“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Ban mobil menggeliat di atas aspal yang kusam. Lampu jalan menerjang kaca depan, membelah kegelapan seperti pisau yang menusuk hati. Ridho menatap jalan dengan mata merah, tangan mengerut di atas setir. Setiap denyut jantungnya membawa muatan yang sama, rasa hancur yang menusuk tulang.
“Semua ini hanyalah kebohongan... Tega sekali Dewi membohongiku...”
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, mengikis semua yang tersisa dari kedamaiannya. Ia mengingat hari itu, ketika ia datang dengan penuh harapan. Lamarannya diterima meski keluarga menentang.
Cintanya berkobar, namun, kenyataan malah memukulnya lebih kejam.
Ning telah menerima lamaran seorang pria. “Maaf, Mas. Ning memang akan menikah.” Kata-kata itu seperti duri yang tertancap dalam hati, membuatnya kehilangan kendali saat mengemudi beberapa minggu lalu. Kecelakaan yang membuatnya lupa semuanya.
Tapi sekarang ingatan itu kembali, semua yang Dewi sembunyikan. Menuduhkan semua hal buruk tentang Ning padanya. Ia mengenal Ning... Sangat mengenal Ning.
“Kamu mengkhianati aku, Dewi! Dan kau merusak hidupnya juga!” Ridho berteriak keras di dalam mobil yang sunyi.
"TEGA SEKALI KAMU DEWI!"
Ia menekan pedal gas lebih dalam, mobil melesat melewati lorong kosong. Pohon-pohon di sisi jalan berlari cepat seperti masa lalunya yang tak bisa diubah.
"Perempuan egois! Pernikahan macam apa ini!?"
Suara mesin mobil berdentang keras, menyamai deru dalam dadanya. Ia merasa begitu bodoh, bagaimana bisa mempercayai Dewi begitu saja? Bagaimana bisa melupakan wajah Ning yang selalu ada di setiap sudut pikirannya? Ia ingat bagaimana cinta mereka tumbuh perlahan, dari saat mereka bertemu di rumah Pak Hasto karena Dewi memaksa diantar pulang. Atau, saat ia menemani Ning diam-diam di pasar, lalu makan bakso di warung pinggir jalan. Semua momen indah yang kini hanyut di bawah kebohongan.
“HAAARRRRHHHHH!”
Ridho menginjak rem dengan keras. Mobil menyisir aspal, lalu berhenti di pinggir jalan terpencil. Ia membuka pintu, melompat keluar dengan dada yang sesak. Udara malam menusuk dada, tapi rasa sakit dalam hatinya jauh lebih pedas.
“KENAPA!?” Ia berteriak ke arah langit yang gelap. Suaranya bergema di antara pepohonan, lalu hilang dalam kegelapan. “Kenapa dunia harus begitu tidak adil?! Aku mencintainya dengan sepenuh hati, tapi KAU tarik dia jauh dariku!”
Air mata mengalir deras di pipinya, menyatu dengan keringat yang menetes.
"Kami saling mencintai!"
Ia meraih rambutnya dengan kuat, tubuh bergoyang karena tangisan yang tercekik. Semua rasa sakit, kesedihan, dan kemarahan yang telah terkubur selama bulan-bulan terakhir keluar dengan derasnya.
“Bodoh! Aku bodoh sekali!” Ia menjerit lagi, menendang batu kecil di dekat kakinya. Batu itu terbang jauh, menghilang di dalam kegelapan. “Aku seharusnya tidak percaya pada apa yang dikatakan Dewi!”
Ridho jatuh jongkok di atas rumput yang basah akibat embun.
"ARRRRGGHH!"
Ia meraung, suara panjang dan menyakitkan yang menggambarkan betapa hancurnya dirinya.
"Ning... Dia pasti tak bahagia... Dia juga sangat menderita..."
Malam terus berlalu, menit demi menit berlalu seperti tahun. Langit mulai menunjukkan warna kebiruan yang samar ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ia berdiri perlahan, tubuhnya terasa lelah dan berat. Rasa marah telah mereda, digantikan oleh rasa sakit yang dalam dan mendalam seperti luka yang tak kunjung sembuh. Ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dengan hati yang kosong. Tangan yang gemetar menginjak pedal gas perlahan.
Tanpa sadar, roda mobil membawanya ke arah salah satu perumahan kontrakan di pinggiran kota, tempat yang kemarin ia kunjungi saat membuntuti Pak Hasto. Rumah kecil dengan pagar bambu dan taman yang selalu dirawat dengan baik.
Mobil berhenti di kejauhan, tak berani mendekat terlalu jauh. Ridho menatap rumah itu dengan mata yang lelah. Cahaya dari dalam sudah padam, menunjukkan bahwa penghuninya telah tidur. Ia membayangkan bagaimana kehidupan Ning di sana, apakah dia benar-benar bahagia dengan suaminya? Atau seperti dirinya, hanya menjalani hidup dengan hati yang terluka?
“Ning... Apa kamu bahagia di sana?” gumamnya pelan, tapi hatinya terasa seperti sedang ditusuk. “Apa dia memperlakukan mu dengan baik? Atau... Malah menjadikanmu budak napsu?”
Air mata kembali mengalir. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam diam di dalam mobil. Suara tangisnya terdengar kecil dan hampa, tertutup oleh dinding mobil yang dingin. Ia merasa seolah dunia telah berhenti berputar, dan dirinya sendiri hanyalah puing-puing dari cinta yang pernah ada.
****
Sinaran matahari pagi menerobos celah kaca mobil, membangunkan Ridho yang tertidur dengan posisi membungkuk di kursi pengemudi. Badan terasa kaku, tapi pikirannya langsung terbang ke rumah di kejauhan ketika suara bicara lembut terdengar.
Ia mengangkat kepala perlahan, melihat keluar melalui kaca.
Di depan pintu rumah itu berdiri Ning, dengan kruk di tangan kirinya. Dia masih cantik seperti dulu, dengan jilbab warna peach yang membungkus kepalanya rapi dan wajah putih bersih dengan senyum yang masih menawan. Yuda berdiri di depannya, wajahnya penuh cinta saat ia mencium pelan bagian atas kepala Ning.
“Jangan terlalu capek, Ratuku,” ujar Yuda dengan suara lembut. "Kerjaan rumah, semua udah Mas bereskan! Kamu tinggal ke Rumi's Salon saja."
Ning tersenyum manis, lalu mengangkat tangan kanannya untuk mencium pelan tangan suaminya. “Makasih, Mas. Kalau gini, Ning jadi ngerasa enggak guna...”
Yuda menempelkan jadi di bibir Ning. "Mas malah mau, kamu diem aja di rumah. Nggak usah ngapa-ngapain. Tapi, nanti kamu bosan. Jadi, ya sudah... Lagian di Rumi's Salon, kamu malah bisa ngasah kemampuanmu. Siapa tau bisa buka salon sendiri."
"Isshh, enggak mung...."
"Eeiiitts!" Yuda sudah menempelkan lagi jarinya di bibir Ning. "Aamiin!"
Pipi Ning bersemu merah, "Iya, Aamiin."
"Nah, gitu dong."
Yuda menunduk hendak mencium, tapi tak jadi karena Ning menghindar. "Mas! Ini di luar loh, nanti ada yang lihat."
"Hihihi, tutup semua rumah tetangga, tuuhh!" Yuda menunjuk sambil celingukan.
"Tetap aja, ini di luar." Ning sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, Mas berangkat dulu ya. Doain Mas narik rame."
Ning mengangguk. Yuda tersenyum, "Lihat tuh!" tunjuknya ke arah luar. Ning menoleh ke sana, Yuda mengecup singkat pipi Ning, sampai wanita cantik itu kembali tersipu.
"Mas..."
Yuda hanya terkekeh kecil, merasa menang. Lalu berbalik dan menaiki sepeda motornya. Suara mesin motor perlahan menghilang saat dia menjauh dari rumah.
Ridho merasa sesak napas. Hatinya seperti sedang dihancurkan berkeping-keping. “Harusnya aku yang berdiri di sana… harusnya aku yang mencintainya seperti itu.”
Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu mobil dan keluar. Kakinya bergerak sendiri menuju halaman rumah Ning. Jantungnya berdebar kencang, tapi langkahnya tetap mantap. Ia sampai di depan pintu, mengangkat tangan dengan hati yang penuh rasa takut dan harapan.
Tuk… tuk… tuk…
Suara ketukan pintu terdengar jelas di pagi yang sepi. Dari dalam rumah terdengar suara kaki berjalan menuju pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka perlahan.
Ning muncul dengan wajah yang masih penuh senyum, tapi senyum itu langsung menghilang digantikan oleh ekspresi kaget yang mendalam. Matanya membesar, bibirnya sedikit terbuka.
“Mas… Ridho?” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar.