NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

Begitu sampai di mansion, seorang pelayan tua menyambut Brian di depan pintu dengan kepala menunduk. "Selamat malam, Tuan Muda. Nyonya sudah ada di..."

"Aku tahu," potong Brian ketus. Ia melangkah lebar menaiki tangga, tidak memedulikan tatapan heran pelayannya.

Brian membuka pintu kamar pribadinya dengan sentakan kasar. Namun, pemandangan di dalam sana seketika membungkam umpatannya. Arumi sedang berdiri di dekat lampu tidur, mengenakan baju tidur satin yang mesti tidak terlalu tipis, namun memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Cahaya lampu yang temaram membuat kulitnya tampak bercahaya.

​Hawa di kamar itu mendadak terasa panas. Brian menatapnya dalam-dalam, merasa terjebak antara rasa benci dan ketertarikan yang muncul secara mendadak. Ia segera membuang muka, merasa kalah karena sempat terpesona.

Tanpa sepatah kata pun. Brian masuk ke kamar mandi. Ia menghidupkan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya untuk memadamkan bayangan tubuh Arumi yang menggoda di benaknya. Ia mengumpat dalam hati, merutuki reaksinya sendiri terhadap wanita yang seharusnya ia benci.

​Beberapa menit kemudian, Brian keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan celana tidur panjang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Dada bidang dan perutnya yang berotot sempurna hasil dari latihan keras untuk peran-perannya tampak sangat maskulin dan dominan.

​Arumi, yang sedang berdiri sambil menyiapkan bantal dan selimut di sofa, segera membuang muka. Jantungnya berdegup kencang melihat penampilan Brian yang begitu terbuka, namun ia mencoba mempertahankan wajah datarnya.

​Tiba-tiba, suara bariton Brian terdengar, sangat dekat di belakangnya hingga membuat bulu kuduk Arumi meremang.

​"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa, istriku?"

Arumi terdiam. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Brian yang berdiri tepat di belakangnya. Aroma sabun maskulin yang segar bercampur dengan sisa aroma alkohol dari klub malam tadi menyerang indra penciumannya.

​​Arumi menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum berbalik. "Aku yang memutuskan. Ini kamarmu, dan aku tidak ingin mengganggumu," jawabnya sambil mendongak dan duduk di sofa, berusaha menatap mata Brian tanpa takut.

Brian tidak mundur. Alih-alih menjauh, ia justru mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengunci Arumi di tengah-tengah.

"Menggangguku?" Brian terkekeh sinis, suaranya rendah dan serak. "Kau sudah mengganggu hidupku sejak kau menginjakkan kaki di rumah ini, Arumi."

​Arumi merasakan dadanya sesak karena jarak

mereka yang terlalu dekat. Mata Brian menyisir wajahnya, berhenti sejenak pada bibir Arumi sebelum kembali ke matanya.

​"Jangan berlagak suci dengan tidur di sofa seolah kau adalah korban di sini," desis Brian. Tangannya bergerak, menarik ujung selimut yang dipegang Arumi hingga terlepas. "Sekarang ini kau adalah istriku. Secara hukum, secara agama. Dan di kamar ini, akulah yang membuat peraturan."

"Peraturan apa?" tantang Arumi. Ia meletakkan tangannya di dada bidang Brian, bukan untuk membelai, melainkan untuk memberi jarak agar pria itu tidak semakin merapat. Sentuhan itu membuat tubuhnya tersentak kecil karena sentuhan yang aneh, namun Arumi cepat menguasai diri.

"Peraturan bahwa kau bisa menindas ku sesukamu? Aku menikahi mu karena amanah Adrian, bukan untuk menjadi pajangan atau pelampiasan amarahmu."

Brian menangkap pergelangan tangan Arumi yang ada di dadanya. Genggamannya kuat, namun tidak menyakitkan. "Adrian terlalu baik padamu, sampai dia buta bahwa kau hanya menginginkan hartanya."

​"Kau salah," potong Arumi tajam. Matanya berkaca-kaca, namun bukan karena takut, melainkan karena muak selalu dituduh Brian.. "Aku mencintai Adrian. Dan jika kau ingin menghukum ku karena itu, lakukanlah dengan cara yang bermartabat. Bukan dengan cara merendahkan dirimu sendiri seperti ini."

Brian terdiam. Kalimat Arumi barusan terasa seperti tamparan. Ia menatap Arumi dengan kemarahan yang kini bercampur dengan sesuatu yamg lain. Sebuah ketertarikan yamg ia benci. Perlahan, ia melepaskan pergelangan tangan Arumi, namun wajahnya tetap sangat dekat.

​"Naik ke tempat tidur," perintah Brian, kali ini tanpa nada mengejek. Hanya ada perintah yang dingin.

"Aku lebih nyaman di sini," tolak Arumi keras kepala.

"Aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak naik ke sana dalam hitungan ketiga, aku sendiri yang akan mengangkat mu. Dan percayalah, kau tidak akan suka cara yang ku gunakan."

"Jangan memaksaku, Tuan Muda. Dan kau sudah menyetujui perjanjian kita untuk tidak menyentuhku," ucap Arumi dingin.

​Brian berdecak, membuang muka sejenak. Lalu tanpa aba-aba, dia menarik tangan Arumi hingga gadis itu berdiri tegak. Dalam satu gerakan cepat, Brian mengangkutnya ke pundak dan melangkah lebar menuju tempat tidur. Ia menjatuhkan Arumi ke atas kasur, lalu segera mengurung tubuh Arumi itu dengan kedua tangannya.

​"Kita sudah resmi menikah, Kak Arumi." bisik Brian dengan nada sarkas yang kental. Ia sengaja menekankan kata 'Kak' untuk mengejek status mereka sebelumnya. Bagaimana bisa kau berpura-pura suci dan menolak berhubungan intim dengan suamimu sendiri, hmm?"

Nafas Brian terasa panas di ceruk leher Arumi. Pria itu mengunci kedua tangan Arumi di atas kepala, mengurung tubuh mungil wanita itu di bawah kurungan tubuh kekarnya yang dominan.

"Jangan macam-macam, Brian!" Arumi bergerak gelisah di bawah himpitan tubuh kekar itu. Jantungnya berpacu liar. "Kau sudah bersumpah tidak akan menyentuhku!"

Brian tidak menjauh, ia justru menyeringai, sebuah senyuman tipis yang terlihat berbahaya sekaligus menawan. "Sumpah dibuat untuk dilanggar, Arumi. Apalagi jika godaannya tepat di depan mata."

"Menyingkir lah, atau aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga!" tantang Arumi nekat.

"Cobalah kalau berani." Brian justru semakin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Arumi bisa merasakan deru nafas pria itu yang memburu.

"Kau gila, Brian," desis Arumi dengan suara tertahan.

"Mungkin," jawab Brian santai jarinya kini beralih menelusuri rahang Arumi dengan gerakan yang lambat dan menggoda. "Tapi itulah harga yang harus kau bayar jika ingin bebas dariku, istriku. Berikan aku pewaris Aditama, dan kau boleh pergi ke mana pun kau mau."

Brian tidak memberikan celah sedikit pun bagi Arumi untuk memprotes. Ia membungkam bibir Arumi itu dengan ciuman yang jauh dari kata lembut, sebuah serangan yang penuh tuntutan, amarah dan keinginan untuk berkuasa.

Arumi sempat meronta. Tangannya terkepal, mendorong dada bidang Brian, yang sekeras batu karang. Namun, pertahanannya perlahan luruh. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Brian campuran dari kayu cendana dan hawa panas yang provokatif mulai mengaburkan sisa-sisa logika Arumi. Napasnya mulai pendek, kalah dengan oleh dominasi pria itu.

Tangan Brian yang kasar tetapi hangat mulai menjelajah, menuntut hak yang kini secara hukum telah ia miliki. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang menjalar, membakar dinding kebencian yang selama ini Arumi bangun. Lalu menyisakan getaran asing yang menyesakkan dada.

"Katakan kau menginginkanku, Arumi," bisik Brian parau suaranya rendah, terdengar seperti titah yang tidak mengenal penolakan.

Arumi hanya bisa mencengkeram seprai sutra dibawahnya, hingga jemarinya memutih. Matanya terpejam rapat saat setetes air mata jatuh di sudut pelupuknya. Bayangan mendiang suaminya, melintas sekilas dingin dan sunyi, membuat nuraninya mengiyakan kata pengkhianatan. Namun, tubuhnya justru berkhianat dengan cara yang paling memalukan, merespon setiap sentuhan Brian dengan reaksi yang tak terkendali.

Malam itu, dibawah temaram lampu kamar yang mewah, garis batas antara benci dan gairah menjadi abu-abu. Brian tidak hanya sedang mengambil tubuh Arumi, ia sedang meruntuhkan benteng harga diri wanita itu hingga tak tersisa.

Saat kegelapan malam semakin pekat, hanya suara nafas yang bersahutan dan detak jantung yang berpacu kencang menjadi saksi bisu. Brian memeluk Arumi dari belakang, membiarkan keheningan itu mencekam sesaat sebelum akhirnya ia memecah kesunyian dengan suara berat dan penuh penekanan.

"Aku akan mengisi rahimmu dengan benihku setiap hari hingga kau hamil anakku," gumam Brian, suaranya menggetarkan udara di antara mereka. Ia mengecup bahu Arumi, lalu turun menyusuri lekuk tubuhnya. "Dan saat itu tiba, tidak ada lagi nama pria itu di pikiranmu, bahkan di hatimu."

Brian mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman dalam di punggung Arumi yang terbuka, menandai kepemilikannya secara mutlak. Mulai detik ini, hidup mereka telah terjerat dalam ikatan yang paling berbahaya.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!