NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.

Jiah dan Barack terdiam mendengar kelancangan Conrad. Keduanya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu, ha? Apa yang salah?” Conrad menarik salah satu sudut bibirnya, licik.

“Anak ini adalah apa yang disebut sebagai kesalahan satu malam, kan? Lalu apa masalahnya dengan mengambil anak itu dari ibunya? Belum tentu wanita itu mampu membesarkan dan memberikan kehidupan yang layak. Belum tentu juga dia cocok dengan Alexander seandainya mereka menikah.”

Kelancangan Conrad bukan karena dia benar-benar menganggap remeh persoalan tersebut. Dia hanya sudah tidak peduli pada apa pun selain memastikan pernikahan itu tetap terjadi.

Sementara Barack mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh perkataan tersebut, lain halnya dengan Jiah.

Entah bagaimana, perlahan perempuan itu mulai merasa bahwa perkataan Conrad tidak sepenuhnya buruk. Mungkin akan lebih nyaman jika Hana tetap menjadi menantunya sekaligus memberikan mereka seorang cucu.

Tapi apakah semua itu bisa terjadi? Jiah hanya menatap suaminya, menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya kepada Barack.

“Conrad, mari kita bicarakan ini kembali. Tidak mudah memutuskan hal-hal seperti ini, apalagi anak-anak tidak ada di sini. Bagaimanapun, bukan kita yang akan menjalani kehidupan itu, melainkan mereka. Jadi, aku merasa—”

BRAK! Barack terdiam.

Matanya langsung tertuju pada tangan Conrad yang baru saja menghantam permukaan meja.

“Merasa, merasa, merasa apa lagi?! Tidak cukup penundaan ini membuat masalah semakin besar?” suara Conrad meninggi. “Coba saja kalau Alexander tidak menunda-nunda sebelumnya, omong kosong seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi!”

“Conrad.” Barack memperingatkan, suaranya mulai mengeras.

Namun Conrad yang merasa sudah terlalu banyak berkorban dan bertoleransi, semakin tidak mampu menahan emosinya.

“Mau apa lagi kau ini?! Keluarga kami sudah bersedia menerima cucu haram kalian, bahkan memberinya tempat dalam keluarga kami. Tapi apa? Kalian justru bertindak seolah-olah kami yang bersalah di sini!”

Barack akhirnya kehilangan kesabaran.

Kata haram yang diucapkan Conrad membuatnya berdiri. Tatapannya mengunci mata pria itu tanpa gentar.

“Kami tidak pernah meminta ataupun memaksa keluarga Kim untuk menerima darah daging kami. Apalagi menerima dia dengan sebutan sejahat itu.”

Jari telunjuk Barack terangkat, menunjuk Conrad.

“Bahkan jika kau benar-benar menyayangi keluargamu, kau tidak akan membiarkan Hana bersama Alexander setelah apa yang dilakukan putraku kepadanya. Ya. Itulah yang normal.”

Barack berhenti sejenak. “Kecuali…”

Dia mengangguk kecil, seolah baru saja menemukan jawaban dari semua sikap Conrad. “Kecuali ini memang karena keegoisanmu. Kau tetap ingin pernikahan itu dilaksanakan demi menjaga elektabilitas politik mu. Katakan saja!”

Conrad menarik senyum sinis. Kemudian dia ikut berdiri, menantang tatapan Barack.

“Bahkan jika itu benar, lalu apa? Apa yang salah?!”

Kini giliran Conrad yang menunjuk tepat ke arah wajah Barack. “Biar aku peringatkan kalian. Pernikahan ini bukan sekadar pernikahan biasa, tetapi juga pernikahan bisnis. Ayahku dan ayahmu sudah membuat kesepakatan untuk ini, dan putramu berada dalam partaiku.”

Tatapan Conrad berubah dingin. “Barack, jangan gegabah. Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan.”

Dia berhenti sesaat sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, tetapi justru terasa semakin mengancam.

“Dengan kesalahan satu malam putramu, aku bisa menghancurkan bisnis keluarga kalian. Bahkan karier putrimu juga.”

DEG!

Nama Patricia sebagai seorang selebriti mau tidak mau ikut terseret.

Di negara yang menerapkan boikot sebagai salah satu bentuk sanksi sosial, sebuah skandal yang berkaitan dengan keluarganya bisa menjadi ancaman serius bagi karier perempuan itu.

