Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Pemeriksaan Awal
Reputasi Shaila runtuh dalam waktu singkat.
Satu unggahan anonim di media sosial berubah menjadi api. Nama dan wajahnya tersebar luas, disertai tangkapan layar percakapan—janji palsu, permintaan uang, dan kata-kata manis yang kini terasa menjijikkan.
Tak lama, alamat tempat tinggal dan riwayat sekolahnya ikut dibagikan.
Seseorang menulis:
“Aku juga hampir tertipu. Untung keburu sadar.”
Komentar lain menyusul, lebih kejam.
“Mukanya polos, ternyata penipu.”
“Beginilah kalau cari uang pakai wajah.”
Komentar demi komentar turun seperti hujan deras, tak memberi celah bernapas. Ada yang mencaci, ada yang mengejek, ada pula yang berpura-pura prihatin sambil ikut menyebarkan ulang.
Setiap kali layar ponselnya menyala, dada Shaila ikut mengencang. Nama panggilan yang dulu terasa manis kini berubah menjadi bahan olok-olok. Wajah yang pernah ia banggakan terasa asing, seolah bukan miliknya lagi.
Ia menutup tirai kamar rapat-rapat. Bahkan jendela pun tak berani dibuka. Setiap suara langkah di lorong apartemen membuat napasnya tertahan, takut seseorang akan berhenti tepat di depan pintunya.
Efek domino itu tidak berhenti padanya.
Eksekutif yang sebelumnya hanya akan diturunkan jabatannya akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Tekanan publik, kemarahan sang istri, dan sorotan internal perusahaan mengguncang segalanya sekaligus.
Shaila tahu semua ini tidak berdiri sendiri.
Renan bukan orang yang bergerak tanpa alasan.
Dan satu-satunya alasan yang cukup kuat baginya hanyalah Ayuna.
Pikirannya kembali pada tatapan Renan hari itu. Dingin, singkat, nyaris tak berminat padanya. Bukan karena ia tak marah, melainkan karena kemarahannya tidak lagi tertuju pada Shaila.
Melainkan pada apa yang hampir ia lakukan pada Ayuna.
“Jadi ini semua karena dia,” gumam Shaila lirih.
Dada Shaila terasa sesak. Bukan hanya karena takut, tapi karena kesadaran pahit yang akhirnya datang terlambat. Ia kalah, bukan oleh kekuasaan Renan, melainkan oleh posisi Ayuna di hati pria itu.
Dengan tangan gemetar, Shaila membuka daftar kontak. Pergantian detik di layar ponsel bergerak lambat, seolah menunggu keputusannya.
Nama Ayuna tertera di sana.
Ia menatapnya lama.
Ego menjerit, harga diri meronta.
Namun, ketakutan jauh lebih keras.
Jika ada satu orang yang bisa menghentikan semua ini, hanya Ayuna.
Shaila menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengetik.
"Ayu… aku tahu aku tidak punya hak untuk menghubungimu."
Ia berhenti. Menghapus. Mengetik ulang.
"Aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk kebodohanku. Untuk niat yang tidak seharusnya."
Pesan itu terasa terlalu bersih. Terlalu aman.
Ia menambahkan satu kalimat yang sebenarnya paling jujur.
"Aku sudah menerima akibatnya. Tapi, tolong. Jika kamu bisa bicara dengan Renan, mintalah dia menghentikan semua ini. Aku tidak sanggup lagi."
Pesan terkirim.
Shaila menurunkan ponselnya perlahan, jantungnya berdetak tak beraturan. Ini bukan permohonan yang bermartabat, melainkan pengakuan kalah sepenuhnya.
Ia tidak tahu apakah Ayuna akan membalas.
Tidak tahu apakah Renan akan berhenti.
❀❀❀
Ayuna duduk di deretan kursi ruang tunggu rumah sakit ibu dan bayi yang didominasi warna pastellagi menenangkan. Namun, ketenangan itu tidak meresap ke dalam dirinya.
Bau antiseptik yang tajam bercampur dengan hembusan dingin pendingin ruangan membuat kepalanya terasa sedikit ringan. Di telapak tangannya, sebuah pesan baru di layar ponsel menyala terang, kontras dengan keremangan hatinya.
Pesan itu datang dari Shaila.
Ayuna membacanya perlahan. Sekali. Dua kali. Kata-katanya berantakan, penuh keputusasaan. Sebuah permintaan maaf yang terlambat, pengakuan kalah yang pahit, dan satu kalimat yang membuat dada Ayuna mengencang adalah permohonan agar Renan menghentikan semua yang terjadi.
Kalina sudah menceritakan semuanya kemarin. Berita-berita skandal itu, rekaman lama yang tiba-tiba muncul ke permukaan, hingga jejak digital Shaila yang runtuh satu per satu seperti kartu yang tersapu angin. Ayuna tahu betul seberapa kejam dunia ketika kebenaran atau versi yang dipaksakan dilempar ke publik tanpa ampun.
Apakah semua itu benar-benar perbuatan Renan?
Refleks, Ayuna mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Di depan meja registrasi yang berjarak beberapa meter darinya, Renan berdiri tegak. Ia sedikit membungkuk sopan, suaranya rendah namun jelas saat menyebutkan data-data administrasi.
Tangannya yang biasanya hanya memegang setir mobil mewah atau dokumen kontrak, kini sigap menerima formulir, memastikan ejaan nama Ayuna benar, lalu bertanya ulang jadwal dokter dengan raut serius.
Pria itu tampak terlalu bersungguh-sungguh untuk seseorang yang dulu kerap menghindari tanggung jawab.
Hari ini adalah pemeriksaan kehamilan pertama Ayuna, dan Renan tidak membiarkannya datang sendiri.
Ayuna menelan ludah. Jika pesan Shaila benar, maka Renan memang mampu melakukan semua itu. Pria itu punya kuasa, koneksi, dan yang paling mengganggu, ia punya alasan. Karena dirinya. Karena istrinya telah diusik.
Saat itulah, Ayuna merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Seorang ibu hamil besar duduk dengan hati-hati sambil mengusap pelan bagian bawah perutnya yang sudah tampak sangat jelas. Napas ibu itu sedikit berat, namun ia melemparkan senyum ramah yang tulus.
“Suamimu, ya?” tanya ibu itu pelan, melirik ke arah Renan. “Tampan sekali. Dan mau menemani pemeriksaan juga. Jarang-jarang ada suami sesigap itu untuk mendaftar.”
Ayuna tersentak kecil, lalu memaksakan sebuah senyum tipis. “Iya,” jawabnya pendek.
Ibu itu menghela napas panjang, matanya sedikit berkaca-kaca menatap kerumunan di ruang tunggu. “Aku iri. Suamiku sibuk bekerja, katanya tidak bisa izin. Jadi aku datang sendiri. Padahal… rasanya ingin sekali ada yang menggenggam tangan saat menunggu seperti ini. Rasanya menakutkan jika sendirian.”
Ayuna menunduk. Jemarinya refleks bertumpu di atas perutnya yang masih rata. Kata-kata sederhana dari wanita asing itu menusuk lebih dalam daripada yang ia kira.
Di luar sana, Shaila sedang hancur lebur karena tindakan Renan. Di sini, ia dipuji karena memiliki suami yang begitu perhatian.
Renan menoleh sekilas dari meja registrasi. Begitu matanya bertemu dengan mata Ayuna, ia memberikan isyarat kecil dengan senyum tipis, seolah ingin memastikan bahwa Ayuna baik-baik saja dan urusannya sebentar lagi selesai. Tidak ada pamer. Tidak ada sikap berlebihan. Hanya perhatian yang konsisten, tenang, dan anehnya sangat menguatkan.
“Lihat,” bisik ibu di sampingnya lagi dengan nada kagum.
“Bahkan dari jauh dia masih memperhatikanmu. Kamu beruntung sekali.”
Ayuna tersenyum, tapi hatinya bergetar hebat.
Beruntung. Kata itu terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan ton. Di balik semua proteksi dan perhatian Renan, ada satu kebenaran yang ia dengar langsung dari mulut pria itu. Sebuah hantu masa lalu yang ia sebut "taruhan".
Jika semua yang Renan lakukan sekarang bermula dari sana, dari sebuah kesepakatan bodoh yang seharusnya tidak pernah ada, lalu apa arti perubahan ini?
Apakah ketulusan bisa tumbuh dari benih yang busuk? Ataukah ia hanya sedang menyaksikan seorang pria yang sangat ahli menebus kesalahan dengan cara yang terlalu megah?
Ayuna menatap ibu hamil di sampingnya, mencoba mencari pijakan pada realitas. “Semoga suamimu bisa segera menemanimu juga,” katanya lembut. “Karena rasanya memang berbeda kalau ada seseorang di sisi kita.”
Ibu itu mengangguk, matanya melunak. “Iya. Semoga.”
Ponsel di tangan Ayuna bergetar lagi. Shaila mungkin sedang menunggu balasannya dengan napas tersengal di suatu tempat. Namun, Ayuna tidak tahu harus berkata apa.
Jawabannya mungkin akan menentukan arah yang lebih besar dari sekadar reputasi seseorang, itu menyangkut nasib rumah tangganya sendiri.
Renan berjalan kembali ke arahnya, membawa map tipis berisi jadwal pemeriksaan. Langkahnya mantap, memberikan rasa aman yang sekaligus mengintimidasi.
“Sudah,” kata Renan lembut sambil berdiri di depan Ayuna. Tangannya terulur sejenak, hampir menyentuh bahu Ayuna sebelum ia menariknya kembali dengan sopan. "Sekarang giliran kuta. Ayo masuk.”
Ayuna mengangguk kecil. Ia menyimpan ponselnya ke dalam tas tanpa menatap layar lagi. Ia tidak membalas Shaila, tidak sekarang.
Ia perlahan bangkit dari duduknya. Sebelum melangkah mengikuti Renan, ia menoleh kembali kepada wanita di sampingnya. Wanita itu masih menatap mereka dengan binar senyum yang tulus, sebuah pemandangan yang membuat hati Ayuna berdenyut aneh.
“Saya masuk duluan ya, Bu,” pamit Ayuna lembut.
Ia memaksakan sebuah senyum hangat, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan yang ia sendiri pun sebenarnya sedang cari. “Semoga pemeriksaannya lancar, dan semoga Ibu serta bayinya selalu sehat sampai persalinan nanti.”
Ibu hamil itu tampak tersentuh, ia mengangguk cepat sambil menggenggam tasnya. “Terima kasih. Kalian pasangan yang serasi. Semoga anak kalian membawa banyak kebahagiaan.”
Ayuna hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Kalimat "pasangan serasi" itu terasa seperti pujian sekaligus beban.
Di antara langkah menuju ruang periksa dan detak jantungnya yang berpacu dengan rasa bimbang, Ayuna menyadari satu hal.
Apa pun kebenaran di balik masa lalu Renan atau apa pun yang dilakukan pria itu pada Shaila, ia harus membuat pilihan. Bukan hanya sebagai seorang istri yang meragukan suaminya, tapi sebagai seorang ibu yang harus melindungi masa depan anak dalam kandungannya.
Dan pilihan itu untuk mempercayai perubahan Renan atau tetap terpaku pada luka taruhan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia tunda lebih lama lagi.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta