NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Penglihatan Lahan Emas

Pagi belum sepenuhnya merekah di atas langit timur. Udara dingin sisa hujan semalam masih menyelimuti teras rumah panggung Dirga. Di atas meja kayu, dua lembar peta tata ruang wilayah dan sebuah buku catatan bergaris terhampar rapi. Pemuda itu duduk bersila, memegang gelas seng berisi teh hangat yang asapnya mengepul tipis.

Suara derap langkah kaki bergegas terdengar mendekat dari arah jalan setapak. Pak RT datang dengan wajah sedikit cemas, memegang gulungan berkas di tangannya.

"Dirga! Kamu belum berangkat?" panggil Pak RT sambil menaiki anak tangga teras dengan napas sedikit terengah.

Dirga menurunkan gelas tehnya pelan. "Belum, Pak RT. Ada apa pagi-pagi sekali sudah berkunjung?"

Pak RT meletakkan gulungan berkas itu di atas meja. "Saya semalam tidak bisa tidur memikirkan rencanamu menawar lahan di Desa Sukamaju itu, Nak. Saya sempat menghubungi adik sepupu saya yang bekerja di dinas pertanahan daerah. Dia wanti-wanti betul agar kamu tidak menyentuh tanah gersang di koridor timur itu!"

Dirga menatap Pak RT dengan raut wajah tetap tenang. "Apa yang dikatakan sepupu Pak RT?"

"Dia bilang tanah tiga koma lima hektar di Desa Sukamaju itu adalah aset terlantar yang sudah lima belas tahun tidak dilirik siapa pun!" tegas Pak RT dengan nada bicara penuh kekhawatiran. "Kondisi geografisnya sangat buruk, bebatuan keras, krisis air bersih, dan tidak ada akses kendaraan roda empat yang memadai. Bahkan para spekulan tanah kawakan saja menyebutnya sebagai lahan mati yang tidak memiliki nilai komersial sama sekali. Jika kamu memarkir uang lima ratus juta rupiahmu di sana, uangmu akan mati membeku tanpa hasil, Dirga!"

"Setiap orang hanya melihat kondisi fisik tanah itu hari ini, Pak RT," sahut Dirga dengan intonasi berat dan teratur. "Tetapi mereka tidak mengerti bagaimana roda kebijakan pemerintah bekerja di balik pintu tertutup."

Pak RT mengernyitkan dahi, menatap pemuda di hadapannya dengan rasa heran yang bercampur bingung. "Maksudmu kebijakan apa, Nak Dirga? Desa Sukamaju itu kawasan terpencil, jauh dari perencanaan pembangunan kota!"

Dirga menyandarkan punggungnya pada tiang kayu teras. Pandangannya lurus menatap lambaian dedaunan di pekarangan.

"Nilai dari sebuah properti tidak ditentukan oleh rumput gajah atau bebatuan yang ada di permukaannya, Pak RT," ujar Dirga dengan analisis yang begitu tajam dan berwibawa. "Nilai sejati sebuah tanah ditentukan oleh infrastruktur yang akan memotong di atasnya. Ketika sebuah wilayah dianggap mati oleh masyarakat umum, di situlah harga dasarnya berada pada titik terendah. Tugas seorang investor adalah masuk di titik terendah sebelum pengumuman besar mengubah peta wilayah tersebut secara drastis."

"Tapi pengumuman apa yang kamu harapkan dari desa terpencil seperti itu, Dirga?" desak Pak RT, suaranya makin penasaran. "Apakah kamu mendapat bocoran informasi dari pejabat?"

"Saya tidak membutuhkan bocoran dari siapa pun, Pak RT," pangkas Dirga dingin namun berharga diri tinggi. "Analisis data dan kalkulasi masa depan sudah cukup memberikan kepastian."

Pak RT menghela napas panjang, meraba gulungan berkas di meja. "Aduh, Nak Dirga... Saya ini khawatir karena kamu mengumpulkan uang lima ratus juta rupiah itu dengan tidak mudah. Saya takut kamu tertipu oleh penjual yang sengaja memanfaatkan ketidaktahuanmu."

"Saya menghargai kekhawatiran dan perhatian Pak RT," tutur Dirga seraya mengangguk sopan. "Tetapi keputusan saya sudah bulat. Pagi ini jam delapan tepat, saya harus sudah berada di Desa Sukamaju untuk memfinalisasi kesepakatan awal."

Ponsel di saku celana Dirga bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor pemilik tanah yang ditelponnya semalam, mengonfirmasi koordinat titik temu di tepi batas lahan Sukamaju.

Dirga berdiri dari duduknya. Ia merapikan kemeja polosnya, lalu mengenakan jaket pengemudi ojek online yang bersih dan rapi. Bagi Dirga, jaket itu bukan lagi lambang kemiskinan atau kekalahan, melainkan pengingat dari mana ia bangkit dan menempa harga dirinya.

Pak RT ikut berdiri, menatap jaket ojol yang dikenakan Dirga dengan pandangan takjub sekaligus prihatin. "Kamu tetap mau pakai jaket itu untuk bertransaksi tanah ratusan juta rupiah, Nak?"

"Jaket ini mengingatkan saya pada penderitaan yang telah saya lewati, Pak RT," jawab Dirga dengan senyum tipis yang sarat akan makna mendalam. "Uang ratusan juta rupiah di rekening saya tidak akan berubah nilainya hanya karena saya mengenakan pakaian kerja harian saya."

Pak RT mengangguk-angguk pelan, rasa hormatnya pada pemuda itu makin bertambah. "Baiklah kalau begitu. Semoga Gusti Alloh melancarkan langkahmu hari ini, Nak Dirga. Hati-hati di jalan."

"Terima kasih, Pak RT. Saya titip rumah," pamit Dirga singkat sebelum melangkah turun meniti anak tangga teras.

Perjalanan menembus jalur timur menuju Desa Sukamaju memakan waktu hampir satu jam. Jalur aspal mulus perlahan berubah menjadi jalan berkerikil tajam yang membelah perbukitan gersang. Pohon-pohon meranggas dan semak belukar mendominasi pemandangan di kiri dan kanan jalan.

Dirga menghentikan sepeda motor matik barunya di bahu jalan tanah yang agak tinggi. Ia mematikan mesin kendaraan, melepas helmnya, dan berdiri menatap hamparan lahan luas di hadapannya.

Angin kering bertiup kencang mengibaskan ujung jaket ojolnya. Di depannya membentang tanah berbatuan seluas 3,5 hektar yang tampak tandus dan terabaikan. Tidak ada bangunan satu pun, hanya garis patok kayu lapuk yang menandai batas lahan.

Dirga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam menembus rongga dada, melatih pemusatan fokus pernapasannya hingga detak jantungnya berdenyut sangat teratur.

Hening. Kosong. Terang.

Getaran energi di dahinya mulai membakar pelan. Mata batin Dirga melompati ruang dan waktu, membawa kesadarannya memproyeksikan gambaran tiga bulan ke depan secara presisi.

Di dalam penglihatan batinnya yang dahsyat, pemandangan gersang dan sepi di Desa Sukamaju lenyap seketika. Langit di atas perbukitan berubah menjadi sibuk. Ratusan alat berat, buldoser, dan truk pengangkut material lalu-lalang meratakan tanah berbatuan tersebut.

Di tengah-tengah lahan 3,5 hektar itu, tampak sebuah panggung besar dengan latar belakang logo resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Seorang pejabat tinggi negara berdiri di atas podium, memegang mikrofon di hadapan puluhan awak media dan investor nasional.

Suara gema pengumuman di masa depan itu terdengar begitu jernih di dalam benak Dirga.

"...Hari ini, pemerintah secara resmi mengesahkan Peraturan Presiden terkait Proyek Strategis Nasional Pembangunan Jalan Tol Koridor Utama Tahap II. Jalur tol lingkar luar ini akan memotong tepat di kawasan Desa Sukamaju, dan di atas lahan tiga koma lima hektar ini akan dibangun Simpang Susun Tol serta Rest Area Terpadu tipe A terbesar di provinsi ini!"

Kilatan penglihatan itu berlanjut dengan sangat cepat. Grafik harga tanah di kawasan tersebut meroket tajam dari Rp120.000 per meter persegi menjadi Rp3.500.000 per meter persegi hanya dalam waktu dua minggu setelah pengumuman resmi pemerintah meledak di media massa. Para spekulan dan pengembang raksasa berbondong-bondong datang membawa cek bernilai puluhan miliar rupiah, saling sikut untuk menguasai setiap jengkal tanah di Sukamaju.

Denyutan di dahi Dirga perlahan menghilang. Pemuda itu membuka matanya kembali.

Pemandangan di hadapannya kembali menjadi lahan gersang dan sepi yang diejek orang sebagai lahan mati. Namun kini, di mata Dirga, setiap jengkal tanah berbatuan ini adalah hamparan emas cair yang tinggal menunggu hitungan waktu untuk meledak nilainya.

"Tiga bulan..." bisik Dirga dengan suara dingin penuh ketetapan hati. "Tiga bulan dari sekarang, tempat ini akan menjadi pusat perputaran uang puluhan miliar rupiah."

Dirga merogoh ponsel pintarnya, melihat jam digital di layar: pukul 07.55 WIB. Lima menit lagi menuju jam delapan pagi, waktu kesepakatan pertemuannya dengan sang pemilik tanah.

Di kejauhan, dari balik debu jalanan tanah yang berhembus kencang, terdengar suara derum mesin mobil mendekat. Sebuah kendaraan meluncur pelan menaiki tanjakan berkerikil menuju titik lokasi tempat Dirga berdiri.

Dirga merapikan letak jaket ojolnya, berdiri tegak dengan dagu terangkat pelan. Pancaran matanya jernih, tenang, dan memancarkan wibawa seorang pria yang memegang kunci takdir bisnis masa depan.

"Sudah waktunya," gumam Dirga datar.

Pemuda itu menghentakkan langkah kakinya dengan mantap, berjalan mendekati area patok batas lahan untuk menemui sang penjual yang telah berjanji padanya semalam.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!