NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Potongan teka-teki

Aisyah tertegun. Ini adalah pertama kalinya seseorang menyebut nama mendiang ibu Ayden di hadapannya. Selama bertahun-tahun mengenal Ayden, pria itu tidak pernah sekali pun menceritakan sosok ibunya.

"Saya tidak pernah mendengar cerita tentang Ibunya dari Ayden, Pak," bisik Aisyah, matanya menatap lekat pada mata keriput Pak Karto. "Apakah beliau... sangat menyayangi Ayden?"

"Sangat menyayangi, Bu. Pak Ayden itu anak tunggal kebanggaan Nyonya," puji Pak Karto dengan nada haru. Namun, dalam sekejap, raut wajah pria tua itu berubah meredup. Dahi keriputnya berkerut dalam oleh kepahitan masa lalu yang mendadak bangkit kembali. "Tapi... kasihan sekali hidup Nyonya Besar. Hidup beliau hancur berantakan sebelum waktunya."

Aisyah menahan napasnya, memajukan langkahnya satu pijakan. "Hancur berantakan? Apa yang terjadi pada beliau, Pak?"

Pak Karto menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh ke arah gumpalan kabut di atas taman.

"Dulu perusahaan milik suami beliau—Ayah Pak Ayden—dihancurkan oleh kejahatan dan pengkhianatan orang lain, Bu," ungkap Pak Karto dengan intonasi serak yang memendam kepedihan. "Bisnis mereka dihancurkan sampai tidak tersisa satu sen pun. Rumah disita, nama baik dicemarkan, dan Ayah Pak Ayden jatuh dalam depresi berat hingga akhirnya merenggut nyawanya sendiri."

Aisyah membelalakkan matanya. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. "Tuhan... Ayah Ayden meninggal karena itu?"

"Tidak hanya Ayahnya, Bu," lanjut Pak Karto, air mata tipis menggenang di sudut mata tuanya. "Nyonya Besar tidak sanggup menanggung penderitaan dan kehancuran yang begitu mendadak. Jiwa beliau hancur. Beliau sakit-sakitan, mengurung diri di kamar yang gelap setiap hari sambil menggenggam mawar putih... sampai akhirnya beliau menghembuskan napas terakhir dalam keadaan penuh keputusasaan dan rasa sakit yang amat sangat. Pak Ayden yang waktu itu masih sangat muda harus menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya hancur dan tewas dalam waktu yang berdekatan."

Kalimat-kalimat Pak Karto menghantam dada Aisyah bagaikan gelombang pasang. Potongan-potongan teka-teki yang selama ini membayangi pikirannya mendadak menyatu membentuk bayangan yang mengerikan.

Foto tua dengan wajah yang dirobek... dokumen kebangkrutan Dinantara Utama... bisikan 'putri musuh' di telepon tadi malam...

Aisyah mencengkeram erat gagang gunting besi di tangannya hingga buku-buku jarinya pucat kaku.

"Pak Karto..." bisik Aisyah dengan suara bergetar hebat, napasnya terasa kian sesak. "Orang yang menghancurkan keluarga Ayden... apakah Pak Karto tahu siapa orang itu?"

Pak Karto tersentak kecil, seolah-olah baru tersadar bahwa ia telah berbicara terlalu jauh. Wajah pria tua itu berubah pucat pasi.

"A-aku... saya tidak berani menyebut namanya, Bu Aisyah," gagap Pak Karto dengan ketakutan yang mendalam. "Pak Ayden melarang keras siapa pun mengingat atau membicarakan nama orang itu di kediaman ini. Jika Pak Ayden tahu saya menceritakan hal ini pada Ibu, saya bisa..."

"Tolong, Pak Karto..." desak Aisyah dengan mata berkaca-kaca, memegang lengan kemeja lusuh Pak Karto. "Tolong katakan padaku... apakah orang itu adalah Rahardja? Apakah dia Papa saya?!"

Pak Karto membelalakkan mata ketakutan. Sebelum ia sempat menjawab atau melangkah mundur, suara dehaman langkah kaki tegap terasa samar merambat dari arah bangunan utama penthouse.

Pak Karto bergegas menundukkan kepalanya dalam-dalam, menarik tangannya perlahan dari pegangan Aisyah. "Maafkan saya, Bu Aisyah... saya harus kembali merapikan rumput di sudut sana. Permisi, Bu."

Pria tua itu terburu-buru mengangkat embernya dan melangkah pergi dengan gerakan kaku, meninggalkan Aisyah yang berdiri mematung di tengah semak mawar putih.

Angin pagi bertiup kencang, menggoyangkan tangkai-tangkai mawar di sekeliling Aisyah. Rasa dingin yang menjalar dari telapak kakinya kini telah merayap sepenuhnya menembus tulang dada.

