NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Wushhh.

Angin malam yang dingin dan berbau garam laut bertiup kencang di sekitar pelabuhan utara.

Suara ombak yang menghantam beton pemecah ombak terdengar menderu-deru.

Brummm.

Sebuah mobil van hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan sebuah gudang kargo raksasa yang terbengkalai.

Gudang itu terlihat gelap dan sepi dari luar.

Namun di pintu masuk kecil di samping gerbang utama, berdiri empat orang pria berbadan besar dengan senjata laras panjang.

Pintu van terbuka, dan Leo melangkah turun.

Leo mengenakan mantel bulu tebal dan kacamata hitam yang menutupi wajahnya.

Gaya berjalannya sangat arogan, persis seperti seorang bos mafia dari luar pulau.

Di belakangnya, Bima menyusul turun dengan pakaian yang jauh lebih sederhana.

Bima mengenakan jaket hoodie berwarna gelap dan masker wajah hitam.

Masker itu menutupi wajah Bima dari hidung hingga ke bawah dagunya.

Dia berpura-pura menjadi asisten pribadi sekaligus ahli taksir barang bawaan bos Leo.

"Berhenti di sana," seru salah satu penjaga gudang sambil mengangkat senjatanya.

"Tunjukkan koin undangan kalian atau aku akan menembak kepala kalian sekarang juga."

Leo tidak terlihat gentar sama sekali menghadapi moncong senjata itu.

Dia merogoh saku mantelnya dan melemparkan sebuah koin perak berukir gambar ular ke arah penjaga itu.

Penjaga itu menangkap koin tersebut dengan tangkas.

Dia lalu memeriksanya dengan teliti di bawah sinar senter kecil.

"Silakan masuk, Tuan."

"Tapi sesuai aturan, kami harus menggeledah tubuh kalian berdua terlebih dahulu."

Leo dan Bima merentangkan tangan mereka ke samping dengan patuh.

Penjaga itu meraba seluruh tubuh mereka dengan sangat kasar dan cepat.

Mereka memastikan tidak ada senjata api atau alat penyadap yang disembunyikan.

"Mereka bersih, buka pintunya," perintah penjaga itu pada temannya.

Krieettt.

Suara engsel pintu besi yang seret terdengar memekakkan telinga.

Begitu melangkah masuk ke dalam gudang, pemandangan yang terlihat sangat bertolak belakang dengan kondisi luarnya.

Bagian dalam gudang itu telah disulap menjadi sebuah aula lelang yang sangat mewah.

Lampu gantung kristal yang terang benderang menghiasi langit-langit baja yang berkarat.

Puluhan kursi berlapis beludru merah tersusun rapi menghadap ke sebuah panggung pameran di depan.

Puluhan orang dengan berbagai macam topeng dan pakaian mewah sudah duduk memenuhi ruangan itu.

Suasana di dalam sini penuh dengan asap cerutu mahal dan bau parfum yang menyengat hidung.

"Ini gila, mereka membangun tempat semewah ini di dalam gudang rongsokan?" bisik Bima di telinga Leo.

"Ini hanya tempat sementara, Bos."

"Mereka selalu berpindah-pindah setiap bulan agar tidak dilacak polisi," balas Leo dengan sebutan bos untuk menjaga penyamaran.

"Mari kita cari tempat duduk di barisan belakang agar tidak terlalu menarik perhatian."

Mereka berdua berjalan santai menuju dua kursi kosong di sudut ruangan paling gelap.

Bima mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

Dia menggunakan Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut untuk mengingat postur dan struktur tulang beberapa orang.

"Ada banyak orang penting di sini," batin Bima.

Dia bisa mengenali beberapa orang dari ciri fisik mereka meskipun mereka memakai topeng.

Ada direktur rumah sakit saingan, ada pejabat daerah yang korup, dan ada beberapa bandar obat terlarang yang sedang buron.

Tempat ini benar-benar sarang berkumpulnya para penjahat kelas kakap di kota ini.

Teng teng teng.

Suara bel perunggu dipukul tiga kali dari atas panggung utama.

Seketika itu juga, semua percakapan berisik di dalam ruangan terhenti.

Seorang pria kurus tinggi dengan setelan jas putih berjalan ke tengah panggung.

Pria itu memakai topeng separuh wajah yang hanya menutupi mata dan hidungnya.

Pria itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang berwarna kehitaman akibat sering merokok.

"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat."

"Selamat datang di acara Lelang Bayangan bulan ini."

Pria kurus itu membungkuk dengan gaya teaterikal yang berlebihan.

"Saya adalah Tuan X, juru lelang sekaligus pemandu kalian malam ini."

