NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - EKSEKUSI TENGAH MALAM

Gudang tua di pinggiran distrik selatan kota itu selalu terasa dingin, nggak peduli sepanas apa cuaca siang harinya. Bau karat, lumut basah, dan aroma amis darah bercampur jadi satu di udara yang pengap. Lampu bohlam kuning yang menggantung di tengah ruangan berkedip-kedip redup, seolah enggan menyoroti kekejaman yang bakal terjadi malam ini.

Di tengah ruangan, seorang pria dengan kemeja putih yang udah robek-robek dan penuh noda merah terikat kuat di atas kursi besi. Wajahnya bengkak parah, napasnya putus-putus terdengar menyedihkan. Namanya Marco, salah satu kepala sektor yang baru aja ketahuan main kotor di belakang klan.

Beberapa langkah dari Marco, berdiri sang ratu klan mafia. Valeria.

Wanita itu terlihat sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kumuh. Valeria mengenakan setelan jas warna merah gelap—merah darah—yang dijahit ngepas banget di badan rampingnya, dipadukan dengan kemeja sutra hitam di bagian dalam. Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai bebas menutupi punggung. Dia terlihat anggun, cantik luar biasa, tapi aura membunuhnya pekat banget sampai bikin beberapa anak buah yang berjaga di ruangan itu nggak berani napas terlalu keras.

Dan tepat di belakang Valeria, bersembunyi dalam bayang-bayang pilar beton, berdiri Kael.

Cowok jangkung berjas hitam rapi itu berdiri tegap kayak patung. Wajahnya tampan tapi kaku dan dingin banget. Mata elang Kael yang tajam nggak pernah sekalipun lepas dari sosok Valeria di depannya. Udah sepuluh tahun Kael jadi tangan kanan sekaligus bayangan sang ratu. Dan selama itu juga, Kael memastikan nggak ada satu pun ancaman yang bisa nyentuh wanita itu. Kalau ada yang berani nyoba, Kael bakal mastikan nyawa orang itu melayang sebelum dia sempat berkedip.

"Jadi... Marco," panggil Valeria santai.

Wanita itu mulai berjalan memutari kursi Marco. Suara hak sepatu tingginya beradu dengan lantai beton, berbunyi 'tak, tak, tak' yang bergema mengerikan di telinga si pengkhianat.

"Kamu tahu kan kenapa malam-malam begini aku suruh anak-anak bawa kamu ke tempat jorok ini?" tanya Valeria tajam.

"Nyonya... tolong... ini cuma salah paham," rintih Marco.

Pria itu memuntahkan sedikit darah ke lantai. Badannya gemetar hebat saat wangi parfum mewah Valeria kecium dari jarak dekat.

"Salah paham?" ulang Valeria pelan.

Wanita itu berhenti tepat di depan Marco, lalu menunduk sedikit menyejajarkan wajahnya dengan pria yang udah babak belur itu.

"Kamu bawa kabur tiga miliar uang dari kasino kita, jual info rute pengiriman senjata ke klan Viper bulan lalu, dan kamu masih berani natap mataku sambil bilang ini salah paham?" desis Valeria mengerikan.

"Aku nggak punya pilihan lain, Nyonya! Klan Viper yang ancam anak istriku!" tangis Marco pecah.

"Oh, klasik banget alasannya," kekeh Valeria sinis.

Dia menegakkan tubuhnya lagi, melipat tangan di depan dada sambil menatap Marco dengan pandangan jijik dari atas sampai bawah.

"Kael," panggil Valeria tanpa menoleh ke belakang sama sekali.

"Ya, Nyonya," sahut Kael cepat.

Suara baritonnya yang berat dan datar langsung memecah keheningan gudang. Kael melangkah maju satu langkah keluar dari bayang-bayang, bersiap menerima perintah apa pun.

"Menurutmu, apa aku kelihatan peduli sama keselamatan keluarga seorang pengkhianat?" tanya Valeria santai.

"Tidak sama sekali, Nyonya. Pengkhianat tidak punya hak untuk dikasihani. Nyawa dibayar nyawa," jawab Kael tenang.

