Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 19
Rombongan kerajaan itu tetap memacu kuda-kuda mereka untuk melanjutkan perjalanan meskipun perasaan janggal yang mencekam terus menghantui setiap jengkal langkah mereka. Tidak ada seorang pun di dalam formasi itu yang berani lengah sedikit pun. Setiap prajurit elit menggenggam gagang senjata mereka lebih erat hingga buku jari mereka memutih, indra pendengaran dan penglihatan mereka dipertajam hingga batas maksimal, dan pandangan mereka secara konstan menyapu ke arah kiri dan kanan jalan setapak di tengah savana yang sunyi.
Rumput savana di wilayah Memping ini menjulang sangat tinggi, bahkan melampaui tinggi orang dewasa, bergoyang perlahan mengikuti irama angin yang membawa hawa dingin. Rerimbunan itu menutupi pandangan hingga puluhan meter ke depan, menciptakan labirin alami yang sempurna untuk menyembunyikan ribuan mata yang haus darah.
Keheningan itu justru menjadi ancaman yang jauh lebih nyata daripada teriakan perang, karena di balik kesunyian itu, maut sedang mengintai dengan busur yang sudah terentang penuh.
Tiba-tiba, sebuah teriakan parau yang penuh otoritas memecah kesunyian yang mencekam itu seperti petir di siang bolong.
“Lepaskan panah sekarang juga!”
Dalam sekejap mata, dari balik rimbunnya rerumputan di sisi kiri dan kanan jalan, hujan panah melesat deras menutupi langit bagai badai hitam yang turun dari angkasa. Suara siulan anak panah yang membelah udara memenuhi atmosfer, disusul dengan rentetan dentingan keras yang memekakkan telinga saat ujung-ujung besi tajam menghantam perisai baja dan zirah para prajurit.
“Bentuk pertahanan kura-kura! Lindungi kereta!” teriak Letnan Bai Wang dengan suara lantang yang menggelegar di tengah kekacauan.
Tanpa ada keraguan sedikitpun, pasukan elit kerajaan bergerak serempak dengan disiplin militer yang luar biasa. Para prajurit yang berada di sekitar kereta langsung mengangkat perisai besar mereka, saling mengunci satu sama lain hingga membentuk dinding baja yang tak tertembus. Sebagian prajurit lainnya bergegas mengitari kereta kedua, kereta kosong yang sejak awal memang disiapkan sebagai umpan, dan menjadikannya pusat formasi pertahanan utama untuk menarik perhatian musuh lebih dalam.
Panah-panah terus berjatuhan dengan intensitas yang mengerikan, menancap di tanah yang kering, menghantam perisai hingga memercikkan bunga api, dan menembus badan kayu kereta. Kereta pertama dan kedua dalam waktu singkat segera tampak seperti landak raksasa yang dipenuhi ribuan anak panah yang menempel rapat. Namun, berkat kesiagaan tingkat tinggi, tidak satu pun anak panah berhasil menembus zirah berat para prajurit atau melukai kuda-kuda perang yang telah dilindungi dengan pelindung kulit dan besi khusus.
Melihat serangan jarak jauh mereka tidak membuahkan hasil yang mematikan, sebuah suara lain kembali terdengar lantang dan penuh amarah dari balik rimbunnya savana.
“Serbu habis mereka! Jangan biarkan satupun hidup!”
Sesosok pria berbadan kekar dengan otot-otot yang menonjol menerobos keluar dari rerumputan, membawa sebuah kapak besar bergigi gergaji di tangannya. Di belakangnya, puluhan orang mengikuti, berlari sambil mengaum liar layaknya binatang buas yang kelaparan. Mereka menghunus berbagai senjata berbeda, mulai dari golok berkarat, tombak pendek, pedang usang, bahkan hingga tongkat kayu yang ujungnya diruncingkan.
“Bentuk formasi tombak! Tahan posisi!” Bai Wang kembali memberikan komando dengan tenang meskipun musuh mulai mendekat.