"Kita tidak perlu membuang waktu dengan pidato panjang lebar yang membosankan."

"Mari kita mulai dengan barang pertama yang paling ditunggu-tunggu oleh para ahli farmasi malam ini."

Tuan X menjentikkan jarinya ke arah belakang panggung.

Klak.

Dua orang wanita cantik membawa sebuah kotak kaca berukuran sedang ke atas panggung.

Di dalam kotak kaca itu, terdapat sebuah pot berisi tanaman yang sangat aneh.

Akar tanaman itu mencuat ke atas tanah yang lembap.

Warnanya merah pekat seperti darah segar yang baru saja membeku.

Napas Bima seketika tertahan melihat tanaman tersebut secara langsung.

"Itu dia," bisik Bima pada Leo.

"Akar Teratai Darah."

Sistem di kepalanya juga langsung bereaksi dengan cepat.

[Target ditemukan: Akar Teratai Darah usia lima puluh tahun.]

[Kandungan alkaloid sempurna untuk meracik penstabil jantung pasien Kiara.]

[Peringatan: Ada jejak neurotoksin sintetis yang sengaja disuntikkan ke dalam akar tersebut.]

Bima mengerutkan dahinya membaca peringatan terakhir dari sistem.

"Neurotoksin sintetis?"

"Seseorang dari sindikat sengaja meracuni barang dagangannya sendiri?" batin Bima heran.

Di atas panggung, Tuan X mulai mempromosikan barang tersebut.

"Ini adalah barang langka yang baru saja dipanen dari pedalaman hutan terlarang."

"Satu gram ekstrak akar ini bisa membuat obat bius halusinogen terkuat tanpa efek samping."

Tuan X menepuk kotak kaca itu dengan bangga.

"Harga buka untuk pot ini adalah lima ratus juta rupiah!"

"Satu kelipatan tawaran minimal lima puluh juta!"

Begitu harga dibuka, suasana ruangan yang tadinya hening langsung memanas.

"Enam ratus juta!" teriak seorang pria gemuk dari barisan depan.

"Tujuh ratus juta!" sahut seorang wanita bertopeng dari sisi kanan ruangan.

Bima menyenggol siku Leo dengan tidak sabar.

"Angkat tanganmu sekarang, Leo."

"Kita harus mendapatkan akar itu secepatnya."

Leo mengangguk dan mengangkat papan nomor tawarannya tinggi-tinggi ke udara.

"Satu miliar!" teriak Leo dengan suara bariton yang menggema kuat di seluruh ruangan.

Keadaan ruangan langsung hening sejenak mendengar lompatan harga yang sangat drastis itu.

Banyak peserta lelang yang menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berani menawar setinggi itu.

"Satu miliar dari Tuan di barisan belakang sana!"

"Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi dari satu miliar?" seru Tuan X dengan mata berbinar sangat serakah.

Bima tersenyum di balik maskernya.

Dia yakin bahwa barang itu akan jatuh ke tangannya dengan mudah.

Namun, tiba-tiba sebuah suara yang sangat familier terdengar dari kursi VVIP di barisan paling depan.

Suara itu terdengar pelan tapi penuh dengan kesombongan yang menjengkelkan.

"Dua miliar."

Semua orang di ruangan itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.

Seorang pria muda berdiri dari kursi beludrunya dan berbalik menghadap ke arah Leo serta Bima.

Pria itu sama sekali tidak memakai topeng untuk menutupi wajahnya.

Bima langsung membelalakkan matanya saat mengenali wajah pria itu.

Dia adalah Kevin.

Mantan kekasih Rina yang perusahaannya hampir dihancurkan oleh Kiara beberapa hari yang lalu di lobi rumah sakit.

Kevin tersenyum sinis menatap tepat ke arah Bima.

Meskipun Bima memakai masker dan hoodie, sorot mata Kevin menunjukkan bahwa dia tahu betul siapa yang sedang ditatapnya.

"Lama tidak bertemu, Dokter Magang."

"Apa kau pikir kau bisa mengambil barang incaran Sindikat Ular Hitam semudah itu?" ejek Kevin dengan suara yang sangat lantang.

Jantung Bima berdegup lebih cepat menyadari penyamarannya sudah terbongkar.

Kevin rupanya bukan sekadar direktur perusahaan alat kesehatan biasa.

Pria itu ternyata adalah anjing peliharaan dari sindikat ini yang memiliki posisi cukup tinggi untuk duduk di kursi VVIP tanpa topeng.

Keadaan di dalam gudang pelabuhan itu kini berubah menjadi sangat berbahaya.

Bima dan Leo sekarang dikelilingi oleh puluhan penjahat bersenjata di sarang musuh mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!