NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Napas keduanya berembus memburu, membelah dinginnya angin malam di lereng rumput tepi sungai.

Cinderella berada di atas tubuh Draxler dengan posisi gaun kerjanya yang sudah kusut berantakan, sementara Draxler berbaring terlentang dengan pakaian yang tak kalah kotor terkena noda tanah dan rumput basah.

Saling mengunci tatapan dalam jarak yang teramat dekat, keduanya hening selama beberapa detik.

Draxler memperhatikan rambut Cinderella yang acak-acakan, riasan matanya yang sedikit luntur, serta satu kakinya yang kini tanpa alas.

Tiba-tiba, tawa Draxler pecah begitu saja.

Pria muda itu tertawa lepas, menggelengkan kepalanya melihat betapa absurdnya penampilan wanita dewasa berbakat gila di depannya ini.

"Kau menertawakanku?!" bentak Cinderella dengan mata melebar.

Namun sebelum Draxler sempat menjawab, pertahanan diri Cinderella yang dibangun rapat-rapat sejak siang tadi mendadak runtuh total.

Tangisannya pecah.

Bukan sekadar isakan pelan, melainkan tangisan histeris yang begitu keras, memecah kesunyian malam di tepi sungai.

Air matanya mengalir deras tanpa terbendung, membasahi pipinya yang memerah.

Tangisan itu benar-benar di luar perkiraan Draxler—sangat kontras dengan sikap garang dan galak yang wanita itu tunjukkan beberapa menit yang lalu.

Draxler yang kaget setengah mati langsung panik.

Keduanya kini menjadi pusat perhatian beberapa orang dan pengunjung area perkemahan yang mulai menengok curiga dari kejauhan.

"Hei, hei... Berhenti menangis! Kau membuat semua orang salah paham!" bisik Draxler panik seraya memegang kedua bahu Cinderella, berusaha menenangkannya.

"Kau harus tanggung jawab, Brengsek! Kau harus tanggung jawab!" jerit Cinderella disela isakannya yang makin menderu.

"Tanggung jawab apa? Aku bahkan tidak menyentuhmu!" jawab Draxler frustrasi.

"Huhuhu... Kau sialan! Katakan di mana mobilku! Aku ingin pulang!"

Cinderella menangis makin kencang, persis seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.

Seluruh beban pengkhianatan keluarganya, pernikahan yang batal, rasa lelah bekerja siang malam, hingga hilangnya kendaraan tempat ia menyimpan barang-barangnya, menumpuk menjadi satu ledakan emosi yang tak tertahankan.

Draxler menghela napas panjang.

Ia tidak ingin disalahpahami lebih jauh sebagai pria jahat yang menganiaya wanita di tempat umum.

Dengan cekatan, Draxler membantu Cinderella berdiri. Ia membungkuk untuk memungut satu sepatu hak tinggi Cinderella yang terlempar di rumput, lalu menenteng pasangannya.

Melihat Cinderella yang meracau dan lemas tak berdaya, Draxler membalikkan badan dan merendahkan tubuhnya.

"Naiklah. Aku akan membawamu dari sini."

Tanpa banyak protes, Cinderella yang sudah kehabisan daya merengkuh leher Draxler, membiarkan pria muda itu menyangga paha dan membawanya dalam gendongan belakang.

"Aku tidak punya rumah... Dan mobilku hilang... Lalu di mana aku akan tidur malam ini? Huhuhu..." racau Cinderella pelan di samping telinga Draxler.

"Diamlah, aku akan mencarikanmu tempat aman," gumam Draxler sabar.

Sepanjang perjalanan melintasi jalanan lengang, Draxler terus berusaha menenangkan wanita di punggungnya.

Isakan Cinderella perlahan memelan, berganti menjadi hembusan napas yang teratur.

Beban berat di hatinya yang telah ia umpati sepanjang jalan akhirnya membuat pertahanan fisiknya ambruk; Cinderella tertidur lelap di punggung hangat Draxler.