Meskipun dalam persoalan ini mereka cenderung memihak Alexander, tapi jika anak mereka yang lain ikut menjadi korban, Barack dan Jiah mau tidak mau harus berpikir ulang.

“Tapi ayolah, Barack…” Conrad menghembuskan napas. “Aku dan kau tidak perlu sampai sejauh itu. Kita ini sahabat.”

Begitulah akhir percakapan di kediaman Kim.

Barack tidak memberikan jawaban.

Dan diamnya pria itu membuat peluang saat ini terasa seperti enam puluh berbanding empat puluh.

Namun kelebihan sepuluh persen itu sama sekali tidak membuat Conrad merasa aman.

Saat kembali ke rumah, dia langsung mencari Hana.

Dia tidak peduli apa yang baru saja dilakukan putrinya dalam pemberontakan tadi. Ada satu hal yang jauh lebih penting baginya: Hana harus segera melakukan apa yang diperintahkan nya.

KLEK.

Hana yang baru saja merasa sedikit lebih baik karena Jethro menolak permintaannya untuk pergi, kembali dibuat waspada.

Awalnya dia mengira Conrad datang karena mengetahui apa yang baru saja membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Namun pertanyaan yang keluar dari mulut ayahnya justru berbeda.

“Mau ke mana kau?”

Hana menggeleng.

Saat ini dia memang baru selesai mandi dan kondisinya sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan, tanpa sadar, dia mengenakan dress selutut berwarna kuning cerah, seolah suasana hatinya yang perlahan membaik ikut tercermin dari pakaian yang dipilihnya.

Sebelah alis Conrad terangkat tinggi.

Ada kecurigaan di wajahnya, tetapi dia sedang tidak ingin membahas apa pun selain keperluannya.

Melewati pecahan-pecahan barang yang masih berserakan dan belum dibersihkan, Conrad melangkah mendekat hingga berhenti di dekat meja rias tempat Hana berada.

“Cepat hubungi Patricia!”

“Patris?”

Hana menatap ayahnya melalui pantulan cermin.

“Untuk apa menghubungi Patris?”

Conrad memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Cepat hubungi dia dan ceritakan apa yang telah dilakukan kakaknya. Papa baru kembali dari rumah mereka, dan sepertinya mereka belum memberita—”

“Paa, bagaimana bisa aku—”

BRAK!

Ucapan Hana menggantung.

Tangan besar Conrad mendarat keras di atas meja rias.

“Dasar anak kurang ajar!”

Hana tersentak.

“Sudah berapa kali kubilang, jangan menyela ucapanku dan lakukan saja!”

Hana menahan napas beberapa saat.

Kemudian dia menelan ludah pahit.

Dia sudah tidak sanggup menghadapi Alexander. Kini dia bahkan tidak yakin apa yang harus dilakukannya jika harus menghadapi Patris yang ikut terbawa dalam masalah ini.

Namun jika tidak melakukan apa yang diperintahkan ayahnya, Hana takut masalah justru akan semakin besar.

Apalagi dia masih mengingat perkataan Jethro tadi.

Pria itu mengatakan bahwa dia tidak akan pergi darinya dengan mudah.

Sesuatu yang, untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan ini, justru terasa melegakan bagi Hana.

“A-apa yang harus aku katakan?”

“Hubungi dia. Katakan apa yang terjadi!”

Conrad menatap putrinya tajam.

“Berpura-pura lah seolah kau akan mati karena sakit hati. Tapi jangan pernah biarkan dia tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan pelayan itu. Jangan pernah!”

Hana terdiam.

“Karena meskipun dia sahabatmu, dia tetap calon adik iparmu. Jadi cepat hubungi dia dan katakan persis seperti yang Papa perintahkan.”

Hana terkejut.

Ada kesedihan yang perlahan memenuhi dadanya.

Dia tahu benar apa tujuan panggilan tersebut.

Panggilan itu akan menciptakan tekanan baru di keluarga Kim.

Dan itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan.

Dia tidak ingin kembali bersama Alexander.

Namun jika dia menolak, algojo yang berdiri di belakangnya masih bisa memberikan masalah yang jauh lebih besar.

Hana bahkan takut tangan yang baru saja menghantam meja itu akan berpindah ke wajahnya.

Maafkan aku, Patris….

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!