NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Panjat Dinding

Malam kembali datang dengan cepat. Kate yang sudah siap dengan gaun tidurnya yang agak unik—karena ternyata di balik gaunnya ia sudah mengenakan celana panjang—duduk di tepi ranjang dalam diam. Ia tengah menunggu Salvatore pulang, menanti reaksi menderita yang mungkin ditunjukkan oleh suaminya akibat bekal sarapan ajaib buatan tangannya.

Siap-siap saja, Kate. Dia pasti akan protes rasanya tidak enak dan berpikir-pikir untuk meneruskan pernikahan ini, batin Kate, tersenyum puas.

Sembari menunggu, ia merapikan rambutnya dengan tenang. Tepat seperti perkiraannya, tak lama setelah itu, derap langkah kaki yang mendekat ke arah kamar utama terdengar. *Itu pasti Salvatore yang pulang,* batin Kate, sudah bersiap mendengar komentar buruk tentang sarapan buatan tangannya.

Ceklek.

Pintu kamar utama terbuka, menampilkan figur sang Jenderal yang baru saja menyelesaikan tugas kemiliterannya seharian.

"Sudah pulang?" tanya Kate tiba-tiba.

Deg.

Salvatore terkejut bukan karena terpana atau apa pun. Justru ia kaget karena Kate tiba-tiba bersuara sembari memandangnya dengan tatapan unik—matanya menatap lurus dan tajam seperti boneka yang sedang merencanakan tipu daya licik di dalamnya.

"Oh, iya. Aku pulang," jawab Salvatore apa adanya.

Kate langsung memasang senyuman yang sangat lebar, bahkan terkesan horor di mata Salvatore. "Bagaimana sarapan yang kubawakan? Bisa dimakan?" tanyanya.

Salvatore yang bingung hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya, rasanya memang agak aneh. Tapi karena kau sudah berjuang membuatnya, aku tetap menghabiskannya. Lagipula itu bukan makanan beracun," katanya.

Seketika jawaban Salvatore membuat bahu Kate merosot. Bukan ini respons yang ia harapkan! Ia ingin Salvatore protes karena makanannya tak layak, bukan malah menganggap masakan Kate masih jauh lebih mending ketimbang makanan yang berisiko racun di medan peperangan!

Menyadari senyuman Kate luntur begitu saja, Salvatore merasa bingung sendiri. Bukankah jawabannya sama sekali tidak menyinggung?

"Um... Kate? Apa aku menyinggungmu?" tanyanya pelan.

Kate tidak membalas. Ia kecewa karena lagi-lagi rencananya gagal akibat Salvatore yang terlalu baik hati dan menghargai makanan yang susah-susah—padahal sengaja—ia buatkan. Dengan gerakan cepat, gadis itu segera berbalik, langsung berbaring di atas ranjang dan menarik selimutnya tinggi-tinggi.

Salvatore yang menyaksikan rentetan kejadian cepat di depan matanya hanya bisa mengerutkan dahi kebingungan. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ia merasa tersinggung, apalagi terpikir untuk menceraikan Kate. Ia murni merasa bersyukur atas perhatian istrinya.

Brak!

Kate sengaja memunggungi pintu dan memunggungi Salvatore sembari menarik selimut rapat-rapat. Gerakan itu jelas menunjukkan bahwa ia sedang tidak mau diganggu atau merajuk. Namun Salvatore yang baru pulang hanya menangkap satu hal: istrinya sedang berada dalam mode galak seperti biasa.

Ya sudahlah, batin Salvatore tenang.

***

Tepat tengah malam, Kate membuka matanya. Ya, ia sengaja menahan diri agar tidak tertidur demi bisa melancarkan aksi kabur—lagi. Jangan salah sangka, Kate bukanlah tipe yang mudah menyerah. Jika rencana murahan tadi gagal, ia akan beralih ke rencana yang lebih nekat: kabur dari kediaman Ardan.

Jika berita tentang kaburnya sang Putri tersebar di kalangan bangsawan, mereka pasti akan bertanya-tanya. Apakah Salvatore sesosok suami yang jahat sampai istrinya nekat kabur? Tentu saja jika nama baik Salvatore tercoreng, sang Jenderal pasti akan mempertimbangkan ulang kelangsungan pernikahan mereka.

Sret.

Kate bangkit perlahan dari ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Gadis itu mengintip ke arah Salvatore yang berbaring di sebelahnya—pria itu tampak tertidur nyenyak. Setidaknya, menurut perkiraan Kate.

Bagus. Dia pasti kelelahan karena bekerja seharian. Dia tidak akan sadar kalau aku kabur dan akan menggemparkan kerajaan besok! batin Kate, bersorak prematur.

Tap. Tap. Tap.

Dengan langkah berjinjit, Kate berhasil melangkah mendekati balkon. Ia membuka pintu balkon perlahan dan langsung menyambut embusan angin malam yang dingin.

Tenang saja, kali ini Kate sudah lebih dulu mengikat tali tambang yang kokoh di pagar balkon, jadi malam ini ia tinggal mengeksekusi pelariannya.

"Bagus, Kate. Ayo kita pergi," gumam Kate pada diri sendiri.

Inilah alasan mengapa hari ini Kate mengenakan celana panjang di balik gaun tidurnya. Dengan gerakan yang teramat pelan, Kate menggenggam tali itu dan merayap turun dari lantai dua hingga kakinya berhasil menyentuh tanah.

Tap.

Kate menghela napas lega.

Beruntung, tidak ada hambatan yang mengganggu proses pelariannya malam ini. Gadis itu merasa aksinya kali ini akan sukses besar. Dengan kaki telanjang yang menyentuh rumput dingin di bawahnya, Kate sudah membayangkan kemenangan bahkan sebelum menyentuh garis akhir.

"Bagus."

Kate berhasil turun dari balkon kamarnya.

Kini ia hanya tinggal melewati taman belakang, menyeberangi lapangan luas yang dijaga ketat, lalu menerobos pintu keluar kediaman.

Kate mengikis jarak di antara rerumputan taman belakang dengan sangat hati-hati. Gaun tidurnya yang menjuntai sengaja ia singkap dan ikat tinggi-tinggi di pinggang, menampakkan celana panjang kain yang sudah ia persiapkan sejak sore. Angin malam berhembus cukup kencang, menggoyangkan dedaunan dan menyamarkan bunyi langkah kaki telanjangnya.

Setiap sepuluh langkah, Kate berhenti. Ia bersembunyi di balik bayangan pilar batu atau semak-semak hias yang rimbun, menajamkan pendengaran. Matanya yang tajam menyapu area lapangan luas di tengah kediaman Ardan.

Di sana, di dekat obor-obor dinding, tampak dua orang pengawal berkostum zirah besi sedang berpatroli dengan ritme yang sangat teratur.

Logika militer Salvatore memang menular ke seluruh prajuritnya, batin Kate sembari mengatur napas pelan. Mereka berputar setiap tiga menit sekali. Itu artinya, aku punya jeda waktu tepat seratus delapan puluh detik untuk menyeberangi lapangan ini!

Kate menghitung di dalam hati.

Satu... dua... tiga...

Begitu dua pengawal itu berbalik memunggungi area tengah lapangan untuk berjalan menuju gerbang timur, Kate langsung melesat. Ia berlari secepat angin tanpa suara, memanfaatkan pijakan rumput yang basah oleh embun malam. Celana panjang di balik gaunnya benar-benar keputusan terbaik yang pernah ia buat! Gerakannya menjadi jauh lebih fleksibel, cepat, dan tidak terhambat oleh lipatan kain gaun yang berat.

Hanya dalam hitungan detik, Kate berhasil melewati lapangan terbuka tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Ia langsung menyandarkan punggungnya pada dinding batu raksasa yang membatasi area belakang kediaman Ardan dengan dunia luar.

Napasnya memburu halus, dadanya naik turun, namun senyum kemenangan yang amat sangat lebar sudah mengembang di wajah cantiknya.

"Ha! Rasakan itu, Jenderal Tembok!" bisik Kate dengan nada penuh kemenangan yang tertahan di tenggorokan. "Kau pikir benteng militermu ini tidak bisa ditembus? Aku ini Putri Raventhal! Otakku jauh lebih licik dari seluruh taktik perang yang kau pelajari di akademi!"

Kate mendongak, mengamati dinding batu tinggi yang berdiri kukuh di hadapannya. Tinggi dinding ini sekitar tiga meter, terbuat dari tumpukan batu cadas yang disusun rapi. Bagi orang biasa, dinding ini mungkin tampak mustahil untuk dipanjat tanpa tangga. Namun, bagi Kate yang sedang kesetanan demi bisa kabur dan mencoreng nama baik suaminya, dinding tinggi ini hanyalah rintangan kecil yang menyenangkan.

Ia memperhatikan celah-celah kecil di antara susunan batu cadas tersebut—celah yang cukup erat untuk dijadikan pijakan ujung jari kaki dan pegangan jemari tangannya.

"Baiklah, Kate. Saatnya menunjukkan bakat terpendammu," gumamnya, menyingsingkan lengan gaun tidurnya hingga ke siku.

Kate mulai bergerak. Ia menyelipkan ujung jari kaki telanjangnya ke celah batu paling bawah, lalu mencengkram tonjolan batu di atasnya dengan kedua tangan. Dengan tumpuan otot kaki dan lengannya yang terlatih karena sering berbuat ulah, Kate mengangkat tubuhnya perlahan-lahan.

Satu pijakan... dua pijakan... tiga pijakan...

Keringat dingin mulai membasahi dahinya, namun ambisi Kate jauh lebih besar daripada rasa lelahnya. Ia terus merayap naik seperti seekor cicak anggun bergaun tidur. Bayangan tentang besok pagi—di mana seluruh ibu kota akan gempar karena berita "Istri Jenderal Agung Ardan Kabur Melompati Pagar"—menjadi bahan bakar utama yang membakar semangatnya.

Salvatore pasti akan mengamuk! Para bangsawan akan menyebutnya suami yang tidak bisa menjaga istri, dan Raja akan pusing tujuh keliling! Setelah itu, perceraian adalah satu-satunya jalan keluar! sorak Kate dalam hati, membayangkan wajah kaku Salvatore yang akhirnya pecah karena frustasi.

Tinggal setengah meter lagi.

Tangan Kate yang agak kotor oleh debu batu berhasil mencengkeram bibir teratas dinding luar kediaman. Ia menahan napas, mengerahkan seluruh tenaga di tangannya untuk menarik tubuhnya naik hingga akhirnya ia berhasil duduk bertengger di atas puncak dinding batu yang tebal itu.

Rambutnya yang terurai acuh tak acuh berkibar ditiup angin malam yang dingin. Dari atas sini, Kate bisa melihat jalanan berbatu di luar kediaman yang sepi dan remang-remang, dihiasi lampu jalan yang menyala dari kejauhan. Bebas. Dunia luar yang bebas sudah melambai-lambai di depan matanya.

Kate menoleh sebentar ke belakang, menatap bangunan kediaman Ardan yang megah dan tenang di bawah naungan cahaya bulan. Tidak ada tanda-tanda alarm berbunyi, tidak ada teriakan pengawal, dan yang paling penting: Salvatore Ardan masih tertidur nyenyak di kamar utama tanpa tahu bahwa istrinya baru saja memenangkan pertempuran malam ini.

"Selamat tinggal, Jenderal Batu Giok. Nikmati sarapanmu sendirian besok pagi!" bisik Kate dengan cengiran paling puas yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.

Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Kate memutar tubuhnya menghadap ke arah luar dinding. Ia mengatur posisinya, menekuk kedua lututnya untuk bersiap melakukan pendaratan sempurna di tanah jalanan luar.

Dengan dorongan kuat dari kedua kakinya, Kate membiarkan tubuhnya meluncur jatuh bebas ke bawah.

Hup!

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!