Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Sejak memutuskan pergi ke Jakarta, Dera mulai menyusun rencana secara diam-diam. Ia tidak ingin memberitahu siapa pun, tentang kepergiannya. Bukan karena takut dilarang, tetapi karena Dera sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan keluarganya. Ia hanya ingin pergi sebelum keberaniannya kembali runtuh.
Dera memandangi layar ponselnya yang masih gelap. Ada satu nama yang langsung terlintas di pikirannya. Dia adalah Rere, teman dekatnya sejak masa kuliah yang sekarang bekerja dan tinggal di Jakarta.
Dera menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggilan.
Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
"Halo, Dera. Kenapa? Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Rere dari seberang telepon.
Dera terdiam sejenak. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya."Re..." suaranya pelan.
"Hmm? Iya Der, kenapa?" tanya Rere.
"Aku bisa numpang dulu di kosanmu tidak? Nanti kalau aku sudah dapat kos sendiri, aku akan pindah." tanya Dera
Rere langsung terdengar terkejut. "Kamu mau ke Jakarta?"
"Iya, Re. Aku berencana bekerja di sana."
"Serius?"
"Iya."
Rere terdiam beberapa saat. "Bukannya kamu menikah?"Pertanyaan sederhana itu membuat dada Dera kembali terasa nyeri.
Dera menunduk sambil memegangi dadanya."Ceritanya panjang, Re. Nanti saja kalau ketemu aku ceritakan."
Rere tidak langsung bertanya lagi. Mungkin ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari suara Dera. "Baiklah. Ke sini saja. Aku tunggu."
Dera mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Re."
"Sama-sama, Der. Kamu hati-hati, ya."
"Iya."
"Kalau sudah berangkat, kabari aku."
"Pasti."
Setelah berbicara beberapa menit, keduanya akhirnya mengakhiri panggilan.
Dera meletakkan ponselnya di atas kasur.Ia akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya ia sudah memiliki tempat untuk dituju, selama di Jakarta. Tempat yang jauh dari rumah ini, tempat di mana ia bisa memulai semuanya dari awal.
Dera kemudian membuka lemari dan mulai mengemasi pakaian miliknya. Satu persatu dia lipat, dan dimasukkannya ke dalam koper. Pakaian kerja, dokumen penting, beberapa barang pribadi lainnya. Tidak banyak yang ia bawa. Ia sengaja meninggalkan sebagian besar barangnya di rumah.
Baginya, semua benda itu hanya kenangan dari kehidupan yang ingin ia tinggalkan.
Ketika membuka laci meja, tangan Dera berhenti.
Di dalamnya terdapat kotak kecil berwarna hitam.
Kotak yang sudah lama tidak ia sentuh.
Dera perlahan mengambilnya, ia tahu apa isinya.
Cincin pertunangan dari Galih. Cincin yang dulu diberikan Galih dengan penuh keyakinan.
Dera masih ingat hari ketika Galih memasangkan cincin itu di jarinya.
"Ini bukan sekadar cincin, Der. Aku memberikan ini karena aku serius ingin menjadikanmu istriku." kata Galih waktu itu.
Dera tersenyum ketika mengingatnya. Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Kini cincin tersebut terasa seperti benda yang tidak memiliki arti.
Dera membuka kotaknya. Cincin itu masih terlihat indah, berkilau terkena cahaya lampu kamar.
Dera mengambilnya. Ia memasukkan cincin itu ke telapak tangannya. "Katamu aku akan menjadi istrimu, tapi ternyata cincin ini bahkan tidak mampu membuatmu menepati janji." Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dera menggenggam cincin itu erat. Ia kemudian mengusap air matanya. Ia tidak ingin membawa benda itu ke Jakarta, ia tidak ingin menyimpan sesuatu yang hanya akan mengingatkannya pada pengkhianatan.
*
*
Keesokan paginya, tanpa memberitahu siapa pun, Dera pergi meninggalkan rumah. Ia membawa tas kecil yang di selempangkan di bahunya. Dera meminta sopir ojek membawanya, mengantarnya ke sebuah toko emas di pusat kota.
Sesampainya di sana, Dera turun dan masuk sendirian.
Seorang pegawai menyambutnya."Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa kami bantu?"
Dera mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. "Saya ingin menjual cincin ini" ucap Dera.
Pegawai itu menerima kotak tersebut. "Baik, Kak. Boleh kami lihat dulu?" tanyanya ramah.
Dera menyerahkannya cincin tersebut kepada pegawai toko.
