Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Kepala di Meja Perjamuan
Lidah api raksasa meluncur dari tangga batu, membakar selimut jelaga di dinding lorong bawah tanah hingga meletup kencang. Udara dingin di ruang tempa lenyap seketika, berganti gumpalan asap hitam pekat yang membuat tenggorokan terasa terbakar. Ma Huang tidak membiarkan hawa panas itu menghentikan langkahnya. Ia menyambar kerah jubah Lu Gang yang terengah-engah di mulut tangga, menyeretnya mundur mendekati celah saluran lahar buatan.
Master Han berbaring kaku di balik batu penyepuh dengan wajah pucat akibat luka di kepala. "Tuan Muda, pintu keluar di dasar sumur ini mengalirkan sisa lelehan besi lurus ke kanal kota," bisiknya dengan suara serak menahan sakit.
Ma Huang menatap aliran cairan merah membara di ceruk batu sepanjang tiga jengkal di bawah telapak kakinya. Uap belerang membumbung tinggi, mengikis lapisan semen di pinggiran selokan batu. Ia mencabut sarung pedang kain tebal dari pinggang pengawal Song Chen yang tewas, menutupi kepala dan bahu Master Han rapat-rapat.
"Pegang erat pundakku, Lu Gang," perintah Ma Huang pendek. Ia merengkuh pinggang Master Han dengan tangan kirinya, lalu menjejakkan tumit kencang ke dinding batu di atas saluran lahar.
Dinding sumur di atas mereka ambruk secara beruntun. Batang-batang kayu penyangga yang terbakar jatuh menghantam lantai batu, memercikkan jutaan bunga api ke udara. Hawa panas dari atas mendorong Ma Huang melompat turun lurus menyusuri celah selokan lahar yang sempit.
Sepatu kulitnya menapak di tepi saluran batu yang licin oleh gumpalan jelaga dan minyak panas. Setiap kali kakinya mendarat, Ma Huang menyalurkan Qi hitam dari Dantian barunya ke telapak kaki. Gelombang hawa dingin beracun membeku di bawah sol fisiknya, mencegah kulit fisiknya melepuh akibat panasnya lelehan logam di sekitarnya.
Lu Gang meringis menahan uap panas yang membakar kulit lengannya. Matanya memicing menembus kabut asap tebal yang membumbung di sepanjang koridor bawah tanah. "Jalur ini membentang setengah mil ke utara, Tuan Muda! Dinding batu di depan mulai retak!"
Satu bongkahan batu granit raksasa terlepas dari atap selokan, jatuh meluncur menutupi saluran utama di depan mereka. Pintu keluar terhalang rapat oleh batu setinggi badan manusia. Cairan merah membara mulai meluap dari ceruk, menggenangi lantai batu yang dipijak Ma Huang.
Ma Huang tidak memperlambat langkahnya. Ia menyerahkan tubuh Master Han ke pelukan Lu Gang secara mendadak. Dengan satu gerakan memutar badan yang cepat, Pedang Tulang Hitam di tangan kanannya melesat ke depan, melapisinya dengan benang-benang Qi beracun berwarna hitam pekat.
Bilah pedang hitam menghantam bagian tengah bongkahan granit tersebut dengan dentuman dahsyat. Hawa dingin pekat beradu langsung dengan batu panas yang memerah. Perubahan suhu secara mendadak membuat struktur batu granit meledak menjadi jutaan pecahan kecil. Pecahan batu menyembur keluar, membendung lelehan lahar hingga surut seketika.
Ma Huang menyambar kembali tubuh Master Han dari tangan Lu Gang, melompat menembus lubang ledakan sebelum atap selokan di belakang mereka runtuh sepenuhnya.
Bau uap belerang mendadak berganti dengan bau lumpur busuk dan air asin. Mereka bertiga terhempas keluar dari celah selokan batu, jatuh berlutut di atas tumpukan sampah dan kayu lapuk di tepi muara bawah Balai Kota Yunjiang.
Kanal air di balik Balai Kota Yunjiang tampak tenang di bawah remang cahaya rembulan. Namun, dinding batu setinggi sepuluh meter di seberang kanal dikawal ketat oleh puluhan obor yang menyala terang di atas menara pengawas Sekte Pedang Suci.
Ma Huang membimbing Lu Gang dan Master Han masuk ke dalam gubuk penyimpanan sampan yang terbengkalai di balik rumpun bambu air. Dinding gubuk kayu yang lembap memberi perlindungan sementara dari jangkar lampu menara pengawas.
"Tetap di sini sampai gema lonceng ketiga berbunyi," kata Ma Huang seraya memeriksa ikatan perban di kepala Master Han. Tangannya mengusap sisa darah kental di pinggiran jemarinya.
Master Han menggenggam pergelangan tangan Ma Huang dengan sisa tenaganya. "Tuan Muda, di balik pintu besi bawah tanah ada formasi tiga belas pemanah berkuda Sekte Pedang Suci. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun mendekati ruang pesta."
Ma Huang mengeluarkan gulungan kertas kulit tipis berstempel merah yang dibawanya dari saku jubah Song Chen. Gulungan itu dibentangkannya di atas tanah berlumpur, memperlihatkan garis-garis saluran buangan Balai Kota yang mengular tepat di bawah balik ruang perjamuan utama.
"Mereka menunggu musuh masuk dari pintu depan," kata Ma Huang dingin. "Aku akan masuk melalui saluran pembuangan Dapur Barat."
Ia berdiri kaku, menyarungkan Pedang Tulang Hitam di punggungnya. Kain jubah hitamnya yang terkoyak oleh api tempa telah berganti dengan jubah biru tua milik murid Sekte Pedang Suci yang ditumbangkannya di bawah sumur.
Lu Gang mencabut pisau belati dari pinggangnya, hendak berdiri. "Saya ikut, Tuan Muda."
"Luka bahumu akan membuat langkahmu terdengar dari jarak lima puluh langkah," potong Ma Huang tanpa menatap Lu Gang. "Jaga Master Han. Jika dalam dua jam aku tidak keluar, bakar gubuk ini dan pergilah ke Dermaga Timur."
Tanpa menunggu jawaban Lu Gang, Ma Huang melompat turun ke dalam air kanal yang dingin. Gerakannya hampir tanpa kecipak air, bayangan tubuhnya menyatu sempurna dengan pekatnya malam di bawah lengkungan jembatan batu.
Air kanal di bawah Balai Kota berbau hanyir minyak dan sisa makanan dari dapur utama. Ma Huang berenang menyusuri fondasi tiang kayu berlapis lumut hingga menemukan kisi-kisi besi pembuangan limbah dapur.
Tiga jeruji besi tebal yang berkarat menghalangi celah pembuangan seluas dua jengkal itu. Ma Huang menggenggam besi terluar dengan kedua tangannya, menyalurkan lapisan racun korosif Ular Hijau melalui pori-pori telapak tangannya. Besi tua itu mendesis halus, mengeluarkan buaian asap tipis sebelum akhirnya rapuh dan patah tanpa suara.
Ma Huang meloloskan badannya masuk ke dalam lorong pembuangan yang sempit dan berbau tengik. Ia merangkak perlahan di atas lantai batu yang licin oleh gumpalan lemak. Setiap sepuluh langkah, ia berhenti untuk mendengarkan getaran langkah kaki di lantai papan kayu di atas kepalanya.
Gema suara musik seruling dan petikan kecapi mulai terdengar samar dari arah ruang perjamuan utama. Gelak tawa para petinggi kota dan sesepuh sekte bersahut-sahutan, menutupi desis napas Ma Huang di dalam celah batu.
Ma Huang mendorong pintu kayu kecil penutup celah pembuangan di balik tumpukan karung beras Dapur Barat. Ruangan dapur dalam keadaan sepi, hanya ada beberapa kuali tembaga raksasa yang masih mengepulkan uap sup daging. Dua juru masak tampak tertidur lelap di atas bangku kayu, tidak menyadari kehadiran Ma Huang yang melangkah keluar dari kegelapan.
Ma Huang melangkah menyusuri lorong belakang yang dipenuhi lampion merah. Langkah kakinya seringan bulu, menapak tepat di garis sambungan papan kayu agar tidak menimbulkan decitan.
Di ujung lorong, dua prajurit berlapis zirah besi ringan berdiri bersandar pada pilar merah dengan tombak panjang di tangan. Mereka sedang membicarakan kabar kemenangan Song Chen di Kediaman Pengrajin Barat.
"Pesta malam ini pasti meriah. Tuan Muda Song Chen membawa cairan racun itu kembali," kata prajurit berwajah brewok seraya meneguk arak dari bumbung bambu.
"Tuan Muda Ma Huang dari Keluarga Ma yang malang itu pasti sudah menjadi abu di dasar sumur," sahut prajurit kedua dengan tawa terkekeh.
Sebelum tawa prajurit kedua reda, sebuah tangan kaku berbalut racun hitam muncul dari balik pilar merah. Tangan Ma Huang mencengkeram rahang prajurit brewok dari belakang, memuntir lehernya hingga berbunyi gemeretak patah. Pada saat bersamaan, lutut kanan Ma Huang menghantam dada prajurit kedua kencang, menahan napas dan jeritannya di udara.
Pedang Tulang Hitam meluncur kilat menembus celah zirah di bawah ketiak prajurit kedua, menusuk lurus ke ulu hati. Kedua tubuh prajurit itu diseret Ma Huang ke dalam bilik penyimpanan arak di samping lorong tanpa meneteskan darah di lantai kayu.
Ma Huang merayap naik ke atas kayu penyangga langit-langit aula perjamuan utama. Dari celah ukiran kayu berpelitur emas, ia bisa melihat seluruh isi ruangan pesta yang diterangi oleh ratusan lilin minyak duyung.
Di tengah aula, meja-meja bundar dipenuhi oleh makanan mewah dan kendi arak berlapis emas. Petinggi Sekte Pedang Suci dan pejabat Yunjiang duduk melingkar dengan pakaian serba mewah. Namun, pandangan Ma Huang tertuju lurus pada panggung utama di ujung ruangan.
Jian Yue duduk anggun di samping kursi kebesaran ayahnya, mengenakan gaun pengantin sutra merah bersulam benang perak. Wajahnya yang cantik tampak tenang, namun sepasang matanya berulang kali melirik ke arah pintu gerbang utama yang masih tertutup rapat.
Di sebelah kanan panggung, berdiri seorang pria tua berjubah putih dengan lambang pedang keemasan di dadanya. Guru Agung Sekte Pedang Suci, Zhao Feng. Di samping tangannya, sebuah kotak kayu berukir naga diletakkan di atas meja kecil. Kotak berisi kepingan kunci makam pusaka.
Zhao Feng berdiri seraya mengangkat cawan emasnya tinggi-tinggi. Udara di dalam aula mendadak hening seketika saat pria tua itu berdehem pelan.
"Malam ini, kita tidak hanya merayakan penyatuan dua sekte besar," suara Zhao Feng bergema nyaring, didukung Qi murni yang menekan dada setiap tamu di ruangan. "Tapi kita juga merayakan tumpasnya sisa-sisa pengkhianat dari Keluarga Ma!"
Sorak-sorai petinggi kota membahana di seluruh sudut aula. Jian Yue mengangkat cawan emasnya dengan senyum tipis yang dingin di bibirnya.
Tiba-tiba, sebuah benda bulat membungkus kain hitam jatuh membentur meja utama di depan Zhao Feng. Benda itu berguling pelan, menghentikan deretan kendi arak sebelum akhirnya berhenti di depan cawan emas Jian Yue.
Kain hitam itu terkuak sedikit. Kepala Song Chen yang pucat pasi dengan mata melotot kaku menatap lurus ke wajah Jian Yue.
Jeritan histeris beberapa wanita memecah keheningan aula. Zhao Feng terbelalak kaku, cawan emas di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke lantai batu.
Di atas pilar kayu utama di tengah aula, sebuah bayangan hitam melompat turun dengan tenang. Ma Huang mendarat di tengah-tengah meja perjamuan, menginjak piring emas hingga remuk. Pedang Tulang Hitam di tangan kanannya meneteskan darah kental yang memercik ke wajah Jian Yue.
"Pesta baru saja dimulai, Guru Agung," kata Ma Huang dengan nada dingin yang menghentikan napas semua orang di aula.