.”
Temannya tertegun sesaat. “Putri … Kamu yakin?”
“Yakin.” Putri tersenyum dingin. “Bukankah dia memang sudah ahli mencuri perhatian? Sekalian saja kita buktikan.”
Wanita itu menelan ludah, lalu mengangguk. Dengan langkah santai, ia bergerak mendekati meja Yura, berpura-pura mengambil makanan di meja yang sama. Yura tak menoleh, dia fokus pada piringnya, sama sekali tak menyadari bahaya yang mendekat dari belakang.
Tas kecil Yura terletak di kursi yang lain, dalam hitungan detik, tangan itu menyelinap. Resleting dibuka perlahan dan kalung berlian berpindah tempat.
Wanita itu menjauh seolah tak terjadi apa-apa. Putri menyaksikan semuanya dari kejauhan, senyum puas terukir di wajahnya.
“Sekarang,” gumamnya pelan, “kita tunggu waktunya.”
Yura masih duduk tenang, bahkan tampak menikmati hidangan penutup. Ia sama sekali tak tahu, bahwa beberapa menit lagi, masa lalunya akan diseret ke tengah ruangan, dengan cara paling kejam.
Putri Wijaya adik dari Hans Elvano Wijaya. Gaun merahnya berkibar, wajahnya pucat, dan suara teriakannya memecah hiruk-pikuk aula.
“Kak! Kalungku hilang!” teriaknya histeris. “Kalung berlian pemberianmu ... aku yakin dicuri!”
Percakapan terhenti, musik seakan mengecil. Semua mata beralih.
Putri mencengkeram lengan Hans, air mata menggantung di pelupuknya.
“Aku menaruhnya di tas tadi. Sekarang tidak ada. Pasti ada yang mencurinya!”
Berbeda dengan kegaduhan itu, Yura tetap duduk tenang di kursinya. Ia masih menyuapkan dessert terakhir, seolah drama di tengah ruangan bukan urusannya. Wajahnya datar, bahkan sedikit bosan.
Sikap cuek itulah yang justru memancing api.
“Aku tahu siapa pelakunya!” seru Putri tiba-tiba, berbalik dan menunjuk tajam.
“Dia!”
Jarum waktu seakan berhenti.
“Perempuan itu,” lanjut Putri lantang, jari telunjuknya mengarah tepat pada Yura.
“Dia duduk di dekat meja tempat tasku tadi. Sejak dulu dia memang seperti itu ... selalu mengincar milik orang lain!”
Desis keterkejutan terdengar di mana-mana. Bisik-bisik kembali menggila, kali ini lebih kejam.
Yura berhenti mengunyah. Pelan-pelan, ia mengangkat wajah. Tatapannya menyapu ruangan, wajah-wajah penasaran, menghakimi, sebagian sudah yakin tanpa bukti. Untuk sesaat, kenangan lama kembali menghantam, lapangan sekolah, tatapan serupa, tuduhan yang sama.
Hans melangkah maju beberapa langkah, alisnya berkerut.
“Putri, jangan sembarang menuduh. Kita belum—”
“Tapi aku yakin, Kak!” Putri merengek, suaranya pecah. “Tidak ada orang lain di sana selain dia!”
Di saat itulah Arga ikut maju, bukan untuk melindungi dan bukan untuk bertanya.
“Yura,” katanya dingin, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang.
“Kalau memang kamu yang mengambilnya, kembalikan saja. Jangan mempermalukan diri sendiri.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Yura tertegun, dia menatap Arga, seolah ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya. “Aku?” suaranya tenang, namun ada getar halus di ujungnya.
“Aku bahkan tidak beranjak dari kursiku.”
“Alasan,” potong Arga tanpa ragu. “Aku tidak mau ada keributan di acara ini. Kembalikan kalungnya, selesai.”
Dada Yura mengeras. Bukan karena takut, melainkan karena satu hal yang sudah ia pahami sejak lama Pria itu tak pernah berdiri di sisinya.
Ia bangkit perlahan dari kursi, tatapannya kini lurus ke depan.
“Aku tidak mengambil apa pun,” ucapnya jelas. “Dan aku tidak akan mengembalikan barang yang tidak pernah ku sentuh.”
Putri menyeringai di balik air matanya, Hans terdiam, ragu. Arga menghela napas kasar, matanya tajam menusuk Yura. Sementara, di sudut ruangan, Mario mengepalkan tangan.
Hans terus menatap Yura, tatapan itu membuat waktu seolah melambat, seakan apa pun yang keluar dari mulut Yura adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Selama beberapa detik, wajah sendu Yura menarik Hans ke masa lalu. Ada sesuatu di sana ketenangan yang terluka, sorot mata orang yang sudah terlalu sering disalahkan. Kenangan lama yang tak jelas bentuknya menyelinap, membuat dada Hans terasa sesak tanpa alasan.
Namun, detik berikutnya, rasionalitas mengambil alih. Hans tertegun, lalu melangkah mendekati Arga. Suaranya terdengar tenang, tapi tegas cukup keras untuk didengar banyak orang.
“Tuan Arga,” ucapnya, “kita semua tahu mencuri itu tidak bisa ditoleransi.”
Ia berhenti sejenak, lalu melirik ke arah Yura.
“Tapi ini sudah dua kali terjadi. Di masa SMA, Yura juga pernah bermasalah dengan adik saya. Soal pencurian uang Putri.”
Kalimat itu jatuh seperti vonis. Semua mata kembali tertuju pada Yura. Tatapan-tatapan tajam menusuk dari berbagai arah, penuh penilaian, kecurigaan, dan penghakiman. Tidak ada lagi yang bertanya benar atau tidak. Yang tersisa hanya keyakinan sepihak.
Yura terdiam, dia mengingat tahun itu dengan sangat jelas. Bagaimana Hans berdiri di depan semua orang, membela Putri tanpa ragu. Bagaimana suaranya tegas, matanya dingin, seolah dunia hanya terbagi dua, Putri dan selain Putri. Semua orang tahu, Hans Elvano Wijaya sangat mencintai adiknya. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuh, apalagi menyakiti, adik dari Hans Elvano Wijaya.
Di sisi lain, Putri menunduk, berpura-pura rapuh. Namun, di dalam hatinya, senyum puas mengembang.
'Tentu saja Kak Hans akan membelaku,' batinnya.
Sejak kehilangan adik kandungnya saat masih bayi, keluarga Wijaya mengadopsi Putri dari panti asuhan. Sejak hari itu, Hans mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepadanya, mengisi kekosongan yang tak pernah benar-benar sembuh. Putri tumbuh sebagai pusat dunia Hans, sebagai pengganti kehilangan paling menyakitkan dalam hidupnya.
'Tuan Hans, sejak dulu sangat mencintai dan menyayangi adiknya. Dia tidak akan membelaku! Apalagi mempercayaiku, aku hanya orang luar! Meraka adalah keluarga, satu ratu drama, satu lagi seperti hakim yang memvonis tanpa melihat bukti!' Tangan Yura terkepal menatap tajam ke arah Hans, seakan kebencian terlalu menonjol di sana. Hans menyadari tatapan Yura tak pernah biasa terhadapnya, saat melihat Yura menatapnya tajam, hati Hans berdegup kencang seakan merasakan sakit.
'Nona Muda,' Mario ingin melangkah dan membela, tetapi Yura lebih dulu menatap Mario dengan tajam seakan meminta untuk tak mendekat ke arahnya.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