Pasukan terdepan segera melompat turun dari kuda mereka dengan gerakan gesit, menghentakkan kaki mereka ke tanah dengan kuat untuk memperkokoh pijakan, dan membentuk barisan rapat. Ujung tombak diarahkan lurus ke depan, perisai disatukan dengan rapat hingga menciptakan dinding pertahanan yang hampir mustahil ditembus oleh serangan frontal. Di bagian tengah dan belakang, prajurit lain juga membentuk lingkaran perlindungan berlapis di sekitar kereta ketiga dan keempat, menutup setiap celah sekecil apa pun yang bisa dimasuki penyusup.
Benturan fisik yang brutal pun tak terelakkan lagi. Para perampok dan tentara bayaran itu menyerbu dengan liar, wajah-wajah mereka dipenuhi nafsu membunuh dan keserakahan akan harta kerajaan. Namun, kebanyakan dari mereka hanyalah manusia biasa yang hanya mengandalkan kekuatan otot. Meskipun beberapa di antara mereka memiliki Tenaga Dalam sebagai Pendekar Pemula dan Pendekar Terlatih, jumlah dan kualitas koordinasi mereka jelas berada jauh dibawah disiplin pasukan elit kerajaan yang sudah kenyang asam garam pertempuran.
Benturan senjata yang memekakkan telinga menggema di seluruh lembah savana. Tombak menusuk menembus dada, perisai menghantam wajah hingga tulang hancur, dan pedang beradu hingga mengeluarkan denting nyaring. Beberapa perampok terhempas ke belakang sebelum sempat menyentuh barisan prajurit, sementara yang lain jatuh bersimbah darah setelah salah perhitungan saat mencoba meloncati barisan perisai. Pasukan kerajaan bertahan dengan disiplin tinggi, perlahan-lahan namun pasti mereka mendorong balik gelombang serangan liar itu dengan gerakan yang efisien.
Di tengah kekacauan itu, Bai Wang maju ke depan untuk menghadapi pria kekar pemimpin penyerangan. Kapak besar pria itu menghantam dengan kekuatan penghancur ke arah kepala Bai Wang, namun dengan tenang Bai Wang menangkis serangan itu menggunakan perisainya, lalu melakukan tusukan balasan dengan tombaknya secara kilat. Benturan aura antara dua Pendekar Terlatih ini membuat tanah di bawah kaki mereka retak dan debu beterbangan ke udara.
Tiba-tiba, sebuah suara perintah yang jauh lebih dingin dan berwibawa terdengar dari kejauhan, memberikan arahan strategis baru bagi para penyerang.
“Hancurkan semua kereta itu! Gunakan panah api!”
Hujan panah kembali dilepaskan, namun kali ini serangannya lebih terfokus dan terkonsentrasi ke arah kereta-kereta kerajaan.
BRAKK!
Sebelum panah-panah itu sempat membakar kain penutup kereta, tiga sosok wanita melompat keluar dari kereta paling belakang dengan gerakan yang sangat ringan namun penuh dengan niat membunuh yang tegas.
Meng Xin memutar cambuk hitamnya dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin yang menyapu bersih anak-anak panah di udara sebelum sempat menyentuh kereta.
Tang Ruo mencabut pedangnya, kilatan cahaya dingin menyambar bagai kilat, memotong anak panah menjadi dua bagian kecil. Sementara itu, Qing Fei mengibaskan kedua lengan bajunya yang lebar, melepaskan gelombang energi tak kasat mata yang menghantam anak-anak panah itu hingga terpental menjauh dengan suara dentuman pelan.
“Menarik sekali,” terdengar suara seorang wanita paruh baya yang melangkah keluar dari balik savana dengan anggun.
Wanita bergaun merah darah itu melangkah maju, sebuah senyum tipis yang meremehkan terukir di bibirnya yang dipulas gincu gelap. Aura membunuh nya sangat pekat sebagai seorang Pendekar Ahli terpancar jelas dari tubuhnya, membuat rumput di sekelilingnya layu seketika.
