Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inspeksi Mendadak dan Aroma Lavender
Pagi itu, Andrian menghabiskan waktu dua kali lipat lebih lama di kamar mandi. Dia menggosok tangan kirinya menggunakan sabun cair beraroma lavender, sikat cuci baju, hingga irisan jeruk nipis yang dia temukan layu di sudut kulkasnya. Semuanya demi satu tujuan absolut: menghilangkan jejak bau minyak bumbu mi instan soto.
Ucapan Elena semalam, meskipun mungkin hanya candaan, terpatri kuat di otak Andrian.
Hasil dari usahanya yang terlalu berlebihan itu terlihat begitu Andrian melangkah masuk ke kubikel divisi operasional.
Budi yang sedang mengunyah lemper langsung bersin dua kali berturut-turut. Fajar mendongak dari balik layarnya dengan dahi berkerut tajam.
“Lu habis mandi kembang tujuh rupa di salon mana, Ndri?” tegur Budi sambil mengusap hidungnya. “Wangi lavender lu nyengat banget, ngalahin pengharum ruangan lobi.”
Andrian meringis, buru-buru duduk dan menyalakan komputernya. “Biar seger, Mas. Menjaga citra divisi operasional di mata HRD.”
“Citra apanya, yang ada klien pusing nyium bau lu,” cibir Fajar, meski dia tidak menyuruh Andrian pulang untuk mandi lagi.
“Udah, berhubung lu udah wangi, kerjain rekap tender logistik bulan ini. Siang ini harus—”
Kalimat Fajar terputus oleh suara dering telepon internal yang melengking. Panggilan dari lantai VIP.
Fajar mengangkatnya dengan gerakan kaku. Wajahnya berubah pucat dalam hitungan detik. “B-Baik, Bu. Kami akan bersiap.”
Begitu telepon ditutup, Fajar berdiri, menepuk tangannya dengan panik ke udara.
“Semuanya, rapikan meja kalian! Jangan ada dokumen berserakan! Jangan ada sisa makanan! Bu Elena dan tim audit turun ke lantai kita untuk inspeksi mendadak sekarang juga!”
Kepanikan massal langsung melanda lantai lima belas. Budi menelan lempernya bulat-bulat dan menyembunyikan bungkus daun pisangnya ke laci paling bawah. Rendy dan Doni yang baru datang langsung mematung dengan posisi standby di dekat mesin fotokopi.
Andrian merasakan perutnya melilit. Inspeksi mendadak? Di jam kerja awal?
Hanya butuh waktu tiga menit sebelum denting lift memecah keheningan yang mencekam itu.
Elena melangkah keluar, diikuti Maya di sebelah kanannya dan dua orang manajer senior di belakangnya.
Hari ini, sang CEO mengenakan blazer putih gading dengan garis potong asimetris yang tegas, dipadukan dengan celana palazzo senada.
Langkahnya pelan namun setiap ketukan hak sepatunya di lantai marmer seolah menghitung mundur sisa napas para karyawan operasional.
Wajah Elena sepenuhnya terkunci dalam mode Direktur Utama. Dingin, tanpa ekspresi, matanya memindai setiap sudut ruangan dengan ketelitian tingkat tinggi.
“Fajar,” suara Elena terdengar jernih, membelah keheningan.
Fajar segera maju, menundukkan kepalanya. “Selamat pagi, Bu Elena.”
“Saya ingin melihat langsung sistem pengarsipan fisik untuk kontrak vendor kuartal ini. Maya bilang divisi Anda belum sepenuhnya mengintegrasikan data tersebut ke cloud sentral.”
“B-Benar, Bu. Sedang dalam proses pemindahan oleh tim administrasi dan... anak magang kami,” jawab Fajar, tanpa sadar melemparkan tanggung jawab itu ke arah meja paling sudut. Meja Andrian.
Mata Elena perlahan beralih mengikuti arah pandangan Fajar.
Andrian, yang sedari tadi menunduk pura-pura membaca dokumen yang bahkan terbalik, langsung menegang saat menyadari fokus sang CEO kini beralih kepadanya.
Elena berjalan mendekat. Maya dan kedua manajer senior itu mengikuti di belakangnya. Suasana kubikel Andrian tiba-tiba terasa seperti zona eksekusi. Budi di sebelah Andrian bahkan menahan napas sampai wajahnya memerah.
Elena berhenti tepat di depan meja Andrian.
Jarak mereka tidak lebih dari satu meter. Andrian buru-buru berdiri, menunduk hormat dengan punggung kaku.
“S-Selamat pagi, Bu Elena.”
Elena menatap meja Andrian yang untungnya tertata sangat rapi, lalu pandangannya naik menatap wajah pemuda itu. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Elena hanya diam. Matanya yang tajam menelisik, seolah sedang mencari celah kesalahan sekecil apa pun.
Lalu, Elena memiringkan kepalanya sedikit. Hidungnya nyaris tak terlihat menarik napas pelan.
Di detik berikutnya, ada perubahan mikroskopis di sudut bibir wanita itu. Sesuatu yang terlalu cepat untuk ditangkap oleh Fajar atau Budi, tetapi disadari sepenuhnya oleh Andrian karena dia sedang menatap mata CEO itu dengan panik.
“Andrian,” panggil Elena pelan.
“Y-Ya, Bu?”
“Progres pemindahan datanya,” ucap Elena dengan nada datar dan profesional, sengaja menggantung kalimatnya sesaat, “saya harap bisa sebersih dan mewangi meja kerjamu hari ini.”
Maya di belakang Elena mengerjap bingung mendengar pilihan kata bosnya. Fajar mengerutkan kening. Mengapa Bu Elena tiba-tiba membahas wangi meja?
Namun bagi Andrian, sindiran halus itu lebih mematikan daripada peluru. Wajahnya langsung memerah padam menahan malu, menyadari bahwa Elena sedang secara langsung mengejek usahanya menghilangkan bau mi instan semalam.
“B-Baik, Bu. Akan saya selesaikan secepatnya, dan sebersih mungkin,” jawab Andrian menelan ludah, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Elena menatapnya satu detik lebih lama, lalu berbalik dengan anggun.
“Fajar, pastikan laporannya ada di meja saya besok pagi. Ayo, Maya.”
Rombongan petinggi itu akhirnya meninggalkan lantai operasional. Terdengar helaan napas lega serempak dari puluhan orang di ruangan itu. Fajar merosot ke kursinya, mengusap keringat di dahinya.
Budi menyikut lengan Andrian pelan.
“Gila, Ndri. Lu pake pelet apa sih? Seumur-umur gue kerja di sini, belum pernah Bu Elena ngomentari meja karyawan wangi. Lu disindir apa dipuji tuh tadi?”
“Disindir, Mas. Jelas disindir,” rutuk Andrian pelan sambil mengusap wajahnya yang masih memanas.
Tidak sampai lima menit kemudian, ponsel di saku Andrian bergetar. Dia tidak perlu menebak siapa pengirimnya. Dengan merunduk bersembunyi di balik layar komputernya, Andrian membuka pesan tersebut.
> Elena: Lavender? Pilihan yang sangat berani untuk seorang pekerja operasional.
Andrian mendengus pelan, jemarinya mengetik dengan emosi yang tertahan.
> Andrian: Lu sengaja kan turun ke lantai gue cuma buat ngecek bau tangan gue?!
> Elena: Jangan terlalu percaya diri. Saya CEO, tugas saya memastikan semua operasional berjalan lancar, termasuk memastikan tidak ada polusi udara di ruang kerja. Dan untungnya, kamu lulus standar kebersihan hari ini.
> Andrian: Jantung gue mau copot pas lu berhenti di depan meja gue! Mas Fajar sama Mas Budi udah mikir yang nggak-nggak. Lu bisa nggak sih kalau di kantor jangan bikin eye contact yang mengintimidasi kayak gitu?
Di ruang VIP, Elena yang baru saja duduk kembali di kursinya tertawa tanpa suara. Bermain-main dengan Andrian di dunia nyata ternyata memberikan sensasi kepuasan tersendiri.
> Elena: Kenapa? Kamu takut terpesona? Atau takut ketahuan kalau kamu menghabiskan waktu dua jam di kamar mandi hanya untuk memastikan bosmu ini tidak mencium aroma soto?
Andrian menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Bosnya ini benar-benar tidak punya ampun, baik di dunia nyata maupun di chat.
> Andrian: Terserah lu deh, Len. Gue nyerah. Lu menang. Sekarang biarin gue kerja, mumpung wangi lavender gue belum luntur.
> Elena: Selamat bekerja, Andrian. Jangan lupa, nanti siang bawakan dokumen evaluasi ke ruanganku. Saya tunggu jam dua belas tepat.
Membaca perintah terakhir itu, Andrian kembali mematung. Diantar langsung ke ruangannya? Sendirian?
Andrian menatap sisa sabun cuci tangannya di ujung meja dengan tatapan putus asa. Jam dua belas siang nanti, dia harus kembali masuk ke sarang Ratu Es.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