Draxler memutuskan untuk membawa wanita itu ke apartemen pribadinya—sebuah griya tawang mewah berdesain modern yang terletak di pusat kota.

Tempat itu sebenarnya merupakan tempat tinggal bersama dirinya dan Dua saudara kembarnya.

Namun malam ini, penthouse luas berlantai dua itu tampak begitu sepi dan hening.

Saudara-saudaranya sedang tidak berada di tempat karena kesibukan masing-masing.

Dengan langkah sepelan mungkin agar tidak membangunkan Cinderella, Draxler mendorong pintu unitnya, melintasi ruang tamu bernuansa monokrom yang elegan, lalu melangkah menuju kamar pribadinya.

Ia membaringkan tubuh Cinderella perlahan ke atas ranjang berukuran king-size miliknya.

Draxler melepas sepatu yang tersisa di kaki wanita itu, membenarkan posisi tidurnya, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dada Cinderella.

Draxler berdiri sebentar di sisi ranjang, menatap wajah lelap Cinderella di bawah temaram lampu tidur.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Draxler berada sedekat ini dengan seorang wanita di kamar pribadinya.

Ada rasa aneh yang mengusiknya, namun keputusan membawanya ke sini dirasanya jauh lebih benar daripada membiarkannya terlantar di jalanan—terlebih mengingat wanita ini tadi hampir melompat ke sungai dan kehilangan mobilnya.

Saat Draxler hendak berbalik untuk meninggalkan kamar, kelopak mata Cinderella bergerak pelan.

Wanita itu terbangun, mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya redup di ruangan asing tersebut.

Cinderella memindai sekeliling kamar yang harum dan tertata rapi, lalu pandangannya terkunci pada sosok tinggi Draxler yang berdiri di samping ranjang.

Ingatannya perlahan pulih.

"Terima kasih..." ucap Cinderella lirih.

Suaranya serak akibat menangis terlalu lama.

Draxler mengangguk pelan. Ia melangkah mendekat sejenak, mengulurkan tangan untuk membetulkan posisi ujung selimut Cinderella agar wanita itu merasa lebih nyaman.

"Istirahatlah. Kau aman di sini," kata Draxler lembut.

Namun, saat Draxler membalikkan badan dan berniat melangkah pergi meninggalkan kamar, sebuah selip jemari yang dingin mendadak menahan pergelangan tangannya erat-erat.

Draxler menghentikan langkah dan menoleh. Cinderella menatapnya dari atas ranjang dengan binar mata yang campur aduk.

"Jangan tinggalkan aku..." bisik Cinderella pelan.

Nada suaranya sarat akan keputusasaan dan ketakutan akan kesendirian.

Draxler tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan.

"Aku tidak pergi ke mana-mana. Aku hanya akan tidur di kamar sebelah, Istirahatlah, Nona."

Namun, dorongan luka hati, rasa ditolak yang bertubi-tubi dari keluarganya, serta kepahitan diabaikan oleh pria yang ia percaya, membuat pikiran Cinderella bertindak di luar kendali.

Ia tidak ingin ditinggalkan lagi.

Ia tidak ingin diabaikan lagi.

Secara impulsif, Cinderella menegakkan tubuhnya di atas ranjang.

Sebelum Draxler sempat menarik tangannya, Cinderella menarik tubuh pria muda itu mendekat dan memajukan wajahnya.

Cup.

Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Draxler.

Draxler membeku seketika.

Matanya melebar penuh kejutan, dadanya berdesir hebat merasakan sentuhan hangat yang sama sekali tak terduga itu.

Cinderella melepaskan tautan bibir mereka, menatap lurus ke dalam manik mata Draxler dengan pandangan tegas namun liar oleh emosi yang patah.

"Mau jadi gigoloku? Aku akan menjamin semua hidupmu," bisik Cinderella tanpa ragu.

Deg.

"Gigolo?"

Draxler mengulang kata itu dengan nada tidak percaya.

Suaranya sedikit meninggi, memecah keheningan kamar yang remang.

Matanya membelalak menatap wanita di depannya, seolah memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang bermasalah.

"Tidak-tidak! Aku tidak mau," tolak Draxler cepat sambil menggerakkan kedua tangannya di udara, berusaha memberi jarak aman di antara mereka.

Cinderella memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Draxler.

Manik mata pemuda itu memancarkan kepolosan dan kejujuran yang sudah lama tak pernah Cinde lihat dari pria-pria di lingkungannya.

Selama ini, pria yang mendekatinya selalu memiliki topeng licik dan senyum penuh manipulasi.

Namun pemuda di depannya ini terlihat begitu transparan, jujur, dan... lugu.

Sensasi hangat mendadak menjalar di dada Cinde.

Dalam kondisinya yang hancur dan merasa dibuang oleh keluarganya sendiri, sebuah ide gila terpikirkan olehnya.

Jika semua orang memanfaatkannya demi uang dan status, kenapa ia tidak membeli kesetiaan seseorang saja sekalian?

"Aku bisa membelikanmu mobil," potong Cinderella santai, suaranya terdengar sangat yakin meski matanya masih menyisakan bekas sembap.

"Kau tidak perlu berjalan kaki menembus dinginnya malam seperti tadi lagi."

Draxler mengedipkan matanya bingung. "Tunggu, aku—"

"Dan lihat apartemen ini," lanjut Cinde tanpa memberi ruang bagi Draxler untuk menyela.

Matanya melirik ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit, menyapu interior penthouse yang serba minimalis namun luas.

"Sepertinya ini apartemen dengan empat kamar yang kau sewa bersama teman-temanmu, kan? Aku tahu betul kehidupan mahasiswa. Kalian harus membanting tulang, membagi uang sewa, dan menahan lapar di akhir bulan. Aku mengerti keadaan mahasiswa seperti dirimu."

Cinderella menepuk sisi ranjang di sampingnya dengan gaya seperti seorang bos besar yang sedang menawarkan kontrak kerja eksklusif.

"Jadilah milikku. Aku punya uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh gaya hidupmu, membayar seluruh biaya kuliahmu, bahkan membawamu keluar dari tempat sewaan ini jika kau mau."

Mendengar rentetan kalimat yang meluncur mulus dari bibir cantik wanita itu, Draxler menghela napas panjang.

Ia menahan kebiasaannya untuk menepuk jidat sendiri.

Mahasiswa miskin?

Menyewa apartemen?

Berjalan kaki karena tidak punya uang?

Draxler berusaha keras mencerna alur berpikir Cinderella yang terlampau jauh melenceng dari kenyataan.

Memang benar, penthouse mewah dua lantai ini ditempati oleh dirinya dan saudara kembarnya.

Tapi menyewa? Sama sekali tidak.

Hunian komersial kelas atas di pusat kota ini adalah aset pribadi yang dibeli tunai oleh keluarga Ashford untuk mereka huni selama masa studi.

Soal uang? Draxler Lutolf Ashford adalah putra dari keluarga Ashford yang kekuatan finansialnya sanggup mengguncang bursa saham internasional dalam hitungan detik.

Ia tidak pernah kekurangan uang sepersen pun sepanjang 19 tahun hidupnya.

Adapun aksinya berjalan kaki malam ini murni karena tantangan konyol dari teman-teman gengnya akibat kalah taruhan, lengkap dengan penyitaan kunci mobil serta ponselnya.

Namun, alih-alih tersinggung oleh anggapan salah kaprah tersebut, Draxler justru merasa iba melihat wanita di depannya.

Sikap dominan dan tawaran gilanya itu sangat jelas hanyalah bentuk pertahanan diri dari seorang wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping.

"Tidurlah," ucap Draxler dengan suara selembut mungkin, mencoba mengabaikan tawaran 'pekerjaan' gila tadi.

"Kau sedang tidak baik-baik saja, Nona. Otakmu butuh istirahat."

Draxler membalikkan badan dan berniat melangkah mundur untuk keluar dari kamar sebelum situasi makin tidak terkendali.

Namun, bukannya mengiyakan atau menurut untuk tidur, Cinderella justru bertindak semakin agresif.

Rasa takut akan ditinggalkan kembali menguasai kesadarannya.

Dengan gerakan cepat, Cinde menegakkan tubuhnya, berlutut di atas ranjang, lalu menyambar kerah baju Draxler.

Sebelum pemuda itu sempat menghindar, Cinde menarik wajah Draxler dan mendaratkan kecupan di bibirnya lagi.

Cup.

Draxler terpaku.

Cup.

Satu kecupan kesekian kalinya mendarat, kali ini sedikit lebih lama dan penuh penekanan, menyalurkan segala rasa kepahitan, kemarahan, dan kesepian yang berkecamuk di dalam dada Cinderella.

Desiran hangat membanjiri tubuh Draxler.

Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

Sebagai seorang pemuda berusia 19 tahun yang selalu menjaga jarak aman dari wanita, serangan mendadak ini benar-benar membuat seluruh pertahanan dan akal sehatnya berada di ambang batas.

Aroma parfum floral mahal yang menyerbak dari tubuh Cinderella beradu dengan napas hangat wanita itu, mengacaukan fokus Draxler.

Dengan sisa kendali diri yang tersisa, Draxler memegang kedua pergelangan tangan Cinderella dengan lembut namun tegas, mendorong tubuh wanita itu secara perlahan agar menjauh dari wajahnya.

"Oh, tidak... Ku mohon, aku tidak bisa melakukannya," ucap Draxler terengah-engah.

Suaranya bergetar berat, berusaha keras mengendalikan dorongan dalam dirinya.

"Kau sedang mabuk emosi, Nona. Dan aku... aku tidak ingin mengambil keuntungan dari wanita yang sedang terluka."

Cinderella menatap Draxler dengan pandangan sayu dan bibir yang sedikit terbuka.

"Kenapa? Kau juga ingin menolakku? Seperti semua orang?"

"Bukan begitu," jawab Draxler cepat, matanya menatap lurus ke mata Cinde tanpa ada niat jahat sedikit pun.

"Aku hanya ingin kau beristirahat. Kita bisa bicara lagi besok pagi saat pikiranmu sudah jernih."

Draxler perlahan merebahkan kembali tubuh Cinderella ke atas kasur empuk.

Kali ini, ia tidak memberi kesempatan lagi bagi Cinde untuk memprotes.

Dengan sigap, Draxler menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh wanita itu sampai batas bahu, lalu memegang jemari tangan Cinde yang terasa dingin.

"Aku tidak akan pergi jauh. Aku ada di kamar sebelah," bisik Draxler menenangkan, sambil membiarkan tangannya di genggam erat oleh Cinderella hingga perlahan-lahan napas wanita itu kembali teratur dan matanya terpejam lelah.

Draxler memandangi wajah lelap Cinderella beberapa saat, menghela napas panjang seraya mengusap rambutnya yang berantakan.

Malam ini benar-benar menjadi malam paling aneh sekaligus mendebarkan dalam hidup seorang Draxler Lutolf Ashford.

...----------------...

Happy reading 🌷

1
Agus Tina
Bagus sekali ceritanya thor, sukaaaaa 🤍🤍🤍🤍
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶 sehat selalu 😍
total 1 replies
Agus Tina
Setepah kematian Cinderela aku berharap perusahaan ayahnya gulung tikar, kebenaran bahwa Cinderelalah itak dibalik kesuksesan perusahaan mereka terkuak ke publik ...
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
mkasih uda up Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: terimakasih kak readers 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan thor...
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!