“Ternyata benar laporan itu, ada tiga Pendekar Ahli yang menyamar untuk melindungi rombongan kerajaan ini,” katanya dengan nada tenang namun mengandung hawa dingin yang menusuk tulang. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan memberikan isyarat kepada bawahannya.
“Kalian berempat, segera tangani ketiga pendekar wanita itu. Cari di mana Raja yang sebenarnya bersembunyi. Jika ketemu, langsung tangkap hidup-hidup. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan sang Raja sebagai tawanan, sekaligus menguasai semua harta yang ada di kereta-kereta ini.”
“Baik, Bunga Darah!” jawab empat sosok secara serempak dari berbagai arah.
Empat sosok Pendekar Ahli lainnya melompat tinggi ke udara, berlari di atas ujung-ujung rumput savana seolah-olah mereka sedang menginjak angin. Gerakan mereka sangat cepat, ringan, dan penuh dengan teknik tingkat tinggi, jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh oleh prajurit biasa.
“Benar-benar ada empat Pendekar Ahli lagi yang muncul…” gumam Meng Xin dengan wajah yang berubah sangat serius. Dalam hatinya yang terdalam, ia tiba-tiba teringat akan ucapan dingin gadis bergaun hitam di dalam kereta sebelumnya yang mampu menghitung jumlah musuh dengan tepat. Untuk pertama kalinya, rasa tidak nyaman dan sedikit rasa takut mulai muncul di benak pendekar veteran itu.
Pertempuran tingkat tinggi antar Pendekar Ahli pun meletus dengan dahsyat. Tiga Pendekar Ahli kerajaan harus berjuang mati-matian menghadapi tiga Pendekar Ahli dari pihak perampok. Benturan Tenaga Dalam mereka menciptakan gelombang kejut yang membuat rumput savana di radius beberapa meter roboh rata dengan tanah. Pedang, cambuk, dan serangan energi murni saling beradu tanpa ampun, menciptakan pemandangan yang mengerikan sekaligus memukau.
Sementara itu, Pendekar Ahli keempat dari pihak musuh bergerak secara menyelinap di tengah debu pertempuran, mengincar kereta kedua yang ia duga sebagai tempat persembunyian raja. Ia mengangkat pedang panjangnya tinggi-tinggi, tenaga dalam terkumpul di bilahnya, siap untuk membelah kereta itu menjadi dua bagian dalam sekali tebas.
SWING!
Namun, sebuah kejadian aneh terjadi. Sebelum mata pedangnya sempat menyentuh atap kereta, sebuah benda kecil berwarna hitam melesat dengan kecepatan yang melampaui penglihatan manusia biasa dari arah belakang. Benda itu, yang ternyata adalah sebuah kipas hitam tertutup, hanya menyentuh ujung pakaian pendekar itu dengan sangat halus. Namun, secara ajaib, sebuah robekan tipis yang dalam muncul seketika di bahunya, seolah-olah ia baru saja ditebas oleh pedang dewa.
Kipas itu kemudian berputar dengan indahnya di udara, seolah memiliki nyawanya sendiri, dan kembali melesat menuju arah kereta keempat.
Pendekar Ahli musuh itu terpaksa mundur setengah langkah dengan wajah yang berubah menjadi muram dan penuh kewaspadaan. Darah mulai merembes dari bahunya yang tergores.
“Siapa yang berani menyerang secara diam-diam dari belakang? Cepat keluar dan tunjukkan wajahmu!” serunya dengan nada penuh amarah yang bercampur dengan rasa cemas. Pandangan tajamnya sekarang tertuju sepenuhnya ke arah kereta keempat yang tampak paling tenang.
Namun, kereta itu tetap tertutup rapat tanpa ada sedikitpun suara dari dalam. Tidak ada gerakan, tidak ada ancaman verbal, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya ada keheningan yang menekan dengan sangat berat, seolah-olah sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sesuatu yang melampaui pemahaman mereka tentang kekuatan, sedang mengamati mereka semua dari balik tirai gelap yang tak tertembus.