Aisyah menatap jemarinya yang gemetar. Betapa sedikitnya aku mengenal pria yang telah menikahi aku selama beberapa bulan ini, batin Aisyah meratap dalam keheningan yang menyiksa. Aku hanya mengenal Ayden yang hangat, suami siaga yang menyeduh kopi di pagi hari dan mengecup keningku dengan rasa cinta. Tapi siapa sebenarnya pria yang tidur di sampingku setiap malam? Pria yang menyimpan dendam darah di dalam aliran nadinya...

Aisyah merenungkan nasibnya. Kebenaran kelam itu kini berada begitu dekat di depan matanya. Ayden tidak menikahinya karena cinta. Pernikahan ini bukan tempat berteduh atau janji suci untuk menyelamatkannya dari kesepian. Pernikahan ini adalah jerat hukum, sebuah panggung eksekusi yang dirancang telaten untuk membalaskan penderitaan mendiang orang tuanya kepada putri dari musuhnya.

Sensasi asing yang mengerikan mendadak menyenggol tengkuk Aisyah. Sebuah firasat tajam memberi tahu jiwanya bahwa ia sedang diamati.

Secara refleks, Aisyah perlahan mendongakkan kepalanya ke atas.

Di lantai atas penthouse, tepat di balik jendela kaca tebal berukuran raksasa yang menyoroti area halaman belakang, berdiri sosok tegap Ayden.

Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam tanpa dasi, kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celana kainnya. Ia berdiri mematung dalam kegelapan bayangan ruangan interior.

Dari jarak belasan meter di bawah sana, Aisyah menatap lurus ke arah wajah suaminya.

Mata hitam Ayden yang menyipit tajam menatap Aisyah tanpa kedip. Tidak ada pendar kehangatan, tidak ada kelembutan, dan tidak ada pendar kehidupan di dalam iris mata itu. Yang ada hanyalah tatapan kosong, dingin, pekat, dan dipenuhi oleh kalkulasi dendam yang mematikan—sebuah tatapan dari sesosok predator puncak yang sedang mengamati mangsanya yang terkurung rapat di dalam sangkar tanpa jalan keluar.

Aisyah membelalakkan matanya, dadanya berdegup begitu kencang hingga serasa hendak pecah. Aura kegelapan yang terpancar dari balik kaca jendela lantai atas itu begitu pekat hingga membuat lutut Aisyah lemas seketika.

'Dia... dia melihatku', bisik Aisyah ketakutan di dalam hatinya.

Namun, tepat di detik persis ketika Aisyah hendak melangkah mundur karena rasa cemas yang tak tertahankan, sebuah keajaiban mengerikan terjadi di atas sana.

Sensasi beku di wajah Ayden meleleh dalam sekejap mata.

Satu detik lalu matanya memancarkan kematian yang pekat, namun di detik berikutnya, sudut-sudut bibir Ayden tertarik ke atas secara sempurna. Sebuah senyuman manis, hangat, dan begitu memikat terpahat utuh di wajah tampannya—senyuman suami penyayang yang selalu membuat Aisyah terbuai.

Ayden mengangkat tangan kanannya melintasi kaca, melambaikan jemarinya dengan gerakan pelan dan penuh kelembutan ke arah Aisyah di taman.

Aisyah terpaku di tempatnya berdiri, napasnya tertahan di tenggorokan.

Perubahan ekspresi yang terjadi dalam hitungan detik itu terasa teramat menakutkan—sebuah keahlian melepas dan memasang topeng yang begitu sempurna hingga menyiksa kewarasan Aisyah.

Apakah aku yang gila? batin Aisyah histeris, jemarinya meremas kain gaun putihnya. Apakah aku hanya salah menduga karena ketakutanku dari malam tadi? Atau... atau senyuman manis itu hanyalah racun yang disajikan secara rapi untuk membunuhku pelan-pelan?

Dari jendela atas, Ayden memberikan isyarat tangan, memanggil Aisyah agar kembali masuk ke dalam rumah. Pria itu membalikkan badan dan menghilang ke dalam kegelapan interior penthouse.

Aisyah berdiri membisu di antara deretan mawar putih yang merekah. Bunga-bunga itu tampak cantik ditimpa pendar mentari pagi, namun Aisyah tahu, di akar tempat mereka tumbuh, hanya ada penderitaan, darah tua, dan kematian yang membeku.

Dengan langkah kaki yang kaku, berat, dan dipenuhi kepasrahan yang mati rasa, Aisyah melangkah meninggalkan taman bunga, berjalan perlahan kembali menuju sangkar mewah yang telah siap menelannya utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!