Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhatan Aera
FlashBack!
Jam sudah menunjukkan pukul 16:30 Sore, sore ini Aera merasakan perutnya sudah berbunyi karena lapar. Ya, sedari pulang sekolah ia lupa makan siang karena kecapean ia pun akhirnya memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu.
Aera mulai keluar dari kamar nya berjalan menuju dapur untuk mencari makanan untuk ia makan. Aera membuka kulkas nya dan ternyata kosong sudah habis. Kemudian ia kembali mencari makanan di tempat rak yang biasa Aera simpan dan ternyata tidak ada juga. Alhasil ia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dan keluar untuk mencari makanan di luar rumah.
"Sabar ya perut, ini gue lagi cari makan ko, tenang-tenang..."gumamnya pelan.
Ia berjalan kaki menuju tempat makan yang akan ia beli. Nasi goreng, itu lah makanan yang sering Aera beli ketika makan di luar.
Setelah berjalan beberapa menit akhirnya ia pun sampai. Aera langsung memesan makanannya dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Aduhhh... duit gue makin menipis, kalau kaya gini terus bisa mati kelaparan gue nanti. Apa gue minta duit sama Alfino aja? "Ucap Aera yang langsung menepis pikirannya itu,
"Eh apaan, sih! Enggak-enggak. Jangan Aera Lo jangan minta duit sama dia, Lo lupa Alfino sudah banyak banget bantu Lo. Jangan menyusahkan orang lain." Ucapnya yang di akhiri dengan tarikan nafas berat.
"Duit makin menipis sedangkan hidup gue begini-begini aja, Apa gue open bo aja. Ya?" Aera tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Ya, gue harus cari Aplikasi yang cocok buat gue. Tapi tarikan nya harus gede. Ya, secara kan gue masih perawan."
"Nah, oke cocok nih aplikasi X, bismillah semoga aja gue nggak dapat bapak-bapak." Aera mulai membuat akun baru, usai membuka akun baru Aera langsung memakai Profil yang wajahnya full filter yang bisa merubah bentuk wajah supaya tidak ada yang mengira kalau itu adalah dirinya.
"Cakep. Nah gini kan enak jadi kalau ada yang bilang itu foto gue, gue bisa jawab bukan. paling cuman mirip doang hihihi." Aera mulai mengetikkan sesuatu di sana.
[bayar gue sepuluh juta, gue servis sampai pagi buta].
Lalu mengirimnya ke komunitas itu. Aera meringis sendiri melihat angka yang ia ketik di sana. Sepuluh juta. Ah, semurah itu kah harga dirinya? Tapi ya namanya butuh uang, apa pun akan Aera lakukan. Toh hidupnya sudah hancur juga kan?
Di sebelah Aera, seorang laki-laki duduk, tampak menenangkan diri sambil mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Laki-laki itu adalah Alex Lingga Mahesa, anggota geng motor ALAXTAR.
Tanpa sengaja, ucapan Aera mengenai niat buruknya terdengar oleh Alex. Seketika, alisnya berkerut—bingung sekaligus terkejut. Gadis di depannya itu ternyata adalah target yang sedang diincar oleh ketua gengnya. Alex memutuskan untuk duduk lebih dekat, memperhatikan Aera tanpa ketahuan.
Tak menunggu lama, Alex langsung mengirimkan informasi yang ia dengar kepada temannya, yang kemudian diteruskan ke sang ketua, Leo. Pesan itu sampai begitu cepat, dan Leo segera membalas dengan cepat pula.
Setelah memastikan balasan dari ketua sudah terkirim, Alex meninggalkan tempat itu, langkahnya tenang namun penuh arti.
FlashBack Off.
...----------------...
"Pindah duduk. Di sana biar lebih nyaman."
Leo menunjuk sofa. Mata Aera ikut Leo yang lebih dulu berjalan ke sana dengan langkah hati-hati.
"Kamu kenapa kaya takut sama saya? Saya nggak makan orang."
"Tapi tadi Lo bilang mau makan gue," jawab Aera apa adanya.
"Iya tadi. Sekarang saya berubah pikiran."
Oh... benarkah? Aera menyipitkan matanya curiga, memandangi wajah Leo untuk mencari kebohongan. Hal itu membuat Leo semakin kesal. Alhasil ia tarik tangan perempuan itu hingga membuat Aera terduduk tepat di sampingnya.
Leo ambilkan pula Aera mineral yang tergeletak di atas meja. Tak lupa ia bukakan sebelum menyerahkan pada perempuan malang itu.
"Minum dulu."
Aera memandang air tersebut Horor...
"Nggak saya apa-apakan. Astaga. Kamu segitu takutnya sama saya?"
"Siapa tau, kan?" Sahut Aera, namun tetap meneguk air mineral yang Leo ambilkan karena kebetulan ia sedang haus.
Air mineral itu habis tak tersisa. Aera benar-benar kehausan. Dan keadaan yang cukup mengejutkan ini membuatnya nyaris alami dehidrasi. Bahkan tak cuman air yang Aera butuh saat ini, melainkan pasokan oksigen karena paru-paru nya kini menyepit.
"Keluarga kamu di mana?"
Perkataan itu lolos dari bibir Leo setelah beberapa detik keheningan menyelimuti mereka.
Aera menoleh sedih. Tatapannya menyiratkan ke putus asaan. "Ada, tapi nggak ada gunanya."
Leo memperdalam tatapannya. Menunggu lanjutan perkataan perempuan itu.
"G-gue nggak tau harus cari duit ke mana lagi. Gue butuh duit untuk bisa makan sehari-hari. Hikss..." gelengnya dengan air matanya yang kembali mengalir.
"Jadi karena itu kamu menjual diri di sosial media?" Aera tidak menjawab namun ia langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Gue transfer aja uang Lo tadi. Mana rekening nya?"
"Saya nggak minta di kembalikan."
"Tapi gue nggak mau main sama Lo. Leo!"
"Terus kamu mau open bo ke orang lain? Kamu mau lakukan hal gila itu lagi?"
Aera berdecak jengkel. "Bukan urusan Lo. Mana rekeningnya? Sini gue transfer."
"Saya tidak mau. Atau gini aja deh, saya akan penuhi kebutuhan kamu apapun itu. Saya yang akan tanggung jawab atas kebutuhan kamu sampai lulus sekolah."
Perkataan itu membuat Aera melebarkan matanya, tampak shock. "A—apa?"
"Tapi ada syaratnya." Sudah Aera duga pasti di balik perkataan nya itu akan menjadi sebuah syarat untuk dirinya.
"Syarat apa?" Tanya Aera, malas.
Detik setelahnya, Aera merasakan tangannya di genggam sampai sesak. Hal itu membuat Aera membelalak horor. Terlebih saat Leo berbisik—
"Simbiosis mutualisme. Kamu butuh uang, saya butuh partner ranjang. Kamu mengerti maksud saya."
Deggg...