NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22: accept [1]

DARI jendela kamar yang dibiarkan terbuka, aku dapat melihat bayangan pohon-pohon berwarna jingga yang diterangi cahaya dari lampu taman, tumbuhan perdu-perduan yang berwarna kemerahan dan kecoklatan, serta suara hewan malam, seperti kicauan burung gagak yang terbang di atas taman. Bersama dengan angin malam musim gugur yang meniup kulit, aku mengeratkan jubah berbulu yang telah diberi sihir penghangat.

Perkataan Hamon masih terngiang di kepalaku. Sepenuhnya, membekas di hati meski aku berupaya menghalanginya ratusan kali. Ada sedikit perasaan kaget dan ego yang mendominasi, tidak pernah menyangka bahwa dia akan mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan melebihi diri sendiri. Aku tak berniat menyangkal atau mempertahankan ego, tetapi kebenaran yang Hamon katakan adalah sesuatu yang ingin kupendam tanpa diketahui oleh siapapun termasuk diri sendiri.

Kepalaku kemudian kembali memutar perkataan Elora sebelum dia memejamkan mata–dan di detik selanjutnya telingaku berdengung. Secara cepat potongan-potongan mimpi semalam bergantian menampakkan diri.

“El sayang Papa.”

Aku mengatur napas yang tidak beraturan. Mimpi-mimpi aneh yang dimulai sejak kemarin malam terus berdatangan tanpa henti ketika aku sedang melamun atau sedang memikirkan sesuatu. Pikiranku berkecamuk kemudian aku akhirnya berbalik dan berjalan cepat keluar kamar, berupaya meluruskan benang kusut yang ada di kepalaku dengan mencari angin malam.

Langkah kakiku kemudian membawaku menuju ruang pendisiplinan. Tanpa sadar, aku menertawakan diri sendiri ketika menyadari lagi-lagi aku kembali kepada Hamon ketika sedang membutuhkan teman untuk mengobrol.

“Ada urusan apa Yang Mulia datang tengah malam begini?”

Aku memilih tidak menjawab dan berjalan mendekat melepas rantai yang mengekang pergelangan kaki dan tangannya. Meski merasa kebingungan, Hamon tidak bertanya dan mengikutiku berjalan keluar ruang pendisiplinan dengan langkah yang tertatih. Kami tiba di salah satu ruangan setelah aku membuka pintu dan Hamon yang menyeret tubuhnya dengan langkah pelan. Aku duduk di sofa dan memberinya kode agar Hamon duduk di sofa yang bersebrangan denganku.

“Temani aku minum.”

Hamon bersandar di sandaran sofa sembari mengaduh. Bergerak pelan dengan tubuh yang penuh luka dan darah, dia berkata dengan pelan, “Saya hanya akan duduk dan mendengarkan Yang Mulia. Jika Anda ingin mendengar pendapat saya, maka akan saya berikan. Namun, saya tidak bisa menemani Anda minum.”

“Kenapa?”

“Karena Yang Mulia belum mencabut perintah untuk tidak makan dan minum.”

Aku menuang anggur merah di gelas sembari berkata, “Kau sudah bisa makan. Aku telah menyiapkan makanan yang mudah dicerna.”

“Sebenarnya pun, …” Dia berkata sembari tersenyum kecil. “Saya masih kesulitan untuk berbicara. Namun, khusus untuk Yang Mulia, saya bisa memaksakan diri.” Tangannya kemudian terulur mengambil gelas yang berisi air putih lalu meneguknya sampai habis. “Jadi, apa yang mengganggu pikiran Anda, Yang Mulia?”

“Aku bermimpi tentang sesuatu yang aneh sejak kemarin malam.” Menaruh atensi pada anggur di gelas, aku melanjutkan, “Perkataan-perkataan itu terus terngiang di kepalaku dan membuat telingaku berdengung.”

“Anda  bermimpi apa?”

“Seorang anak perempuan,” jawabku setelah beberapa menit terdiam. Hamon terdiam dengan ekspresi berpikir. Dia pasti bingung, tetapi terlihat tidak mempermasalahkannya. Selama beberapa saat, kami tenggelam dengan pikiran masing-masing. 

“Bagaimana keadaan Putri?”

“Dokter sudah memeriksanya dan dia juga sudah meminum penawar racun.”

“Maaf, jika saya lancang.” Dia berkata setelah beberapa menit terdiam. “Tetapi, menurut saya Anda sebaiknya menjenguk Putri.”

“Kenapa?”

“Karena saya berpikir bahwa mungkin saja Yang Mulia merindukannya.”

“Aku tidak merindukannya.”

Aku menjawab cepat tanpa berpikir dua kali. Mendengarnya saja sudah terasa aneh apalagi berpikir untuk menjenguk dia setelah memberikan racun dan membuatnya terbaring di tempat tidur seperti sekarang. Lagipula, meski menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari, bagaimana mungkin aku merindukan penyebab sakit kepalaku?

Hamon menghela napas panjang. “Anda harus jujur dengan perasaan Anda sendiri, Yang Mulia. Berhentilah menolaknya atau Anda akan menyesalinya.”

“Memangnya apa yang kurasakan?”

“Bahwa Putri membawa perubahan pada hidup Anda?”

Memilih tidak memberi respons, aku membiarkan perkataan Hamon hanya melayang di udara. Lebih baik aku meneguk anggur yang punya kadar alkohol tinggi ini dalam sekali teguk dan mengisinya kembali. Melihatku yang seperti ini, Hamon kembali berkata,

“Apakah Anda mengerti maksud menerima dan mengakui?”

Aku menjauhkan bibir gelas dari mulut. Mengerutkan dahi, aku menjawab asal, “Bukankah itu sama saja? Dengan menerima artinya kita sudah mengakui.”

“Keduanya berbeda, Yang Mulia. Menerima berarti apa yang terjadi kepada Yang Mulia, entah itu perubahan peraaan atau apapun, tanpa perlu mengubah atau menghilangkannya, Anda memilih untuk menerimanya sebagai bagian dari diri Anda. Mengakui berarti Anda telah membenarkan atau memvalidasi bahwa memang benar terjadi perubahan pada diri Anda.”

Aku menaikkan alis dan menatapnya tajam. “Apa tujuanmu berkata begitu? Lalu perubahan apa yang terjadi kepadaku, huh?” Menggeleng, aku berdecak. “Kau dan Leocadio berkata hal yang sama. Aku pikir kalian pasti sudah terhipnotis dengan anak itu.”

“Meski Anda menyangkalnya, tindakan Anda tidak bisa bohonhg, Yang Mulia.”

“HAMON QUANTE!”

Gelas yang berada di tanganku hancur dalam genggaman. Pecahan dari gelas tersebut meledak dan menyebar ke mana-mana, anggur yang masih tersisa jatuh membasahi baju bersama dengan darah yang menetes dari telapak tanganku. Menatap nyalang kepadanya, aku mengeluarkan aura pekat yang memenuhi seluruh ruangan. Sertamerta darah dari tanganku berhenti menetes dan ditelan oleh kegelapan.

Rahang yang mengeras, dada yang berdebar, dan napas yang memburu, seluruh tubuhku kini mendidih. Namun, pria di depanku masih bersikap santai tanpa rasa takut sedikipun. Padahal bisa saja, malam ini adalah hari terakhir dia dapat menghirup udara bebas.

“Entah Anda merasa sakit atau bahagia, Anda harus menerima situasi saat ini tanpa menyangkal, melakukan perlawanan, atau bahkan mengubahnya. Anda harus mengakui bahwa Anda merasa sakit atau bahagia baru Anda bisa memutuskan apakah ingin mempertahankannya sebagai sesuatu yang berharga bagi diri Anda atau tidak.”

Tepat setelah Hamon menyelesaikan kalimat terakhir, petir menyambar meja dan membuat seluruh makanan yang tersaji berantakan.

“Kembalilah ke ruang pendisiplinan.”

“Baik, Yang Mulia.”

Aku menatap sinis dan berjalan cepat keluar dari ruangan. Bukannya merasa lega, di dalam dadaku malah terasa semakin sesak, pikiranku berkecamuk, dan napasku memburu. Aku melangkah tanpa tujuan. Yang jelas bahwa aku  harus meredam emosi yang ada di dalam diriku sebelum kegelapan memanfaatkannya dan mengambil alih tubuhku. Hingga tanpa sadar aku malah berjalan menuju kamar di mana Elora berada, barulah aku tersadar bahwa kaki ini telah membawaku ke tempat yang salah. Namun, meski mengetahui bahwa ruangan ini seharusnya adalah ruangan yang harus kuhindari, tanpa memberikan perintah, kaki ini malah tetap mendekat. Semakin dekat hingga aku memberhentikan diri secara paksa dari jarak yang membuatku bisa melihat Elora dengan sangat jelas.

Tepat di pinggir tempat tidur, aku mematung. Wajah damainya mendatangkan mimpi itu kembali. Aku menundukkan pandangan dengan memegang kepala. Mundur selangkah dan menutup telinga yang tiba-tiba berdengung. Kalimat di dalam mimpi melintas kembali dan kini terasa lebih nyata dari sebelumnya. Aku menutup telinga serapat mungkin, tetapi suara itu terdengar semakin jelas.

“Jangan ambil Papaku!”

Bersama dengan berakhirnya suara-suara itu, air mata yang kupikir sudah lama hilang ternyata masih ada dan menetes turun membasahi pipi dan hatiku.[]

1
Sinchan Gabut
Yang Mulai udah g sakit kepala?🤔
Sinchan Gabut
Pria bercahaya, apa kasta tertinggi Dewa? 🤔
Panda
leocadio the avocado

Pace nya di sini agak lambat buat ku karena mungkin terlalu banyak percakapan dengan pergerakan statis 🤔

tapi kacian Eloraaaa pengen karungin bawa dari situ
Panda
typo kecil tapi bisa ganggu persepsi kak 😆

itu harusnya MULUS kan ya
Sinchan Gabut
Elora, itu sisa tebasan kegelapan dr Yang Mulia kah yg bs buat dia tiba2 drop?
studibivalvia: bener akak, pengaruh kekuatan yg saling bertabrakan tapi dipaksa melintasi waktu
total 1 replies
Sinchan Gabut
Elora, Putri Puding Coklat, baik banget sayang 😘🤗🍮
aska
cerita di awal udah menarik banget
aska
baru baca udah rebutan warisan aja 🤭🤣
Alessandro
bdn lg lemah mlh latihan ditambah 5x lipat... 😌
Alessandro
elora sukanya puding coklat
Laila Sarifah
Masa anaknya deket sm ajudan sendiri cemburu🤭
Laila Sarifah
Ayo El kamu pasti bisa merubah sifat tirani ayahmu😌
Sinchan Gabut
Masih bingung, tiba2 bgt Elora ud pernah hidup sblmnya 2x lagi. hmmm dan d bab2 awal Yang Mulia kyk baru bgt ketemu. kalau pemgulangan dan Elora utusan suci paling g kan ad yg terus d perbaiki, g tiba2 berulang meninggoy hmmm🤔📖
Sinchan Gabut
Ha? Gimana gimana? huaaa mendadak bingung 😭
Aruna02
betul kata Hamon yang mulia
Aruna02
🙄🙄kok putri di racun
Pengabdi Uji
Curiga elora itu gk mati krn dy utusan dewa dan transmigrasi 🤣 tp gpp biar bokapnya panik dikit
Pengabdi Uji
Pantes kok aga aneh ni anak trnyata punya kekuatan krn renkarnasi kah? Ah bapaknya sok jual mahal pdhl sayang jg tu hm😌
Alessandro
anaknya langsung trauma, jd gemuk spt babi dan berakhir di piring 😮‍💨
Alessandro
astga pak, anak kecil minum susu msh mau tambah anggur..
aga lain emg ya, anda 🤺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!