Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Nama Hanindiya
Lampu kristal di pintu masuk aula memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengilap. Para tamu datang silih berganti, suara langkah dan sapaan saling bersahutan, tertata rapi dalam ritme acara resmi.
Renan dan Ayuna baru saja melangkah masuk.
“Renan… aku benar-benar harus datang?” Ayuna menatap aula di depan mereka, ragu.
“Aku nggak terbiasa dengan acara seperti ini. Bagaimana kalau aku mempermalukanmu?”
"Terlambat. Kita sudah di sini." Katanya sambil memperbaiki sehelai rambut Ayuna yang diterbangkan angin.
"Ingat, kamu Nyonya Muda Kedua Morris sekarang. Kamu pantas di sini. Dan kamu adalah kebanggaanku. Hanya mereka yang memalukan bukan kamu." Sikap dominan Renan sekali lagi membuat Ayuna terdiam.
Perkataannya seolah mengatakan tidak ada hal yang lebih besar di dunia ini daripada dirinya. Yang lain hanya pelengkap.
Tangan Renan menggenggam tangan Ayuna dengan mantap, sikapnya tenang, nyaris protektif tanpa disadari. Beberapa tamu menoleh, sebagian menyapa, sebagian lain hanya mencuri pandang.
Di dekat pintu masuk, dua pria berdiri menunggu giliran masuk.
Edric dan Leo.
Begitu melihat Renan, keduanya langsung menghentikan
percakapan. Sikap santai mereka lenyap seketika.
Edric melangkah maju lebih dulu. Jaraknya terjaga, tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh.
“Kakak Kedua,” sapanya sopan.
Kemudian, tanpa ragu, tanpa jeda canggung ia menunduk sedikit ke arah Ayuna.
“Kakak Ipar Kedua.”
Leo mengikuti. Tidak bercanda seperti biasanya. Tidak melempar senyum nakal. Hanya anggukan singkat dan nada hormat yang jelas.
“Selamat malam, Kakak Ipar.”
Ayuna membalas dengan senyum tipis. “Selamat malam.”
Namun, di balik senyum itu hatinya sedikit terusik.
Bukan karena sapaan mereka.
Melainkan karena cara mereka menyapanya.
Terlalu berhati-hati.
Seolah satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.
Renan menatap mereka sekilas. Tatapannya datar, namun cukup membuat keduanya menegakkan bahu.
“Kalian datang lebih awal,” ucap Renan singkat.
Edric mengangguk. “Kami tidak ingin terlambat.”
Leo menambahkan, suaranya tenang, nyaris formal, “Semoga acara malam ini berjalan lancar.”
Tidak ada basa-basi lanjutan.
Tidak ada candaan lama yang biasa muncul di antara mereka.
Setelah itu, keduanya mundur satu langkah, memberi jalan dengan sikap nyaris sempurna.
“Silakan, Kakak Kedua. Kakak Ipar.”
Renan mengangguk, lalu melangkah masuk bersama Ayuna.
Baru setelah beberapa langkah menjauh, Ayuna menyadari satu hal kecil.
Sejak awal hingga akhir, Edric dan Leo tidak sekali pun menatapnya dengan ejekan dan sinis seperti terkahir kali di pesta ulang tahun Edric.
“Ada apa?” Renan bertanya pelan ketika mereka sudah melewati pintu masuk.
Ayuna ragu sejenak, lalu berkata jujur,
“Mereka berbeda.”
Renan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia hanya berkata, “Mereka tahu batas.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi, cukup membuat Ayuna terdiam.
Karena entah mengapa, di dadanya muncul perasaan aneh, seolah tanpa ia sadari, sesuatu telah terjadi di belakangnya.
Apakah Renan melakukan sesuatu kepada mereka karena ia tak sengaja mendengar percakapan keduanya di lorong.
Apakah itu karena kata-kata mereka mengungkapkan kebenaran?
Atau karena kata-kata itu menyakiti hatinya?
❀❀❀
Ayuna memperhatikan semua orang terlihat elegan dan berkelas. Renan benar dia adalah nyonya muda kedua Morris. Dia harus bersikap sewajarnya.
Lalu, dengan alami ia menggandeng lengan Renan.
Merasakan perubahan kecil dalam sikapnya, Renan menunduk dan bertanya pelan, “Ada apa?”
Ayuna menggeleng lembut. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bersamamu.”
Renan terkekeh ringan. “Setelah acara ini, aku akan mengajakmu makan di tempat yang enak.”
Mata Ayuna langsung berbinar. Senyumnya lembut, namun begitu memikat.
Orang-orang di sekitar mereka tak bisa menahan senyum. Pasangan itu tampak serasi, seolah Tuhan memang memberi mereka keberpihakan khusus.
Renan berdiri tegap di tengah kerumunan dengan bahu lebar, punggung lurus. Aura playboy yang dulu melekat padanya telah memudar, digantikan oleh kewibawaan seorang pria dewasa yang tenang dan berpengaruh.
Di sampingnya, Ayuna mengenakan gaun ungu. Warna yang terkenal sulit dikenakan itu justru tampak elegan padanya. Bahunya yang putih terlihat anggun, mempertegas siluet tubuhnya yang indah tanpa kesan berlebihan.
Beberapa pasang mata diam-diam mengikuti gerak mereka. Ada yang menilai, ada yang membandingkan, ada pula yang sekadar terdiam, seolah sulit menerima bahwa wanita di samping Renan benar-benar berdiri sejajar dengannya.
Bisikan kecil terdengar di antara tamu, tentang kecantikan yang tak dibuat-buat, tentang ketenangan yang tidak dipelajari dari buku etiket mana pun.
Terlepas dari rumor bahwa tunangan tuan muda kedua keluarga Morris hanyalah gadis biasa, siapa pun yang melihat wanita ini akan sulit mempercayainya. Ada kemuliaan alami dalam sikap dan sorot matanya, sesuatu yang tak bisa dipelajari.
❀
Di sudut lain aula, cahaya lampu sedikit meredup, menjauh dari pusat keramaian.
Seorang asisten menunduk hormat pada wanita muda yang berdiri tak jauh dari sana. “Nona, itu adalah tuan muda kedua keluarga Morris, adik dari Revan. Wanita di sampingnya adalah tunangannya.”
“Mereka akan menikah bulan depan.”
Tatapan nona muda itu mengeras. “Selidiki tunangannya.”
Asisten itu terdiam sejenak, lalu melirik Ayuna sekali lagi. Wajah wanita itu memang memiliki kemiripan samar.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
Anika menatap sosok dalam gaun ungu itu tanpa berkedip. Di dalam benaknya, muncul bayangan seorang gadis kecil, adik perempuannya, yang dulu baru belajar berbicara, menatapnya dengan mata polos.
Dadanya terasa sesak.
Apakah itu dia?
Ia telah terlalu sering dikecewakan.
Namun, kali ini entah mengapa Anika masih tidak ingin menyerah.
Bagaimana jika.
Bagaimana jika kali ini berbeda?
“Ngomong-ngomong,” ucap Anika seolah baru teringat sesuatu, “keluarga Morris dan kita masih punya kerja sama, bukan?”
Asistennya mengangguk. “Benar. Tapi, jika tidak salah kontraknya akan segera berakhir.”
Tatapan Anika mengeras. “Atur pertemuan. Biarkan Revan datang sendiri untuk membicarakannya. Tanyakan apakah dia tertarik memperpanjang kerja sama.”
Nada suaranya datar, dingin, tak membuka ruang bantahan.
Tiba-tiba, rasa nyeri tajam menusuk pelipisnya. Dunia seakan berdenyut sesaat.
Asisten itu langsung menyadari perubahan ekspresinya. “Nona?”
“Tidak apa-apa.” Anika mengibaskan tangan, menahan rasa sakit itu. “Aku ke kamar mandi sebentar. Kita kembali setelah ini.”
Di depan wastafel, ia membasuh wajahnya hingga dingin meresap ke kulit. Saat keluar, langkahnya terhenti.
Di depan cermin besar, tunangan tuan muda kedua keluarga Morris berdiri sambil merapikan riasan. Gadis itu tampak sedikit canggung, jelas kebingungan, barangkali karena tak menemukan lipstiknya.
Anika mengamati sejenak, lalu tanpa banyak berpikir, merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah lipstik.
“Ini masih baru,” katanya sambil menyerahkan lipstik Canel itu. “Warnanya cocok dengan riasanmu hari ini.”
Ayuna tampak terkejut, lalu tersenyum malu-malu.
“Terima kasih. Saya akan menggantinya. Boleh saya minta nomor telepon Anda?”
Dia menatap wanita cantik di depannya dan merasa sedikit aneh.
Mengapa tatapan wanita ini terasa begitu familiar? Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Anika menggeleng pelan. “Kamu boleh menyimpan nomor teleponku,” ujarnya tenang, “tapi tidak perlu menggantinya.”
Melihat kilatan waspada di mata gadis itu, ia melanjutkan dengan nada santai, “Kamu tunangan Tuan Muda Morris yang kedua, bukan? Saya punya urusan bisnis dengan keluarga Morris. Kita bisa dibilang saling kenal.”
“Lagipula,” tambahnya ringan, “keluarga Morris telah memberi saya jauh lebih dari sekadar satu lipstik.”
Baru kali ini Ayuna benar-benar mengendur. “Kalau begitu, terima kasih.”
Ia mengeluarkan ponselnya. “Mari kita saling menambahkan WhatsApp.”
Anika pun mengeluarkan ponselnya, tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu, mata yang bersih, senyum yang hangat, terlalu familiar.
Ia ingat suara kecil memanggil ‘Kakak’ di rumah lama mereka.
“Namamu Anika Hanindiya?” tanya Ayuna sambil tersenyum.
“Kebetulan sekali. Nama belakang saya juga Hanindiya.”
Wajah Anika tetap tanpa ekspresi.
Namun di dalam dadanya, sesuatu bergetar keras.
“Oh?” Nada suaranya sedikit meninggi, seolah benar-benar terkejut.
“Benarkah?”
“Ya. Nama saya Ayuna Hanindiya.”
Jari Anika mengepal tanpa sadar, lalu perlahan mengendur.
“Kelihatannya kamu masih sangat muda,” katanya pelan.
“Berapa usiamu tahun ini?”
“Dua puluh lima.”
Jawaban itu jatuh seperti palu.
Anika tersenyum tipis, menutupi gejolak di hatinya.
“Kalau begitu, mari kita minum kopi bersama suatu saat nanti.”
Namun, di dalam hatinya ia sudah tahu.
Usia mereka tidak cocok.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta