"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KEMBALI KE SANGKAR BERDARAH
Mobil mewah itu perlahan memasuki gerbang besi tinggi yang menjulang. Suara derit pagar yang terbuka terasa seperti suara gerbang neraka yang menyambutku kembali. Aku mencengkeram tas tanganku, berusaha mengatur napas agar tidak terlihat sesak. Di sampingku, Stevanus menyetir dengan senyum penuh kemenangan, sesekali melirikku dengan tatapan yang membuat kulitku merinding.
"Kita sampai, Widya. Selamat datang di rumahku," ucapnya dengan nada bangga.
Aku menatap bangunan megah di hadapanku. Rumah ini tidak berubah. Pilar-pilar putihnya masih berdiri tegak, taman depannya masih tertata rapi, namun bagiku, rumah ini berbau amis bau darah dan air mata yang pernah tumpah di sini.
Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Mataku terpaku pada tangga besar di tengah ruangan. Tangga itu. Tempat di mana bayiku pergi. Tempat di mana tulang-tulangku remuk. Aku seolah bisa melihat bayangan diriku sendiri tergeletak bersimbah darah di dasar tangga itu.
"Nona Widya? Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat sekali," Stevanus mendekat, tangannya hendak menyentuh bahuku.
Aku segera menghindar dengan pura-pura merapikan rambut. "Hanya sedikit pusing karena perjalanan, Stev. Rumahmu sangat... luas. Terasa sedikit dingin bagiku."
"Ah, itu karena rumah ini sudah terlalu lama tidak memiliki nyonya," Stevanus tertawa kecil, suara tawa yang membuatku ingin berteriak.
Tiba-tiba, dari arah dapur, muncul Mbok Nah. Begitu matanya bertemu denganku, dia menjatuhkan nampan berisi gelas air putih yang dibawanya.
Prangg!
"N-non... Non..." Mbok Nah gemetar hebat. Dia menatapku seolah melihat hantu.
"Mbok Nah! Ada apa denganmu? Ceroboh sekali!" bentak Stevanus.
Aku segera maju, memberikan tatapan tajam yang penuh kode kepada Mbok Nah. "Tidak apa-apa, Tuan Stevanus. Mungkin beliau terkejut melihat tamu baru. Biar saya bantu," ucapku sambil membungkuk, pura-pura membantu Mbok Nah memunguti pecahan gelas.
"Mbok, ini saya, Widya. Teman bisnis Tuanmu," bisikku sangat lirih, hanya untuk didengar olehnya. Aku menggenggam tangannya sebentar, memberi sinyal bahwa aku hidup.
Mbok Nah menatapku dengan mata berkaca-kaca, dia mengangguk pelan sambil menunduk dalam. "Maaf, Tuan. Maaf, Nona Widya. Saya... saya hanya kaget."
Stevanus mengantarku ke kamar tamu di lantai dua. Kamar itu terletak tepat di seberang kamar utama kami dulu. Di dalam kamar, aku segera mengunci pintu dan jatuh terduduk di balik daun pintu. Seluruh tubuhku gemetar. Kenangan tentang malam itu menghujamku tanpa ampun.
Aku membuka kotak hitam yang kuterima semalam. Foto pernikahan yang dicoret tinta merah itu kini terasa seperti ancaman nyata. Siapa yang mengirimnya? Jika Aris benar-benar telah melenyapkan sampel darah itu, siapa lagi yang tahu?
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku berjalan menuju lemari besar di sudut kamar. Di sana ada sebuah celah kecil di balik papan kayu yang hanya diketahui oleh Yati. Dengan kuku jariku, aku mencongkel papan itu.
Kosong.
Buku harian yang dulu kusembunyikan di sana yang berisi catatan semua kekerasan Stevanus telah hilang. Jantungku mencelos. Jika Stevanus yang menemukannya, dia pasti sudah membunuhku sekarang. Jika orang lain...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuatku melompat. "Widya, ini aku. Aku membawakan teh hangat untukmu," suara Stevanus dari balik pintu terdengar lembut, namun ada nada dominasi di sana.
Aku membuka pintu sedikit. "Terima kasih, Stev. Tapi aku ingin istirahat sebentar."
Stevanus tidak beranjak. Dia mendorong pintu dengan bahunya, memaksa masuk. Dia meletakkan teh di meja, lalu berbalik menatapku. Tatapannya kini tidak lagi hanya tentang bisnis.
"Widya, sejak pertama kali aku melihatmu di kantor, aku merasa ada sesuatu yang menarikku padamu," dia melangkah mendekat, memaksaku mundur hingga punggungku menabrak dinding. "Kamu sangat berbeda dengan istriku yang dulu, tapi... caramu menatapku, caramu menolakku... itu membuatku gila."
Dia mengangkat tangannya, jemarinya mengusap pipiku. Aku menahan keinginan untuk meludahi wajahnya.
"Jangan terburu-buru, Stev. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal," ucapku dengan suara yang dibuat seayu mungkin, meski di dalam hati aku sedang merencanakan cara mencekiknya.
"Tentu. Aku suka permainan ini," dia berbisik di telingaku, aromanya membuatku mual. "Oh, omong-omong... aku punya hadiah kecil untukmu. Karena kamu akan tinggal di sini, aku ingin kamu memakai ini malam nanti saat makan malam bersama Maya."
Dia menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil. Saat aku membukanya, nafasku seolah berhenti.
Itu adalah kalung mutiara yang sangat kukenali. Kalung yang dulu dia berikan pada Maya di depanku. Namun, ada yang berbeda. Di liontin mutiaranya, ada noda merah kecil yang sudah mengering.
"Itu kalung kesayangan mendiang istriku. Aku menemukannya di bawah tangga setelah dia... jatuh," ucap Stevanus tanpa ekspresi. "Aku ingin kamu memakainya. Anggap saja sebagai simbol bahwa kamu adalah pemenang baru di rumah ini."
Malam itu, di meja makan, suasana terasa sangat panas. Maya duduk di seberangku dengan mata sembab dan penuh kebencian. Dia menatap kalung mutiara yang melingkar di leherku seolah ingin merobeknya.
"Cantik sekali kalungnya, Nona Widya," sindir Maya. "Sepertinya Stevanus sudah sangat mempercayaimu hingga memberikan barang milik... orang mati."
"Mungkin karena saya lebih pantas memakainya, Nona Maya," jawabku tenang sambil memotong steak di piringku.
Makan malam berlangsung dengan penuh sindiran, hingga tiba-tiba seorang pelayan masuk dengan membawa sebuah amplop besar.
"Tuan Stevanus, ada paket mendesak untuk Anda. Pengirimnya tidak mencantumkan nama, tapi tertulis 'Sangat Rahasia'," ucap pelayan itu.
Stevanus mengerutkan kening dan membuka amplop itu di depan kami. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk dan secarik kertas. Wajah Stevanus yang tadinya cerah, tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Dia menatapku, lalu menatap Maya, dengan pandangan yang dipenuhi amarah sekaligus kebingungan.
"Ada apa, Mas?" tanya Maya cemas.
Stevanus tidak menjawab. Dia segera berdiri dan menyalakan laptop di meja samping. Dia memasukkan flashdisk itu. Suara rekaman mulai terdengar memenuhi ruang makan.
"...Sabar, Maya. Sedikit lagi. Aku sudah mengatur skenario kecelakaan untuknya akhir pekan ini. Setelah dia 'pergi', semua hartanya dan tanah itu akan jadi milik kita sepenuhnya..."
Itu rekaman suara Stevanus dan Maya di ruang kerja waktu itu! Rekaman yang kupikir tidak pernah ada!
Stevanus membanting laptopnya hingga hancur. Dia berdiri dan mencengkeram kerah baju Maya dengan kasar. "Kau menjebakku, Maya?! Kau merekam pembicaraan kita untuk memeras hartaku?!"
Maya menjerit ketakutan, "Bukan aku, Stev! Sumpah, bukan aku!"
Di tengah kekacauan itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal: "Bagaimana pertunjukannya, Widya? Ini baru permulaan. Jika kau ingin tahu siapa aku, datanglah ke gudang belakang sekarang. Dan ingat... jangan bawa Aris."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...