Valeria tersenyum tipis, puas banget dengan jawaban andalannya itu. Tangannya yang lentik berlapis sarung tangan kulit hitam perlahan merogoh saku bagian dalam jas merahnya. Cuma butuh sedetik, sebuah pistol perak kaliber 9mm yang mengkilat udah ada di genggamannya. Dia memutar pistol itu sebentar di jari telunjuknya dengan gaya kelewat santai, seolah senjata mematikan itu cuma mainan anak-anak.

"Valeria! Dengerin gue dulu! Paman lo, dia—" teriak Marco panik.

Pria itu makin meronta-ronta ngelepasin ikatan talinya saat sadar waktu hidupnya tinggal hitungan detik.

DOR!

Satu tembakan keras meletus memekakkan telinga. Burung-burung gagak di atap gudang langsung berterbangan kaget nembus malam.

"ARRRGHHH!" jerit Marco histeris.

Peluru itu nggak nembus kepalanya, tapi bersarang mulus di bahu kanan Marco. Darah segar langsung nyembur basahin kemejanya yang udah kotor.

"Ups, meleset. Atau mungkin tanganku lagi pegal ya?" ucap Valeria polos.

Wanita itu tersenyum manis banget, tapi di mata Marco senyum itu kelihatan kayak iblis dari dasar neraka.

"Lagian, aku paling benci kalau ada bawahan rendahan yang berani panggil namaku tanpa gelar. Lo pikir kita temen nongkrong?" rutuk Valeria judes.

Kael di belakang sana cuma diam mengawasi. Tangan kanannya yang ada di dalam saku celana diam-diam udah bersiaga menggenggam gagang pisau lipat tempurnya. Dia tahu persis tembakan bosnya tadi nggak mungkin meleset. Jarak sedekat itu? Nggak mungkin. Valeria cuma lagi mood buat main-main, nyiksa mental korbannya perlahan sebelum dikasih tiket ke akhirat.

Dan jujur aja, Kael suka banget ngelihat sisi brutal Valeria. Buat cowok itu, saat Valeria lagi nginjek-nginjek harga diri musuhnya kayak gini, bosnya itu kelihatan berkali-kali lipat lebih seksi dan mempesona.

"Nyonya... Nyonya, ampun... Saya mohon... Sakit banget..." tangis Marco sesenggukan. Wajahnya pucat pasi nahan sakit yang luar biasa dari bahunya yang bolong.

"Sayangnya aku nggak buka layanan pengampunan dosa malam ini, Marco. Mending kamu simpan air matamu buat nangis di neraka nanti," balas Valeria dingin.

Valeria melangkah maju satu langkah. Kini dia mengarahkan ujung moncong pistol peraknya tepat ke tengah dahi Marco yang berkeringat dingin. Tatapan mata cantik wanita itu bener-bener kosong, nggak ada setitik pun rasa kasihan di sana.

"Tunggu! Sumpah, Nyonya! Bukan cuma saya yang main di belakang! Paman Anda... dia juga tahu soal rute itu! Dia yang—"

DOR!

Tembakan kedua meletus ganas. Kali ini nggak ada jeritan. Suaranya bener-bener telak dan singkat.

Kepala Marco tersentak kuat ke belakang. Sebuah lubang kecil yang berasap muncul pas di tengah dahinya. Matanya melotot kaget, dan nyawanya langsung melayang detik itu juga dipaksa cabut dari badannya. Tubuh kaku itu merosot lemas di sandaran kursi besi, dengan darah kental merah gelap yang mulai menetes-netes jatuh nggenang di lantai beton.

Valeria diam berdiri selama beberapa detik, menatap mayat di depannya dengan ekspresi datar. Dia narik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Bau tajam mesiu menguar kuat ngelilingin badannya. Urusannya udah selesai.

"Beresin sampahnya. Pastikan nggak ada sisa jejak sedikit pun," perintah Valeria tanpa ekspresi.

Wanita itu memutar tubuhnya menjauh dari mayat Marco, lalu memasukkan kembali pistol kesayangannya ke balik jas merahnya dengan gerakan luwes.

Kael langsung mengangguk pelan. Dia memberikan kode pakai dagu ke arah dua anak buah berbadan besar yang sedari tadi cuma diam mematung nahan napas di dekat pintu masuk. Dua pria itu buru-buru maju bawa kantong mayat hitam tebal, bergerak secepat kilat tanpa banyak omong buat bersihin kekacauan bos besar mereka.

Kael kemudian melangkah lebar mendekati Valeria. Bosnya itu lagi sibuk ngusap sedikit percikan darah yang nggak sengaja kena di ujung lengan jasnya pakai sapu tangan kain.

"Anda baik-baik saja, Nyonya? Tidak ada yang terluka, kan?" tanya Kael cepat.

Suaranya masih sekaku biasanya, bener-bener seprofesional layaknya seorang bawahan yang cuma nanya kondisi atasan. Tapi kalau orang berani merhatiin matanya dari dekat, tatapan Kael lagi sibuk memindai seluruh tubuh Valeria dari ujung kepala sampai ujung kaki, panik dalam diam, memastikan bosnya bener-bener utuh tanpa goresan.

Valeria berhenti ngusap jasnya. Dia ngedongak sedikit buat natap wajah pria tegap di depannya itu.

"Aku nggak pernah terluka cuma gara-gara ngurusin tikus got kayak dia, Kael. Kamu kayak nggak kenal aku aja," sungut Valeria agak sebal sambil membuang sapu tangan bekasnya ke lantai sembarangan.

"Maaf, Nyonya. Saya hanya memastikan," balas Kael sambil sedikit menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya.

"Ya udah. Bawa mobilnya ke depan sekarang. Punggungku pegal banget seharian ngurus rapat di kantor, ditambah malamnya harus turun ke tempat bau busuk kayak gini," keluh Valeria sambil merenggangkan bahunya.

Nada bicaranya tiba-tiba berubah jadi lebih santai dan agak sedikit manja, bener-bener beda 180 derajat sama aura pembunuh berdarah dingin semenit yang lalu. Valeria cuma pernah nunjukin sisi rileks dan manjanya ini kalau lagi berdua atau di depan Kael doang. Nggak ada orang lain di klan yang tahu sisi ini.

"Siap, Nyonya. Mobil sudah stand by di depan pintu," ucap Kael sigap.

Valeria mengangguk kecil, lalu mulai berjalan santai nyusuri lorong menuju pintu keluar gudang, ninggalin bawahannya yang lagi ngurusin mayat Marco di belakang.

Kael mematung sejenak di tempatnya. Cowok itu menatap lekat-lekat punggung sempit Valeria yang perlahan menjauh menuju arah pintu yang terang kena cahaya bulan luar. Angin malam berhembus masuk menembus gudang, meniup rambut panjang Valeria hingga berayun indah banget di mata Kael.

Untuk beberapa detik yang singkat itu, topeng kaku sang pengawal andalan retak tanpa ada yang lihat. Tatapan mata Kael yang biasanya sedingin es batu berubah jadi tatapan penuh pemujaan, cinta buta yang dalam, dan obsesi tak berujung yang selama sepuluh tahun ini dia kunci rapat-rapat di dasar hatinya. Dia menatap Valeria selayaknya menatap satu-satunya alasan dia bernapas.

Cuma untukmu, batin Kael bergema di dalam kepalanya yang sunyi. Mau tanganku kotor penuh dosa, darahku tumpah, atau nyawaku melayang pun aku nggak peduli. Semuanya cuma buat kamu, Ratuku.

Kael menelan ludah, lalu segera memperbaiki ekspresi wajahnya. Dia kembali memakai topeng sang tangan kanan yang kaku dan tanpa emosi. Dengan langkah panjang yang tegap, Kael menyusul Valeria ke luar gudang, kembali menjadi bayangan pelindung yang akan selalu ada di belakang punggung wanita itu.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!