Cincin itu diperiksa dengan teliti, dari beratnya timbangannya, kadar emasnya diperiksa. Pegawai tersebut kemudian menyebutkan harga yang bisa diberikan toko.
Dera mendengarkan tanpa banyak bicara. Jumlahnya tidak sebesar harga saat Galih membelinya. Namun Dera tidak peduli.
"Baik. Saya jual." jawab Dera.
"Yakin, Kak?" pegawai toko memasikan lagi.
Dera mengangguk."saya sudah yakin."
Beberapa menit kemudian, uang hasil penjualan cincin itu masuk ke rekening Dera. Ia menatap layar ponselnya.
Dulu cincin itu menjadi simbol sebuah janji. Hari ini, cincin itu berubah menjadi bekal untuk meninggalkan masa lalu.
Dera keluar dari toko emas dengan langkah pelan.
Ia berhenti di depan pintu toko dan menarik napas panjang."Selamat tinggal, Galih."
Matanya berkaca-kaca.
"Mulai hari ini, aku tidak punya alasan untuk menunggumu lagi."
Dera kemudian berjalan menuju jalan raya. Ia tidak tahu bagaimana kehidupannya di Jakarta nanti.
Ia tidak tahu pekerjaan apa yang akan didapatkannya. Ia juga tidak tahu apakah ia akan mampu bertahan seorang diri di kota sebesar Jakarta.Tetapi setidaknya, ia tahu satu hal. Ia harus pergi. Sebab jika tetap tinggal, luka itu tidak akan pernah sembuh. Namun Dera tidak menyadari bahwa kepergiannya ternyata sudah diketahui oleh seseorang.
Ketika Dera sampai di rumah untuk mengambil kopernya, papanya sudah berdiri di ruang tengah.
Tatapan pria itu langsung tertuju pada tangan Dera yang sudah tidak lagi memakai cincin pertunangan."Mana cincinmu?" tanya Ilham.
Langkah Dera terhenti. Ia menatap papanya.
"Cincinnya sudah tidak ada."
"Papa tanya, mana cincin yang diberikan Galih?"
Dera terdiam beberapa saat. "Aku sudah menjualnya." jawabnya
Wajah papanya seketika berubah. "Apa? Kamu menjual cincin itu?" tanya Ilham lagi.
Suara itu terdengar begitu keras hingga ibu Dera yang berada di dapur segera keluar.
Dera mengangguk. "Iya." jawab Dera singkat.
"Itu cincin pertunanganmu dengan Galih, Dera!"
"Aku tahu."
"Kamu tidak berhak menjualnya!"
Dera menatap papanya dengan mata berkaca-kaca."Kenapa aku tidak berhak?"
"Itu pemberian Galih! Seharusnya kamu mengembalikannya" ucap sang papa.
Dera tertawa kecil. Senyum yang penuh kepahitan.
"Mengembalikannya? Lalu, apa dia bisa memperbaiki rasa sakit yang aku rasakan sekarang?"
Papanya semakin marah."Kamu benar-benar tidak tahu malu! Setelah semua yang terjadi, setidaknya kamu harus menghargai pemberian orang!"
Dera menatap papanya lama. Kemudian ia berkata dengan suara lirih, "Orang yang memberikan cincin itu sekarang sudah menjadi suami Kak Vivian, pa."
Ruangan mendadak sunyi. Dera mengusap air mata yang jatuh. "Untuk apa aku menyimpan cincin dari pria yang sudah menikah dengan perempuan lain?"
Papanya tidak menjawab. "Aku tidak menjual kenangan, pa" Suara Dera bergetar. "Aku menjual benda yang sudah tidak punya arti dalam hidupku."
Eni menatap Dera dengan mata berkaca-kaca."Dera..."
"Aku sudah kehilangan semuanya."
Dera masuk kedalam kamarnya, dan keluar sambil menarik koper mendekat ke arah papanya. "Jangan ambil satu-satunya hal yang masih bisa aku lakukan untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin pergi."
Dera menatap kedua orang tuanya. "Kalau kalian tidak bisa membelaku ketika aku dikhianati, setidaknya izinkan aku menyelamatkan diriku sendiri."
Setelah berkata demikian, Dera menarik koper dan berjalan menuju pintu. Di belakangnya, papa dan mamanya hanya bisa terdiam. Mereka baru menyadari bahwa putri mereka benar-benar sudah berada di batas kesabarannya.
Dan kali ini, Dera tidak pergi untuk mengancam.
Ia benar-benar ingin meninggalkan rumah itu, meninggalkan kehidupan yang selama ini ia kira akan menjadi kebahagiaannya.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa