Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Brukk
Bima tidak bertanya kenapa neneknya memukulnya. Pria itu bahkan langsung berlutut di depan nenek Ningsih yang matanya sudah merah karena memang sangat marah begitu melihat Bima datang.
Tangan tuanya gemetaran, dia memukul Bima dengan keras sekali. Sampai pipi Bima merah. Hati nenek Ningsih sebenarnya sangat sakit, Bima adalah cucu kesayangannya. Tapi, apa yang cucunya itu telah lakukan juga bahkan membuatnya tak punya muka untuk menatap Kinan.
Dengan mata berkaca-kaca, dengan menahan air mata yang rasanya sudah tidak bisa dia sembunyikan di balik kelopak mata tuanya. Nenek Ningsih menghela nafas sangat panjang.
"Apa kamu masih manusia, Bima?" tanya nenek Ningsih dengan suara bergetar.
Bima hanya bisa menunduk, rasa panas di pipinya sama sekali tidak dia perdulikan. Dia merasa salah. Dia memang pantas mendapatkan tamparan dari neneknya itu. Tamparan itu memang pantas untuknya. Bahkan mungkin belum apa-apa.
Nenek Ningsih akhirnya tak bisa mengendalikan emosinya. Wanita tua itu menangis, dan terduduk lemas di sofa yang ada di dekatnya. Pelayan setianya, bibi Utami yang tadi pergi sebentar membuatkan teh hijau langsung meletakkan cangkir teh itu di atas meja dan segera menghampiri nenek Ningsih.
"Nyonya, nyonya baik-baik saja?" tanya Bibi Utami khawatir.
Nenek Ningsih sampai memejamkan matanya. Baginya yang sudah tua itu, juga tidak nyaman sekali rasanya masih harus menangis karena marah bercampur sedih seperti itu.
Nenek Ningsih menggelengkan kepalanya. Sebagai orang yang paling tua, yang masih ada di keluarga Dirgantara. Dia merasa telah gagal, telah gagal mengajari cucunya menjadi seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Menipu istri selama tiga tahun, bahkan memberikan kehidupan yang sangat nyaman pada seseorang yang harusnya mendekam di penjara. Nenek Ningsih merasa apa yang dilakukan oleh Bima itu bahkan sangat melukainya.
Nenek Ningsih juga seorang wanita. Apalagi wanita di jamannya, sangat mementingkan kesetiaan dan bakti. Jika suaminya bersikap seperti apa yang dilakukan oleh Bima pada Kinan itu padanya. Nenek Ningsih mungkin tidak akan sanggup menerimanya.
"Dosa apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, sampai cucuku berniat hal memalukan dan tidak bermoral seperti ini? tiga tahun membohongi istri yang mencinta kamu setulus hati. Kenapa kamu sampai jadi seperti ini, Bima?"
Pada akhirnya suara pilu itu terdengar, suara pilu dari seorang nenek yang cucunya benar-benar telah mengecewakannya.
"Ketika kamu mengatakan, kamu akan menikahi Kinan. Di saat kondisinya begitu terpuruk dan terpukul seperti tiba tahun yang lalu. Nenek pikir kamu adalah seorang pria yang sangat baik, Bima. Nenek mengira kamu benar-benar seorang pria yang bertanggung jawab dan bersahaja. Nenek kita kamu itu pahlawan untuk Kinan. Itulah kenapa nenek sangat mendukung mu!" ujar nenek Ningsih yang lalu diam, dan menyeka air matanya.
Bibi Utami terlihat khawatir, usia majikannya sudah sangat sepuh. Dan banyak sekali penyakit yang sudah sering kambuh karena situasi tertentu. Kalau musim dingin bisa kena rematik dan sakit lutut, kalau musim panas juga bisa terkena sakit kepala yang cukup lama. Ada juga riwayat penyakit jantung, pernah kambuh beberapa waktu lalu ketika Bima bertengkar dengan Viona. Dan sekarang, majikannya itu bahkan tampak sangat emosional, sampai menangis cukup lama seperti itu. Bibi Utami sungguh khawatir. Dia terus menjaga di samping nenek Ningsih. Meski sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh nenek Ningsih dan Bima itu seharusnya dia tidak mendengarkannya.
Bima hanya diam, pria itu diam dan menundukkan kepalanya. Berlutut di depan neneknya yang begitu kecewa padanya.
"Nenek sungguh kira kamu itu pahlawan untuk Kinan, Bima. Ternyata kamu lah penjahatnya!" sambung nenek Ningsih lagi.
Dan lagi-lagi, Bima hanya diam. Tapi semakin Bima diam, dan semakin nenek Ningsih tidak mendapatkan alasan dari Bima. Hatinya makin sedih.
"Kalau memang tidak mencintainya, kenapa menikahinya? kenapa menikahinya untuk membebaskan Agnes?"
Bima semakin tertunduk diam. Neneknya bahkan sudah mengetahui semua itu. Kinan pasti sudah menceritakan semuanya. Bima terlihat semakin pucat saja.
"Haih..." nenek Ningsih menghela nafas sangat panjang, "kalau begitu lepaskan saja dia, minta maaf dan kalau dia mau bercerai baik-baik. Maka turuti apa yang dia mau, berikan haknya, jangan sakiti Kinan lagi!"
Di pangkuannya, tangan Bima terkepal kuat. Dia tidak mungkin bercerai, sama sekali tidak mungkin.
"Nenek, aku tidak akan menceraikan Kinan..."
Plakkk
Sekali lagi tamparan yang keras mendarat mulus di pipi Bima. Masih di pipi kanan yang sama dengan yang sebelumnya sudah ditamparr oleh nenek Ningsih tadi.
Wajah nenek Ningsih makin merah padam. Matanya bahkan nyaris melotot. Kelopak mata keriput itu sungguh semakin menciut seiring bola matanya yang makin membesar.
"Tidak tahu malu, tidak tahu diri!" pekik nenek Ningsih.
"Nyonya..." lirih bibi Utami sambil mengusap punggung nenek Ningsih.
"Kamu itu manusia atau bukan sih Bima? kamu masih punya hati tidak? kamu membohongi Kinan selama tiga tahun, kamu sadar tidak, kamu sudah mengkhianatinya! kamu sudah jahat sama Kinan. Kamu tahu tidak seperti apa hancurnya hati dan kepercayaan Kinan sekarang? kamu masih tidak mau melepaskannya? apa kamu ingin terus menyiksanya?" pekik nenek Ningsih.
Nenek Ningsih sampai sesak nafas karena sangat marah.
"Nyonya..."
Mendengar suara nenen Ningsih yang sangat keras. Galih yang memang masih berada di tempat itu segera ke ruang tamu dari ruang kerjanya.
"Nenek... Bima!"
Galih yang tadinya berlari, segera menghentikan langkahnya dan melihat kedua orang yang tengah terlihat perselisihan itu.
"Ambil cambuk Galih, gantikan ayahmu memberikan hukuman keluarga pada manusia tidak punya hati ini!" pekik nenek Ningsih yang bahkan masih berusaha mengatur nafasnya.
"Nenek, nenek tenang dulu..." Galih berusaha menenangkan nenek Ningsih.
"Bagaimana bisa tenang, dia bilang dia tidak akan pernah menceraikan Kinan. Lalu dia mau apa? mau menyakitinya seumur hidup. Apa kurang dia menyakiti Kinan? apa seperti itu yang dia pelajari dari keluarga ini? ambil cambuk Galih, ambil cambuknya!" pekik nenek Ningsih lagi.
Bima hanya diam, dia hanya tertunduk diam.
Galih menghela nafas panjang. Menurutnya, bahkan menurut pemikiran orang yang lempeng-lempeng saja seperti Galih. Bima memang sangat keterlaluan.
"Aku akan ambil cambuknya, nek"
"Ambil cepat! pukul dia 100 kali. Biar dia sadar, biar pikirannya terbuka. Dia itu manusia atau bukan sebenarnya, keterlaluan!" ungkap nenek Ningsih yang benar-benar murka pada Bima.
***
Bersambung...
😠