Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah mencapai kesepakatan kerjasama, Steven secara pribadi mengantar kliennya hingga ke pintu keluar.
Senyum profesional masih terpasang di wajahnya, sikap tenang dan dingin tetap ia pertahankan seperti biasa. Tidak seorang pun menyadari badai kecil yang sedang mengamuk di dalam dadanya.
Namun, begitu ia kembali ke ruangnya dan pintu tertutup di belakangnya, langkahnya melambat.
Sepi.
Ruangan luas itu terasa kosong dan hening.
Steven berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Dadanya mendadak terasa sesak, napasnya tidak lagi teratur, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Bayangan wajah Boy yang pucat, sorot matanya yang terluka saat ia usir dari ruang rapat, kembali muncul di benaknya.
Ada rasa perih yang menekan, rasa bersalah yang merayap pelan-pelan, menggerogoti dadanya dari dalam.
Ia sadar, kata-katanya terlalu kejam dan terlalu dingin. Tapi, bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu selama ini.
Ia memang sengaja menjaga jarak. Sengaja membangun dinding tinggi di antara mereka. Bukan karena benci, melainkan karena takut.
Takut jika Boy, membocorkan informasi tentang dirinya, jadwal kegiatannya, atau rencana-rencana pentingnya pada Denis dan Rena. Tapi, yang lebih membuat ia takut adalah perasaannya.
Ia bisa saja memecat Boy sejak awal. Namun, ia tidak melakukannya karena, di sudut hatinya yang paling dalam ada keinginan agar Boy tetap berada di sisinya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya lirih.
Steven mengangkat tangan, mencengkeram dadanya sendiri seolah ingin meredam sesak yang tidak terlihat.
Hingga terdengar ketukan dari luar. Ia segera menegakkan tubuhnya, menarik napas panjang, memasang kembali ekspresi datar.
"Masuk!"
Pintu terbuka. Miko melangkah masuk dengan beberapa map di tangannya.
"Tuan, dokumen ini membutuhkan tanda tangan Anda," seru Miko.
"Letakkan saja di meja," jawab Steven singkat, tanpa menoleh.
Miko menuruti, tetapi tidak langsung pergi. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Saya sudah melarang Boy datang ke sini, tapi... dia tidak mendengarkan. Katanya, ada hal penting yang ingin ia jelaskan pada Anda."
Steven tetap membisu, menatap keluar jendela besar yang menghadap kota.
"Boy tidak berniat mengkhianati Anda, Tuan," lanjut Miko hati-hati. "Memang benar Nyonya Rena menawarkan uang padanya. Tapi, dia tidak menerima, juga tidak menolak secara langsung. Dia justru berniat memberi mereka informasi palsu, untuk menjebak mereka. Dia—"
"Apa kau sudah selesai bicara?" Suara Steven memotong tajam, membuat Miko tersentak.
"T-tuan..."
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, kau boleh keluar."
Miko menghela napas panjang, menunduk singkat, lalu berbalik meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Steven menarik nafas dalam. Tangannya kembali terangkat, meremas dada kirinya. "Apa aku sudah salah paham?" Gumamnya.
Kata-kata itu meluncur lirih, rapuh, bertolak belakang dengan sosok dingin yang baru saja mengusir Boy di hadapan banyak orang.
...****************...
Hari mulai gelap. Kantor hampir sepenuhnya sepi. Sebagian besar lampu sudah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari beberapa ruangan dan lampu meja kerja.
Namun, Steven masih duduk di kursinya. Diam, tanpa melakukan apa pun.
Punggungnya bersandar kaku, pandangannya kosong menatap berkas di meja yang bahkan tidak ia baca sejak berjam-jam lalu.
Pikirannya hanya dipenuhi satu nama.
Boy.
Rasa bersalah kembali menekan dadanya ketika mengingat caranya mengusir Boy pagi tadi, tanpa memberi ruang untuk menjelaskan apa pun.
Namun, setiap kali bayangan itu muncul, ingatannya selalu berbelok pada satu adegan lain saat ia melihat Boy dan Rena di balkon malam itu.
Dadanya kembali panas. Kecewa dan marah bercampur, menggerogoti hatinya perlahan seperti racun yang tak kunjung habis.
Tiba-tiba, suara Miko kembali terngiang di kepalanya.
"Boy tidak berniat mengkhianati Anda, Tuan."
Steven menghela napas berat. "Seharusnya, aku mendengarkan penjelasannya. Bagaimana kalau Boy benar-benar pergi karena ucapanku tadi pagi?" Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyandarkan punggung lebih dalam ke kursi.
Ia menutup mata, berusaha menenangkan diri. Bukan lagi tentang salah paham. Bukan hanya tentang pengkhianatan. Melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
"Dan, perasaan ini... " Steven menekan dadanya. "Tidak seharusnya aku mempunyai perasaan ini," bisiknya hampir tidak terdengar.
Namun, ingatannya berkhianat. Tatapan Boy, senyumnya yang samar dan cara bodyguardnya itu berdiri melindunginya tanpa ragu, membuat jantung Steven berdegup lebih kencang.
Ia sudah mencoba menepis perasaan itu. Selama beberapa hari, ia terus meyakinkan diri, jika ia tidak menyukai Boy. Tapi sekali lagi, potongan ingatan itu kembali muncul dengan jelas, malam sebelum ia terbangun di rumah sakit.
Ia sudah ingat semuanya. Ia tidak pingsan di kamar mandi tapi, dipukul oleh Boy karena sudah lancang menciumnya.
Steven tidak menyalahkan Boy akan hal itu. Namun, ciuman itu, telah menumbuhkan sesuatu yang tidak seharusnya ada hatinya.
Perasaan yang semakin ia tekan, semakin ia sangkal, justru semakin menyiksanya.
"Sial! Aku tidak tahan lagi." Ia meraih jas dan ponselnya, lalu melangkah cepat keluar dari ruangannya.
Langkahnya panjang dan tergesa, dengan harapan Boy tidak pergi karena ucapannya.
Begitu sampai di lobby, Miko yang masih berjaga langsung berdiri.
"Tuan!"
"Kunci mobil," ujar Steven sambil mengulurkan tangan.
"Hah?"
"Mana kunci mobilnya?" bentaknya tidak sabar.
Miko buru-buru mengambil kunci dari saku jasnya dan menyerahkannya.
"Tu-tuan, biarkan saya yang—" Belum selesai kalimat itu, Steven sudah berlari keluar dari lobby, masuk kedalam mobil yang terparkir dan melesat meninggalkan perusahaan.
Miko berdiri terpaku di tempatnya, menatap pintu kaca yang masih bergetar pelan.
"Bagus. Aku sudah menunggunya dan sekarang dia meninggalkan ku di sini," gumam Miko.
Steven mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menembus gelap malam tanpa peduli pada jarum penunjuk kecepatan, karena yang ia pikirkan hanya satu—Boy.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama, ia sampai di mansion. Ia buru-buru turun, berlari masuk menuju kamar Boy, dengan harapan bodyguard nya itu masih di sana.
Dan, begitu pintu kamar terbuka, Steven menghentikan langkahnya, menatap Boy yang terkejut dengan kehadirannya.
"Tu-tuan, apa yang kau —" Kalimat Freya terputus.
Dalam dua langkah panjang, Steven sudah berada di hadapannya. Tangannya terangkat, mencengkeram tengkuknya, lalu menariknya mendekat.
Dan, sebelum ia sempat bereaksi sepenuhnya, bibir Steven telah menyentuh bibirnya.
Freya membeku.
Matanya melebar, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Tangannya refleks mendorong dada Steven, kakinya terangkat, siap melawan. Namun, Steven lebih cepat.
Lengannya mengurung Freya, menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak bebas.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" Pekik Freya
Steven hanya diam dengan tatapan mengunci. "Sial!" Tanpa memberi peringatan, Steven kembali menciumnya.
"Tu .... Emm!" Freya mencoba melawan, namun, gerakan lembut bibir Steven membuatnya terbuai dan perlahan membalasnya.
"Aku tahu ini salah. Aku tidak seharusnya mempunyai perasaan padamu, Boy. Tapi, aku tidak bisa lagi membohongi perasaanku sendiri," batin Steven.
"Steven, kali ini aku benar-benar memilihmu," batin Freya.