Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapyr yang Dingin
Pagi hari di rumah kontrakan sempit itu dimulai tanpa suara gemercik air dari wastafel atau kepulan asap harum dari kompor gas. Dapur kecil yang biasanya menjadi pusat kesibukan Eda menyiapkan sarapan pagi kini tampak sunyi, bersih, dan dingin. Tidak ada panci berisi air yang direbus, tidak ada wajan yang mendesis, dan tidak ada mangkuk saji untuk Agus.
Eda baru saja keluar dari kamar tidurnya pukul setengah enam pagi. Ia mengenakan seragam dinas harian cokelat mudanya dengan sangat rapi, jilbab marun yang membingkai wajahnya disematkan tanpa cela, dan tas kerjanya sudah tergantung di bahu.
Di ruang tengah, Agus duduk termangu di kursi plastik dekat meja makan. Pria itu menatap meja kosong di hadapannya dengan kening berkerut dalam. Biasanya, tepat pukul lima lewat seperempat, secangkir kopi hitam manis lengkap dengan piring kecil berisi pisang goreng atau kue pasar selalu tersaji di sana. Namun hari ini, meja kayu itu benar-benar steril hanya ada sebuah asbak kosong dan bungkus rokok milik Agus sendiri.
Mendengar langkah kaki Eda yang mendekat ke arah pintu depan, Agus mendongakkan kepalanya. Wajah suaminya itu tampak kusut, kusam, dan memancarkan kekesalan yang tertahan.
"Ed," panggil Agus dengan suara serak khas bangun tidur. Ada nada protes yang kentara di balik tekanan suaranya. "Kamu ini mau ke mana? Kenapa dari tadi pagi tidak ada suara aktivitas di dapur? Air panas buat kopi saja tidak ada."
Eda menghentikan langkahnya sejenak di dekat rak sepatu. Ia menoleh menatap Agus dengan pandangan yang tenang dan datar, tanpa ada secercah rasa bersalah di matanya.
"Aku mau berangkat ke sekolah, Agus," jawab Eda lugas. "Soal air panas atau kopi, kompor di dapur masih ada, gasnya juga masih terisi separuh. Kalau kamu mau minum kopi, kamu bisa rebus air sendiri."
Mata Agus membelalak lebar mendengar jawaban istrinya. Selama lima belas tahun menikah, baru kali ini Eda menyuruhnya membuat keperluan sendiri secara terang-terangan.
Agus langsung bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Eda dengan napas memburu. "Kamu ini bicara apa, Ed?! Sejak kapan suami disuruh bikin kopi sendiri sama istrinya?! Itu kan pekerjaan kamu di rumah!"
Eda menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan lewat hidung. Ia menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang mulai memerah karena emosi.
"Sejak kemarin-kemarin, saat kamu memilih jadi penonton saat aku dicaci maki keluargaku sendiri, dan sejak aku sadar kalau tenagaku bukan untuk melayani laki-laki yang tidak mau menghargaiku," balas Eda tanpa meninggikan suaranya sedikit pun, namun setiap kata yang keluar terdengar sangat tajam dan menohok.
Sebelum Agus sempat menyusun kata-kata makian untuk membalas, pintu kamar sebelah terbuka. Ibu Ratna melangkah keluar dengan bantuan tongkat kayunya, wajah wanita tua itu tampak masam melihat ketegangan di antara anak menantunya.
"Ada apa lagi ini pagi-pagi ribut?!" omel Ibu Ratna dengan nada suara parau dan ketus. "Eda! Kamu bikin gara-gara apa lagi sama suamimu?! Belum cukup kemarin bikin mobil Doni disita sampai rumah ini kacau, sekarang suamiku tidak disiapkan sarapan dan kopi?!"
Eda menoleh pada ibunya. Pandangannya tetap tenang, tidak lagi menciut atau gemetar seperti dulu tiap kali sang ibu membentaknya.
"Ma, Eda ini bukan pembantu rumah tangga yang digaji untuk melayani semua orang di rumah ini," tutur Eda lembut namun tegas. "Agus punya tangan dan kaki yang sehat. Kalau dia mau minum kopi atau sarapan, dia bisa buat sendiri. Eda harus berangkat kerja."
"Durhaka kamu, Ed!" bentak Ibu Ratna sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai plastik kontrakan. "Kamu makin lama makin kurang ajar sama suami dan orang tuamu sendiri!"
Eda tidak lagi terpengaruh oleh drama atau makian itu. Ia memutar tubuhnya, membuka kunci pintu depan, lalu melangkah keluar melewati teras sempit.
"Assalamu’alaikum," pamit Eda datar.
Brak!
Suara bantingan pintu dari dalam mengiringi langkah Eda yang kini sudah menapak di halaman luar. Agus dan ibunya mungkin sedang mengamuk di dalam sana, meluapkan kemarahan karena kendali atas diri Eda telah sepenuhnya lepas dari genggaman mereka.
Eda melangkah menyusuri gang dengan kepala tegak. Udara pagi Kota Solo terasa begitu segar menerpa wajahnya. Di dalam dadanya, tidak ada lagi rasa sesak atau sesal; yang ada hanyalah keyakinan utuh bahwa langkah yang ia ambil hari ini adalah awal dari pemulihan harga dirinya yang sempat hilang.